Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 87


__ADS_3

"Ada apa lagi?"


Dengan senyum yang biasa dia gunakan, dia menjawab dengan suara kecil "Enggak ada kok"


Dia segera berbalik melihat ke depan dan keluar dari sana, Mina yang tidak mendengar apa Joni katakan hanya menatap punggung Joni


'Bukan hal yang penting kan?'


Begitu berada di depan kelas dia berhenti dengan keanehan yang ada di balik pintu, entah kenapa rasa sangat hening meskipun itu bukanlah hal yang aneh tapi ini sedikit berbeda


'Apa biasanya memang seperti ini? enggak mungkin kan kelas kami jadi kedap suara'


Ketika pintu kelas terbuka, tidak ada siapa pun di dalam kelas 'Loh, mereka semua kemana?'


Memasukan kepalanya dia melihat ke seluruh ruangan


Enggak percaya dengan apa dia lihat sekarang, dia menutup pintu kemudian dia menaik turunkan kedua tangannya di depan pintu sambil berkata 'Sim salabim Abrakadabra'


Dengan penuh percaya diri dia kembali membuka pintu kelas dan mantra yang dia


katakan tidak membawa kan hasil 'Makanya jangan percaya dengan yang namanya kartun'


Saat itu matanya beralih ke papan di sampingnya papan tulis, di sana tertulis dengan jelas mata pelajaran di waktu sekarang


'Praktek memasak, tidak heran mereka tidak ada di kelas'


Dia berlari ke arah lift sekali lagi, dan ada beberapa guru yang lagi lagi memarahi nya karena berlari di koridor


Dengan terengah engah dia membuka pintu sambil berkata "Bu, maaaf saya datang terlambat"


"Hm lain kali kamu akan saya hukum, pergi ke mejamu"


Bel berbunyi dan kelas berakhir dengan suasana yang menakutkan apa lagi bagi beberapa orang waktu bergerak sangat lama


"Selamat siang, buk"


"Siang"


Begitu melihat guru itu keluar dari kelas dan melihat punggungnya tidak terlihat lagi, sebagian dari mereka menghela napas lega dan menghela napas panjang dengan perasaan lelah


Tidak sedikit dari mereka yang mengeluh tentang hal yang terdengar konyol


"Padahal yang tadi aku masukkan gula kenapa jadi asin?"


Teman yang berdiri di meja sebelah Kirara bertanya "Kau yakin itu gula? kau kan tidak bisa membedakan gula dengan garam, adik ku yang masih bayi aja bisa tau yang mana garam yang mana gula" katanya dengan senyum mengejek


Anak yang mengeluh tadi bertanya balik sambil satu alis terangkat "Emangnya kau ada adik?"


Mengangkat satu tangannya kemudian dia membalas "Hem... angin berkata tidak untuk di kehidupan ini tapi di kehidupan selanjutnya"


"Ha ha ha, dasar gila"


"Pffttt kepala mu habis ke bentur?"

__ADS_1


"Kau salah minum obat?"


Kemudian Joni dengan ekspresi datarnya menekan beberapa nomor di layar HP nya, mendengar suara tup tup tup dari arah Joni


Mereka melihat ke arah nya yang sekarang meletakkan HP di telinganya dia menggunakan nya seperti benar benar akan menelepon seseorang


"Halo rumah sakit jiwa? ada pasien mu yang nyasar nih" segera dari balik layar HP ada suara pria tidak dikenal yang menjawabnya dengan nada marah


"Kalau mau telepon pastikan dulu nomor baru di telepon, memang kamu pikir ini nomor rumah sakit jiwa?"


Bukan hanya Jake tapi mereka yang ada di sana juga kaget sampai menjadi patung di tempat, dalam sehari Joni di marahi sebanyak tiga kali


Joni dengan cepat minta "Ck ck ck dasar anak zaman sekarang, taunya cuman minta maaf doang kalau sudah berbuat salah"


Panggil itu berakhir setelah suara wanita yang mungkin saja adalah istrinya tiba tiba memanggilnya dan suara pria tadi yang menjawab panggilan istri benar benar berubah seketika


"Iya sayang, aku datang" itu suara terakhir sebelum panggilan di akhiri


Keheningan terjadi seketika segera tawa banyak orang terdengar


"Joni kocak banget"


"Gila! aku kaget tadi"


"Hei, teman teman. kalian enggak mau ke kafetaria? kalau kita lama lama di sini pasti di marahi sama guru lain"


"Eh, benar juga" hal pertama yang mereka "Pasti sekarang kafetaria penuh banget, aku malas banget"


"Kenapa di saat seperti ini kita harus ada di bangunan ini?!!"


