Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 99


__ADS_3

Juvelian mengirim pesan itu tetap sebelum Mina marah, dia sadar jika dia mengirim pesan itu setelah selesai bertengkar Mina akan curiga, keadaan sekarang saja sudah aneh


Sementara Mina yang saat itu buru buru ke belakang gedung sekolah sampai lupa menyimpan HPnya langsung melihat ke layar ketika ada yang bergetar di tangannya


Mina sadar hubungannya sama Joni berbeda dengan dulu, rasanya ada dinding putih tak terlihat yang memisahkan mereka Joni juga sadar akan hal itu


Berada di tempat yang sama dengan Joni membuatnya tidak nyaman tapi dia bertahan di sana karena dia akan menunggu Juvelian yang memanggilnya ke sana


Ketika lihat sekilas pesan yang masuk dia sedikit bahagia tapi dia tidak mau terlihat seperti pecundang yang lari dari masalah


Makanya dia marah pada Joni dan membuat dirinya terlihat berlari karena kesal 'Tahan ekspresi wajah mu Mina' kata Mina yang hampir tertawa saat marah


Juvelian melihat Mina menuju ke taman itu membuatnya lega, akan gawat kalau mereka bertemu di depan gedung sekolah


'Kakak kelas, aku tidak bisa membantu mu setelah ini tapi terima kasih untuk pertunjukan drama yang seru tadi~' kata Juvelian sambil memberi hormat


Dia berjalan masuk ke gedung sekolah, begitu berada di dalam dia bertemu dengan Kirara yang sedang menunggu di depan lift


'Aneh...' pikirnya


"Bagaimana?"


Tanpa melihat wajah Kirara, dia langsung


menjawab dengan datar "Benar benar


hancur total"


"Dia itu memang payah tapi karena dia aku jadi tau kelanjutan drama"


Kirara tertawa kecil seolah olah dia sudah


menduganya kemudian dia bertanya "Ceritakan pada ku apa yang terjadi, pasti sangat seru"


Dari suara Kirara yang terdengar sangat penasaran malah Juvelian semakin bingung dan mengerutkan dahi


"Bukannya Kak Kirara ada di sana?"


"Hah? apa maksudmu?" Kirara bertanya balik dengan wajah tak bersalah yang tersenyum

__ADS_1


'Jadi yang tadi bukan Kak Kirara'


Ketika Juvelian berbicara dengan Joni kemungkinan Kirara sudah ada di dalam gedung dan saat Juvelian mengirim pesan pada Mina itu waktu yang cukup untuk Kirara sampai di kelas


Waktu mereka selesai bertengkar, Juvelian melihat bayangan seseorang meski dia berpikir dia mungkin salah lihat tapi matanya tidak berbohong bayangan itu terlihat jelas


Dia hanya menggunakan alasan untuk menenangkan diri dan saat melihat Kirara seperti baru saja berlari dari suatu tempat Juvelian berpikir bayangan itu milik Kirara


Tapi Kirara malah bingung kalau gitu itu bayangan siapa? Juvelian merinding 'Juvel hantu nggak ada di dunia ini jadi tenang ya...'


Juvelian berusaha melupakan pikiran nya yang tadi dengan penjelasan singkat, saat berada di dalam lift, dia juga mengungkit sedikit tentang grup nongkrong


Cuman sampai Mina akan pergi nongkrong malam ini dan Joni malah ingin mengajaknya ke bioskop sementara Kirara hanya mengangguk tanda dia paham


Begitu pintu terbuka, Juvelian berjalan keluar dan ingin memastikan raut wajah Kirara setelah mendengar ceritanya


Tapi sebelum pintu tertutup sepenuh nya dia melihat sekilas bibir kirara bergerak seperti sedang mengatakan sesuatu "Jadi itu yang terjadi" dia seperti bilang begitu


Tapi di akhir saat mata mereka bertemu, Kirara tersenyum cerah seperti tidak terjadi apa apa, sebenarnya Kirara juga ada di sana untuk menyaksikan kekonyolan temannya


Meski berada di sana dia tidak mendengar dengan jelas percakapan mereka karena Juvelian malah berdiri tetap di depannya, yang dia dengar jadi nggak nyambung


Ketika pintu lift tertutup sepenuhnya, Juvelian berbalik dan berjalan di koridor menuju ke kelasnya 'Apa maksud perkataan Kak kirara tadi?'


