
Mereka menjadi batu di tempat, Joni mulai lelah dan memutar matanya dengan jantung yang berdebar sesaat
Wajahnya menjadi cerah dan ingin menyapa Mina tapi tatapan tajam seolah olah akan
membunuhnya menghentikan niatnya
'Kau tidak mengenal ku kau ingat itu' tulisan itu terlihat di wajahnya
[1 jam kemudian]
Arin pergi ke toilet, begitu pintu di tutup dia menghela napas lelah dengan punggung sedikit menunduk
Melihat ke cermin di depannya dia membasuh wajahnya dan bergumam
"Siapa yang menyangka akan sangat
melelahkan"
Ketika mematikan keran, suara seseorang dari toilet di balik dinding di depannya mencapai telinganya "Gadis itu tipemu?"
"Kau sakit? dari segi mana kau lihat aku tertarik padanya. bahkan tidak mengingat namanya"
"Hei itu keterlaluan nama gadis itu 'Arin'. kalau kau tidak tertarik padanya kenapa kau terus melihat ke arahnya?"
Arin tersentak ketika namanya di sebut padahal belum tentu yang mereka bicara adalah dia
"Arin... siapa yang tidak mengenalnya
gadis yang dekat dengan Lilian dan Juvelian hubungan mereka seperti kakak adik"
Kemudian dia menambah dengan seringai
"Aku hanya mendekatinya dengan tujuan"
Begitu nama Lilian dan Juvelian di sebut dalam percakapan mereka, Arin tambah yakin
Dengan tangan yang gemetaran Arin mengeluarkan HPnya dan merekam pembicaraan mereka
Hatinya tidak tenang seperti ada suara yang berbisik di telinganya mengatakan
'Kau harus merekamnya'
Sambil merekam dia yang mendengar pembicaraan mereka menggigit bibirnya dengan hati yang sedikit terluka
Dia ingin menangis tapi 'kenapa aku harus
menangis karena dua pria gila itu'
Merasa pembicaraan mereka sudah berakhir Arin segera kembali duduk di tempatnya seakan dia tidak pernah mendengar perkataan mereka
Tak lama setelah Arin duduk, seorang pria mendatangi mejanya kemudian duduk di seberangnya "Maaf membuat mu lama menunggu" katanya
Arin mengangguk sopan
Pria di seberang Arin ini adalah salah satu dari dua pria di toilet tadi dan temannya juga
__ADS_1
kembali duduk ditempatnya
"Jadi, kita sampai mana pembicaraan kita tadi?"
"Oh, tentang hobi dan pekerjaan paruh waktu kamu" jawab Arin
Pria itu terus mengoceh sementara Arin mendengar dengan baik pembicaraan mereka mengarah pada dia yang membanggakan dirinya
Pria itu mulai tersadar jika dirinya sudah terlalu berlebihan ketika melihat Arin hanya diam dengan secangkir kopi di tangan dan mencoba mengalihkan pembicaraan
"Arin, kamu tidak pesan makanan? Mau ku panggilkan-"
Arin langsung menyela "Terima kasih tapi tidak perlu. Saya sudah kenyang"
'Kenyang dari mana? Tadi aja nggak sempat makan sebelum ke sini'
Arin tipe orang yang nggak bisa makan kalau ada orang yang baru dia kenal berbincang dengannya sambil makan dan...
'Kopinya pahit lihat makanan yang manis juga nggak selera' belum pernah minum kopi sampai 10 kali selama hidupnya jadi tidak terbiasa dengan rasanya
Dia tersenyum canggung sambil menyentuh tengkuknya, bertanya hal lain pada Arin
"Kalau boleh tau apa lagu yang kamu sukai?" "Pribrehacur"
Pria itu heran mendengarnya sementara Daniel di meja lain terkikik mendengarnya karena artinya 'Pria brengsek harus hancur'
Saat di sekolah jika Jiho membuat Lilian kesal, Lilian akan mencari Jiho dengan berjalan santai (tidak boleh lari di koridor) sambil memainkan kata kata sesuai langkah kakinya 'Ji- bre- ha- cu (Jiho brengsek harus hancur)'
Takut percakapan mereka akan berakhir dia bertanya lagi "Bisakah kamu memutarkan lagunya?"
Merogoh ke dalam tasnya dia menekan sesuatu di layar HP
Rekaman itu di mulai dengan suara yang dapat di dengar orang orang di ruangan ini
["Kupikir ada yang salah dengan kepalamu ternyata ada udang di balik batu ya?"]
