
Selamat Membaca
Jangan lupa like dan komentar
Pintu itu bergetar dan berbuka ke
dalam, ruangan ini sangat gelap tanpa
cahaya, Luxia kemudian masuk lebih dulu mencari sakelar lampu di dinding dekat pintu
Begitu lampu menyala isi ruangan terlihat bercahaya ruangan ini di penuhi oleh gambar beberapa orang di dinding yang mungkin saja ada hubungannya sama Luxia
Di ujung ruangan ada satu gambar yang sangat besar dengan bingkai yang di lapis emas meskipun dari kejauhan kita bahkan bisa melihat wajahnya
Dia kemudian melihat ke arah lemari berbentuk kotak kaca penyimpanan yang kecil dan tinggi di depan setiap gambar yang di dalam nya terdapat
Bantal merah dan kotak kecil dari kayu yang mirip kotak perhiasan dengan corak yang berbeda beda
Di setiap kotak terdapat perhiasan dengan batu permata dengan warna yang berbeda beda
'Jangan bilang padaku kalau batu permata itu dari abu jenazah?'
Dia langsung merinding memikirkan betapa
horor nya ruangan ini jika di lihat dari sudut pandang yang lain, ruangan ini jadi terlihat seperti tempat penyimpanan abu jenazah
Seperti baru saja terbangun di dunia lain dia kemudian membayangkan arwah yang berterbangan di sekitarnya
Tiba tiba seseorang dari belakang menyentuh batunya tanpa mengatakan apa pun, sakin kagetnya dia sampai berteriak tanpa suara
"Kenapa?" tanya Luxia
Juvelian segera menggelengkan kepalanya
Memiringkan kepalanya dan memutar matanya, Luxia kemudian berbalik
dengan mengarahkan tangannya ke suatu
tempat dan menunjuk ke foto paling dekat
dengan mereka
"Dia ibuku..."
Jika biasanya seseorang membahas tentang orang yang sudah tiada pasti akan sedih terutama ibu yang melahirkan dan membesarkannya, hatinya seperti akan keluar dari rongga tapi berbeda dengan Luxia
Wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi dan emosi yang tergambar tidak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan sekarang apakah dia sedang menahan emosinya atau memang tidak sedih sedikit pun
Dengan ragu Juvelian bertanya
"Apa kakak tidak merindukan ibu kakak?"
Luxia tersentak dan melirik ke atas kemudian melihat Juvelian
Sambil menunjukkan seringai dengan sedikit mendengus seolah olah dia baru saja mendengar sebuah lelucon dan bertanya
balik
"Rindu?"
"Bagaimana aku bisa merindukan seseorang yang sangat samar di dalam
__ADS_1
ingatanku?"
Menatap foto itu dengan tatapan yang tidak bisa di mengerti dan menyentuh foto itu dengan hati hati dia menambahkan
"Ibu yang ada di dalam ingatanku adalah
orang yang dingin tanpa perasaan, dia orang yang sangat keras pada orang orang di sekitarnya bahkan pada anak kandung nya sendiri"
"Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya sendiri, dia bahkan tidak pernah punya waktu untuk ku" Luxia kemudian menambah dengan nada kebencian yang sangat mendalam
"Selama hidup ku aku tidak pernah ingat
melihatnya tersenyum hangat dan tulus pada orang lain kecuali senyum palsu yang keliatan sangat nyata karena itu aku benci tersenyum"
Matanya tertunduk menggumam kan sesuatu yang mencapai telinga Juvelian
"Karena aku sangat mirip dengannya"
Sekali lagi Juvelian membuka matanya lebar lebar dan mengangkat kepalanya melihat ke atas
Orang yang di foto itu duduk di kursi berwarna emas dengan menyilangkan kakinya
Dan kedua tangannya di atas pangkuan nya dengan gelang dan cincin di jari tengah yang menghiasi tangannya
Tatapan tajam dan dingin dari
mata ungunya yang membuat kita bergidik,
rambut hitam pekat yang di ikat sanggul
dengan metode kepang ke atas sedikit kiri
rambutnya
Kulit pucatnya yang seolah olah dia adalah mayat hidup atau vampir yang menyamar dan hidup sebagai manusia
Aura elegan dan tegas yang sangat kuat terasa walau dari foto yang mungkin sudah sangat lama yang membuat kita bisa merasa tertekan
Dan wajahnya sangat mirip dengan Luxia membuat mereka lebih mirip saudara kembar dari pada ibu dan anak
Menurunkan tangan dari foto Luxia sambil berjalan ke foto di sebelah nya yang juga punya mata ungu satu persatu foto foto itu di perkenalan pada Juvelian
Yang mengikuti nya dari belakang
sampai foto terakhir yang ada di ujung
ruangan
Kepala mereka terangkat melihat dengan seksama orang yang ada di gambar
setelah melihat foto foto leluhurnya Luxia
Juvelian yang tidak bisa berkomentar
akhirnya berkata dengan kagum sambil
bertepuk tangan dalam pikirannya
'Wah, keren!'
