
"Hei, dari mana kau tau mereka sudah kembali ke negara ini?"
Alexia tersentak sambil mengerutkan bibirnya, dia seperti baru saja membongkar rahasia yang seharusnya tidak di katakan
Membuang napas dalam dalam untuk menenangkan dirinya
'Kau harus tenang, ini belum berakhir, Kak Mina tidak mungkin menyandari nya'
Sambil memeluk buku di tangan nya dengan erat, dia menjawab dengan apatis seperti yang biasanya dia lakukan
"Aku tidak sengaja berpapasan dengan
salah satu dari mereka"
"oh" seru Mina yang langsung percaya
Alexia kemudian melirik ke langit yang keliatan mendadak akan mendung dan berkata dengan apatis
"Bibi(Ibu Mina) pasti yang paling senang"
"Bukannya itu sudah pasti"
Pembicaraan mereka sekali lagi terputus seperti ada tembok tipis yang menghalangi di antara mereka
"Bagaimana kabar anak anjingmu?, aku penasaran sudah tumbuh sebesar apa dia sekarang"
Sepupu Alex dan Alexia yang datang ke rumah mereka beberapa tahun lalu memberikan anak anjing nya kepada mereka karena dia ingin pergi kuliah di luar negeri
Semenjak saat itu Joni tentu saja tidak berani keluar rumah sendirian karena anak anjing itu akan mengejarnya kalau dia melihat Joni
"Dia sudah mati beberapa tahun yang lalu"
"Begitu, ya. maaf aku sudah bertanya" kata Mina yang sedikit merasa bersalah
"Baik itu manusia atau hewan pasti akan mati jika itu adalah keinginan nya, karena ini adalah dunianya" gumam Alexia dengan kepala menunduk, suaranya sangat kecil sampai Mina tidak bisa mendengar nya
Alexia membuka bibirnya dan bertanya lagi "Meskipun aku enggak terlalu dekat dengan mereka tapi bagaimana dengan nya (yang dia maksud Joni)?"
Di dalam kegelapan kau pasti akan menemukan cahaya di baliknya, sepertinya itu kalimat yang cocok untuk situasi Joni
Pada saat itu, Joni yang terus takut keluar rumah karena anjing di sebelah rumah nya, mengadu pada ibunya
Tapi respon yang di harapkan sangat berbeda, ibu hanya berkata seperti ini
'Anak laki laki harus berani'
Joni merasa putus asa, tapi dia menerapkan apa yang ibu katakan dan bangkit
'Benar, aku harus jadi anak yang berani dengan begitu ibu akan menyayangi ku'
Anak anjing itu sebenarnya hanya ingin bermain dengan Joni yang dia anggap lebih menyedihkan dari dirinya yang berganti majikan
Ya, meskipun caranya sedikit salah, dia terus mengganggu dan mengejar Joni seolah olah itu adalah kegiatan sehari hari, semuanya berlangsung selama seminggu
Di sisi lain Alex dan Alexia benar benar merasa kesulitan untuk mencari anak anjing mereka
Mereka pun sepakat untuk mengawasinya begitu pulang sekolah, karena mereka menyandari anak anjing terus berdiri di depan pintu seperti menunggu sesuatu
Dan dia bisa keluar ketika ibu mereka pulang dan membuka pintu dan pada waktu yang sama, Joni pulang sekolah
__ADS_1
Mereka sudah bersiap untuk mengejar nya dan pengejaran itu sampai di ujung lantai tempat mereka tinggal dan di sudut nya ada Joni yang gementar
Setelah kejadian itu, sejak lahir untuk pertama kalinya Joni berteman dengan
orang lain selain Jake dan Mina
Berbeda dengan Mina dan Jake yang hampir mengenal semua anak yang ada di lantai yang sama dengan mereka
Mina terdiam sebentar dan menjawab dengan acuh tak acuh
"Dia masih sama saja seperti dulu kecuali tingginya yang bertambah (yang dia maksud Jake)"
Begitulah pembicaraan mereka yang kedengaran nyambung tapi sebenarnya tidak sama berakhir
Alexia membuka halaman buku dan
mengeluarkan sehelai kertas yang di
selipkan
Dia kemudian menyerahkan nya pada Mina dan pergi tanpa mengeluarkan suara langkah kaki
Mina yang penasaran dengan apa yang tertulis di kertas bergumam sambil menatap tulisan "Klub membaca novel?"
