
Dengan polos Juvelian bertanya dengan sedikit memiringkan kepalanya
"Tapi, kamu siapa ya...? Apa kita pernah
bertemu sebelumnya?"
Gadis itu menjadi kesal dan menggigit
bibirnya dengan kuat yang meninggalkan
Bekas di bibirnya
Menunjuk ke arah Juvelian dia berkata
Dengan amarah yang di tahan
"Bisa bisanya kau melupakanku setelah
Membuatku malu"
Juvelian menekan dahinya dengan jarinya
Untuk menelusuri kembali ingatannya
Hanya dalam beberapa detik satu persatu
Potongan ingatan Tentang kejadian satu
tahun yang lalu Muncul begitu saja
[" juvelian ,aku menyukaimu. ayo kita pacaran"
Kata kakak kelas perempuan dengan nada agak tinggi dan menutup mata, kedua tangan di kepalkan.
'yang benar saja hari itu di tempat ini anak laki laki yang menyatakan cintanya sekarang anak perempuan?' kata juvelian dalam hatinya
[juvelian, ada apa dengannya? ] tanya lux yang duduk di bahu juvelian.
[entahlah... Aku juga tidak tahu karena biasanya orang yang menyatakan rasa sukanya padaku itu laki laki] kata juvelian
"maaf, tapi saya menolaknya" kata juvelian.
"kenapa? Apa karena aku juga perempuan?
Kau takut hubungan kita dibicarakan, jika begitu kita bisa pacaran diam diam" kata anak perempuan itu dengan wajah panik.
"bukan, karena itu..." gumam juvelian yang sedikit menundukkan kepala.
'karena jika kau menyukaiku, maka akan makin banyak orang yang terlibat dan juga aku ini bukan homoseksual' kata kata yang ingin juvelian katakan tapi hanya bisa dalam hatinya]
Setelah dia selesai mengingat semuanya
Juvelian Berkata dengan cerah kepada gadis
itu "Oh, sekarang saya sudah mengingat
semuanya, kamu kan si homoseksual itu"
Wajah gadis itu memerah dan langsung
mengganti ekspresi berkata dengan suara marah "Siapa yang kamu sebut
'homoseksual' hah? "
Tapi dia yang rasanya mau menangis karena
terlalu malu hanya bisa berkata dalam
hatinya
'Kenapa dari banyaknya Ingatan, dia malah ingat bagian yang itu. Kupikir dia hanya akan mengingatnyadengan samar- samar saja'
Sedangkan di dalam pikirannya Juvelian,
Juvelian memejamkan matanya dan hanya
bisa tersenyum pasrah sambil berkata dalam hatinya
'Pantas saja dia terlihat sangat familiar dia
Kan kakak kelasku'
(Orang yang pernah muncul di bab 26)'
'tapi, Kenapa dia bisa ada di sini?, Dia kan kakak kelas yang pernah menemui ku tahun lalu, waktu aku ingin '
'Padahal ku pikir masalahnya sudah
selesai, tapi kenapa kamu ada di sini'
Karena tenggelam dalam pikirannya,
Juvelian tidak menyadari gadis berambut
hitam itu berjalan mendekat ke arah Juvelian dan memegang bahu Juvelian dengan
tangan kanannya.
Juvelian terkejut dan merinding di saat bersamaan dengan seseorang yang tiba tiba memegang bahunya.
Mendekatkan kepala ke telinga Juvelian dan berbisik.
"Kamu tahu, Juvelian...?"
Dia diam bentar dan melanjutkan perkataannya
"Sejak aku kecil aku sangat membenci dunia yang sangat tidak adil ini...
Di tambah dengan kamu yang tiba tiba muncul entah dari mana"
'Tapi yang menghilang dan muncul kembali entah dari mana itu kan kamu' pikir Juvelian
Menggigit bibirnya dan berbisik dengan nada marah dan dengan tangannya mulai gemetaran
"merebut perhatian banyak orang, tidak peduli apa yang kamu lalukan dan katakan mereka tidak akan membencimu"
"Hanya karena terlahir sebagai putri bungsu keluarga konglomerat, kau bisa memiliki apa saja yang kamu ingin di dunia ini"
Juvelian hanya terdiam dengan tatapan kosong sampai gadis itu menyebut orang orang yang sangat berharga bagi Juvelian.
"Kamu memiliki ibu yang cantik, ayah yang keren, kakak kakak yang siap melakukan segalanya demi mu... Dan teman teman yang sangat baik"
"Oh, bukan. Kamu memanggil mereka mama dan papa kan?, dasar anak manja"
__ADS_1
Gadis itu kemudian berdiri di depan wajah Juvelian.