["aku akan membantu teman"]
["Jangan bilang kau juga tertarik pada Lilian?"]
["Apa maksudmu?"] orang yang sama berkata lagi ["Meski Juvelian sudah punya pacar toh tidak akan bertahan lama"]
Semua mata tertuju pada mereka dengan
tatapan aneh wajah pria itu menjadi pucat karena tatapan orang- orang matanya sedikit tertunduk
"Nona bukankah anda benar benar tidak sopan?"
Arin tersentak mendengar perkataan lelaki di depannya, pertanyaan biasa tapi membingungkan 'Apa maksudnya?'
Kepalanya yang tertunduk di angkat dengan santai, kata yang keluar dari mulutnya setelah itu "Menguping pembicaraan orang lain bukankah sama saja mengganggu privasi orang lain bahkan sampai merekam"
Dengan kata katanya dia membalik keadaan mengarahkan semuanya pada Arin sedangkan dia berada di posisi yang aman
Mina yang geram melihat lompat dari sofa seolah dia berniat memukul orang itu, Joni yang segera sadar langsung meraihnya
__ADS_1
Berbisik pada Mina 'Tenang dulu'
'Lu suruh gue tenang sementara sampah sampah lagi berserakan?' suara Mina yang sangat kesal itu adalah kesabarannya
'Lepas atau hilang tanganmu?' ekspresinya kayak bilang begitu
Suara tepuk tangan yang nyaring dengan sedikit jeda pada setiap pukulannya menarik perhatian ke arah lain
"Dia yang lebih dulu salah sekarang membaliknya. Jika kalian bertanya siapa yang salah maka aku akan menjawab 'mereka berdua' "
Seolah setelah mendengar perkataan Daniel, salah satu gigi geraham Mina terasa ngilu "Wah harusnya dia (Daniel) saja yang ku pukul"
"Jangan main pukul aja"
"Tapi kau lah yang memulainya, berbicara tentang menggunakan Arin untuk mendapatkan Lilian atau Juvelian. Apa kau pikir mereka barang?"
Lelaki itu tergidik ketika melihat tatapan merendahkan yang dingin di mata merah Daniel
"Banyak yang menyukai dan mengerumuni mereka hanya karena wajah yang cantik, jika begitu mungkin ada saatnya mereka berharap punya wajah yang biasa"
Entah karena dia memang tidak punya rasa malu dengan lantang dia berkata "Kalau nggak punya wajah cantik mana ada yang mau ya salah mereka tidak merawat diri-"
Mendadak suara wanita berteriak ke dia
"Woii! Gampang banget ya lu bilangnya. Memang kamu pikir kami tidak cakep berdandan? Tinggal pakai sihir terus jadi cantik gitu"
Suara gadis lain juga ikutan "Mau kami cantik kek mau nggak kek apa hak anda untuk menilai ha? Kayak yang tadi ngomong ganteng banget"
Dengan tatapan mata, Daniel meminta Mina menyelesaikan masalah di sini dan dia membawa Arin keluar dari sana
Dalam perjalanan ke luar sambil menggenggam tangan Arin, dia tidak bertanya pada apa Arin baik baik saja, karena takut itu akan menggoyahkan hati Arin kemudian menangis
Daniel berpikir langsung mengantar Arin tapi suara perut Arin yang meronta terdengar
"Mau makan bareng?"
"Mau kalau ditraktir"
"Iya, aku yang traktir"
Daniel memilih makan di tempat khusus dari makanan berat sampai yang manis mereka hanya diam
Menatap Arin yang mencincang stroberi dengan sendok, dia bertanya "Masih kesal?"
"Nggak juga. Hanya saja aku sebal waktu dia bilang aku menguping pembicaraan mereka!.
Coba kau pikir toilet pria dan wanita berdekatan malah aneh kalau nggak kedengaran"
"Kenapa juga toilet wanita dan pria berdekatan?! Ini salah yang bangun"
Daniel hanya mengiyakan gerutuan Arin
"Jahat banget sih sama teman sendiri, setidaknya di hibur"
"Ini" Daniel mengatakannya sambil mendorong semangkuk es krim miliknya yang belum tersentuh
__ADS_1
"Terima kasih untuk hiburannya yang nggak tulus sama uda traktir aku"