Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 82


__ADS_3

"Hei, dari mana kau tau mereka sudah kembali ke negara ini?"


Alexia tersentak sambil mengerutkan bibirnya, dia seperti baru saja membongkar rahasia yang seharusnya tidak di katakan


Membuang napas dalam dalam untuk menenangkan dirinya


'Kau harus tenang, ini belum berakhir, Kak Mina tidak mungkin menyandari nya'


Sambil memeluk buku di tangan nya dengan erat, dia menjawab dengan apatis seperti yang biasanya dia lakukan


"Aku tidak sengaja berpapasan dengan


salah satu dari mereka"


"oh" seru Mina yang langsung percaya


Alexia kemudian melirik ke langit yang keliatan mendadak akan mendung dan berkata dengan apatis


"Bibi(Ibu Mina) pasti yang paling senang"


"Bukannya itu sudah pasti"


Pembicaraan mereka sekali lagi terputus seperti ada tembok tipis yang menghalangi di antara mereka


"Bagaimana kabar anak anjingmu?, aku penasaran sudah tumbuh sebesar apa dia sekarang"


Sepupu Alex dan Alexia yang datang ke rumah mereka beberapa tahun lalu memberikan anak anjing nya kepada mereka karena dia ingin pergi kuliah di luar negeri


Semenjak saat itu Joni tentu saja tidak berani keluar rumah sendirian karena anak anjing itu akan mengejarnya kalau dia melihat Joni


"Dia sudah mati beberapa tahun yang lalu"


"Begitu, ya. maaf aku sudah bertanya" kata Mina yang sedikit merasa bersalah


"Baik itu manusia atau hewan pasti akan mati jika itu adalah keinginan nya, karena ini adalah dunianya" gumam Alexia dengan kepala menunduk, suaranya sangat kecil sampai Mina tidak bisa mendengar nya


Alexia membuka bibirnya dan bertanya lagi "Meskipun aku enggak terlalu dekat dengan mereka tapi bagaimana dengan nya (yang dia maksud Joni)?"


Di dalam kegelapan kau pasti akan menemukan cahaya di baliknya, sepertinya itu kalimat yang cocok untuk situasi Joni


Pada saat itu, Joni yang terus takut keluar rumah karena anjing di sebelah rumah nya, mengadu pada ibunya


Tapi respon yang di harapkan sangat berbeda, ibu hanya berkata seperti ini


'Anak laki laki harus berani'


Joni merasa putus asa, tapi dia menerapkan apa yang ibu katakan dan bangkit


'Benar, aku harus jadi anak yang berani dengan begitu ibu akan menyayangi ku'


Anak anjing itu sebenarnya hanya ingin bermain dengan Joni yang dia anggap lebih menyedihkan dari dirinya yang berganti majikan


Ya, meskipun caranya sedikit salah, dia terus mengganggu dan mengejar Joni seolah olah itu adalah kegiatan sehari hari, semuanya berlangsung selama seminggu


Di sisi lain Alex dan Alexia benar benar merasa kesulitan untuk mencari anak anjing mereka


Mereka pun sepakat untuk mengawasinya begitu pulang sekolah, karena mereka menyandari anak anjing terus berdiri di depan pintu seperti menunggu sesuatu


Dan dia bisa keluar ketika ibu mereka pulang dan membuka pintu dan pada waktu yang sama, Joni pulang sekolah

__ADS_1


Mereka sudah bersiap untuk mengejar nya dan pengejaran itu sampai di ujung lantai tempat mereka tinggal dan di sudut nya ada Joni yang gementar


Setelah kejadian itu, sejak lahir untuk pertama kalinya Joni berteman dengan


orang lain selain Jake dan Mina


Berbeda dengan Mina dan Jake yang hampir mengenal semua anak yang ada di lantai yang sama dengan mereka


Mina terdiam sebentar dan menjawab dengan acuh tak acuh


"Dia masih sama saja seperti dulu kecuali tingginya yang bertambah (yang dia maksud Jake)"


Begitulah pembicaraan mereka yang kedengaran nyambung tapi sebenarnya tidak sama berakhir


Alexia membuka halaman buku dan


mengeluarkan sehelai kertas yang di


selipkan


Dia kemudian menyerahkan nya pada Mina dan pergi tanpa mengeluarkan suara langkah kaki


Mina yang penasaran dengan apa yang tertulis di kertas bergumam sambil menatap tulisan "Klub membaca novel?"


