
'Dia segera bangkit dan meninggi kan suara berkata penuh kekesalan
"Kalian ini bicara apa?!!"
"Ingatan kalian bermasalah ya? Jake baru saja bilang artis dan alur yang berbeda, tentu saja dia yang melihat film ini"
Perkataan Mina terdengar masuk akal sampai membuat Joni langsung syok sambil bertanya "Astaga, kak. Apa kau juga suka sama cerita romantis kayak gini?"
Dengan wajah yang memerah dia menjawab "Kalian bicara apa sih, sejak kapan aku
suka film yang memiliki genre romantis.
Joni, kau yakin itu bukan kau?"
Mereka terus melemparkan nya pada yang lain, sampai akhir tidak ada yang tau siapa orang yang menyukai film ini
Dan juga karena Mina malu untuk mengatakan dirinya sangat suka film romantis, ya sebenarnya Jake dan Joni juga
pernah suka sama film ini
Mereka seperti kembali ke masa kecil mereka yang kadang kadang bertengkar,
ibu Mina yang melihatnya tersenyum tipis
Meski ini lebih baik daripada saat mereka melempar bantal yang tersusun rapi di kursi, kejadian hari itu masih tergambar dengan jelas, ruang tamu yang berantakan dan mereka yang di marahi habis habisan...
[Di depan pintu rumah]
Setelah melihat jam yang mengarah ke angka sebelas lewat, mereka memutuskan untuk pulang
Tapi Ibu Mina terus saja mendesak mereka untuk menginap saja malam ini karena sudah hampir tengah malam
Dengan perasaan khawatir ibu Mina bertanya sekali lagi
"Ini sudah mau tengah malam, lebih baik kalian menginap saja malam ini, besok baru pulang"
"Gak apa apa, bibi. soalnya besok sekolah"
Tapi di dalam hati mereka bilang seperti
dengan perasaan takut'
'Bibi jika kami menginap di sini nyawa kami akan melayang'
Karena Mina terus saja menatap mereka dengan tatapan sinis dan aura gelap yang membuat kita takut dengan suara hatinya yang terdengar keluar sampai ke wajahnya yang mengatakan
'Awas saja kalau kalian menginap' Ibu Mina
menghela napas dan mengatakan kalimat
yang sudah dia katakan sebanyak lima kali
"Bibi katakan sekali lagi jangan keluar
rumah jauh jauh, jangan begadang besok
sekolah dan langsung telepon bibi kalau
terjadi sesuatu"
Ocehan ibu Mina yang terus berlanjut terasa seperti angin sepoi sepoi yang mengoyang kan rambut mereka dan merasa mengantuk
'Astaga nasihat bibi bahkan lebih parah
dari omelan ibu'
Di depan mereka, Mina terkikik melihat mereka yang kelihatan lemas tidak berdaya mendengar perkataan ibunya dengan menunjuk kan perasaan iba yang palsu
"Kalian mengerti?"
mereka langsung menjawab
__ADS_1
"Iya,Bibi"
Mereka kemudian sedikit membungkuk sambil berkata
"Selamat malam, bibi dan terima kasih
untuk makan malamnya"
Saat ingin berdiri tegak mereka melihat Mina yang berdiri di dekat ibunya kelihatan sangat gembira
Melambaikan tangannya ke arah mereka
sambil tersenyum cerah dan berkata
"Sampai ketemu besok di sekolah"
Mereka dengan cepat berpamitan sekali lagi dan berjalan dengan langkah besar menuju
lift seakan akan sedang di ikuti oleh hantu
Melihat mereka yang menghilang di
kegelapan, Mina menurunkan tangan
nya bersamaan dengan ekspresi datar
"...."