Dari jauh napasnya terdengar tidak beraturan bahkan terlihat beberapa butir keringat menempel di rambutnya


'Apa dia baru saja menaiki tangga? sepertinya kakak juga sama dengan ku, kami tidak kuat menaiki tangga yang


jumlah anak tangga nya lumayan banyak'


Namun, Juvelian tidak mengetahui


sebenarnya Alan berlari menaiki tangga


untuk sampai di kelas lebih dulu


Begitu dia melihat Juvelian yang ingin meninggalkan tempat, dia sudah berlari ke gedung sekolah dan menaiki tangga secepat mungkin


Selama hidupnya Alan, ini adalah rekor tercepatnya dalam menaiki tangga singkat cerita perbandingan Juvelian tidak masuk akal, dia hanya naik kira kira seratus anak tangga tapi Alan...

__ADS_1


Kembali lagi ke ruang kelas, seseorang yang tadi duduk sambil melihat layar dengan tatapan aneh, dia berdiri dan berjalan menuju jendela


Ada sesuatu yang terbang ke arah jendela, dengan perlahan dia membuka jendela dan membiarkan sesuatu itu masuk ke dalam genggamannya


"Kau sudah melakukannya dengan baik" dengan berkata seperti itu dengan dingin


Ketika seseorang dari luar membuka pintu dia dengan tenang memasukkan sesuatu itu di dalam laci mejannya dia tidak merasa takut atau tegang seolah olah laci adalah tempat yang aman sekarang


Dan yang tadi masuk adalah Alan, dia benar benar terlihat lelah begitu sampai di mejanya, dia langsung menghabiskan setengah air dari botol minumnya


Melihat dia minum terburu buru tanpa tersedak sedikit mengagumkan, Alan sekilas melihat seseorang saat berlari masuk ke dalam


Dia tanpa ragu melihat orang itu, berbalik melihat ke belakang terlihat Rudan yang nampak tercengang kemudian matanya mengarah ke atas sedikit ke samping


dengan ujung bibirnya terangkat


"Apa kau lihat lihat?" tanya Alan yang benar benar tidak suka dengan senyum Rudan yang seperti sedang merendahkan dirinya


Sementara di luar kelas Juvelian sedang berbicara dengan teman dari kelas lain, Rudan bisa bernapas dengan lega


Rudan langsung menghilang senyum itu dari bibirnya dan beralih ke wajah dingin tanpa perasaan, hal itu membuat Alan tersentak dia tidak bisa menebak isi pikiran orang di depannya


Seakan Rudan adalah patung yang di pahat dengan ekspresi dengan isi hati yang berbeda, Alan menelan ludahnya


Kata pertama yang di lontarkan setelah keheningan lama yang cukup mencekik


"Kau bahkan sudah selelah ini padahal hanya berlari dari lantai bawah ke sini, apa kau yakin bisa memutuskan hubungan kami?"


Alan tersentak lagi dengan fakta yang di katakan anak itu karena marah tapi juga


terdiam tidak bisa membantah perkataan


nya yang benar


Dari pertama kali bertemu Alan sudah merasa tidak nyaman dengan tatapan Rudan yang seperti di lindungi dinding yang namanya topeng


Anak itu selalu tersenyum pada Juvelian yang terlihat tulus Alan tidak merasa ada yang salah tapi ada perasaan janggal yang sulit di mengerti sampai-


Pada hari itu dia secara tak sengaja melihat sorot mata Rudan yang membuatnya merinding, tatapan obsesi yang amat dalam yang tidak di ketahui dari kapan

__ADS_1


Kemudian dia berkata pada dirinya sendiri


'Sudah ku duga dia memang anak yang berbahaya'


__ADS_2