Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 123


__ADS_3

Begitu kata 'Paman' keluar dari mulut Juvelian, Lucas benar- benar tercengang mendengarnya sementara terdengar tawa geli dari Rudan


"P, paman...?"


Reaksi yang biasa Lucas temui jika keluar


"Kyakkk! Kakak Lucas" (Penggemar)


"Aku mencintaimu, kakak"


Atau "Melihat ketampananmu, Aku bisa pergi dengan tenang"


'Bahkan pernah ada yang pingsan di tempat hanya karena aku berkedip' pikir Lucas


"Bukankah aku pernah bilang panggil aku kakak Lucas kalau bertemu lagi, aku jadi merasa tua kalau di panggil paman" bantah Lucas sambil memamerkan wajah tampannya


"Maaf, saya tidak ingat. Tapi saya masih ingat di sarankan memanggil anda dengan paman"


'Kakak sama adik sama saja' pikir Lucas


Rudan melotot kaget 'Lagi? Jadi bukan sering lihat di drama tapi bertemu beneran' setelah berpikir begitu dia menatap Lucas dengan waspada


'Apa di hari tanda tangan? Juju kan tidak pernah mengikutinya baik dulu atau sekarang, jangan bilang mereka berpapasan ketika mengunjungi mama? Tidak! Tidak! Aku sudah memeriksa kegiatan dia agar tidak bertemu dengan Juju'


'Jadi di mana? Apa yang aku lewatkan?' Rudan mengerutkan dahi dengan perasaan pada dirinya sendiri.


Menyadari tatapan Rudan, Lucas bertanya dengan candaan "Bukankah kau keterlaluan, Rudan?"


"....?"


"Setidaknya kata 'Lama tidak bertemu' atau 'Apa kabar mu, Kak?' 'Apakah kamu baik baik saja selama ini?' ini tidak kau malah menatap ku dengan tajam"


Juvelian melirik Rudan 'Rudan menatapnya dengan tajam?. Sebentar! Mereka uda saling kenal?'


Seolah Lucas bisa membaca ekspresi wajah Juvelian, dia dengan semangat dan wajah ceria "Nona! Ini dia adik cantikku yang pernah kukatakan sebelumnya, Rudan!


Gimana dia cantik kan?"


Rudan mengaung mendengar kata 'Cantik' untuknya dan menarik kerah, Lucas tidak melawan tapi bukan berarti tidak takut, dengan panik dia bertanya


"Kau tidak mungkin mau membunuhku kan?"


"Maka berdoalah, perasaan marahku reda dengan cepat"


Mengesampingkan pertengkaran mereka, dia tertekun lalu menatap Rudan dari kepala ke kaki lalu ke kepala lagi dengan penasaran kenapa Lucas menyebut Rudan (?!) cantik


Otaknya bermain, Juvelian membayangkan Rudan versi wanita, jika di lihat satu sisi wajah Rudan memang terlihat cantik dengan rambut pirang tergerai (imajinasi), sikap elegan ketika menyelipkan rambutnya ke belakang telinga


Meski Rudan sesama wanita dia tersipu, lalu tanpa sadar isi pikirannya keluar


"Iya, canttikk" kata dengan tersipu


Jeder! Sementara Lucas berbahak dengan Juvelian yang memiliki pemikiran yang sama dengannya, dengan panik Rudan bertanya "Juju, apa maksudmu?! Aku benar- benar 100% pria. bukan wanita yang berpakaian seperti pria atau yang sejenisnya"

__ADS_1


Entah kenapa Rudan berusaha meyakinkan Juvelian jika ia adalah pria


Rudan kembali pada Lucas yang masih tertawa


Aku jadi teringat dulu pernah anggap Rudan sebagai wanita, saat itu dia memakai pakaian wanita dengan rambut panjang yang diikat, kesalahan pahaman terselesaikan ketika aku tidak sengaja melihatnya telanjang dada saat berganti baju


'Aku bersumpah tidak ada niat mengintip, hanya lewat!'


Kemudian perasaan tidak nyaman menyapu kulit Juvelian, dia baru sadar jika mereka tidak sendiri di sana, terlepas dari pertengkaran adik kakak di depan matanya pandangan orang- orang di sini aneh


Segera meraih lengan Rudan yang nampak kaget Juvelian berbisik "Ru, yang lain memperhatikan ke sini"


Dengan tenang mereka duduk sepertinya berhasil meredahkan tatapan mereka.


