
Namun, Juvelian tidak tau idenya yang mendadak muncul di kepalanya seperti angin lalu untuk menyelesaikan masalah
Malah akan membuat hati orang lain sakit dan terluka untuk waktu yang lama mungkin juga seumur hidup dengan berpikir 'Apa aku masih seperti angin yang tak terlihat?'
Sambil berpegangan tangan mereka kembali ke kafeteria yang di penuhi manusia yang jumlahnya tidak bisa di hitung dengan jari tapi sekarang sudah mulai lega
Sudah banyak dari mereka yang kembali ke kelas masing masing, mereka menuju ke meja tadi dari kejauhan mereka bisa rambut abu abu yang bergoyang terkena angin
Melihat Jiho yang tiba lebih dulu mereka sedikit terkikik padahal mereka sedikit berharap antriannya panjang ya, bisa di bilang mereka ingin menghukum Jiho secara tidak langsung
Mereka sedikit mengobrol sebelum Rudan mengajak Juvelian kembali, melirik meja lain sudah ada beberapa anak lain yang sudah selesai makan kembali lebih dulu ke kelas
Bahkan para gadis di meja belakang tidak terlihat lagi, dia mengangguk pada Rudan dan melambaikan tangan dengan senyum
Dalam perjalanan ke kelas Rudan
mendekatkan kepalanya ke Juvelian dia sedikit kaget, dia berpikir Rudan akan mencium pipinya lagi ternyata...
Rudan hanya berbisik di telinganya, wajahnya memerah karena malu
"Juju, kau ingat kan hari ini hari apa?"
Memutar matanya Juvelian agak bingung dengan pertanyaan yang biasa tapi seperti ada kata lain "Hari sabtu?"
Rudan tersenyum lebar dengan sinar yang seperti menyinari wajahnya yang membuat
Juvelian segera sedikit takut
'Bukan ya? kalau gitu apa?'
Rasanya seperti ada yang berbisik padanya 'Pria di depan mu berbahaya' itu bukan senyum bahagia tapi marah
Bibirnya kemudian sedikit bergerak sambil sedikit memalingkan wajahnya yang berubah menjadi raut wajah sedih
'H,hei apa aku menyakiti perasaan mu?' Juvelian bertanya tanya
Dia terus memaksa otaknya untuk berpikir tapi rasa gugup yang menghalanginya membuat otaknya seperti tersumbat, tidak ada yang dia temukan malahan pikirannya menjadi kacau
"Kau tidak ingat hari ini kita akan pergi kencan? kita sudah janji malam ini akan pergi jalan ke mall dan keliling kota"
Meskipun hubungan mereka hanya pura pura pacaran demi ketenangan masa sekolah
__ADS_1
Tapi itu juga tidak muda demi meyakinkan orang di sekitar mereka, mereka harus benar benar terlihat sangat dekat
Jika melihat kenyataan jadwal mereka yang banyak dan sibuk karena pendidikan penerus perusahaan keluarga mereka
Biasanya mereka akan pergi keluar minimal dua kali sebulan, banyak foto yang akan mereka ambil dan mengungah nya ke media sosial
'Juvel kau bodoh! kau payah, kau pikun'
'Astaga, bisa bisanya aku lupa itu adalah
hari ini' keributan yang terjadi di kepala sampai teriakan hati
Dia tetap tenang dan memegang kedua tangannya sendiri sambil menjawab "Kau bicara apa sih, bagaimana mungkin aku lupa hari ini kita akan kencan"
'apa kau tau aku benar benar menunggu hari ini tiba' kata kata itu tertahan di ujung bibir, dia tersadar mereka hanya orang dengan tujuan yang sama
"Benarkah?" tanya Rudan dengan berbinar
Juvelian menjawab sambil tersenyum
cerah "Tentu saja"
Rasanya seperti ada pertarungan sinar di antara mereka tapi sinarnya tidak sampai ke belakang karena aura hitamnya lebih kuat
Mereka terus berjalan sambil berpegangan tangan menuju kelas dengan Alan yang berjalan di belakang mereka seolah olah keberadaannya tidak terlihat di mata mereka
