Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 38


__ADS_3

'Sudah lama aku tidak melihat mimpi seperti ini, tapi kali ini aku ada di mana'


Juvelian melihat ke langit langit ruangan yang nampak mewah.


'Tempat ini sangat familiar tapi di mana ya...'


Melihat ke arah balkon yang ada di beberapa tempat di ruang itu mengingatkan Juvelian dengan salah satu hotel milik Luxia yang pernah dia datangi.


'Tapi kenapa tiba tiba aku ada di sini, kan katanya ingatan kehidupan sebelumnya yang ingin aku lupakan' pikir Juvelian.


Sebuah bayangan hitam melewati Juvelian yang membuatnya kaget.


Seseorang anak kecil yang mirip dengan Juvelian berdiri dengan berpegangan tangan dengan gadis kecil berambut pirang yang rambut di ikat setengah.


'Anak itu kenapa sangat mirip denganku... Apa ini salah satu ingatanku yang hilang di kehidupan ini' pikir Juvelian terdiam sebentar.


'Mana mungkin' pikir Juvelian yang tertawa kecil.


'Apa sih yang kau pikirkan Juvelian, tapi siapa anak yang ada di sebelahnya' pikir Juvelian yang berusaha berjalan tapi tidak bisa bergerak sama sekali.


"Apa yang terjadi..." gumam Juvelian yang berusaha menggerakkan tubuhnya.


'Padalah aku sangat ingin melihat wajahnya'


Anak kecil berambut pirang membalikkan kepalanya melihat ke arah Juvelian sambil tersenyum.


Anak kecil dengan rambut pirang bergelombang panjang yang berkilau dan mata biru yang seperti terdapat permata di dalamnya memakai gaun biru yang mirip warna matanya.


'Anak ini... sangat imut' kata Juvelian dalam hatinya dengan wajah tersenyum hangat.


'Tidak, tunggu, dia bisa melihatku?'.


Melihat anak kecil itu yang tersenyum pada anak kecil yang mirip Juvelian, Juvelian merasa lega.


'Syukurlah, ternyata bukan aku ya...'


"Ayo, cepat sebelum kita ketahuan" Juvelian kecil menarik anak kecil berambut pirang itu dan berlari.


"Tunggu" teriak Juvelian dengan tangan mengarah ke kedua anak kecil itu.


"Eh? Sudah bisa bergerak?" gumam Juvelian.


'Tidak, sekarang bukan untuk memikirkan itu.


Sekarang aku harus menemukan mereka'.


'Tapi aku penasaran, apa bisa menggunakan sihir saat di dalam mimpi' pikir Juvelian yang tersenyum tipis.


Tubuh Juvelian mulai melayang dan terbang di udara.


'Baiklah, mari kita lihat ini mimpi apa'


Juvelian terbang menyelusuri lorong yang memiliki beberapa pintu dengan nomor.


'Ke mana sih mereka'.


Juvelian yang terus menelusuri lorong melewati pintu tanpa nomor yang berdiri dua anak kecil yang dia cari.


Terkejut melihat kedua anak kecil itu, Juvelian berhenti dan berbalik ke tempat pintu tanpa nomor itu.


"Apa boleh kita masuk ke dalamnya?" tanya anak kecil berambut pirang dengan ketus.


"Kata kakak, jika aku bosan berada di tengah pesta. Kakak menyuruhku datang ke tempat ini" kata Juvelian kecil yang berusaha mengapai gagang pintu.


"Kakakmu sangat sayang samamu ya?".


"Tentu saja, karena aku ini satu satunya adik perempuannya" jawab Juvelian kecil.


"Tapi kakak laki laki bahkan sangat menyebalkan karena selalu menggangguku"


"Mungkin saja, dia melakukan itu karena menyayangimu" kata Juvelian kecil yang tersenyum.


"Sayang apanya, dia itu menyebalkan".


Melihat pintu terbuka, anak rambut pirang itu bertanya "Emang ada apa di dalamnya?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu karena tidak pernah ke sini sebelumnya" jawab Juvelian kecil yang berhasil memegang gagang pintu dan membukanya.

