
'padalah selama ini yang ku tahu lilian sangat suka ikan. Seperti masih banyak hal yang tidak aku ketahui tentang lilian dan yang lainnya' kata juvelian dalam hatinya.
'benar juga sih, di masa lalu kami hanya berteman sebentar saja dan di kehidupan ini aku akan mempertahankan pertemanan kami' kata juvelian dalam hatinya yang sedikit mengangguk kan kepala.
'tapi... aku takut mengatakan yang sebenarnya karena mungkin saja aku akan kembali ke masa depan dan yang lebih aku takut adalah kehilangan orang orang yang berharga bagiku' kata juvelian dalam hatinya.
'suatu hari nanti aku pasti akan mengatakannya pada mereka semua aku berjanji' juvelian menutup mata sebentar dan membukanya kembali.
'siapa yang akan menyangka bahwa kami akan berteman lagi' kata juvelian dalam hatinya dengan tersenyum tipis.
[1 tahun yang lalu ]
Langkah kaki yang seperti di atas rumput dan tangan yang bergerak maju ke depan ke belakang secara berganti, Arin berjalan dengan hati gembira yang terlihat dari wajahnya yang memiliki senyum cerah.
'aku tidak sabar mau ketemu juvelian~' kata arin dalam hatinya dengan nada seperti bernyanyi.
'tapi dimana kami akan bertemu ya...? Terserah deh, yang penting bisa lihat wajah imutnya' kata arin dalam hatinya yang semakin bersemangat.
Di sisi lain yeri yang ada di dalam toilet yang akan di lewati arin, berdiri dengan wajah kesal menghadap ke kaca yang ada di depannya.
Yeri memutar salah satu kran air wastafel yang ada di kamar mandi.
Air mulai keluar dari kran dan, dengan cepat yeri meletakkan kedua tangannya di bawah kran air dan menampung air yang keluar ke tangannya.
Begitu air yang ada di tangan penuh yeri sedikit menundukkan kepalanya dan membasuh wajahnya dengan air.
Mengangkat kepalanya, yeri melihat ke arah kaca dengan tatapan marah.
"juvelian, itu nyebelin banget deh!" kata yeri yang wajahnya basah setelah di siram dengan air.
Arin yang kebetulan berjalan di depan melewati toilet berhenti setelah mendengar suara yeri.
"kalau bukan karena wajahnya yang cantik dan anak yang pintar, rudan tidak mungkin suka sama dia" kata yeri mengomel sendiri.
Arin mengepalkan tinju di kedua tangannya dan menahan amarah.
Yeri menggertak gigi dan mulai berbicara
"padalah kalau saja dia memberikan nomor rudan, aku pasti bisa dekat dengan lima sekawan yang lain. Dasar ja-".
Belum menyelesaikan kalimatnya Arin membuka pintu dan berteriak ke arah yeri yang hanya sendiri di dalam toilet "hei! Beraninya kau berkata begitu tentang juvelian".
Yeri terkejut dengan suara teriakan arin dan terdiam sebentar.
'oh ayo lah yeri, dia hanya salah satu penggemar juvelian' kata yeri dalam hatinya yang menunjukkan senyum seringai.
"kenapa kau kelihatan kesal? padalah yang aku tau kau kan tidak punya hubungan apa apa dengan juvelian?" tanya yeri yang menunjukkan senyum nakal di wajahnya.
"hah? Kau pasti tidak tahu..." kata arin yang tersenyum nakal.
Arin meletakkan tangan kanannya di tengah dada dan berkata dengan percaya diri "aku ini adalah salah satu temannya juvelian".
'memang benar kami baru sekali bertemu tapi aku sudah menganggap juvelian sebagai temanku dan juvelian pasti juga berpikir begitu' kata arin dalam hatinya.
Mendengar hal itu, yeri sedikit terkejut dan tertawa keras dengan tangan yang menyentuh perut untuk menahan tawa.