"Saat memikirkan kau yang memiliki semua itu aku ingin sangat ingin merebut semuanya satu persatu"
Juvelian melotot dan berbicara dengan nada rendah "Lakukanlah jika kau sudah bosan hidup"
Melepaskan tangannya yang memegang bahu Juvelian dan menerbangkan payung yang ada di tangan yang satu, gadis itu menjatuhkan dirinya sendiri ke belakang dan menunjukkan seringai di bibirnya.
Juvelian terkejut langsung ingin menangkap gadis itu sampai seseorang wanita dari arah belakang gadis itu menangkapnya dan mendorong Juvelian sambil berteriak
"Apa yang anda lakukan nona Juvelian? Meskipun anda adalah keponakan tuan Regis, beraninya anda ingin mencelakai nona Regina"
Juvelian segera kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh beruntung Alan yang melihat semuanya dari belakang langsung berlari menangkap Juvelian dan menatap tajam ke arah wanita itu.
'Barusan pelayan itu bilang 'nona Regina', anak perempuan yang mama bicara saat di meja makan adalah kakak kelasku?'
Wanita itu ketakutan dengan tatapan tajam dari Alan dan menggertak kan giginya.
"Beraninya pelayan sepertimu mendorong adikku... Kamu ingin mati?" kata Alan dengan aura membunuh.
Dengan kedua tangannya di pegang Alan, Juvelian melepaskan kedua tangannya yang di pegang dan menggeleng kan kepalanya saat Alan melihat ke arahnya.
[Jangan] kata Juvelian menggunakan tatapannya.
Regina pura pura kakinya lemas dan terjatuh.
"Nona seperti anda masih syok, lebih kita masuk ke dalam"
Wanita itu sedikit membungkuk dan mengulurkan tangannya.
Regina meletakkan tangannya dan berusaha bangkit.
Wanita itu berjalan dengan memegang tangan kanan Regina yang berjalan huyung.
Meletakkan tangannya di kening dan berkata "Betapa malangnya aku, sepupuku sendiri membenciku"
'Siapapun tahu kalau dia sedang berpura pura...' pikir Alan dan Juvelian di saat bersama.
"Karena anda berdua sudah ada di sini, mari ikut saya ke ruang tamu" kata wanita itu dengan matanya yang seperti ada cahaya sesaat, yang bilang aku akan mengawasi anda berdua.
Wanita itu meminta pelayan lain yang ada di rumah itu untuk mengantar Alan dan Juvelian ke ruang tamu sedangkan dia membawa Regina ke dalam kamar
"Nona dan tuan muda silakan tunggu di sini,
Nona Regina akan segera menjumpai kalian" kata pelayan pria yang sedikit memberi hormat sambil membuka pintu.
Begitu pintu terbuka terlihat kirara duduk di sofa [sepupu Juvelian, anak dari adik perempuan Ain (papa Juvelian) pertama kali muncul di bab 44 saat ingin ke kantor guru]
Saat pintu di tutup Kirara melambaikan tangan dan berkata sambil tersenyum hangat "Kemarilah"
Juvelian berlari ke arah Kirara dan
memeluknya sambil tersenyum cerah dan
berkata "Kakak Kirara"
Melepaskan pelukannya dan duduk di
sebelah Kirara
"Sejak kapan anak itu jadi kakakmu juga?"
tanya Alan dengan mengembungkan pipinya
menyentuh pipi Alan.
"Sejak lahir" jawab Kirara yang seperti petir di siang bolong bagi Alan.
Juvelian berdiri, berjalan ke arah Alan dan mengelus kepalanya.
Alan hanya diam dengan kepalanya yang di elus dan sedikit menundukkan kepala karena Juvelian yang lebih pendek darinya.
Kirara yang menyaksikan nya tertawa bangga
Meletakkan kedua tangannya di bawah dagu, Kirara bertanya dengan ekspresi serius.
"Sebenarnya apa yang terjadi di luar?"
"Ya?" Alan dan Juvelian yang bertanya balik.
Menghela napas dengan kelakuan anak
kembar yang selalu berbicara bersama.
"Tadi saat aku sedang menunggu di sini, aku lihat kalian dari jendela sedang bertengkar"
Juvelian menggigit bibirnya, ragu ragu untuk
mengatakan nya.
"Apa kak Kirara akan percaya kalau aku bilang anak itu yang menjatuhkan dirinya?"
Kirara diam beberapa saat untuk berfikir dan bergumam "Ternyata dugaan ku benar..."