Itu lah yang tertulis di kertas hitam dengan tulisan berwarna putih


Wajahnya memerah dan berteriak di


dalam hatinya 'Dari mana dia tahu kalo aku suka baca novel?! Acckk, aku malu banget!'


Mina yang sekarang di kenal sebagai orang dingin dan gadis bagi sekarang ataupun dulu, menjadi malu hanya karena orang lain tau di pembaca novel


Jika sekarang ada dinding yang terbuat dari busa, dia pasti akan memukul nya sampai hancur untuk melampiaskan rasa malunya


Namun, berbeda dengan Alexia yang juga seorang penggemar novel, hanya dalam sekali lihat dia sudah menyandari nya


Di sisi lain Arin yang melihat wajah Mina


memerah hanya memasang tanda tanya


sambil tersenyum apatis


Permainan yang biasanya menyenangkan karena persaingan karena ini adalah saatnya menunjukkan kemampuan kita malah berubah menjadi beberapa monster


yang sedang berperang


Hanya ada satu cara untuk bertahan hidup yaitu melarikan diri dari bola yang terus di lemparkan seperti meteor yang jatuh


Mata Arin di penuhi oleh tatapan kagum melihat pertandingan di depan matanya dengan angin terus berembus karena mereka


Wajah mereka di penuhi keringat tapi dari


pada rasa lelah mereka benar benar


menikmati permainan dengan semangat


yang membara terutama Yeri


Sekarang dia terlihat seperti anak kecil yang

__ADS_1


setelah sekian lama bisa bermain di luar rumah, dia benar peduli kelihatan sangat gembira


Sementara itu bola berada di lawan karena menggelinding jauh melewati garis dan di pungut oleh seorang penyerang yang ternyata adalah gadis yang sama dengan yang tadi


Dengan sekuat tenaga dia melempar bola itu


seolah olah itu adalah tenaga terakhirnya


dan langsung terjatuh ke lantai karena


kehabisan tenaga pada saat kemudian dia terus mengambil napas dengan cepat


Teman temannya berlari ke arahnya, di antara mereka yang paling khawatir adalah Yeri, seseorang bertanya dengan sedikit bercanda, suaranya terdengar keras


"Hei, apa kau kehabisan napas?"


Teman di sebelahnya memukul punggungnya sambil berkata "Jika dia kehabisan napas, dia sudah mati, dasar payah!"


"Emangnya ini saatnya bercanda?" tanya Yeri yang keliatan jengkel dan menatap mereka dengan tatapan tajam


dan membantunya di antara mereka yang paling khawatir adalah Yeri


Bola itu terbang ke arah Juvelian dengan kecepatan penuh tapi malah melewatinya yang membuat nya membatu di tempat


Bola itu seperti menganti targetnya dan terbang ke arah Arin yang terus berbicara pada Mina yang keliatan hanya mengangguk


Juvelian dan Lilian yang merasa keanehan segera berbalik melihat target bola dan berteriak dengan khawatir memanggil nama Arin memintanya menghindar


Arin yangvmenyadarinya seperti tidak bisa bergerak karena takut dan segera melindungi kepala nya dengan tangannya


Buk! suara bola yang menghantam sesuatu terdengar sangat keras para siswi yang masih tersisa di lapangan sekolah kelihatan


terkejut


Suara itu bukan berasal dari bola yang menghantam kepala Arin melainkan


dari satu tangan Mina yang menangkap


bola


Arin yang masih jantunggan dengan


tatapan kosong kemudian melirik ke arah


Mina yang hanya duduk meringkuk ke


depan


Dengan menundukkan kepalanya yang terus menghela napas seperti orang yang banyak pikiran


Mereka kemudian bertepuk tangan dan


ada beberapa dari mereka yang mengang


kat papan yang berisi angka seratus


~Bersambung~


tunggu bab selanjutnya, tiga hari lagi~

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel ini


Dan terima kasih sudah memberi semangat dengan like, vote dan komentar


__ADS_2