
Jika bertanya apa yang di tunggu siswa siswi ketika pelajaran terakhir mereka mungkin menjawab bel pulang sekolah.
Setelah bel berbunyi dan guru keluar dari kelas, mereka akan menari bahkan bernyanyi dengan alat seadanya
Suasana seperti ini selalu terjadi seakan sedang siaran ulang sampai piket bersih kelas. Terkadang saat piket Juvelian, Lilian, Arin, Jiho atau anak- anak yang lain menggunakan sapu sebagai mik, tak jarang Juvelian dan Rudan berduet
Sementara Jiho menjadi meja sebagai piano makanya dia selalu adu mulut dengan Juvelian, dan Alan memainkan gitar yang dia bawa, dua orang ini bukannya membantu malah menyemak
Alan mengatakan jika sebagai ketua kelas dia harus menjadi contoh pada teman sekelasnya untuk mengikuti jadwal piket yang sudah di tentukan bersama, artinya kalau bukan harinya dia piket, dia nggak akan bantuin
Dia sengaja memilih hari yang berbeda dengan Juvelian untuk menjaga kesannya sebagai ketua kelas dan memperlihatkan sisi lainnya ketika tidak ada orang lain
Untuk menciptakan suara ketukan dari meja, tak jarang jari Jiho sakit lalu berganti dengan kuku dan karena itu ada beberapa meja yang tergores kuku Jiho
Ada hari ketika mereka konser di ruang musik Juvelian tidak mungkin bisa melupakan kenangan indah hari itu, dia memainkan harpa, Rudan di sisi lain memainkan drum, Lilian dengan biolanya dan Arin memainkan marakas dengan tamborin di tangan Mina
Tentu mereka memaksa Daniel untuk bernyanyi hari itu mereka juga tercengang mendengar suara nyanyi Nine, mereka merekam, bernyanyi dan memainkan musik secara bergantian
Awalnya mereka dengan Juvelian berniat menjemput Alan di ruang musik (tau- tau jadi ketuanya), setelah semua anggota pulang alat musik di sana menari perhatian mereka
Ketika baru mulai suara musiknya kacau balau dan tidak nyambung.
Juvelian masih ingat wajah kesal Alan melihat mereka, dia memimpin mereka sampai bisa dan kenangan indah tercipta begitu saja
Hari anggota klub membaca novel akan berkumpul, klub ini di rahasia kan dengan berkedok klub menggambar meski tidak sepenuhnya salah sih
Ada saatnya mereka menggambarkan karakter dari deskripsi novel lalu membandingkannya.
Ketika di sana Mina seperti bertemu dengan manusia spesies dengannya
Hari ini mereka akan berkumpul lagi, Mina lompat- lompat memikirkan akan bertukar novel dengan anggota lain tapi seperti biasa Joni menunggunya dengan semangat di depan kelas
Mina sudah mengirim pesan pada Joni, tapi Joni sudah keburu di koridor
'Dasar kebiasaan... Kalau HP bergetar di lihat kenapa sih?'
Mina tidak bisa memperlihatkan hal mencurigakan karena semua teman sekelasnya sudah tau tentang hubungan mereka
Dia mengeluarkan HPnya lalu memberi isyarat untuk berbicara lewat HP
[Dari Mina: Kau pulang duluan aja. Aku ada urusan pulangnya nanti]
[Dari Joni: Urusan apa? Lama gak? Aku tunggu aja biar bisa pulang bareng]
[Dari Mina: Nggak usah, Nanti aku pulangnya lama]
[Dari Joni: Aku bisa tunggu, kok. Lagian nggak ada yang akan aku lakukan hari ini]
Mengerutkan keningnya, Mina terlihat jengkel sambil mengetik, Juvelian natap aneh pada mereka kenapa komunikasi lewat HP padahal saling berhadapan
[Dari Mina: Tapi kan capek. Kau pulang duluan aja istirahat]
[Dari Joni: Nanti bisa istirahat setelah kita sampai rumah]
Kesabaran Mina yang sudah putus, berteriak kesal pada Joni "Keras kepala banget! Pulang aja dulu sana aku mau ketemu sama cogan dan cecan"
Namun sebelum itu terjadi Kirara menghampiri mereka dari arah belakang Joni dengan senyum marah yang menunjukkan jika dia sedang menahan diri
__ADS_1
Mina langsung menyadarinya, karena Juvelian juga akan tersenyum seperti itu
'Keluarga mereka punya cara untuk marah. Kalau mau marah ya marah aja' pikirnya
Dengan suara lembut tapi menakutkan Kirara berbisik dengan wajah dingin "Hayo... Mau lari ke mana? Hari ini kan ada rapat. Selama aku masih jadi sekretaris OSIS jangan berpikir untuk lari"
Segera Joni tergidik seolah yang berada di belakangnya adalah malaikat maut.
