
Ini akan menjadi kali terakhir Arin mengikat tali sepatu setelah mendapatkan jawaban dari mengetes mereka
Mengalihkan pandangannya secara alami seakan dia bahkan tidak menyadari keberadaan mereka karena itu hal wajar jika jarak mereka kira kira 5 meter
'Tapi sebelum itu keselamatan hamburger ku yang utama'
Mengeluarkan pegang tas dari tangan dan menutupnya dengan cara di ikat kemudian mengikatnya dengan kuat di pinggang, dengan sedikit lega dia menepuk pelan tas itu 'Kau akan aman kalau begini'
Segera dia kembali lagi membungkuk, mereka terlihat kaget dengan tindakan Arin yang mendadak
Sekarang ujung jari tangannya menyentuh batu, tatapannya menghadap ke depan secara bersamaan bokong agak naik
'Hum! kau pasti bisa Arin' dia meyakinkan diri dan segera berkata 'Bersedia Siap Ya!' lalu mulai berlari dengan membayangkan sedang ikut lomba lari dan garis finish ada di depan mata
"Hei, kamu mau ke mana?" teriak salah satu dari mereka yang tidak menduga tindakan Arin
Memang lebih baik jika dia minta tolong sama salah satu pengemudi yang lewat mengingat banyaknya kendaraan, tapi jika dia melakukan hal itu hanya akan memunculkan keributan
Dan bisa saja ada orang yang merekam kejadian itu kemudian di bagikan ke media sosial, tidak sampai hitungan menit dia menjadi perhatian
Langkah kaki yang bercampur panik membawa Arin menunjuk ke gang di antara dua bangunan yang tidak terlalu menarik perhatian
Tapi tanpa pikir panjang dan begitu saja berbelok yang akhirnya memberi tembok tinggi di hadapannya
Tembok itu terlalu tinggi untuk dia lompati, seketika Arin menyadari mereka sengaja mengarahnya ke sana karena tau dia sedang panik
Dan berusaha menghindari perhatian orang saat melihatnya hanya diam bukannya berteriak minta tolong, gadis yang berteriak itu berpikir Arin sedang mengulur waktu
'Dia pasti akan mencari tempat untuk bersembunyi dan menunggu seseorang datang atau berlari dan meminta bantuan pada temannya yang ada di sekitar sini'
'Kenapa harus ada jalan buntu di situasi ini? Tidak, apa sejak awal di sini ada jalan buntu?'
Badannya merinding seolah sedang terjebak dalam film dengan genre horor meski dia sangat jarang jalan kaki lewat sana tapi dia cukup mengenal jalan di kota ini
"Heh kamu membuat semua menjadi lebih mudah" suara gadis itu mengagetkan Arin sampai menghilangkan suasana horor
Arin memberanikan diri untuk berbalik dan
berharap mereka masih jauh dengan
begitu dia masih punya kesempatan untuk
__ADS_1
kabur
Tapi takdir tidak berpihak padanya
hari ini karena sejak mendengar suara gadis itu tentu saja jarak mereka sangat dekat
Wajah mereka tidak terlalu jelas ketika Arin baru berbalik tapi dia tau di depan ada lima gadis dengan ekspresi seram yang menanti
Dia melirik ke sekeliling, di sana tidak ada apapun yang bisa dia gunakan untuk pertahanan ataupun melawan mereka, segera dia mengepal tinju pucat di tangannya
"Kamu tidak bisa berlari lagi sekarang" kata gadis yang mengatakan itu sambil terkekeh dengan berdiri di tengah sedang menyilangkan tangannya
Setelah memperhatikan mereka, Arin menyadari satu hal 'Apa dia yang memimpin mereka?' karena semua gadis lain hanya mengikutinya dengan patuh, itu terlihat aneh
"A, apa mau kalian?" tanya Arin dengan bibirnya ikut gemetar
"Kami? adik manis, serahkan semua uang
kamu miliki atau kami ambil secara paksa"
"Apa?" tanya Arin yang agak tercengang
"Apa aku harus mengulanginya lagi?"
