
Pada saat yang sama, Juvelian tidak tahu sekarang ada di mana dirinya, karena rasanya rumah hantu ini lebih luas dari kelihatannya
Terlebih isi rumah hantunya di susun mirip, rasanya seperti ada di ruang yang di penuhi kaca dan kita hanya berputar putar saja
Jantung nya berdebar dengan wajah yang tersipu terkadang ini terjadi saat dia akan mencoba hal baru
'Meskipun di masa lalu aku sudah beberapa kali datang ke rumah hantu dengan Lilian atau teman yang lain. Tapi aku-'
Segera telinga Juvelian menangkap suara jeritan ketakutan seseorang yang terdengar semakin keras dan akan menghampiri dirinya dari belakang
Dia berbalik ke arah suara, tangannya yang memegang sesuatu yang Luxia berikan semakin erat karena itu dia tidak sengaja mengaktifkan benda itu
Benda itu mengeluarkan cahaya tepat di bawah wajahnya, cahaya yang memancar ke wajah secara mendadak membuat terkejut orang yang melihatnya
Seseorang yang dari tadi berlari tanpa arah itu sontak kaget dan berteriak semakin keras "Acck!!! hantuu"
Sama sepertinya Juvelian juga kaget tiba tiba melihat wajah orang, sakin kagetnya dia sampai membatu di tempat
Seseorang itu pun berlari sambil menangis dan menabrak lengan Juvelian. Tangan Juvelian menjadi licin dan menjatuhkan benda itu
"Mamma. Huuaaa, aku mau pulang. aku enggak mau lagi datang ke sini"
"Acckkkk, ada hantu lagi" itulah teriakan terakhir yang semakin pudar di udara
Ruangan kembali menjadi gelap saat benda itu terjatuh kemudian menghantam lantai
Dia membungkuk dengan tangannya yang meraba lantai 'Bisa bisanya dia menyebut
wajah secantik ini sebagai hantu, enggak
mirip kali' katanya dengan bibir cemberut
Dia mengingat kembali di mana suara benda itu jatuh dan mengelinding tapi-
Tangannya mendarat ke sesuatu yang
berbentuk panjang tapi sedikit keras dan kasar tapi juga lembek
'Eh?' kemudian sesuatu menabrak sepatunya dengan lembut meski tidak melihatnya dia tahu itu yang dia cari
'Kalau dia ada di sana jadi ini apa?'
Jelas jelas benda yang Luxia berikan berbentuk bulat dan sedikit dingin
Dia segera menjadi takut, dia ingin menakuti hantu tapi dia sudah takut lebih dulu
Pikirnya mulai berkhayal ke sesuatu yang
membuatnya merinding seketika
'Tangan, ini pasti tangan manusia. tunggu! Emangnya masuk akal ada tangan manusia di sini'
Juvelian berpikir positif bahwa itu hanya tangan palsu yang sengaja di letakkan untuk menakuti pengunjung
__ADS_1
Kemudian sesuatu itu bergerak 'Aku tarik kembali ucapan ku...' dan Juvelian tanpa sadar menarik tangannya
"Ini punya kamu?"
'Suara perempuan?'
"Ah iya, terima kasih ya" jawabnya sambil
sedikit meraba udara dan mengambil
senternya dari tangan orang itu
'Padahal dia seorang wanita tapi tangannya berotot, keren. Tapi apa tingginya termaksud normal?'