"maaf, maaf tapi apa kau pikir dia menganggap mu teman? " kata yeri yang berhenti tertawa dan jari telunjuk yang menghapus air mata di mata kanan.
"apa maksudnya?" tanya arin yang menatap yeri dengan sinis.
Yeri yang rasa menemukan celah untuk kemenangan membuat tersenyum sinis.
Melipat tangan di depan dada, yeri tersenyum sinis dan berkata "apa menurut mu dia menganggap dirimu teman? Atau mungkin hanya kau saja yang berfikir begitu"
"......". Terdiam sesaat, arin Mengepalkan tinju di salah satu tangannya dan mulai berpikir
__ADS_1
'apa mungkin yang di katakan anak ini benar?
Hanya aku saja yang berpikir begitu, aku dan juvelian saja baru bertemu sekali'.
Menggelengkan kepalanya arin menghilang prasangka buruknya 'sadarlah arin, anak ini hanya ingin aku menjauh dari juvelian' kata arin dalam hatinya.
Melepaskan kepalan di tangannya arin
Melihat ke arah yeri yang ada di depannya.
tersenyum tipis arin berkata pada yeri "bukankah kau salah satu anak yang ingin mendapatkan nomor telepon dari juvelian tapi gagal?".
"apa?" kata yeri yang terkejut, menurunkan lipatan tangan yang ada di dada.
Mata yeri mulai membesar dan berjalan mendekati arin.
"sebenarnya apa masalahmu?" kata yeri yang hampir teriak karena kesal.
Memiringkan sedikit kepalanya ke arah kiri dengan tangan yang masih di lipat.
"hei... kau tahu, itu yang seharusnya aku kata tahu" kata arin dengan wajah kesal.
"sebenarnya apa masalahmu dengan juvelian sampai kau seperti ini?" tanya arin yang ingin mendapatkan jawaban.
"mentang mentang di nama belakang ada kata 'star light' banyak yang mengira dia adalah putri seorang konglomerat" kata yeri yang menundukkan kepalanya.
Mengangkat kepalanya, yeri mengepalkan kedua tangannya dan berteriak pada arin
"Emangnya seberapa hebatnya dia, sampai hanya terus mendapat banyak perhatian?".
Menggertak gigi, yeri menatap arin dengan kebencian seakan juvelian yang ada di depan nya.
"aku enggak kalah cantik dari juvelian dan di sekolahku yang dulu aku selalu dapat peringkat ke tiga" kata yeri dengan percaya diri.
"......" arin hanya diam dan perlahan menurunkan tangannya.
Berjalan dengan cepat ke arah yeri yang hanya berjarak 1meter di depannya, yeri yang menyadari hal itu terkejut dan berjalan mundur pelan pelan.
"apa... yang mau kau lakukan?" tanya yeri dengan ekspresi takut.
Dengan kepala sedikit menunduk, arin berhenti dan meletakkan tangan kanannya di bahu yeri.
Dengan pelan pelan yeri memiring kan kepalanya dan melihat ke arah tangan kanan arin yang ada di bahunya.
'kenapa suasana jadi suram begini, dia bahkan hanya diam sekarang'.
'jangan... di,dia mau membunuhku'
'aku kan sudah mengatai juvelian dan membuatnya kesal' kata yeri dalam hatinya yang mulai ketakutan.
'tidak, itu tidak mungkin! Apa sih yang kau pikirkan yeri kita kan sekarang ada di sekolah pasti ada yang dengar kalau dia mau membunuhku' pikir yeri yang merasa lega.
Tersadar bahwa tidak ada orang lewat atau pun masuk ke toilet, kaki yeri mulai gemetaran. "ternyata begitu ya, kau mau menjadi seperti juvelian" kata arin dengan senyum cerah.
'hah? Bagaimana dia bisa menyimpulkan nya begitu?' kata yeri dalam hatinya yang terkejut dengan perkataan arin yang tidak terduga.
"kalau kau berusaha kau pasti bisa menjadi orang seperti juvelian" ucap arin.
