
Aku tidak berbohong. Aku pernah naik ke atap sekolah dua kali sebelum kembali ke masa ini
Hari itu semester akhir saat kelas 11, aku dan Yeri berada di kelas sama tahun itu. Yeri memintaku menemuinya di atap sekolah di jam istirahat lewat pesan bukan mengatakan dengan langsung
Kupikir dia mengajakku bertemu untuk menyelesaikan kesalahpahaman jadi tanpa ragu ku terima
Aku bertemu dengannya secara diam diam karena aku tahu Lilian dan anak anak yang lain akan melarangku, aku dan Lilian berada di kelas yang berbeda jadi aku tidak akan bertemu dengannya mengingat jadwal keluar yang berbeda
Karena kami pernah di peringatkan untuk tidak berada di atap, aku sedikit gelisah.
Lalu sebuah pesan masuk ke Hpku
[Kalau sudah sampai buka aja, aku sudah berada di atas]
Pesan itu di kirim dari nomor yang sama dengan yang memintanya ke atap.
Juvelian yang tidak berpikir panjang segera membuka pintu
Yeri berdiri di pembatas sambil menatap Juvelian yang sudah dia tunggu, awalnya pembicaraan berjalan lancar, Yeri menawarkan roti dan minuman dingin pada ku, dia mungkin merasa bersalah karena memanggil ku di jam istirahat
Roti dan minuman itu dari kafetaria dan kemasannya masih dalam keadaan bagus lalu tutup minumannya masih tersegel dengan baik, Aku tidak menaruh kecurigaan, tidak mungkin Yeri melakukan hal nekat seperti meracuniku kan?
Kemudian Yeri yang merasa tersinggung dengan sifat tenang Juvelian memicu adu mulut, Juvelian yang tidak ingin masalah ini terus berlanjut mengalah beberapa kali
Karena sikap Yeri, aku sesekali mundur beberapa langkah tanpa menyadari di mana aku berapa, aku tidak menutup pintu karena ku pikir lebih baik berjaga- jaga jika aku mau lari saat keadaannya semakin parah
Lalu Yeri memegang kedua bahuku, itu membuatku merinding tanpa sebab dan tentu saja perasaan takut itu menjadi kenyataan, dia mendorong ku dengan kuat ke tangga di belakangku
Aku kaget dengan tindakannya yang mendadak dan tidak sempat meraih pembatas tangga, ku pikir aku akan mati karena yang mendarat duluan adalah kepalaku paling tidak aku akan terluka parah
Makanya ketika menaikki tangga ini lagi aku takut kakiku sempat gemetar, ingatan yang terjadi pada hari itu berputar kembali dengan jelas, Kak Kirara yang menyadari ada yang salah denganku bertanya dengan khawatir
"Lian apa kau sakit? Kenapa wajahmu menjadi pucat?" tanyanya sambil menyentuh wajahku
"Aku nggak kenapa kenapa cuman di sini agak berdebu, tenggorokanku rasanya ikut berdebu" jawabku
'Aku tidak berbohong tempat ini memang memang berdebu, pegangan pada tangganya aja sampai nggak kelihatan warna aslinya'
"Tempat ini memang jarang di bersihkan karena selain yang di izinkan tidak boleh ke sini, sepertinya aku harus lebih memperhatikan kebersihan di sini" dia sedikit bergumam di akhir
Ngomong- ngomong hari itu, sebelum kami bertengkar, aku sempat mengantuk berat.
'Apa dia menyuntikkan obat tidur di minuman? Karena dingin, air yang keluar dari bekas suntikan akan terlihat seperti embun'
__ADS_1
Tapi aku merasa lega ada menangkapku dari bawah sebelum aku benar benar terjatuh dan yang aku ingat aku tertidur setelahnya
'Dia tidak mungkin memasukkan obat tidur dalam dosis yang banyak kan??'
Begitu aku membuka mata, aku sudah berbaring di UKS dan Lilian, Jiho, Ian, Nine dan Daniel yang nampak khawatir mereka langsung bertanya banyak hal begitu aku membuka mata
Lilian menangis keras hari itu lalu memelukku dengan erat, seolah perasaan kami terhubung aku juga ikut menangis, seseorang yang sangat mengawatirkanku sampai menangis dan untuk pertama kalinya aku tahu betapa takutnya kematian
Setelah kejadian itu aku tidak pernah bertemu dengan Yeri lagi, dia pindah ke luar negeri. Aku menutup mulut untuk kejadian ini, anggap aja ini tidak pernah terjadi dan jalani semuanya seperti dulu
Aku nggak mau masalah ini semakin panjang lalu menjadi di beritakan dan sampai terdengar keluargaku, aku takut mereka kecewa
Tapi sampai sekarang aku masih bertanya siapa yang menyelamatkanku?. Meski mereka bilang itu adalah Jiho tapi aku tidak merasa begitu karena orang yang menggendongku punya otot perut yang lebih menonjol
Wajah Juvelian memerah karena mengingat hal yang seharusnya tidak dia ingat.
