
"Emangnya sekarang waktunya mengawatirkan supmu! rambutku jadi beraroma makanan nih!"
"Aku baru cuci rambut ku tadi pagi"
Gadis itu dengan salah satu temannya pergi meninggalkan kafetaria menuju ke toilet wanita di belakang dapur
Sementara teman mereka yang lain duduk di meja belakang punggung Juvelian, Lilian dan Rudan yang ada di sampingnya dengan dua atau tiga orang lagi di sana
Mereka menggantikan teman mereka menjaga makan sambil menunggu para gadis itu mereka mengobrol
Melihat kejadian tadi Juvelian bingung sesaat dia sedang linglung sekarang, tidak bisa mengingatnya dia melihat ke sekeliling
'Ah, benar! grup nongkrong'
'Hmm, Kalau aku tidak salah ingat, Jiho pernah bilang seorang gadis dari sekolah kami mengajak nya ke sana tapi dia menolak
tanpa berpikir panjang'
'Kalau dulu aku akan berpikir dia manis tapi sekarang orang yang tidak punya hati, benar sih waktu itu kan kami lagi pacaran'
'Malah aneh kalau dia terima besoknya pasti siswa satu sekolah pasti ribut karena pria nggak setia kayak dia'
Dia memutar matanya melirik ke arah Jiho yang makan dengan elegan karena dia duduk tetap di dekat jendela, cahaya yang menerobos jendela menyinari wajahnya
Entah kenapa cahaya yang mengenai wajahnya jadi terlihat lebih tampan walaupun Juvelian terlihat jijik
'Apaan dengan semua cahaya itu?'
kemudian Juvelian kembali berpikir lagi
Gelap? tiba tiba sesuatu menghalangi pandangannya, terasa kasar tapi juga hangat yang ikut terasa di sekitar kening
Itu adalah tangan seseorang yang menutupi matanya, dari celah halus di antar jari dia bisa dengan samar melihat Jiho
Menoleh ke kiri, dia hanya menduga itu adalah tangan Rudan
Begitu tangan di angkat dari dia, cahaya segera menyerang mata yang membuatnya linglung saat melihat cahaya hitam sesaat dengan sedikit mengernyit
Ketika buta sesaat menghilang hal pertama yang dia lihat wajah Rudan dengan senyum hangat menyegarkan khasnya, mata terbuka seketika
'Aaah, kami kayak terlalu dekaaat' katanya dengan wajah sedikit memerah dengan dirinya yang terdiam
Tapi di dalam hatinya sekarang dia hampir pingsan karena mimisan mendadak atau mendorong jantung kembali ke tempatnya
'Ja jan, jantung... tenangkan dirimu, di depan ku hanya Rudan yang mungkin saja tidak memperhitungkan aku akan menoleh ke dia (sebenarnya memang sengaja)'
__ADS_1
'Dia itu Rudan, teman baik sekaligus pacarmu (masih pura pura), maka apapun yang terjadi kamu jangan melompat ke luar dari ronggaku!'
Wajah mereka sangat dekat hanya satu sentimeter sampai hidung mereka saling bertemu jika seseorang melihat sekilas ke mereka pasti akan berpikir mereka berdua akan berciuman
Juvelian melipat masuk bibirnya sambil mendorong pelan Rudan menjauh darinya dengan tangannya, dia juga mendorong dirinya menjauh
"Ber, berbahaya sangat berbahaya..." dia bergumam pelan
Rudan menyandarkan kepala pada tangannya yang bertumpu pada meja dengan tangan yang lain menyentuh pipi Juvelian
"Imut, sakin imutnya aku tidak bisa memalingkan tatapan ku pada yang lain jadi lihat aku saja, ya? aku tidak mau ada lalat buah yang mendekati mu"
Kata katanya membuat beberapa orang tersipu yang melihat ke mereka Juvelian juga bisa merasakannya
Perkataan Rudan memang terdengar indah tapi juga seperti orang yang sedang terobsesi, di telinga Juvelian sedikit berbeda ada rasa sedih dan hati yang tersakiti
"Hentikan gombalan mu banyak yang lihat"
"Cih"
Baiklah, rapat di kepala Juvelian baru saja di mulai dengan rasa haus di tenggorokan
'Kalau mengikuti ingatan sebelum kembali ke masa lalu, kayaknya Yeri yang mengamuk di kelas tanpa alasan deh'
'Dari yang ku dengar katanya suasana di tempat nongkrong mereka kacau, sebenarnya apa yang terjadi?' pikirnya
Tidak berapa lama segera kedua gadis itu kembali menuju ke meja mereka, rambut gadis tadi sudah kering meskipun masih agak basah di ujung
Gadis itu berdiri di depan temannya yang kehilangan sup "Aku minta maaf" suaranya terdengar menyesal
"Iya, aku maafin tapi traktir aku jus nanti" "Em!"