Tersadar waktu istirahat akan selesai, arin melepaskan tangannya dari bahu yeri dan berjalan ke luar toilet.
Berhenti tetap di depan pintu, membalik badannya dan tersenyum ke arah yeri.
"sampai bertemu lagi" kata arin yang melambai tangan.
Melihat arin yang keluar pintu yeri hanya diam dengan berfikir apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"apa, apaan anak itu..." gumam yeri.
Di sisi lain rudan dan juvelian yang sedang ada di taman sekolah, duduk di salah satu kursi panjang meja lipat dengan memakan es serut dan belajar bersama.
Memegang sendok es dan mengangkat es seret di sendok, rudan mengarah kan nya ke juvelian "juju~, katakan a..." kata rudan yang bersemangat.
Juvelian melihat ke arah rudan dengan wajah malu "memang nya aku ini anak kecil" kata juvelian.
Menunjukkan senyum seringai di wajahnya
"oh ayo lah, tanganku mulai pegal nih" kata rudan yang ingin menggoda juvelian.
Melihat ke sana sini tidak ada orang yang melihat, juvelian membuka mulutnya dan rudan memasukkan es serut yang ada di sendok ke dalam mulut juvelian.
'manisnya!' kata juvelian dalam hatinya sambil tersenyum dan menutup kedua matanya dengan tangan menyentuh pipinya.
"manis... " kata rudan melihat ke arah juvelian dengan senyum hangat.
"iya, manis banget!" kata juvelian sambil tersenyum. Suara jantung rudan yang berdebar mulai terdengar.
'padalah yang aku maksud manis itu dia tapi dia malah tidak menyandarinya' kata rudan dalam hatinya.
'bahkan dia lebih manis dari es serum in-' rudan berhenti berfikir karena suara orang orang yang ada di belakangnya.
"kyakk! Manisnya..."
"jantungku, jantung hampir copot".
Melihat ke belakang, rudan menatap mereka dengan sinis dengan memberi peringatan ibu jari yang melewati leher seakan mengatakan 'jika kalian tidak pergi, maka hari ini adalah hari terakhir kalian'.
Orang mulai ketakutan dan mundur perlahan.
Melihat rudan yang melihat ke arah belakang, juvelian bingung dan memilih untuk bertanya
"ada apa rudan? Apa kau melihat sesuatu?".
Melihat orang orang yang berjalan dengan takut dan kagum, wajah Juvelian menjadi merah.
'jangan bilang... '
'jangan bilang kalau kalau orang orang itu melihat ke arah sini tadi'.
'apa juvelian menyadarinya? Tidak, aku tidak boleh menunjuk sisi buruk ku padanya' kata rudan dalam hatinya yanag sudah bertekad akan membuat juvelian menyukainya.
"juju, ada apa kenapa wajahmu seperti itu?" tanya rudan yang agak khawatir.
"rudan, jangan bilang kalau orang orang tadi melihatku makan...?" tanya juvelian yang tidak tenang.
Berkedip dua kali, rudan terkejut dengan pertanyaan juvelian 'ternyata dia bertanya tentang hal itu' kata rudan dalam hatinya yang merasa lega.
"entalah, tapi mungkin enggak deh" ucap rudan yang membuat juvelian lega.
Rudan menunjukkan senyum seringai pada juvelian dan bertanya pada juvelian dengan ekspresi sedih.
"apa juju belum juga menemukan nama panggilan sayang untuk ku?"
Melihat ekspresi sedih, juvelian memiringkan kepala dengan jari telunjuk menyentuh dagu.
"Apa itu harus?" tanya juvelian.
Memegang kedua tangan juvelian "tentu saja, dengan begitu orang akan percaya bahwa kita pacaran" jawab dengan tersenyum.
"baiklah, tapi seperti butuh beberapa waktu" ucap juvelian.
Melihat ke arah es serut yang ada di meja, juvelian Melepaskan genggam tangan rudan.
__ADS_1
'karena tadi rudan menyuapi ku es serut sekarang gantian aku' pikir juvelian.
~Bersambung~