
Rudan memegang dagunya dengan sedikit menunduk "jadi kita tinggal beli arangnya kan?"Tanya Rudan.
Melihat ke arah Rudan dengan ceria Juvelian berkata "tidak perlu, kita tinggal beli seafoodnya".
"tapi kita harus membelinya dimana...?" tanya Ian.
"Hei, Kita Sekarang Sedang Dekat Ada Di Dekat Pantai Bukannya Di Hutan" jawab Jiho yang membuat anak yang tertawa.
Erin langsung teringat dengan pasar yang baru saja dia lihat dalam perjalanan kemari.
Erin membalikkan badannya dan melihat ke belakang sambil berjalan "kayaknya aku tahu deh dimana" kata Erin.
Yang lain mengikuti Erin dari belakang dengan tenang.
Di pasar..
"Alan, Rudan, Nine Dan Anak Laki Laki Yang Lain"
"Kalian Beli Setengah Ons Bawang Putih, Cabai Merah Satu Ons" kata Erin dengan berpikir keras.
Saat Alan, Rudan, Nine, dan yang lainnya ingin pergi, Erin memanggil mereka.
"Tunggu, Jangan Lupa Kecap Manis, Garam Dan Minyak Makan Satu Sachet " kata Erin yang menggigit kuku jari telunjuk sebelah kanannya untuk mengingat apa yang dia pikirkan.
"Kenapa Banyak Kali... " gumam Jiho.
Mendengar gumaman Jiho, Juvelian menjadi kesal dan memasang wajah seram dengan tersenyum "Bukannya Kau Yang Mengusulkan Untuk Memakan Seafood Bakar" kata Juvelian.
Jiho terdiam dan hanya berjalan ke arah yang berlawanan dengan tempat Juvelian dan anak perempuan lainnya akan pergi.
Anak laki laki yang lainnya hanya mengikuti dengan tenang.
Lilian menunjuk ke arah berlawanan dengan arah Jiho pergi dan berkata dengan semangat "Baiklah, Mari Kita Pergi Beli Seafoodnya ".
'hal yang paling penting dalam membeli seafood adalah memilih yang segar' pikir Juvelian yang melihat ke sekeliling dan menuju ke salah satu tempat.
"Buk, Kami Beli Setengah Kg Cumi Cumi, Satu Kg Ikan Gembung" kata Arin.
"Baiklah, Anak Manis" kata penjual itu dan mengambil plastik.
Saat penjual itu ingin mengambil ikan, erin langsung berkata "Buk, Kami Akan Memilih Nya Sendiri".
Penjual itu memberi kantong plastik pada juvelian dan erin.
"Juvelian, Kau Pilih Cumi Cuminya Ya! Aku Akan Pilih Ikannya" kata Erin.
Juvelian teringat dengan cara yang dia lihat di dalam mimpinya karena di beberapa kehidupan sebelumnya dia sangat suka makan cumi
'Ada beberapa cara yang bisa di gunakan saat memilih cumi yang masih segar yaitu dengan Pilih yang utuh dan bersih,Perhatikan teksturnya'
Melihat ke sebelah kiri dimana arin berdiri
"Arin, Apa Kau Bisa Membantu?" tanya Juvelian, Arin menggangguk.
Arin ingin meraih salah satu cumi dan Juvelian mendekatkan kepalanya ke arah arin.
"Jangan Ambil Yang Itu" bisik Juvelian dengan suara yang pelan, Arin segera berhenti.
"Dengarkan Perkataan Ku Baik Baik Arin"
"Karena Kita Hanya Akan Memanggang Yang Besar Saja".
"Sebaiknya Kita Hanya Pilih Cumi Yang Ukurannya Sekitar Dua Puluh Sentimeter, dengan warna putih dan sedikit bintik hitam".
"Pilih Cumi Yang Masih Utuh Dan Permukaannya Masih Mengilat"
"Hindari Cumi Yang Lembek Dan Berlendir Karena Itu Salah Satu Tanda Cumi Sudah Tidak Segar Lagi"
Bisik Juvelian dengan cepat dan mengambil cumi cumi secara alami seakan tidak terjadi apapun.
Arin mengangguk pelan pelan dan mengikuti perkataan Juvelian.
Berhenti sesaat Arin mengangkat satu alisnya 'bagaimana dia tau hal ini? Pasti dia banyak membaca buku, juvelian memang keren!' kata Arin dalam hatinya.
Melihat Arin dan Juvelian yang hanya memilih cumi yang besar saja membuat penjual itu merasa tertarik 'mereka ini hanya akan memilih yang besar saja atau memilih yang segar saja' pikir penjual itu.