Juvelian tidak bisa melihat wajah orang itu tapi bola matanya yang berwarna aquamarin terlihat indah di dalam gelap
Itu mengingat kan nya pada Rudan, wanita itu segera pergi tanpa mengeluarkan suara seperti saat dia datang seolah olah dia menghilang di telan kegelapan
Kemudian Juvelian teringat, perkataan Luxia yang bilang benda ini akan menyala jika kita pegang karena kena suhu hangat manusia
Tapi saat wanita itu memegangnya benda itu tetap mati
'Dia bukan hantu benaran kan?' pikirnya sambil tersenyum tanpa tujuan
Dia berpikir begitu tanpa melihat benda itu tidak menyala di tangannya dan juga Luxia bilang akan hidup jika di pegang dengan penuh keyakinan
Dan sekarang kita kembali ke Alan, saat
dia melihat kain putih melayang seakan akan memakaannya
Dia memukul tanpa pikir itu adalah hantu benaran atau palsu tapi melihat tidak ada reaksi apa pun dan kain itu terhempas oleh angin, dia merasa tenang
Krekk, suara pintu tua yang terbuka suaranya tidak seperti di dorong angin
tapi di buka seseorang
'Apa lagi yang datang kali ini? Kenapa kalian senang banget ikuti aku?'
Ketika dia menyenteri wajah orang itu yang dia dapatkan adalah wajah dingin tanpa ekspresi yang menambah kesan horor
Cahaya yang menerangi wajahnya memperlihatkan wajahnya dengan jelas itu adalah Luxia yang tidak sengaja
berjalan ke tempat Alan
"Kak Luxia?"
"Hm"
Alan yang masih belum percaya berniat
menyentuh pipinya memastikan yang ada
di depannya memang nyata
__ADS_1
"Ini benaran kak Luxia kan? Benarkan?"
"Haruskah aku mematahkan jari- jari mu biar kau percaya?"
Jawaban yang kejam tanpa emosi seperti itu membuatnya percaya
"Yang mulia kakak, saya percaya"
"Kita sebenarnya ada di mana sekarang?"
"Entahlah"
Kemudian ada cahaya bergerak gerak tidak beraturan dengan cepat di bola yang mereka pegangan
Cahaya itu seharusnya berasal dari mereka yang memegang bola itu, mereka berdua ada di sana bersama yang tersisa Allen dan Juvelian
Antara mereka yang sepertinya sudah menemukan jalan keluar, sebenarnya alasan mereka berpencar adalah untuk menemukan jalan keluar
Rumah hantu yang mereka masuki sedikit unik, tempat ini seperti labirin kaca apa lagi karena gelap jadi lebih sulit menemukan jalan keluarnya
Juvelian berada di tempat tadi juga melihat cahaya dan berjalan ke sana, begitu berada di sana yang lain sedang menunggunya
"Ah, maaf aku terlambat"
Luxia meletakkan jarinya di bibir menyuruhnya diam, mengintip di balik pintu mereka melihat ada banyak sekali hantu di sana
Itu sangat aneh, kenapa mereka tidak berkeliaran menakuti orang dan membuat bingung
Dan lagi ini satu satunya tempat yang mereka datangi memiliki sedikit cahaya dengan begitu kita bisa melihat mereka tanpa bantuan senter atau yang semacamnya
Mereka pun mengatur sebuah rencana
dan yang jadi umpannya adalah Alan yang kalah dalam suit
'Saudara macam apa kalian yang mengor-
bankan ku'
Alan berjalan ke para hantu yang sedang nganggur di sana, kakinya yang menendang kaleng dengan sengaja untuk memancing mereka, mengagetkan mereka
Mata mereka bertemu, Alan bergegas lari melewati koridor yang di dekatnya ada satu ruangan kosong, dia yang lari lebih dulu menghilang di kegelapan
Mereka berpikir mungkin saja dia bersembunyi di dalam sana
Mereka yang jumlah banyak mencari di setiap lemari menyisakan tiga pintu lagi.
Dan Juvelian ada di dalam salah satu pintu itu, dia bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat
'Tunggu Juvelian, sekarang bukan saatnya sebentar lagi, tunggu sebentar lagi'
Langkah kaki semakin keras dan berhenti 'Sekarang!' dia membuka pintu dengan cepat, itu adalah vampir
Vampir yang memakai pakaian kuno dan wajah pucat yang membuat kaget, Juvelian meletakkan kertas kuning di dahi vampir itu
__ADS_1
"Paman vampir tidak boleh bergerak, ya" kata Juvelian sambil melambaikan tangan berlari keluar