Suara pintu terbuka dan Regina masuk
dengan wanita itu dan seseorang pelayan
wanita di belakangnya.
"Maaf, sudah membuat kalian semua lama menunggu"
'Kau baru sadar sekarang?' Apa apaan dengan tatapan mereka yang seperti bilang begitu' Pikir wanita itu yang kesal sambil mengikuti Regina dari belakang
'Apa dia ke kamar untuk mengganti bajunya?'
Regina yang awalnya memakai baju terusan putih di bawah lutut, baju terusan di atas lutut dengan warna emas.
Memang benar saat dia pura pura jatuh tadi,
Baju terkena debu yang ada di batu.
Regina melihat ke arah pelayan wanita yang
ada di belakangnya yang berjalan dengan
menundukkan kepala.
"Hidangkan tehnya" kata Regina dengan
tersenyum cerah.
Pelayan wanita itu berjalan ke arah meja,
__ADS_1
mengangkat teko dan menuangkan teh ke
dalam cangkir.
Alan, Juvelian dan Kirara mengangkat
cangkir yang ada di depan mereka dan
meminum teh dengan memejamkan mata
kecuali Alan yang keliatan tidak peduli
dengan apa yang dia minum.
Rasa hangat dari teh menyebar ke dalam mulut dengan rasa pahit dan manis yang sempurna.
"Teh ini sangat enak" kata Juvelian dengan tersenyum hangat pada pelayan wanita itu
Begitu pelayan itu mengangkat kepalanya
mata Kirara dan Juvelian terbuka lebar
karena terkejut sedangkan Alan yang
Mengeluarkan kembali teh yang sudah
Dia minum tanpa dia sadari
'Rena?!?!' teriak mereka tanpa suara.
Kalian pasti penasaran siapa itu Rena kan?
Rena adalah kepala pelayan di rumah Regis
Karena suatu alasan dia di turunkan menjadi
Pelayan biasa
"Rena, kamu boleh keluar sekarang"
Rena memberi hormat dan berjalan keluar sambil memegang nampan besi di tangannya
Begitu pelayan wanita itu keluar, Regina tersenyum dengan tertawa halus.
"Kalian belum tahu ya kalau Rena bukan lagi
Kepala pelayan di rumah ini"
Wanita di belakang Regina berdiri dengan bangga dengan senyum kemenangan
"Ini adalah Hena, kepala pelayan yang baru sekaligus adik dari Rena (Mantan kepala pelayan)"
"Omong kosong, macam apa itu. Apa kamu sudah gila?" kata Alan dengan aura membunuh dan tatapan sinis.
Hena yang kesal maju dengan tangan yang menghalang di depan Regina.
Berkata pada Alan dengan nada tinggi dan
Sombong
"Jaga ucapan anda, tuan muda Alan. Ini adalah rumah Tuan Regis bukan Tuan Ain, ayah anda"
Dia yang berdiri dengan di lindungi Hena,
Tersenyum tipis.
Meletakkan tangan di dekat bibir sambil
memasang wajah polos dia berkata nada halus
"Rena melakukan kesalahan dengan
mencoba mencuri benda peninggalan ibu"
Diam sebentar dia melanjutkan perkataannya
Sambil tersenyum cerah
"Aku meminta ayah memberinya kesempatan
Kedua tapi Rena harus di turunkan dari
posisi awalnya"
Berbeda dengan senyum cerahnya, di dalam
hatinya dia tersenyum licik sambil berkata
'Jika kalian mencari masalah denganku,
kalian akan berakhir lebih buruk dari Rena
Dan jangan harap aku akan berbaik hati pada
Kalian semua'
Di sisi lain Hena berkata dalam hatinya
'Kalau saja nona Regina tidak mengampuni
Nya, dia pasti susah di usir dari rumah ini'
Dari arah sebelah Alan ada terdengar suara gelas yang pecah.
Semua mata tertuju pada Juvelian yang duduk di samping Alan
Dengan kedua tangan yang menutup bibir,
Juvelian berkata dengan wajah merasa
bersalah
"Ah, maaf. Tangan saya tadi lemas jadi
cangkir jatuh deh, maaf ya..."
Melihat ke luar jendela Juvelian melanjutkan
perkataannya "Karena sudah jam segini lebih baik kami pulang, aku juga sudah lelah"
'Mau sampai kapan kamu akan menahan kami di sini?' pikir Juvelian dengan tersenyum
'Apa kau pikir aku mau kalian di sini dalam waktu yang lama?' pikir Regina dengan wajah kesal
__ADS_1
~Bersambung~