
Selamat Membaca
Jangan lupa like dan komentar
Kepalanya mulai terasa pusing, Luxia yang
melihat adiknya diam sambil menundukkan
kepalanya tanpa mengatakan apa pun dan
memasang ekspresi bingung
Mengacak acak rambutnya sendiri sambil menghela napas
"Apa ada yang kau tanyakan, Lian?"
Mengangkat matanya yang berbinar seolah olah lilin yang sudah padam hidup kembali dan bertanya dengan ragu"Apa saja?"
"Iya, apa saja tapi jangan pintu ini"
'Itu artinya aku boleh bertanya apa saja kecuali yang terlibat dengan perpustakaan ini'
Dia tersentak dengan perasaan janggal dan mengulang kembali perkataan Luxia
segera Melirik ke arah pintu sambil tersenyum tipis dengan di penuhi dengan perasaan lega dan berpikir
'Tadi baru saja kakak bilang 'pintu ini' bukan
perpustakaan, itu artinya kakak belum tahu
kalau aku mengetahui apa yang ada di dalam dan pernah masuk ke dalam sana sebelumnya'
Juvelian menatap Luxia yang melihatnya
dalam dalam dengan ekspresi yang tidak
bisa di tebak dan menambah dengan hati hati
'Kalau gitu apa maksud dari mimpi hari itu,
apa kakak sekarang sedang berpura pura?
atau memang tidak tau?'
'Tapi jika benar, bukannya sangat aneh dia
sangat menentang aku melihat yang ada di balik pintu ini'
'Kakak selalu memasang ekspresi datar jadi
bahkan tidak akan ada yang tau apa sekarang dia sedang berbohong atau tidak'
Membuka bibirnya dan bertanya tanpa ragu
"Siapa sebenarnya orang tua kandung kakak?"
Luxia membeku dengan pupil mata bergetar
mendengar pertanyaan yang sangat tidak
terduga seperti itu yang keluar dari perkiraan
nya
Segera setelah melihat Luxia yang hanya
diam, dia benar benar menyesal sudah menjatuhkan bertanya yang sangat sulit untuk di jawab sambil berpikir
'Apa kakak sedang marah? pertanyaan bodoh macam apa itu?Tentu saja
dia marah'
'Seorang adik yang bukan adik kandungnya bertanya siapa orang tua kandungnya dengan sengaja seperti ingin mengatakan kau bukan lah anak kandung papa mama jadi sadarlah pada tempat mu'
Tapi di luar dugaan Luxia malah tertawa
lepas sampai sampai satu air mata mengalir
di wajahnya
Dia merasa itu adalah pertanyaan yang konyol karena selama ini tidak pernah ada yang bertanya
__ADS_1
Juvelian tersentak sambil berkedip beberapa kali karena heran dan juga kaget melihat Luxia tertawa tanpa menahan dirinya
Juvelian juga melihat sisi lain Luxia yang
sangat jarang atau bahkan tidak pernah dia lihat karena Luxia yang Juvelian kenal adalah orang yang mirip dengan Ian
Sangat jarang menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya melalui
ekspresi wajah
Tapi sebenarnya mereka orang yang hangat saat kalian menjadi lebih dekat
dengannya dan memperhatikan kalian dengan cara yang berbeda atau tidak terduga
Luxia mengangkat air mata yang berkumpul
di sekitar mata dan membuangnya sambil
melihat Juvelian dengan mata tertunduk dan
berkata dalam hatinya
'Aku pikir dia akan bertanya apa, ternyata hanya orang tua kandungku, toh'
Luxia mengatakannya seolah itu adalah hal yang sangat tidak penting baginya
Mengatur kembali ekspresinya dan menghentikan tawa yang membuatnya bergidik
Luxia berbalik dengan wajah yang masih memerah dan berkata suara kecil
"Ayo, ikut aku"
"Iya..." jawab Juvelian dengan senyum gembira
'Meskipun aku tidak bisa masuk ke dalam
tapi setidaknya aku bisa menyelesaikan
potongan puzzle yang lain lebih dulu'
Juvelian dengan ceria, dia berjalan dengan
memeluk lengan kanan Luxia sambil
Mereka terlihat sangat dekat seperti terdapat lem yang menempel kan mereka "Apa sesenang itu mengandeng
tanganku?"