Itu lah yang tertulis di kertas hitam dengan tulisan berwarna putih
Wajahnya memerah dan berteriak di
dalam hatinya 'Dari mana dia tahu kalo aku suka baca novel?! Acckk, aku malu banget!'
Mina yang sekarang di kenal sebagai orang dingin dan gadis bagi sekarang ataupun dulu, menjadi malu hanya karena orang lain tau di pembaca novel
Jika sekarang ada dinding yang terbuat dari busa, dia pasti akan memukul nya sampai hancur untuk melampiaskan rasa malunya
Namun, berbeda dengan Alexia yang juga seorang penggemar novel, hanya dalam sekali lihat dia sudah menyandari nya
Di sisi lain Arin yang melihat wajah Mina
memerah hanya memasang tanda tanya
sambil tersenyum apatis
Permainan yang biasanya menyenangkan karena persaingan karena ini adalah saatnya menunjukkan kemampuan kita malah berubah menjadi beberapa monster
yang sedang berperang
Hanya ada satu cara untuk bertahan hidup yaitu melarikan diri dari bola yang terus di lemparkan seperti meteor yang jatuh
Mata Arin di penuhi oleh tatapan kagum melihat pertandingan di depan matanya dengan angin terus berembus karena mereka
Wajah mereka di penuhi keringat tapi dari
pada rasa lelah mereka benar benar
menikmati permainan dengan semangat
yang membara terutama Yeri
Sekarang dia terlihat seperti anak kecil yang
__ADS_1
setelah sekian lama bisa bermain di luar rumah, dia benar peduli kelihatan sangat gembira
Sementara itu bola berada di lawan karena menggelinding jauh melewati garis dan di pungut oleh seorang penyerang yang ternyata adalah gadis yang sama dengan yang tadi
Dengan sekuat tenaga dia melempar bola itu
seolah olah itu adalah tenaga terakhirnya
dan langsung terjatuh ke lantai karena
kehabisan tenaga pada saat kemudian dia terus mengambil napas dengan cepat
Teman temannya berlari ke arahnya, di antara mereka yang paling khawatir adalah Yeri, seseorang bertanya dengan sedikit bercanda, suaranya terdengar keras
"Hei, apa kau kehabisan napas?"
Teman di sebelahnya memukul punggungnya sambil berkata "Jika dia kehabisan napas, dia sudah mati, dasar payah!"
"Emangnya ini saatnya bercanda?" tanya Yeri yang keliatan jengkel dan menatap mereka dengan tatapan tajam
dan membantunya di antara mereka yang paling khawatir adalah Yeri
Bola itu terbang ke arah Juvelian dengan kecepatan penuh tapi malah melewatinya yang membuat nya membatu di tempat
Bola itu seperti menganti targetnya dan terbang ke arah Arin yang terus berbicara pada Mina yang keliatan hanya mengangguk
Juvelian dan Lilian yang merasa keanehan segera berbalik melihat target bola dan berteriak dengan khawatir memanggil nama Arin memintanya menghindar
Arin yangvmenyadarinya seperti tidak bisa bergerak karena takut dan segera melindungi kepala nya dengan tangannya
Buk! suara bola yang menghantam sesuatu terdengar sangat keras para siswi yang masih tersisa di lapangan sekolah kelihatan
terkejut
Suara itu bukan berasal dari bola yang menghantam kepala Arin melainkan
dari satu tangan Mina yang menangkap
bola
Arin yang masih jantunggan dengan
tatapan kosong kemudian melirik ke arah
Mina yang hanya duduk meringkuk ke
depan
Dengan menundukkan kepalanya yang terus menghela napas seperti orang yang banyak pikiran
Mereka kemudian bertepuk tangan dan
ada beberapa dari mereka yang mengang
kat papan yang berisi angka seratus
~Bersambung~
tunggu bab selanjutnya, tiga hari lagi~
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca novel ini
Dan terima kasih sudah memberi semangat dengan like, vote dan komentar