__ADS_1


"Jika kau tidak pernah ke sini, kenapa kau datang tanpa memberi tahu siapapun?" tanya anak berambut pirang itu yang hampir berteriak dan langsung menuntup mulut dengan kedua tangannya.


"Karena tidak pernah ke sini, aku mengajakmu bersamaku dan mungkin saja ada hal yang menyenangkan di sana"


"Tapi kan, kita tidak tahu apa yang ada di dalamnya bagaimana jika ada hal berbahaya" kata anak berambut pirang itu yang khawatir.


"Jika tidak ingin ikut, kau bisa kembali ke pesta" kata Juvelian kecil yang masuk ke dalam.


"Tidak, aku akan ikut" katanya dengan terburu buru masuk ke dalam mengikuti Juvelian kecil.


'Yang benar saja, masih kecil sudah bisa mengancam orang lain' pikir Juvelian yang tertawa kecil.


Juvelian masuk ke dalam dengan menembus pintu.


'Wow keren, sekarang aku jadi hantu bisa menembus pintu' pikir Juvelian yang tertawa pada dirinya sendiri.


'Tapi mereka berani juga ya, melewati lorong sepi seperti ini' Kata Juvelian dalam hatinya yang mengikuti dari belakang.


"Kapan kita akan sampai?"


Juvelian melihat ke arah anak berambut pirang itu yang berpikir hal sama.


'Kau benar, kapan kita akan sampai kalau kalian berjalan sangat lambat begitu'.


'Tiga langkah kalian saja adalah satu langkah orang dewasa. Meskipun aku tidak bisa menyalahkan mereka karena masih kecil, jadi langkah kaki tidak terlalu besar'.


Juvelian kecil berhenti di depan dinding yang ukiran satu bunga teratai besar dengan lima kelopak. "Kenapa tiba tiba kita berhenti".


Juvelian kecil hanya diam melihat dinding dan tersenyum "Kayaknya kita sudah sampai deh".


Juvelian kecil menekan kelopak bunga yang ada di tengah dengan kedua tangan kecilnya.


'Imutnya' teriak Juvelian dalam hatinya dengan tangan menutupmu.


Dinding itu hilang dan terlihat balkon besar dengan meja yang terisi banyak makanan penutup dan dua kursi.


"Wah, tempat ini sangat" kata Juvelian kecil dan Anak berambut pirang dengan wajah kagum yang berlari ke pagar besi balkon.


Melihat hal itu, pupil mata Juvelian membesar dan terbang ke arah mereka "Hati- hati, kali bisa jatuh" teriak Juvelian dengan ekspresi khawatir.


Juvelian berbalik dan melihat ke anak itu masih di dalam batas pagar besi balkon dengan wajah terkejut.


Juvelian merasa lega karena mereka tidak memanjat pagar.


Anak kecil berambut pirang itu maju ke depan dan merentangkan kedua tangannya dengan Juvelian kecil di belakangnya.


Memiringkan sedikit kepalanya dan melihat ke arah Juvelian, Juvelian kecil menunjuk ke arah Juvelian yang duduk di pagar besi balkon.


"Kau... Malaikat?" tanya Juvelian kecil dengan wajah kagum.


'Malaikat?' pikir Juvelian.


'Mereka berdua tidak mungkin bisa melihatku kan?'.


"Kalian bisa melihatku?" tanya Juvelian yang duduk di pagar besi balkon.


"Malah aneh jika kami tidak bisa melihatmu, anda kan ada di depan kami" jawab mereka bersama.


"Turunkan lah kewaspadaanmu karena aku bukan orang jahat" kata Juvelian dengan duduk menyilangkan kaki dan menopang dagu.


"Tapi biasanya orang jahat bilang mereka bukan orang jahat".


Mendengar hal itu Juvelian tertampar oleh kenyataan 'Anak ini kenapa sangat pintar'.


Juvelian kecil memegang salah satu bahu anak itu. "Dia bukan orang jahat" katanya dengan semangat.


Melihat ke arah Juvelian kecil dan bertanya dengan berbisik "Bagaimana kau tahu dia bukan orang jahat, padalah dia dari tadi mengikuti kita?".


