Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 72


__ADS_3

Selamat Membaca


Jangan lupa like dan komentar


Kepalanya mulai terasa pusing, Luxia yang


melihat adiknya diam sambil menundukkan


kepalanya tanpa mengatakan apa pun dan


memasang ekspresi bingung


Mengacak acak rambutnya sendiri sambil menghela napas


"Apa ada yang kau tanyakan, Lian?"


Mengangkat matanya yang berbinar seolah olah lilin yang sudah padam hidup kembali dan bertanya dengan ragu"Apa saja?"


"Iya, apa saja tapi jangan pintu ini"


'Itu artinya aku boleh bertanya apa saja kecuali yang terlibat dengan perpustakaan ini'


Dia tersentak dengan perasaan janggal dan mengulang kembali perkataan Luxia


segera Melirik ke arah pintu sambil tersenyum tipis dengan di penuhi dengan perasaan lega dan berpikir


'Tadi baru saja kakak bilang 'pintu ini' bukan


perpustakaan, itu artinya kakak belum tahu


kalau aku mengetahui apa yang ada di dalam dan pernah masuk ke dalam sana sebelumnya'


Juvelian menatap Luxia yang melihatnya


dalam dalam dengan ekspresi yang tidak


bisa di tebak dan menambah dengan hati hati


'Kalau gitu apa maksud dari mimpi hari itu,


apa kakak sekarang sedang berpura pura?


atau memang tidak tau?'


'Tapi jika benar, bukannya sangat aneh dia


sangat menentang aku melihat yang ada di balik pintu ini'


'Kakak selalu memasang ekspresi datar jadi


bahkan tidak akan ada yang tau apa sekarang dia sedang berbohong atau tidak'


Membuka bibirnya dan bertanya tanpa ragu


"Siapa sebenarnya orang tua kandung kakak?"


Luxia membeku dengan pupil mata bergetar


mendengar pertanyaan yang sangat tidak


terduga seperti itu yang keluar dari perkiraan


nya


Segera setelah melihat Luxia yang hanya


diam, dia benar benar menyesal sudah menjatuhkan bertanya yang sangat sulit untuk di jawab sambil berpikir


'Apa kakak sedang marah? pertanyaan bodoh macam apa itu?Tentu saja


dia marah'


'Seorang adik yang bukan adik kandungnya bertanya siapa orang tua kandungnya dengan sengaja seperti ingin mengatakan kau bukan lah anak kandung papa mama jadi sadarlah pada tempat mu'


Tapi di luar dugaan Luxia malah tertawa


lepas sampai sampai satu air mata mengalir


di wajahnya


Dia merasa itu adalah pertanyaan yang konyol karena selama ini tidak pernah ada yang bertanya

__ADS_1


Juvelian tersentak sambil berkedip beberapa kali karena heran dan juga kaget melihat Luxia tertawa tanpa menahan dirinya


Juvelian juga melihat sisi lain Luxia yang


sangat jarang atau bahkan tidak pernah dia lihat karena Luxia yang Juvelian kenal adalah orang yang mirip dengan Ian


Sangat jarang menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya melalui


ekspresi wajah


Tapi sebenarnya mereka orang yang hangat saat kalian menjadi lebih dekat


dengannya dan memperhatikan kalian dengan cara yang berbeda atau tidak terduga


Luxia mengangkat air mata yang berkumpul


di sekitar mata dan membuangnya sambil


melihat Juvelian dengan mata tertunduk dan


berkata dalam hatinya


'Aku pikir dia akan bertanya apa, ternyata hanya orang tua kandungku, toh'


Luxia mengatakannya seolah itu adalah hal yang sangat tidak penting baginya


Mengatur kembali ekspresinya dan menghentikan tawa yang membuatnya bergidik


Luxia berbalik dengan wajah yang masih memerah dan berkata suara kecil


"Ayo, ikut aku"


"Iya..." jawab Juvelian dengan senyum gembira


'Meskipun aku tidak bisa masuk ke dalam


tapi setidaknya aku bisa menyelesaikan


potongan puzzle yang lain lebih dulu'


Juvelian dengan ceria, dia berjalan dengan


memeluk lengan kanan Luxia sambil


Mereka terlihat sangat dekat seperti terdapat lem yang menempel kan mereka "Apa sesenang itu mengandeng


tanganku?"