Awalnya berpegangan tangan saja bukan hal yang mudah bagi mereka karena Alan akan ada menghalangi mereka dengan alasan lawan jenis tidak boleh
"Kami sudah pacaran!" kenyataan yang tidak bisa di pungkiri
Biasanya kalau masih ada waktu sebelum bel berbunyi, mereka akan mendengar kan lagu bersama atau membicarakan sesuatu yang nyambung di dalam kelas
Juvelian suka saat berbicara pada Rudan alasan cukup sederhana karena Rudan tidak bermain permainan yang populer itu
Dan sekarang, Juvelian memikirkan cara untuk melarang Mina ke sana karena dari gosip yang dia dengar secara tidak sengaja
Sebenarnya Juvelian juga tidak tertarik tapi mereka terus membicarakannya di kelas bahkan sampai kafetaria
Dari mulut ke mulut, tidak sampai tiga hari gosip tidak ada siswa di Miater yang tidak tau tentang hal itu
Orang yang menyebabkan keributan itu
__ADS_1
adalah seorang gadis dengan rambut
merah yang di ikat gaya ekor kuda, matanya yang berwarna abu abu dingin sangat mengintiminasi
Ciri ciri dari orang itu sama persis dengan Mina yang sekarang, belum lagi polisi datang karena keributan
Katanya gadis itu memukul beberapa pria di sana sampai tidak bisa bergerak, dia mengamuk seperti banteng
Sebisa mungkin Juvelian ingin menghalangi hal itu terjadi, dia berpikir Mina yang terlihat seperti itu tidak mungkin melakukan nya tanpa alasan
Pada saat yang sama, dia terus saja mengesekan kuku jarinya dengan kuku jari tangan yang lain, itu sudah menjadi kebisaannya kalo sedang berpikir
Rasanya otaknya akan bekerja dengan lancar kalau dia melakukan sesuatu dengan tangannya seperti memutar pulpen atau menekan kukunya
Matanya tiba tiba terbuka lebar dengan sebuah solusi yang meski dengan kemungkinan yang kecil tapi layak di coba
'Benar, aku memang tidak bisa tapi dia pasti bisa menghentikan nya' pikirannya
Dia dengan wajah bersemangat melihat ke Rudan dan berkata "Ada yang harus ku lakukan, kalian kembali ke kelas aja dulu nanti aku menyusul"
Sambil berlari, dia melihat ke belakang dan melambaikan tangannya ke atas "Aku akan segera kembali"
Mereka membalas dengan tersenyum "Cepat kembali"
Begitu Juvelian menghilang di kejauhan mereka nampak acuh tak acuh, Alan memutar matanya melihat ke Rudan yang hanya berdiri di tempat
Alan mengeluarkan suara decakan dengan tatapan yang seperti mengatakan sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan sekarang
'Itu yang sedang kau pikiran' isi pikiran Alan terlihat sangat jelas di mata dingin Rudan
Alan segera berjalan tanpa suara ke arah yang sama dengan Juvelian sambil memasukkan tangannya ke saku celana
Tidak lama sesuatu seperti serangga terbang mengikuti Alan, padahal Juvelian pergi ke tempat lain tepat di depan matanya tapi dia terlihat tenang
Tatapan matanya yang hangat berubah menjadi dingin benar benar tidak cocok di antara cahaya matahari yang menembus kaca jendela
Pada saat yang sama Juvelian masuk ke dalam kafetaria, ketika menginjakkan kakinya di sana dia langsung melihat sekeliling dengan teliti
Lilian dan Arin yang melakukan kontak mata dengannya segera menyapanya dia juga membalas dengan senyuman
Tidak melihat orang yang dia cari, dia kemudian berjalan ke taman
__ADS_1
Di sana dia melihat Kirara duduk di kursi paling ujung sendirian sedang menatap sesuatu di layar hologram dari HP nya