Rudan meraih jari Juvelian lalu memegang dengan erat, Juvelian tersentak segera menoleh


"Kau percayakan aku 'Laki- laki' kan?" tanya dengan serius


"Percaya, kok"


Lucas yang menyaksikan mengeluarkan HP lalu memfoto mereka diam- diam dengan seringai nakal di bibirnya


'Ini harus di abadikan he he he'


Rudan bernapas lega tanpa sebab lalu langsung melihat tajam ketika merasa ada yang aneh tapi tidak menemukan apapun kecuali Lucas yang acuh


'...?'


'Kau harus lebih cepat lagi jika ingin menangkapku Rudan'


Melihat hasil foto Lucas tersenyum "Ini sudah cukup sebagai bukti"


"Bukti apa?" tanya dengan jengkel


"Aku hanya melakukan apa yang Ayah minta, kita sebagai anak kan harus nurut kata orang tua"


'Sebenarnya ini sebagai bukti jika aku sudah bertemu dengan 'calon adik iparku' gara- gara ayah lebih sering melempar batu belakangan ini aku jadi tidak bisa kencan dengan ayangku'


Satu alisnya naik dia lalu menyindir Lucas "Kau kan nggak pernah mendengarkan apa kata ayah kenapa tiba- tiba jadi anak penurut"


"Selagi mereka masih hidup kita harus mencintai mereka kan"


"Jadi kau berharap ayah cepat pergi?"


Juvelian melotot kagetbaginya dan Lucas candaan Rudan sudah ke lewat, Rudan juga kaget pada kalimat yang terucap begitu aja


Meski Lucas tahu kenapa Rudan sampai bercanda begitu ia acuh pada pertanyaan Rudan bersikap seakan tidak pernah mendengarnya


Menyentuh lehernya, Lucas merasa tidak nyaman pada keheningan ini lalu memutuskan untuk pergi, dia bangkit lalu berkata


"Karena aku sudah mendapatkan yang ku butuhkan, aku akan pergi"


"Oh, iya" katanya lagi

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rudan


"Katakan pada ayah 'aku sayang padanya tapi juga enggak'"


"Apa? Kau kan ada kaki ada mulut kenapa nggak aja sendiri" Rudan benar- benar tidak sudi menyampaikannya


Sambil mengangkat dan menggoyangkan bahunya seperti menari dia berkata "Banyak jadwal yang menunggu ku. Sekarang saja aku akan terlambat, jadi aku pergi dulu" 0


'Untuk pacaran'


Dengan kepalan di tangan Rudan berkata dalam hati 'Aku akan memukulnya lain kali!'


Sementara Juvelian takjub dengan cara kabur Lucas


Sebelum menghilang di kejauhan Lucas berkomunikasi tanpa suara menggunakan bibir [Lantai ini aku sewa untukmu, tapi kau harus membalasnya. Dan selamat menikmati kencanmu, adikku sayang ♡]


Lalu satu persatu orang di meja lain bangkit mengikuti Lucas, yang membuat Juvelian sadar jika dari tadi ada yang aneh, saat mereka akan berkelahi kenapa tidak ada pelayan kafe yang menghentikan dan reaksi santai mereka juga aneh


Tanpa menoleh dia bertanya pada Rudan


"Mereka...."


"Iya" katanya dengan anggukan


'Ternyata ada juga orang orang ayah' kata setelah melihat mereka terbagi menjadi kelompok


"Dia juga menyewa lantai ini?"


"Iya"


Sementara itu, dengan hati yang berbunga- bunga Lucas mendatangi ruangan


'Sayang aku datang', setelah pintu terbuka terlihat Luxia dan Erin terlihat berbicara


"Sayang~"


"Lucas!" seru Erin


Lucas menunjuk pipinya minta ciuman di pipi, dengan tatapan lembut Erin melingkari leher Lucas dengan tangannya lalu mengecup pipi, dunia berasa milik berdua bagi mereka sampai melupakan keberadaan Luxia


"Pacarannya di tempat lain aja, jangan mengotori mataku" kata Luxia dengan ekspresi jijik


Lalu Allen membuka pintu dan bertanya


"Kalian sudah siap?"


"Tentu saja"


"Aku tidak sabar!"


"Hm"


Di lantai lain

__ADS_1


"Juju, mau pesan sesuatu?"


__ADS_2