Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 81


__ADS_3

Padalah ada yang pergi ke gedung olahraga untuk melihat anak laki- laki tampan yang berkumpul yang sangat jarang terjadi apa lagi pertandingan yang lihat secara gratis


Emang siapa yang bisa menolaknya?


Di tambah dengan cuaca yang tidak


panas tapi juga tidak mendung menambah


semangat mereka


Sebagian siswi siswi yang menunggu giliran pergi ke gedung olahraga untuk melihat siswa siswa yang bermain basket


Bagi mereka, ini adalah kesempatan yang sangat jarang terjadi untuk melihat lelaki tampan berkumpul di satu tempat


Sebenarnya juga ada yang memberikan semangat kepada pacar mereka, pada saat itu lah gedung olahraga sangat berisik


Di lapangan sekolah, pak guru memegang bola di tangannya dan meniup peluit, dia segera melambungkan bola ke atas


Yeri dan Juvelian yang berdiri di garis depan langsung melompat bersamaan hendak


meraih bola


Tapi Yeri dengan cepat meraih bola lebih dulu dan memegang nya dengan erat seolah olah dia tidak akan membiarkan orang lain merampas bola itu


Kaki Juvelian kembali mendarat di lantai dengan dirinya yang sedikit mundur karena kesulitan menjaga keseimbangan untuk beberapa saat


Dia sedikit mendecak dengan nada kesal karena tidak berhasil bola seolah olah dia mengatakan pada dirinya sendiri 'harusnya aku bergerak lebih cepat'


pada saat yang sama Yeri yang menyandari Juvelian sedikit lengah segera melemparkan nya pada Juvelian dengan kekuatan penuh


Bola terbang dengan di ikuti suara angin yang berhembus, Juvelian juga terkejut baru menyandari bola mengarah padanya Kemudian bunyi gedebuk datang dari dada Juvelian yang kepala sedikit menunduk


Arin yang melihatnya dari kejauhan terdiam 'mama... keluar? bola itu mengenai mama tadi?'


Dia seperti tidak percaya Juvelian akan di kalahkan secepat itu, tidak lama kemudian seringai muncul di bibirnya


Juvelian mengangkat kepalanya sambil


memegang bola dengan kuat, tangannya terlihat berkeringat dingin seperti dia sedikit kesulitan untuk menangkap bola


Arin yang melihat Juvelian berhasil menangkap bola, tanpa sadar bangkit dan berteriak ke arah lapangan dengan suara riang


"Mama sudah ku duga kau tidak mungkin kalah" suara sangat keras di tengah keheningan di lapangan


Panggilan sayang untuk sahabat, memang


sangat popular di sekolah mereka seperti si cantikku, malaikatku dan yang lainnya terutama 'mama'


Mereka biasa menggunakan nya saat sedang berkumpul dengan teman dekat tapi tidak pernah ada yang berani mengatakan nya di depan umum


Tentu saja, beberapa orang terlihat terdiam atau ternganga sambil menatap dirinya, Arin yang menyandari nya menjadi malu dan segera duduk

__ADS_1


'Ackkk, aku malu banget! Arin apa sih yang kau lakukan?!'


dia pun berdebat dengan pikiran nya sakin malunya


Mereka kembali ke permainan, Juvelian kemudian mengayunkan lengannya


Bola terbang bersamaan suara yang membelah angin yang di ikuti angin yang berhembus


Yang kemudian mengenai dua orang yang seperti berniat untuk menghindar namun terlambat


Bola berguling kembali melewati garis dan berhenti di depannya, dengan semangat


membara di hatinya, dia sekali lagi melempar bola ke lawan


Beberapa siswi keluar dari permainan, tidak berhenti sampai di situ seorang gadis yang berdiri di antara gadis gadis yang berlari menghindar dari bola menangkap bola itu


Gadis itu menatap Juvelian dengan mata api yang kelihatannya sangat kesal dan marah pada Juvelian karena teman sekelas terus saja keluar permainan


Dengan wajah ngeri yang penuh kemarahan, dia melempar bola ke arah yang berbeda dengan Juvelian dan di tangkap Lilian yang sudah bersiap dari tadi