Penjual itu mengambil udang udang dan cumi cumi yang lumayan besar dan memasukannya ke dalam plastik yang berbeda.
Juvelian dan Erin memberikan plastik yang berisi cumi dan ikan gembung ke pada penjual untuk di timbang.
__ADS_1
Penjual itu memberikan plastik yang berisi cumi, udang, dan gembung sambil berkata
"Sebagai Bonus Karena Sudah Membeli Banyak, Ini Untuk Kalian..." .
"Terima Kasih" kata mereka dengan serentak.
Juvelian yang sadar tidak ada Lilian di sekitar mereka melihat ke sekeliling dan melihat Lilian di belakang mereka dengan wajah pucat.
"Lili, Kau Baik Baik Saja kan?" tanya Juvelian yang khawatir.
Melihat Juvelian di depannya, Lilian merubah raut wajahnya dan berkata bahwa dia baik baik saja.
Melihat ke sana sini Erin mengerutkan ke keningnya "Kenapa Mereka Belum Kembali Padalah Sudah Dari Tadi".
Dari arah belakang mereka para pembeli berkumpul dan melihat mereka dengan wajah kagum.
Salah satu dari membuka mulut dan menunjuk ke arah Juvelian dan yang lainnya.
"Hei, Coba Lihat Ke Sana" katanya pada orang di sebelahnya.
Suara bisik bisik dan gumam dimana
"Apa Mereka Selebriti?" kata orang di sebelahnya.
"Kayak Mereka Lagi Liburan Deh! Kita minta tanda tangan yuk" katanya pada orang di sebelahnya.
Setelah orang berlari ke arah mereka dan mengerumuni mereka seperti ombak.
Kerumunan itu membuat Erin, Juvelian, Lilian dan Arin berpisah ke arah yang berbeda.
'kenapa harus sekarang!'
Juvelian menggumam kan sesuatu dan semua menjadi diam seakan waktu berhenti.
"Bagaimana Pun Juga Aku Harus Keluar Dulu Dari Keramaian Ini" kata Juvelian yang berusaha bergerak ke ujung kerumunan.
Orang orang yang diam kembali bergerak dan terkejut melihat juvelian menghilang.
Orang orang yang tadi mengerumuni Juvelian mulai ribut dan berusaha menemukannya.
salah satu orang yang berada di tengah kerumunan melihat juvelian yang ada di ujung kerumunan dan menunjukkan ke arah juvelian "Hei Semuanya! Dia Ada Di Sana!" teriaknya.
Juvelian terkejut dan bergumam dengan wajah pucat "Mati Aku... ".
Di sisi lain, Arin yang berhasil keluar bersembunyi di suatu tempat dan berusaha menelepon salah satu lima sekawan.
'yang benar saja kenapa tidak ada satupun dari mereka yang bisa di hubungi!' pikir yang arin yang memegang hp.
"Halo?" suara dari layar Hp Arin.
"Kenapa Kalian Lama Sekali?" tanya Arin dengan wajah kesal.
"Apa Kau Tahu Apa Yang Sedang Terjadi Di Sini?" kata Arin.
"Apa? itu Pasti Tidak Separah yang Terjadi di Sini, Bagaimana Jika Aku Bilang Ada Yang Mengira Kami Ini Adalah Selebriti Dan Mengerumuni Kami" kata Daniel yang berdiri di balik dinding.
"Jangan Bilang Kalian Juga?" teriak Arin yang langsung menutup mulut.
"Juga?Hei,Apa Kalian...".
"Sekarang Bukan Saatnya Untuk Membicarakan Ini!"
"Cepat Pikirkan Sebuah Rencana!" kata Arin yang hampir berteriak.
"Menurutmu Berapa Waktu Yang Diperlukan Untuk Pak Tio Sampai Di Sini?" tanya Daniel yang melihat ke sekitar.
"Entahlah, Mungkin Dua Puluh Menit Jika Berlari Dan Lima Atau Sepuluh Menit Dengan Mobil Kalau Kecepatan Biasa" jawab Arin yang melihat ke atas.
Berkedip beberapa kali arin langsung tersadar dengan pertanyaan daniel "Hei..., Jangan Bilang Kau Akan...".
Tersenyum tipis Daniel menjawab perkataan Arin dengan ekspresi senang.
'Anak Gila Ini...' pikir Arin
"Benar! Ayo Kita Lakukan".
"Dalam Hitungan Ke Tiga Kita Keluar Dari Tempat Persembunyian Dan Bertemu Di Tengah".