Berpura pura sedih dengan cemberut kan bibirnya dan bertanya balik


"Apa kakak membencinya?"


Tidak ada respons darinya kecuali bibirnya yang bergerak gerak seperti huruf W yang seperti nya sedang menahan bibirnya untuk


tersenyum


Juvelian yang melirik nya terkikik


'Kakak, kau tidak pandai berbohong kalau


sedang senang'


"Kenapa tertawa?" suaranya


terdengar tanpa nada tapi terasa sedikit


dingin


"Ada deh"Jawab Juvelian dengan


tersenyum cerah, Luxia hanya diam sambil


tersenyum tipis dengan tatapan hangat


'Sebelum kembali ke masa lalu dan hidup sebagai Riana, Aku selalu bingung kenapa Lilian atau daniel yang sedang menyembunyikan sifat aslinya'


'Akan berlari ke arah ku dan memeluk lengan


ku dengan erat saat menjadi Riana dan Arin


yang akan memanggil ku Mama dengan

__ADS_1


berlari sambil melambaikan tangan nya ke


udara dan mengulurkan tangan kemudian


memelukku'


'Meskipun perbedaan yang memanggil ku dengan Mama adalah Daniel bukan Arin'


Dia diam sebentar dan menambah kan


'Tapi ternyata rasanya menyenangkan saat memeluk seseorang yang kita sayangi rasanya seperti punya tempat untuk bersandar setelah lelah dengan kehidupan yang sibuk'


Setelah berjalan untuk waktu yang cukup


lama mereka berhenti di depan pintu yang


lebih besar dari pintu yang sebelumnya


tingginya sekitar 5meter


'Astaga, Ini pertama kalinya aku melihat pintu sebesar ini...'


Luxia melepas kan cincin emas dengan berlian ungu muda yang cerah sama seperti iris matanya


Dari pada gagang pintu atau tempat meletakkan kartu di sana hanya ada beberapa lubang dengan bentuk yang berbeda


Luxia menempelkan cincin itu ke lubang yang ada di pintu tepat atas kepala mereka tidak berhenti di sini dia kemudian melepaskan kalung dengan delapan pertama yang sangat


Berkilau dan warna yang berbeda terdapat di


lehernya tapi dia bukan meletakkan kalung


itu melainkan permatanya


Dia terlihat sangat tenang tapi kening nya yang di kerut kan menunjuk kan betapa kesal nya dia sekarang karena harus melepaskan nya dengan berhati hati


Luxia tertawa tanpa sebab tapi tidak


terdapat perasaan di dalamnya kemudian


menghela napas panjang menunjukkan betapa depresinya dia sekarang


'Tidak heran kakak selalu menggunakan kalung dan cincin itu meskipun dia terlihat sangat terganggu'


Dia mengingat kembali beberapa potong ingatan yang berhubungan dengan kalung itu dan menambah kan


'karena kalung itu terlihat sangat berat dan


mengganggu aktivitas nya tapi di sisi lain dia


terlihat sangat menyayangi nya mungkin itu


adalah benda peninggalan ibu kandung kakak'


Hanya itu yang bisa dia pikirkan sekarang,


Luxia kemudian menyusun pertama itu


secara acak dan terdengar beberapa siulan


yang terdengar seperti lagu


'Apa kakak baru saja bersiul? mengejutkan'


Dia segera melupakan pikiran itu dan lebih


fokus pada susunan permata permata itu


'Ku pikir akan di pasang sesuai warna pelangi ternyata asal asalan ya, benar juga sih kalau di susun sesuai warna akan terlihat kekanak kanakan'


Pintu itu bergetar dan berbuka ke


dalam, ruangan ini sangat gelap tanpa


cahaya, Luxia kemudian masuk lebih dulu mencari sakelar lampu di dinding dekat pintu


Begitu lampu menyala isi ruangan terlihat bercahaya ruangan ini di penuhi oleh foto beberapa orang di dinding yang mungkin saja ada hubungannya sama Luxia


~Bersambung~


Terima kasih sudah membaca novel ini

__ADS_1


Terima kasih sudah kasih semangat lewat


like dan komentar


__ADS_2