Lilian mendengus lembut seperti baginya bola sangat mudah untuk di tangkap,


Dia melempar bola dengan santai dan di tangkap seorang gadis di belakang Yeri


"Permainan yang membosankan berubah menjadi menyenangkan nih, bukan begitu


J U V E L I A N? " gumam Yeri


Meskipun ada kejadian tadi tapi Arin yang duduk di tangga berteriak memberikan semangat pada Juvelian dan Lilian


Seperti tenaganya terisi penuh Lilian


menjadi lebih bersemangat dari pada tadi


dengan melambaikan tangannya ke atas


dan tersenyum cerah


Tiba tiba Arinyang merasakan keanehan, memegang perut nya dan bergumam


"Gawat, tanda tandanya sudah muncul"


"Apa...?" tanya Mina yang tidak sengaja mendengar gumaman nya dan tidak


mengerti apa yang Arin maksud


Tanpa menjawab pertanyaan Mina, Arin bangkit dan berlari ke arah toilet di lantai satu


'Dia mau buang air besar, ya?' pikir Mina yang nampak tercengang


Mina melihat Arin sampai menghilang di kejauhan dan kembali pada posisi semula

__ADS_1


Seseorang yang entah datang dari mana berjalan mendekat ke Mina dan berkata dengan nada apatis


"Sudah lama tidak bertemu ya, kak Mina"


Mina yang bisa menduga siapa itu hanya dengan mendengarkan suaranya segera membalas "Benar, kira kira sudah 3tahun lebih terakhir kali kita bertemu kan?"


Anak yang berdiri di Mina awalnya diam dan membalas "Lebih tepat nya setelah lulus SD dan itu sudah berlalu lebih dari 4tahun"


Dia kemudian duduk di samping Mina dengan kedua tangannya memeluk sebuah buku, melihatnya yang memeluk buku itu dengan hati hati, dia sangat menyukai buku


Tatapan anak itu terlihat dingin di tambah dengan rambut perak yang membuatnya terlihat menakutkan saat berada di gelap


kalau misalnya dia bermain rumah hantu dan berada di tempat yang sangat gelap tanpa cahaya yang masuk ke ruangan dan berdiri diam di tempat


Mungkin orang yang lewat akan pingsan karena mengira mereka baru saja bertemu dengan hantu sungguhan


Mina sedikit terkikik saat memikirkan nya


tapi terdiam saat teringat hal lain ketika mengingat mata merahnya itu


'Padalah mata merah milik saudara kembarnya terlihat indah seperti permata ruby tapi tatapan anak ini seperti dengan sengaja menghancurkan sinarnya'


Tatapan yang selalu kosong seperti tidak ada kehidupan di dalam nya membuat


beberapa orang akan berpikir dia hidup di


keluarga yang menganiaya diri nya karena kebencian yang tidak bisa di jelaskan


Hal itu selalu membuat Mina bertanya tanya apa yang terjadi pada dia padahal anak ini tumbuh dengan banyak cinta dari kedua orang tuanya


Mereka berdua (Alex dan Alexia) pernah tinggal di apartemen yang sama bahkan tetangga sebelah rumah Mina, Joni dan Jake


Jadi tentu saja, Mina melihat dengan matanya sendiri bertapa ramahnya kedua orang tua mereka


'Kedua orang tuanya tidak terlihat seperti orang yang akan memberikan kasih sayang yang berbeda pada mereka, bukankah harusnya dia terlihat seperti Alex?'


Tentu saja orang yang Mina maksud adalah Alexia, adik kembaran yang punya wajah yang sangat mirip dengan Alex


"Kakak sudah bertemu dengan mereka?"


"Ya begitulah"


Mina terdiam dan menyandari ada yang aneh dengan pertanyaan itu, Mina bertanya balik sambil melihat wajah Alexia


"Hei, dari mana kau tau mereka sudah kembali ke negara ini?"


~Bersambung~


tunggu bab selanjutnya, tiga hari lagi~


Terima kasih sudah membaca novel ini

__ADS_1


Dan terima kasih sudah memberi semangat dengan like, vote dan komentar


__ADS_2