Setelah berhasil bertemu, Daniel dan Arin berdiri berhadapan.
__ADS_1
Menganggukan kepala secara bersama dengan pelan seakan mengatakan 'Ayo Lakukan'.
"Bagaimana Bisa kau Melakukan Ini Padaku?" kata Arin dengan suara keras yang menarik perhatian orang orang yang ada di pasar.
Daniel menatap mata Arin yang mengatakan
'Rencana Pertama Kita Berhasil! ayo Terus Lakukan'.
Arin mengangguk sedikit kepalanya.
Menaikkan salah satu alisnya, Daniel melihat ke arah Arin dengan wajah sombong.
"Emang Nya Apa yang Aku Lakukan Sampai Kau Begitu Marah?" kata Daniel yang mengangkat ujung bibirnya.
Beberapa orang yang mengerumuni Lima Sekawan ataupun Lilian dan Erin berjalan ke Arin dan Daniel dengan berbisik bisik dan bertanya tanya pada dirinya sendiri apa yang terjadi.
"Apa Yang Terjadi?"
"Entahlah Mungkin Laki Laki Itu Ketahuan Selingkuh Oleh Pacarnya"
"Tapi Mungkin Saja Perempuan Itu Kesal karena Kelakuan Pacarnya"
"Itu Mungkin Benar Melihat Dari Sifat Sombong nya".
'yang benar saja sampai mati pun aku tidak akan pernah pacaran dengan anak ini' pikir Daniel.
'berhasil! Orang orang mulai melihat ke arah sini' pikir Arin.
'rencana kami sangat mudah, aku dan arin akan berpura pura bertengkar dan menarik perhatsedang yang lainnya bisa pergi ke mobil'.
Memasang wajah marah arin berteriak ke arah daniel "Kau Serius Bertanya? Bagaimana Bisa Kau Bersama Dengannya Padalah Kau Sedang Berpacaran Denganku?".
"Apa Maksudmu? Apa Kau Sedang Mencurigai Ku?" tanya Daniel dengan wajah kesal.
Arin memegang hpnya yang menghadap paha kaki kananya dan menekan sekali layar ponsel.
Salah satu orang maju dengan ragu ragu ke arin dan daniel "Permisi... "
Arin menekan lagi layar hpnya dan melihat ke arah wanita itu.
"Apa Ada?" tanya arin dengan wajah kesal.
"Itu... Sepertinya Ada Ke Salah Paham, Bagaimana Jika Di Bicarakan Baik Baik Dulu?"
Kata wanita itu dengan percaya diri.
Di Sisi lain Lilian dan Erin yang sudah tidak di kerumuni lagi merasa heran dengan Arin dan Juvelian yang tidak terlihat.
'Sebenarnya Ke Mana Mereka Berdua Pergi?'
Pikir Erin yang melihat ke sekeliling dengan gelisah.
Suara hp Erin yang berbunyi...
Mengeluarkan hpnya dari kantong celana dan melihat ke arah layar.
'Eh? Arin Menelepon!'.
Begitu ingin menekan layar hp Erin terkejut karena panggilan di matikan.
Pesan masuk terlihat di layar hp dan berisi
'Kak Erin, Cepat Pergi Ke Luar Dan Temui Pak Tio. Aku Dan Daniel Akan Mengalihkan Perhatian, Kalian Harus Cepat Pergi Dan Jemput Kami',
'Kami Sudah Menghubungi Pak Tio Dan Menjelaskan Apa Sekarang Terjadi, Pasti Pak Tio Sudah Menunggu Di Luar Sekarang'
'Oh Iya, Jangan Lupa Dengan Lima Sekawan Dan Kakaknya Juvelian. kami Hanya Bisa Menahan Mereka Untuk Sementara Waktu Saja'
'Pesan Ini Masuk Sebelum Panggilan Tadi' 'Artinya... Asalan Orang Orang Yang Mengerumi Kami Pergi Ke Arah Lain Karena Rencana Mereka' pikir Erin.
Erin dan Lilian berlari keluar dengan Erin yang menelepon salah satu lima sekawan.
"Ian, Sekarang Cepat Beritahu Yang Lain Untuk Pergi Ke Luar Dan Temui Pak Tio Yang Sudah Menunggu Kita".
"Sebenarnya Apa Yang Terjadi?"
"Nanti Aku Jelaskan Di Mobil"kata Erin.
Erin mematikan hpnya dan berlari lebih cepat dari yang sebelumnya.
__ADS_1
~Bersambung~
Terima kasih, Karena uda baca Novelnya Dan Jangan Lupa Untuk Like ya...