
Kalian pasti bertanya tanya kenapa ibu memanggilku nona bukanya Ria, alasannya sangat mudah karena kenyataannya aku dan ibu Mira tidak punya hubungan darah
Selama ini aku hidup dengan meninggalkan keluarga kandungku karena alasan yang konyol dan hidup bersama ibu yang memberi ku kasih sayang
Ketika tinggal bersama keluarga kandung ku ibu angkat ku ini adalah pengasuh ku namanya Mira
Riana mengambil surat itu sambil menelan ludah dan perasaan ragu menghantui Riana untuk membukanya
'Bagaimana jika isinya tidak sesuai yang aku harapkan, sudah lama sejak kami bertemu kalau mereka membenciku aku harus bagaimana?'
Tangan Riana gemetar memikirkan hal yang mungkin saja terjadi, melirik ibu Mira dia bisa melihat ibu Mira sangat ingin dia membaca surat itu
Menghela napas lega dengan mengumpulkan semua keberanian Riana membaca surat itu
Putriku tercinta, Lian
Sudah bertahun tahun kau pergi dari rumah, kami harap kau kembali dan menggunakan identitasmu yang sebenarnya...
Ini memang terdengar egois tapi mama papa harap kau mau kembali ke dalam pelukan kami
Kami berjanji akan melakukan yang terbaik dan mengabulkan semua keinginanmu, sebisa mungkin kami akan menghabiskan waktu bersama mu
Tapi jangan paksakan dirimu jika kau masih ingin tinggal di sana maka lakukanlah, kami akan mengikuti semua keputusanmu
Kami mencintaimu satu satunya putri kami.
Dari papa mama
Setelah membaca surat tersebut aku menetes air mata "Bo, bohong... ini pasti bohong" aku bergumam dengan hal yang sulit untuk aku percaya
'Bisa bisanya kalian bilang mencintai ku padahal sudah mengabaikan ku sampai seperti ini
Hati ku terasa sakit seolah olah sedang tercabik, satu tetes dua tetes sampai akhirnya seluruh air mata yang tertahan kan tumpah
Aku menangis dengan senyum tipis di bibirku dengan berkata dalam hati
'Di masa lalu aku tidak membaca surat ini dan langsung membuangnya karena ku pikir mereka membenciku dan tidak menginginkanku lagi... siapa yang akan menyangka bahwa mereka...'
"Ibu mira, sampaikan pada papa dan mama kalau aku akan kembali ke rumah" kata Riana sambil mengelap air matanya
__ADS_1
"baik, nona" jawab ibu Mira sambil tersenyum bahagia
Melihat nona yang dia rawat seperti putri nya sendiri menangis terharu seolah oleh dia juga ikut merasanya Mira tersenyum dengan mata berair
Mengulurkan tangannya Mira memeluk Riana sambil mengelus kepalanya
"Menangislah sebanyak yang kamu mau, sayang"
'Nona Juvelian selalu membuang semua surat sampai tidak menjawab telepon dari nyonya dan tuan sambil marah tapi melihatnya yang menangis seperti ini'
'Apa sekarang nona sudah mulai membuka hatinya, baguslah jika begitu...' pikir Mira
'Setidaknya sedikit demi sedikit kesalah pahaman ini akan berakhir jika saja nona tau mereka berdua melakukan ini untuk melindungi nya...'
Setelah menangis sepuasnya, mata Riana bengkak parah seumur hidupnya ini pertama kalinya mata Riana bengkak sampai seperti ini
Berdiri di depan cermin dia sedang mengompres matanya 'Kayaknya aku nangis terlalu berlebihan'
Setelah mengompres matanya, dia yang merasa lelah melempar diri sendiri ke tempat tidur
Riana menggerakkan tangannya naik turun mengelus seprai yang tidak terasa terlalu dingin atau panas
'Hm... apa pesanku sudah di kirim? kenapa tidak ada balasan padahal ini sudah malam?'
Karena rasa nyaman yang dia rasakan, Riana yang merasa mengantuk hampir tenggelam ke dalam mimpi sampai mendadak suara HP yang bergering mengejutkan nya
Dia sangat terkejut sampai rasanya jantung nya akan copot, matanya langsung melek dan bangun mengambil HP di sampingnya
'Sebenarnya siapa yang meneleponku malam- malam begini?'
Dia hanya bisa menduga kalau itu adalah Lilian karena anehnya hari ini setelah pulang sekolah suaranya tidak terdengar
Mungkin dia pergi ke suatu tempat dengan kedua orang tuanya makanya baru bisa menghubunginya saat malam
Riana mengambil HPnya, di layar hitam itu tertulis dengan jelas nomor tidak di kenal
Dia sedikit ragu tapi mungkin saja itu adalah orang salah sambung tapi bukannya tidak sopan tidak menjawab
"Halo?"
__ADS_1
" Lian, tuan putri kami!" kata papa dan mama dengan lembut
Pupil matanya melebar karena merasa terharu rasanya sudah sangat lama sejak dia di panggil dengan nama itu
'Sudah bertahun tahun sejak aku mendengar suara mereka'
Riana yang terdiam dan tidak menjawab membuat orang tuanya khawatir
"Sayang, kamu baik baik saja? Apa kamu masih disana?"
Riana yang tersadar, menjawab "aku baik baik saja kok"
Orang tuanya menghelaan napas karena merasa lega, mereka bertanya
" Lian, apa benar kamu memilih untuk pulang ke rumah?"
"iya" jawabnya dengan ceria.
Setelahnya mereka mengobrol cukup lama
Riana dan ibu Mira membereskan pakaian Riana yang jumlahnya cukup banyak bagaimana pun mereka sudah tinggal bersama cukup lama
"Nona Juvelian, tidak terasa-" ibu Mira yang belum selesai bicara di potong dengan perkataan Riana
"Jangan panggil aku nona Juvelian ibu tapi Ria, hanya Ria" kata Riana dengan nada sedih.
"Ibu Mira, meskipun anda tidak melahirkanku tapi aku sudah menganggap ibu Mira sebagai ibuku sendiri" kata Riana dengan mata memerah
Ibu mira yang mendengar perkataan Riana merasa terharu sampai menangis dan memeluknya "Ria, putriku yang cantik padahal kamu sekarang sudah besar tapi tetap aja masih manja..."
"Ibu jadi merasa khawatir, kalau saja ibu bisa panjang umur ibu ingin melihat Ria ibu menikah dan hidup bahagia sebelum ibu pergi" kata ibu Mira.
"Apa maksud ibu? Aku ingin ibu hidup lama!" kata Riana dengan suara yang terus meninggi
'Ibu, jangan khawatir aku pasti akan menemukan dalang di balik kematian ibu! siapa pun itu aku akan mencarinya'
Kata Riana dalam hatinya sambil memeluk ibu Mira dengan erat
__ADS_1
~bersambung~