Meskipun bilang begitu tapi mereka bergegas ke keluar, dan dari belakang Kirara melihat punggung Joni yang kelihatan lelah


Dia pun bertanya pada Jake dengan tatapannya tapi sepertinya dia juga tidak tau


Memukul bahu temannya itu dia berkata sebagai candaan "Ayolah kenapa kau kayak orang yang habis cintanya di tolak? semangat sedikit dong!"


"Ya, kau benar..." jawab Joni dengan lemas,


Kirara yang sangat peka langsung bisa menyadarinya 'Ah, cintanya habis di tolak sama gadis itu ya...' kata Kirara yang berkeringat karena tidak tau harus berbuat apa


Jake dari belakang menyambung "Kau kurang tidur?"


"Enggak"


"Jadi?"


"Ada deh"


Dia pun berjalan lebih cepat dari mereka menghindari pertanyaan yang mungkin akan datang


"Hei, bilang dong. aku jadi penasaran nihh"


"Pokoknya aku nggak bakal bilang"

__ADS_1


Jake pun menebak dengan suka hati "Ah, jangan jangan kau..."


'Apa aku ketahuan? dia itu kan...' pikir Joni sambil menelan ludahnya


"Sakit hati habis dimarahi guru?"


'Tidak bisa menebak dengan benar' pikir yang menyambung pikirannya yang tadi setelah mendengar jawaban Jake


Di sisi lain Kirara menahan tawa sekuat tenaga, "Kau pikir aku anak SD?"


Sambil merangkul Joni dia menjawab "Ya kan mungkin aja"


Melihat Jake yang seperti memeluk dirinya dengan erat, dia mendorong Jake menjauh dari dirinya "Hei, menjauhlah dari ku"


"Kenapa? aku kan hanya ingin menunjukkan kasih sayang sebagai saudara" kata Jake yang menolak dorong Joni


"Itu kan kekanak kanakan. sana kau"


Ya, hanya di saat seperti ini lah mereka terlihat seperti saudara apa umumnya kata Kirara sambil tersenyum


Meskipun saat di marahi guru dan berlari terus menerus itu bukan hal yang membuat nya lelah tapi...


Harapan Joni yang ingin mengajak Mina ke luar jalan jalan hancur berkeping keping padahal dia sudah berkhayal bisa makin dekat dengan Mina, melihat sifatnya dia mungkin belum menyerah


Beberapa waktu yang lalu saat Joni kembali ke kelasnya dan pada saat yang sama, setelah melihat Joni sudah pergi dan memastikan tidak ada siapa siapa di lorong


Dia bergegas kembali ke kelas 2-2 atau biasanya mereka bilang kelas 11-2 begitu duduk wajahnya keliatan murung karena rasanya takdir tak berpihak padanya hari ini


Semuanya di mulai dari pesan yang di dapat saat di perjalanan, itu dari kenalan yang mengajaknya ikut nongkrong di luar


[Dikirim oleh Mina: Mengenai yang kamu tanyakan terakhir kali, aku ikut deh]


[Untuk Mina tersayang: Syukurlah! kamu memang dapat diandalkan. Aku hampir


saja akan menyerah karena orang yang


ikut kurang]


[Untuk Mina tersayang: Oh, iya. Mina apa


kamu bisa carikan satu orang lagi? Teman


ku mendadak sakit jadi... ya, kamu bisa menduganya kan? kita kurang satu orang


lagi ya! wajah sedih]


Alisnya bertemu di tengah pertama karena rasanya ini hari tersialnya dan kedua yang menjadi masalah utamanya tidak bisa menemukan seseorang yang bisa dia ajak


'Hidupku kok gini amat...'


~Bersambung~


tunggu bab selanjutnya, tiga hari lagi~

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel ini


Dan terima kasih sudah memberi semangat dengan like, vote dan komentar


__ADS_2