"Ki, kirara...."
Dia berbalik lalu menemukan Kirara yang benar benar marah
"Mina. Aku bawa dulu ya, pacarmu"
Joni langsung menoleh meminta pertolongan pada Mina tapi pura- pura nggak lihat "Bawa aja" katanya dengan ceria sambil berkata dalam hati 'Pacar apanya'
"Mina! Kau kejam banget!!!" jerit Joni
"Nah kalau gitu kami pergi dulu"
Mina hanya melambai tangan melihat mereka pergi
Tidak ada yang menghalanginya lagi, dia segera menuju ke gedung sebelah, Juvelian dalam perjalanan ke ruang klub dia melihat Alexia dan Jake yang berbicara di koridor yang sepi
Tubuh Juvelian bergerak sendiri menjauh dari sana lalu menempel ke dinding, Melihat mereka yang berbicara di tempat sepi seperti ini mungkin pembicaraannya sedikit pribadi
Kenapa aku bersembunyi? Juvelian kaget sendiri
'Aku kan nggak ada niat untuk menguping' setelah berkata begitu dia berdiri tegak berniat pergi dari sana tapi suara pembicaraan mereka membatalkan niatnya
"Sekarang gimana?"
Dengan santai dia mundur kembali menempel ke dinding melihat semuanya dari pantulan kaca jendela di depannya
'Rasanya kayak jadi mata- mata' tapi kenyataan tukang nguping, Juvelian juga berhati- hati supaya mereka tidak bisa melihat pantulan diri dari jendela
"Aku uda jadi ketua OSIS, Jadi..."
'Kamu mau tembak, Kenapa jadi pamer?' langsung menyimpulkan karena bicara di tempat sepi
"Masih kurang, berusahalah lagi!" kata Alexia dengan ketus lalu pergi dari sana
'Di tolak gitu aja?'
"Alexia..." ucap Jake dengan suara sedih
'Loh. Kok nggak di kejar'
Dengan percaya diri Jake berkata "Aku akan berusaha lagi jadi tunggu aku"
'Ternyata bukan sekali dua kali ya di tolaknya'
Alexia melirik sebentar lalu pergi dengan telinganya yang memerah
'Cintanya nggak bertepuk tangan ternyata'
Hubungan antar lawan jenis memang rumit sama seperti kami
__ADS_1
"Juju lagi ngapain kok nggak ikut gabung sama yang lain?"
"Cuman mau jalan santai aja"
'Mana mungkin aku bilang habis nguping'
Melihat Rudan yang berada di sini sambil memegang keranjang sepertinya dia nggak ikut rapat
Sambil melirik keranjang dia bertanya "Itu isinya apa?"
"Hari ini aku di tugaskan memeriksa ruang- ruang klub di lantai ini lalu di kasih beberapa roti dari klub memasak"
"Jadi ceritanya ini suapan?" tanya dengan curiga
"Begitulah. Meski kali ini ruangannya lebih bersih"
"Serius? Nggak di urutan terakhir lagi dong"
"Aku nggak bilang begitu. Mereka masih di urutan terakhir dalam kerapian dan kebersihan"
"Meski wajar sih. Mereka kegiatannya setiap hari"
Mengangkat keranjang ke depan Juvelian dia menawarkan rotinya "Mau?"
"Boleh?"
"Boleh- boleh aja"
Juvelian mengangkat penutup keranjang mengintip isinya
'Roti abon!'
"Aku ambil satu, ya"
"Silakan"
Dengan bersemangat Juvelian mengambil satu gigitan "Enak! Roti dari klub memasak memang nggak mengecewakan"
"Mau coba? Enak loh"
Sedikit membungkuk, Rudan menggigit di bagian yang baru Juvelian gigit dia anggap seperti ciuman secara tidak langsung
'Masih banyak tempat kenapa makan yang di sana. Iya juga sih nanti juga di makan habis'
"Sekali- kali aku ke klub masak, lah"
"Mau minta roti?"
"Tentu saja bukan. Aku mau belajar dari mereka"
"Kau kan uda pandai buat roti kenapa mau belajar lagi"
"Tidak, tidak. Yang ku buat tidak seenak ini, ini rasanya sempurna" hobi masak karena sering ikut Mira masak sebelum kembali ke waktu sekarang tapi malah ikut klub lain karena alasan tertentu
"Nanti kalau jadi yang coba pertama aku, ya?" tanya Rudan dengan mata berbinar
"Iya tapi setelah semua keluargaku. Aku mau kasih papa, mama, ibu Mira lalu kakak- kakakku. Rudan jadi teman yang pertama aku kasih coba"
__ADS_1
'Ada yang sakit tapi nggak di pukul' pikir Rudan sambil tersenyum