Mereka baikan lagi itu mengingatkan pada pertemanannya dengan Lilian 'Ah pertemanan memang indah...' katanya dengan pupil mata bergetar
Yang tadi mengeluh juga ikut tertawa bersama mereka suasana makan sambil bicara memang sudah biasa tapi kadang juga mengganggu masih ada makanan di dalam mulut
"Apa kalian tau siapa anak yang akan ikut bersama dengan kita?"
'Aku nggak lagi nguping cuman dengar aja aku juga nggak tertarik' pikirannya sambil minum (meski bilang nggak tertarik tapi penasaran)
Teman di depannya menjawab setelah menelan makanannya dengan cepat juga nada yang sedikit menebak
"Kalo kata Mina, dia akan bertanya salah satu anak di kelasnya, kalau tidak salah namanya Arin"
Pada saat yang sama Juvelian hampir menyembur kan air dari mulutnya tapi tertelan dan ada air yang masuk ke hidungnya karena tangannya kaget segera batuk beberapa kali
__ADS_1
'Kenapa ini selalu terjadi padaku waktunya selalu nggak tetap tapi Arin? grup nongkrong? apa ada yang salah dengan pendengaran ku?'
Lilian yang kaget segera menepuk punggung Juvelian sambil berkata "Airnya masuk ke hidung?"
Rudan yang panik, menarik beberapa helai tisu dari tempatnya dan mengeringkan hidung Juvelian yang kemasukan air
"Kenapa kau jadi ceroboh Juvel?" tanya Lilian yang masih cemas
Dia sudah bisa bernapas dengan baik dengan mengatur keluar masuk napas beberapa kali
"Aku nggak papa kok, makasih"
"Serius? uda nggak papa?"
"Iya"
Lilian membuang napas lega mendengarnya
Tersentak setelah menyadari tangannya Rudan yang gemetar memegang tangannya
dia meletakkan tangannya dia atas tangan Rudan dengan menepuk
"Nggak papa" kata Juvelian dengan tersenyum
"Sebenarnya ini kadang terjadi kalau aku tidak berhati hati, aku ceroboh banget ya"
Menyenderkan dirinya ke bahu Rudan, dia tersipu tanpa sadar Rudan bergumam "Apa yang aku pikirkan..."
ada gambaran yang muncul membanjiri kepalanya
Ada seseorang yang terbatuk seperti tersedak sesuatu tidak berapa lama dia gemetar kehilangan tenaga dan kehilangan kesadaran
Dia mengerutkan kening ketika bagian seseorang yang memegang tubuh tidak bernyawa dan memasukkan nya kedalam pelukannya
Seseorang itu berteriak dan menangis dengan tersenyum pahit, dia berkata dengan suara yang di hantui rasa bersalah "Maaf maafkan aku terlambat"
"Aku minta maaf jadi ayo bangun oke? ja, jangan bercanda"
tapi sayangnya seseorang di dalam pelukan sudah tiada
Menutup matanya dia mencium kening seseorang itu segera berkata "Aku mencintaimu"
"Aku sudah menyukai mu sejak pertama kali kita bertemu... cinta pertamaku"
Melihat keadaan Rudan seperti itu tadi Juvelian heran 'Apa dia punya ingatan buruk? aku harus lebih hati hati' pada saat sama Rudan bergumam "Itu tidak mungkin terjadi lagi"
__ADS_1