
"Dia monster atau apa?" itulah suara yang berbisik di telinga Juvelian dengan nada tidak suka
'Siapa yang kau maksud monster?'
Juvelian selalu sensitif dengan kata itu seolah olah ada sesuatu yang membuatnya
takut atau meninggalkan trauma
Tapi aneh nya tidak peduli berapa kali dia memikirkan nya tidak ada ingatan yang berhubungan dengan kata itu
Mari kita Kembali ke awal, suara itu adalah suara laki laki yang berdiri di dekatnya
Dia segera menoleh melihat ke asal suara begitu memalingkan wajahnya, dia langsung melihat Alan yang berdiri di sebelahnya dengan baju seragam yang terlihat sangat
rapi
Sama seperti Juvelian, Alan juga sudah berganti baju dan bergegas kembali ke gedung olahraga
"Dari mana saja, kenapa kau baru datang
sekarang?" tanya Alan dengan wajah sedih
yang membuatnya seperti anjing yang tidak bisa melihat pemiliknya
Juvelian dengan apatis bertanya balik
"Emangnya kenapa?"'
Alan tidak menjawab dan hanya diam
Juvelian yang tidak mendapatkan balasan, berbalik lagi melihat ke arah lapangan di lantai bawah, seperti nya dia masih kesal dengan kejadian itu atau mungkin dia masih marah pada Alan tanpa sebab yang pasti
Meskipun tidak mengatakan tapi wajahnya memperlihatkan semuanya, sekarang dia sedang cemburu dengan banyak orang yang mengagumi pacarnya
Tentu saja bagi orang lain itu terlihat wajar tapi dia selalu menghindar dengan berpikir sangat wajar dengan yang dia rasakan, itu pasti karena Rudan adalah temannya
'Tentu saja karena aku ingin menunjukkan kehebatan ku dalam bermain bola basket'
suaranya yang mengatakan di dalam hati terdengar semakin pelan
Alan tidak bisa seperti itu karena malu untuk mengatakan nya langsung dari mulutnya
Dan kemarin saat Alan masuk ke kamar Juvelian dengan mengendap endap dengan tujuan memeriksa HPnya
Dia tau Juvelian tidak terlalu terikat dengan hal yang berhubungan dengan media sosial, makanya dia tidak membawa nya ke mana mana karena menurutnya merepotkan
Ketika berada di dalam, dia segera memeriksa di laci sebelah tempat tidur dan meja rias
Di situlah masalahnya di mulai, dia tidak sengaja menumpahkan sesuatu di atas gaun putih dengan ukuran kecil yang ada di atas meja rias
Awalnya dia berniat untuk menghilang kan nodanya di kamar mandi dan mengembalikan nya lagi ke tempat nya
Tapi suara Juvelian yang terdengar dari koridor membuatnya kaget dan tanpa sedar dia langsung memasukkan gaun itu ke dalam saku celananya
Melihat Juvelian yang bertanya dengan apatis karena marah, dia berpikir Juvelian sudah merasa ada yang aneh dan sedang mencurigainya
Rudan yang tidak sengaja mendengar suara Juvelian di antara kebisingan itu melihat ke belakang
Sebenarnya dia agak terlambat, karena dia
tidak mau membuat satu sekolah tau Juvelian adalah pacarnya
__ADS_1
Tidak lebih tepatnya itu adalah Juvelian, Rudan sangat ini mengatakan nya pada banyak orang tapi Juvelian menolaknya
Ketika dia melihat ke belakang untuk
memeriksa, mereka melakukan kontak
mata, Rudan seketika tersenyum menyegarkan
"Kyakk, kakak tampan baru saja tersenyum padaku"
Teriakan itu memicu teriakan yang lain berkat suara ribut itulah Juvelian yang tersentak menyadari Rudan sedang tersenyum padanya
Dia segera membalas dengan tersenyum cerah yang membuat Rudan berdebar, wajahnya memerah seketika
Rudan yang biasanya bisa mengatasi banyak hal, tidak bisa mengatasi hal seperti ini dan gugup
Rudan mengalihkan pandangan ke Alan yang terus menunjukkan kedua jari tengah sambil menatapnya dengan tatapan tajam dan sinis yang mengatakan
'Enyahlah kau dari hadapan Lian'
Rudan menunjukkan sedikit seringai di bibirnya dan segera menggerakkan bibirnya 'Kalau aku enggak mau gimana?'