'mereka semua punya warna iris mata yang
__ADS_1
sama'
Sebagai satu satunya lukisan yang ada
di sana ukurannya yang hampir memenuhi
dinding itu akan membuat orang tercengang
Tapi anehnya setiap orang yang ada di gambar adalah seorang wanita dengan mata ungu dan wajah yang sedikit mirip
Bukan hanya itu tapi mata tajam dan tatapan dingin serta aura yang kuat di miliki mereka semua seakan akan itu adalah
Ciri khas yang di wariskan dalam keluarga mereka semenjak ratusan tahun lalu
"Beliau adalah Luxia yang hidup 300 tahun lalu sekaligus pemilik pertama dari rumah ini"
"Nama kakak..." gumam Juvelian dengan jarinya menunjuk pada lukisan, Luxia tersenyum tipis dan memjawab
"Iya, namaku di ambil dari beliau"
Dia menambahkan dengan apatis dan
mengeryitkan keningnya
"Dia pasti berharap aku bisa menjadi orang yang sehebat beliau"
'Kakak, bisa bisanya kakak menyebut ibu kandung kakak dengan sebutan 'dia', tidak peduli seberapa bencinya kakak pada beliau'
Juvelian yang panik mengalihkan pembicaraan dengan berlari melihat ke dalam kotak kaca di depan lukisan
Di antara benda benda antik yang ada di dalam sana yang paling menarik perhatian adalah benda yang ada di tengah
"Wah, ada pedang di dalam di sini"
Dari belakang Luxia menambah kan dengan
menolak perkataan Juvelian "Itu belati kalau mau kau bisa mengambil nya"
Melihat sekali ke dalam kaca dan menyadari yang ada di dalam sana bukanlah pedang tapi belati yang terbuat dari emas dengan beberapa butir permata yang di taburkan di atasnya dengan sangat indah
'Kakak kau serius berkata aku boleh mengambil belati itu? Mungkin saja kan salah satu dari mereka adalah abu jenazah'
'Bahkan jika tidak ada batu permata yang terbuat dari abu jenazah, aku juga tidak akan memakainya karena aku pasti lebih dulu mati terbunuh oleh penjahat sebelum mengangkat belati itu'
"Tidak batu permata dari abu jenazah jadi kau bisa tenang, Lian" kata Luxia sambil terkikik
kata kata Luxia membuat wajahnya memerah karena malu, Dia berbalik melihat kembali ke arah belati, saat di perhatikan baik baik, di sana ada beberapa huruf yang terukir di atasnya
"K Y M?" gumam Juvelian dengan apatis
"Kecantikan yang mematikan"
"Hah?"
~Bersambung~
Terima kasih sudah membaca novel ini
Terima kasih sudah kasih semangat lewat
like dan komentar
__ADS_1