Dan masuk ke dalam rumah meninggalkan
ibunya yang berdiri di depan pintu dengan
ekspresi wajah yang seperti sedang
banyak pikiran
[Keesokan harinya, di dalam kelas]
Di sudut dinding Lilian sedang mengajari Arin mengerjakan soal matematika, Daniel seperti biasanya sedang bermain game
Tapi ada yang berbeda hari ini karena Alan
dan Alex ikut bermain bersamanya
Namun, tidak ada yang tau kenapa mereka sudah menjadi akrab seperti itu
Tapi mereka sudah sangat akrab dua hari setelah masuk sekolah, mereka selalu bermain game yang sama dan kelihatan sangat menikmatinya
Meskipun mereka akan kelihatan galau
dan murung kalau kalah tapi akan saling
merangkul kalau menang seperti sudah
kenal selama 10 tahun
Di sisi lain Jiho, Rudan dan Nine sedang membicarakan sesuatu dengan serius, kadang kalau tidak sengaja melihat Juvelian,
Rudan akan tersenyum menyegarkan ke arah nya.
Dan seperti biasa teman kita yang satu lagi, Ian. Akan terus tertidur di atas meja yang di taruh bantal kecil yang dia bawa dari rumah
sampai guru masuk kelas
Orang-orang yang ada di kelas ini sudah mulai terbiasa dengan kebiasaannya yang awalnya kelihatan aneh dan mengheran kan
Juvelian yang melihat Arin menyimpan bukunya, berpikir dia sudah selesai mengerjakan tugasnya dan memulai pembicaraan dengan mereka berdua
Sampai Mina masuk dengan menggeser pintu dengan kuat dan berjalan dengan langkah yang malas
"...?"
__ADS_1
Dia segera mencapai mejanya dan duduk dengan kepala di condong kan ke belakang dan aura suram yang terlihat di sekitarnya
Padalah satu kelas di penuhi suara orang orang yang berbicara dan sinar matahari yang menerangi tapi tidak dengan dia
Kantung matanya terlihat hitam seakan akan tidak tidur semalaman dengan wajahnya yang kelihatan lemas
Mereka bertiga terdiam melihatnya dengan perasaan heran yang dia tunjukkan di wajah mereka dan Juvelian memanggilnya namanya
Mina menjawab "ya...?"
"Kau ada masalah?"
"Gak ada"
"Kau yakin?"
"Ya"
"Kau serius?"
"Iya" katanya dengan tegas
Juvelian bertanya lagi dengan sengaja untuk membuat Mina menyerah dan mengatakan nya "Kamu sudah yakinn? yaakinn? yakin sekaliii?" kata Juvelian dengan suara riang
Lilian dan Arin menahan tawa saat mendengarnya dengan Jiho yang terkikik
Mina menegak kepalanya dan menjawab dengan tegas untuk terakhir kalinya
"Saya benar benar tidak ada masalah, nona Juvelian"
Juvelian tidak bisa memikirkan cara untuk membuatnya membuka mulutnya dan menyerah, Arin yang penasaran menebak
"Masalah percintaan?"
"Bukan"
Bahkan Lilian yang tidak suka ikut campur dalam masalah orang lain juga ikut bertanya
"Masalah keluarga?"
"Bukan"
Mina kemudian bertanya balik tersenyum tanpa perasaan
"Apa ada pertanyaan lagi?"
Mereka melirik satu sama lain dan kembali menatap mata Mina sambil menggelengkan kepala mereka
"...?"
Mina yang melihat mereka, menyipitkan matanya dan bertanya lagi "Kenapa kalian bertanya?"
Mereka hanya menjawab dengan tatapan 'Habis nya kau yang biasanya...'
Mina yang biasanya mereka lihat saat di kelas adalah orang yang akan duduk dengan memegang buku tanpa gambar di sampul
Seolah olah dia sedang menelusuri dunianya sendiri yang dia anggap lebih menyenangkan dari pada dunia nyata
Dan diam di kursinya tanpa bergerak seperti ada lem di kursi yang membuat nya tidak bisa berdiri dan terpaku pada buku yang dia baca sama seperti Alexia
Dia kemudian mengumumkan sesuatu "Neraka, aku baru saja melewati neraka"
Dia kemudian menambah dengan wajah lelah "Aku baru saja melewati neraka manusia"
Juvelian menepuk bahunya sambil berkata "Aku mengerti perasaan mu, teman"
'Tentu saja, aku mengerti. sebelum kembali ke masa lalu, aku sering melewatinya'
'Tidak! aku juga sering melihatnya...' katanya yang rasanya ingin menangis
~Bersambung~
__ADS_1