Di sisi lain Juvelian tidak mengerti kenapa Rudan mengatakan itu dan menunjuk dirinya
sendiri 'Sebenarnya kau ingin mengatakan apa?' pikirnya
Yang kemudian merasakan aura jahat di belakangnya, segera berbalik dan hanya menemukan Alan yang tersenyum cerah dengan matanya yang melengkung
membuat senyuman
Juvelian berbalik lagi sambil menyentuh lehernya yang masih merasakan ada yang aneh
Alan kembali lagi memamerkkan hal yang sama tapi kali ini dia menyaksikan Juvelian yang terlihat aneh, dia gugup
Dia membuang napas tenang, Juvelian membuka bibirnya dan mengatakan sesuatu dengan segala keberanian "Rudan! kau pacarku yang keren!"
Bukan hanya Rudan tapi semua yang ada di sana terdiam, keheningan itu membuatnya bisu karena tatapan tanya yang sangat banyak
Segera sorakan orang membuat mereka malu "Akhirnya kita melihat wajah pacar kak Rudan yang sangat misterius"
"Wah, benar benar butuh keberanian besar untuk mengatakan nya, aku salut sama keberanian nya itu"
"Ccieee, ada yang ngaku"
"Aku dukung hubungan kalian"
Mata mereka segera bertemu hanya menatap satu sama lain seolah olah hanya ada mereka di dunia ini dengan wajah tersipu
Kita tinggalkan dulu pasangan itu dan kembali lagi ke lapangan sekolah
Seseorang siswi dari kelas Yeri seperti sedang menggerutu"Mina ada di tim lawan"
Teman yang berjalan bersamanya membalas dengan nada malas "Kita menyerah saja pada Mina sebelum terlambat"
Bahkan sebelum permainan di mulai mereka sudah menyerah
Mereka segera melirik ke lapangan lawan yang membuat mereka heran tidak seperti biasanya Mina malah berdiri berdiri di barisan belakang dengan keadaan linglung
Tentu saja itu adalah hal yang aneh dan mengundang tanda tangan, Mina menjadi siswi kesayangan guru olahraga
karena dia memang anak yang luar biasa dalam olahraga, itu bukan lah gosip yang di lebih lebih kan tapi sebuah kenyataan yang menakutkan
__ADS_1
'Gadis Tomboi' adalah nama panggilan yang biasa orang gunakan untuknya jika melihat secara langsung penampilan nya saat mengalah kan orang satu persatu
Dia melebihi anak perempuan pada umumnya dalam setiap permainan
dan menjadi salah satu gadis yang tidak
menyerah ketika bersaing dengan anak
laki laki
Seseorang kemudian melempar bola terbang cukup tinggi di udara dan bergerak dengan cepat ke lapangan lawan
"Kalian cepat menghindar"
teriak seseorang dari tim Mina, siswi siswi yang berdiri di depan Mina berlari ke arah yang berbeda
Target segera berubah dan mengarah ke Mina dengan cepat, tidak mungkin bisa menghindar itu lah yang mereka pikir kan saat melihat bola itu hampir mencapai kepalanya
Suara yang seperti menghantam sesuatu terdengar keras, bola itu menghantam hidungnya dan Kemudian jatuh dan gelinding di lantai
Pada saat yang sama dia memegang
hidungnya yang rasanya seperti
tersambar petir
"Gila, apa baru saja ada yang salah dengan mataku?"
"Gimana ini, kenapa harus kena hitungnya"
kata gadis yang melempar bola itu dengan gelisah
Seseorang di sebelahnya membalas sambil
memukul bahu gadis itu
"Dia pasti bakalan mematahkan kakimu setelah ini, wkwk"
Gadis itu mengatakan itu sebagai sebuah
candaan karena dia ingin menenangkan teman sekelas nya itu
Dengan berpikir Mina pasti tidak merasakan sakit walau wajahnya di pukul bola ratusan kali
Hal itu memicu keributan penonton dan
orang orang yang ada di lapangan terutama
guru olahraga yang kelihatan panik
"Nak, kamu tidak apa apa kan? Bagaimana
dengan hidungmu?"
'Pak, kenapa bapak enggak angkat Mina jadi anak angkat bapak' pikir beberapa orang yang bersamaan dengan orang orang yang terkejut
~Bersambung~
tunggu bab selanjutnya, tiga hari lagi~
Terima kasih sudah membaca novel ini
__ADS_1
Dan terima kasih sudah memberi semangat dengan like, vote dan komentar