Berpura pura sedih dengan cemberut kan bibirnya dan bertanya balik
"Apa kakak membencinya?"
Tidak ada respons darinya kecuali bibirnya yang bergerak gerak seperti huruf W yang seperti nya sedang menahan bibirnya untuk
tersenyum
Juvelian yang melirik nya terkikik
'Kakak, kau tidak pandai berbohong kalau
sedang senang'
"Kenapa tertawa?" suaranya
terdengar tanpa nada tapi terasa sedikit
dingin
"Ada deh"Jawab Juvelian dengan
tersenyum cerah, Luxia hanya diam sambil
tersenyum tipis dengan tatapan hangat
'Sebelum kembali ke masa lalu dan hidup sebagai Riana, Aku selalu bingung kenapa Lilian atau daniel yang sedang menyembunyikan sifat aslinya'
'Akan berlari ke arah ku dan memeluk lengan
ku dengan erat saat menjadi Riana dan Arin
yang akan memanggil ku Mama dengan
__ADS_1
berlari sambil melambaikan tangan nya ke
udara dan mengulurkan tangan kemudian
memelukku'
'Meskipun perbedaan yang memanggil ku dengan Mama adalah Daniel bukan Arin'
Dia diam sebentar dan menambah kan
'Tapi ternyata rasanya menyenangkan saat memeluk seseorang yang kita sayangi rasanya seperti punya tempat untuk bersandar setelah lelah dengan kehidupan yang sibuk'
Setelah berjalan untuk waktu yang cukup
lama mereka berhenti di depan pintu yang
lebih besar dari pintu yang sebelumnya
tingginya sekitar 5meter
'Astaga, Ini pertama kalinya aku melihat pintu sebesar ini...'
Luxia melepas kan cincin emas dengan berlian ungu muda yang cerah sama seperti iris matanya
Dari pada gagang pintu atau tempat meletakkan kartu di sana hanya ada beberapa lubang dengan bentuk yang berbeda
Luxia menempelkan cincin itu ke lubang yang ada di pintu tepat atas kepala mereka tidak berhenti di sini dia kemudian melepaskan kalung dengan delapan pertama yang sangat
Berkilau dan warna yang berbeda terdapat di
lehernya tapi dia bukan meletakkan kalung
itu melainkan permatanya
Dia terlihat sangat tenang tapi kening nya yang di kerut kan menunjuk kan betapa kesal nya dia sekarang karena harus melepaskan nya dengan berhati hati
Luxia tertawa tanpa sebab tapi tidak
terdapat perasaan di dalamnya kemudian
menghela napas panjang menunjukkan betapa depresinya dia sekarang
'Tidak heran kakak selalu menggunakan kalung dan cincin itu meskipun dia terlihat sangat terganggu'
Dia mengingat kembali beberapa potong ingatan yang berhubungan dengan kalung itu dan menambah kan
'karena kalung itu terlihat sangat berat dan
mengganggu aktivitas nya tapi di sisi lain dia
terlihat sangat menyayangi nya mungkin itu
adalah benda peninggalan ibu kandung kakak'
Hanya itu yang bisa dia pikirkan sekarang,
Luxia kemudian menyusun pertama itu
secara acak dan terdengar beberapa siulan
yang terdengar seperti lagu
'Apa kakak baru saja bersiul? mengejutkan'
Dia segera melupakan pikiran itu dan lebih
fokus pada susunan permata permata itu
'Ku pikir akan di pasang sesuai warna pelangi ternyata asal asalan ya, benar juga sih kalau di susun sesuai warna akan terlihat kekanak kanakan'
Pintu itu bergetar dan berbuka ke
dalam, ruangan ini sangat gelap tanpa
cahaya, Luxia kemudian masuk lebih dulu mencari sakelar lampu di dinding dekat pintu
Begitu lampu menyala isi ruangan terlihat bercahaya ruangan ini di penuhi oleh foto beberapa orang di dinding yang mungkin saja ada hubungannya sama Luxia
~Bersambung~
Terima kasih sudah membaca novel ini
__ADS_1
Terima kasih sudah kasih semangat lewat
like dan komentar