"Para kakak maaf nih ya tapi saya enggak ada bawa uang?"
"Berarti kami salah pilih orang"
'Mereka mungkin aja percaya' Arin mengangguk pada imajinasinya tapi ketika
dua gadis di sampingnya yang terlihat seperti pelindung gadis itu memukul tinju
di tangan mereka
Nyalih Arin langsung ciut memang mereka akan percaya setelah melihat Arin membawa hamburger kemudian dia menggigit bibirnya
Karena tau meski dia melawan salah satu dari mereka yang ada dia akan kalah
'Apa sebaiknya aku serahkan saja?'
'Tidak! apa yang kau pikirkan Arin! kau bukan orang lemah yang akan di tindas apa lagi uang jajan bulan ini uda habis kalau ibu tau tentang hal ini kau akan habis'
__ADS_1
Di balik punggung Arin satu tangan gemetar karena takut dan memegangnya dengan tangan lain untuk menenangkan diri, dia bahkan tidak memperlihatkannya
Di balik kegelapan yang seolah menelan Arin dengan kepala yang tertunduk ada tatapan berani di kedua bola matanya
"Kalian preman?" tanya dengan suara rendah
"Kenapa? apa kamu takut sekarang?"
Arin perlahan mengangkat kepalanya dan dengan mata yang berbinar dia bertanya dengan keceriaan seakan dia bukan orang yang sama
"Wah, para kakak preman sangat keren~" wajahnya saat bertanya sangat polos
"Apa?" mereka sungguh tercengang dengan perubahan mendadak
Arin berjalan ke mereka dengan langkah kecil sambil menggenggam kedua tangannya di belakang
Arin murni bukannya mau menakuti tapi mereka yang takut perlahan mundur satu langkah satu langkah sebanyak Arin maju
Arin mengeluarkan HP nya dan menunjukkan pada di hadapan mereka "Kakak kakak keren kalian mau enggak saya foto?"
Mereka menatap satu sama lain dengan bingung 'Nggak berhasil ya? kalau begitu...'
"Terutama kakak yang di tengah, kamu cantik banget loh" Arin berkata dengan wajah terpesona
Kemudian segera mendekat pada nya "Wah, lihat anting ini! meski warnanya hitam tapi ini cocok banget sama kakak, kata mama nggak semua orang cocok memakainya"
Saat Arin mengatakan itu di suatu ruangan yang tenang Juvelian merasa telinganya gatal 'Apa aku lupa membersihkan telinga'
"Jaket ini juga cantik ada durinya" kata Arin sambil berpikir 'Durinya nggak tajamkan' Dia kembali memuji "Seleranya kakak yang satu ini memang keren banget"
Bukan hanya gadis itu yang dia puji tapi Arin mundar mandir ke gadis yang lain sebenarnya Arin bisa menggunakan kesempatan ini untuk kabur
Tapi sepertinya dia tidak menyandari hal itu dan segera telinga para gadis itu memerah, bujukan Arin berhasil
Setelah melihat Arin tidak memiliki niat jahat, mereka mengiyakan perkataan Arin, mundur beberapa langkah Arin meminta mereka untuk bergaya
Arin berlagak menjadi fotografer profesional dengan aura polos yang belum juga pudar
Tanpa rasa ragu pun mereka menuruti perkataannya dan begitu hitungan
ketiga, bukannya foto yang bagus tapi cahaya yang merambat dengan cepat
__ADS_1
Cahaya itu berkedip dua kali menusuk mata mereka yang membuat mereka mengerang, Arin yang melihat celah segera berlari melewati mereka tapi gadis yang berdiri di tengah melakukan kontak mata dengannya
Arin tanpa ragu menyerang gadis itu sebelum gadis itu bertindak dengan berpikir bisa menjadikannya tawanan dan mereka membiarkannya pergi