Rasanya dia ingin memukul pikiran kotornya sambil berteriak "Juvelian Star Light, kau sudah punya pacar!!!"
Ketika pintu di dorong, bayangan seseorang menyambut mereka, tapi tidak terasa ramah.
Ini tempat nongkrong kalau istirahat, tentu mereka waspada kepada orang asing yang datang
"Lama tidak bertemu, Yeri" mendadak jadi ramah
"Kalian bisa tidak menurunkan kewaspadaan kalian, kami datang bukan dengan niat jahat"
Kata Kirara yang ingin meyakinkan mereka
Yeri yang menyandarkan dirinya di dinding pembatas dengan seringai di bibirnya mengingatkan Juvelian pada hari itu lagi, Yeri menatap mereka lalu bertanya
"Apa yang kalian ingin kan?"
"Wah. ratu rumor memang berbeda dari yang lain, ya. Aku akan langsung ke intinya, Kami ingin membuat kesepakatan dengan mu?" kata Juvelian sambil tersenyum
"Apa keuntungan yang akan aku dapatkan dari kesepakatan yang tidak jelas ini?" tanya Yeri yang meragukan Juvelian
Dengan santai Juvelian menjawab "Rumor yang bisa mengalahkan rumor milik Regina, bukankah kau merasa kesal karena tidak bisa mendapatkan bahan untuk rumor barumu"
Kesunyian menyelimuti mereka untuk beberapa saat lalu suara tawa terdengar dari Yeri "Sepertinya tawaran mu tidak buruk juga, tapi apa keuntungan yang kalian dapatkan?"
Kali ini Kirara yang menjawab "Bukan keuntungan yang berharga tapi akan berdampak besar di masa depan. Singkatnya kami tidak ingin Regina menguasai semua informasi melalui rumor"
Karena Yeri berpikir ini tidak buruk dia menerimanya dengan senang hati, sementara itu mereka harus cepat kembali ke kafetaria sebelum semakin banyak yang sadar mereka tidak ada di tempat
__ADS_1
Juvelian menggunakan cara yang sama, dia meminta bantuan pada serangga di sekolah untuk menutupi kamera pengawas ketika mereka lewat
Setelah pulang sekolah, Kirara dan Juvelian pergi ke kelas Yeri untuk membahas hal tadi dengan Mina dan Alan karena mereka pulang bersama sedangkan Joni di suruh untuk menjaga Mina sekalian bisa dekat dengan Mina
Di dalam kelas Yeri, semua siswa sudah pulang. Sambil menopang dagu dia bertanya untuk memastikan apa yang dia dengar "Jadi aku boleh menggunakan salah satu dari kalian sebagai bahan rumorku tanpa menyebut nama kalian?"
Juvelian dan Kirara menganggukkan kepalanya
"Kau pikir itu mudah!?" Yeri menjerit kesal
"Bukannya kau bisa menggunakan hubungan Juvelian dan Rudan sebagai rumor" tanya Kirara sambil menunjuk Juvelian
"Kenapa tiba- tiba jadi aku?!!"
Menatap Juvelian, Yeri menjawab "Tidak bisa. Semua orang di sekolah ini juga tahu tentang hubungan mereka yang semanis madu tapi pasti akan menarik jika di tambah bumbu"
Tanya Kirara "Bumbu apa?"
"Merica, garam atau penyedap rasa? kalau mau aku pinjam dari ekskul memasak, Canda. Santai dikit napa, serius banget wajahnya"
"Di lebih lebihkan sedikit kayak aku lihat Juvelian mual terus muntah muntah di toilet, pasti mereka bakal mikir kau hamil terus-"
"Terus kau mau aku di keluarkan dari sekolah?" Juvelian menatap tajam
Yeri menghindari pandangan Juvelian lalu mengeluarkan pendapat lagi "Bagaimana dengan Rudan yang-"
Juvelian menyela "Kenapa harus tentang hubungan? Enggak ada rumor lain"
"Karena gosip yang paling cepat menyebar adalah keburukan orang lain atau hubungan cinta orang lain"
Setelah berkata begitu, Yeri lalu melihat ke arah lain. Mina dan Joni sedang bertengkar sementara Alan memberikan mereka dukungan
'Ayo bertengkar. Semangat Mina dan Joni!' dia memegang papan dengan isi tulisan seperti itu
Seolah baru saja kemasukan ide di kepalanya, ujung bibirnya terangkat
"Kalian berdua mau nggak jadi bahan rumorku?. Dua orang yang bertemu kembali setelah lama berpisah karena pekerjaan orang tuanya"
"Kalian pura- pura pacaran ya?"
Mereka bertiga segera terdiam ketika mendengarnya, mata Joni berbinar sementara Mina menjerit dalam hatinya
'Ap-apppaaa?!?!?!'
__ADS_1