"Dia mengikuti kita, karena ingin melindungi kita. Kau ingat tadi dia menyuruh kita berhati hati".


'Jika ingin berbisik, pelankan sedikit suara kalian dong' pikir Juvelian yang menghela napas.


Setelah anak berambut pirang itu menurunkan tangannya, mereka duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Baiklah, kenapa kau berpikir aku adalah malaikat?".


Juvelian kecil mengedipkan matanya beberapa kali dan tersenyum.

__ADS_1


"Kak pernah membacakan cerita dongeng tentang cinta malaikat dan manusia"


"Jadi, apa hubungannya?" tanya Juvelian yang masih bingung.


"Di dalam cerita, malaikatnya bisa terbang dan pakai gaun putih" kata Juvelian kecil.


'Tapi yang aku bisa terbang dengan gaun putih itu hantu deh' pikir Juvelian dengan tatapan kosong.


Anak kecil berambut pirang yang penasaran bertanya "Apa akhirnya ceritanya?".


'Pasti mereka hidup bahagia selamanya, karena dongeng anak anak biasanya begitu'.


"Di akhir cerita, malaikatnya pergi jauh sedangkan manusianya bunuh diri karena terlalu merindukan malaikat itu" kata Juvelian kecil dengan tersenyum.


Juvelian menjatuhkan topang dagunya karena terkejut.


'Akhir cerita macam apa itu? Biasanya kan berakhir bahagia seperti cinderella atau putri salju, emangnya itu dongeng yang biasa dibaca anak kecil'.


"Nak, kau tahu arti dari bunuh diri?" tanya Juvelian.


"Artinya pergi jauh dari dunia ini dan pergi ke dunia lain, kata kak Luxia begitu" Jawab juvelian kecil.


"Luxia?" tanya Juvelian yang terkejut.


"Iya, dia kakak pertamaku. Juga ada kak Allen dan Kak alan".


'Apa ini bisa di sebut kebetulan? Dari wajah sampai nama mereka sama'.


"Berapa umur kalian?" tanya Juvelian.


"Aku empat tahun" jawab Juvelian kecil dengan bahagia. "Lima"


'Anak ini mengingatkanku pada seseorang yang sangat mirip dengannya'.


"Kalau Kak Malaikat umurnya berapa?" tanya Juvelian kecil yang memegang kukis di tangannya.


'Harus jawab apa? Kalau aku bilang lima belas tahun kan enggak masuk akal, kalau begitu yang itu aja deh'.


"Kak malaikat tidak mungkin lupa sama umurnya kan?" tanya Juvelian kecil.


Juvelian terkejut dan tertawa kecil "Karena sudah terlalu lama hidup jadi kadang aku lupa dengan ku sendiri".


"Emang kak malaikat sudah hidup berapa?" tanya anak kecil rambut pirang.


"Entahlah, mungkin seribu tahun atau mungkin lebih?".


'Aku kan enggak bohong, selama ini aku selalu mati dan terlahir kembali meskipun aku enggak ingat sih. Tapi...'


'Kenapa aku jadi tanya balik sih'


Juvelian melihat ke arah kedua anak kecil yang terkejut dengan perkataannya 'Tuh, kan.


Mereka enggak percaya'.


"Tapi apa hubungan kalian? " tanya Juvelian yang mengalihkan pembicaraan.


"Dia temanku" kata Juvelian kecil yang menunjuk ke depan.


"Teman apanya, kami saja baru bertemu hari ini" kata anak di depannya.


'Yang benar saja, baru juga ketemu langsung ajak ke salah satu tempat rahasia keluarga'.


"Bagaimana dengan nama?"


"Aku Juvelian Star Light" jawab Juvelian kecil dengan tersenyum.


'oh, Juvelian Star Light...' pikir Juvelian yang tersenyum.


'Tunggu, barusan dia bilang 'Juvelian Star Light'?'


'Apa ini memang ingatanku yang hilang? Hanya ada satu cari memastikannya'


"Apa keluargamu sangat menyayangimu?"


"Tentu saja, setiap hari kami makan bersama, mama papa selalu mencium pipiku, sedangkan Kak Allen selalu bermain dan tersenyum denganku".


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2