
Pagi ini semuanya terasa tenang, hari libur nasional yang sudah aku tunggu akhirnya tiba, sakin senangnya aku sampai bernyanyi waktu mandi
Siap mandi lalu segera sarapan, menikmati ayam kukus dengan memegang garpu dan pisau dari perak, sambil melihat ke luar dari jendela
'Garpu dan pisau perak ini hanya untuk jaga- jaga jika ada racunnya di dalamnya. 'Ayah' bukan orang gila yang sampai membunuh anaknya sendiri karena terbawa emosi tapi agak gila'
Lalu mataku menangkap orang mencurigakan dengan pakaian serba hitam, dia menggenggam sesuatu yang terlihat seperti batu bata, aku mengabaikannya dengan pikiran seperti ini 'Ha... Mana mungkin. Kannn?'
Aku jadi ragu dan langsung melotot ketika batu di lemparkan tepat ke arahku, dengan santai sambil memasukkan daging ke dalam mulut dan memegang nampan besi aku memiringkan kepala menghindari batu
'Tuh kan agak gila'
'Pantas saja hatiku nggak enak dari bangun'
Pecahan kaca terbang ke mana- mana dengan cepat tapi aku bersyukur tidak ada yang mengenai ku, aku berhasil menghindari mereka dengan menutupi wajah tampanku
'Pasti karena aku gesit?'
Batu yang berhasil aku hindari, tepat melayang lalu terjatuh menjadi tiga bagian setelah menabrak pintu
'Ada gunanya juga pintu di ganti sama bahan lain'
Dengan acuh, aku masih memotong daging,
Tapi suara yang di timbulkan hantaman tadi menimbulkan kepanikan dari balik pintu
'Apa lain kali kubuat aja tempat ini kedap suara? Sepertinya lain kali jika bertemu Luxia aku harus membuatnya kesal. Dia kan yang paling alih untuk ini'
Mereka dengan panik bergegas masuk, karena terburu- buru ada yang tidak menyadari tali sepatunya lepas dan terjatuh saat dia ingin melangkah maju sementara rekannya menginjak tali sepatunya.
Aku ingin tertawa tapi takut dosa
"Tuan apa yang baru saja terjadi?!"
"Anda baik baik saja?"
"Apakah anda terluka?"
Mereka bertanya secara bertubi- tubi setiap kali ini terjadi, bukankah mereka seharusnya sudah terbiasa ini bukan sekali dua kali terjadi, aku mengangkat jempol mengatakan bahwa aku baik baik saja
Tak lama suara langkah kaki yang sedang berlari datang dari lorong, wujudnya baru terlihat ketika hampir melewati ruang makan dan rem mendadak
__ADS_1
Bukannya bertanya apa yang terjadi malah dengan sopan dia berkata "Tuan, bukankah setidaknya sekali saja anda mendengarkan beliau?"
Mendengar pertanyaan rasanya di ujung bibir ku ada beban yang menarik "Mendengarkan 'Ayah'? Bukankah kamu terlalu mudah untuk pikun, aku kan selalu membalas pesan dengan penuh cinta darinya"
"Bukan itu maksud saya! Tolong lakukanlah yang beliau minta setidaknya sekali. Apa anda tahu berapa aku dalam sebulan ini saya memerintahkan orang untuk memperbaiki jendela itu"
"Empat kali?"
Kerutan di wajahnya bertambah lalu menjerit kesal "Saya tidak meminta anda untuk menghitungnya!!!"
Sepertinya candaan ku sudah ke lewat
Dia kesulitan bernapas setelah jeritan tadi, mengambil tarikan napas yang dalam lalu mengeluarkannya dia menjadi lebih tenang dan mengambil sesuatu di antara pecahan batu
Ukurannya kecil dengan wujud seperti permata, tapi jika di perhatikan ada gulungan kertas di dalamnya dan ketika di buka kita akan menemukan selembar kertas sangat kecil tidak melebihi kelingking jariku
Jika bertanya siapa orang paling hemat kertas jawabannya adalah ayahku, sakin hematnya beliau selalu mengirim gulungan kertas kecil dengan tuliskan yang kelewatan kecilnya seperti seperti titik- titik nggak jelas,
aku membutuhkan kaca pembesar setiap kali ini membacanya
['Putra Ayah' yang sangat ayah cintai]
'Uhhh, Baru baca awalnya saja aku uda merinding'
Setahun lalu kening ku terus berkerut memikirkan candaan dari orang seperti itu
"Adik ipar..." gumamku
Adikku yang manis tahun ini baru berumur belasan tahun mungkin masih pacaran tapi jika iya bocah itu mana mungkin memperlihatkannya sampai menarik perhatian ayah, atau gadis itu orang yang dekat dengan mama atau membawa keuntungan bagi bisnis ayah
Perasaan geram menyelimuti ku ketika memikirkan ayah menggunakan cara itu tapi aku juga berpikir ini adalah salah ku, Jika hari itu aku ikut membawanya apa akan berbeda?
Aku jadi teringat hari itu, Air mata yang mengalir tanpa henti darinya suara yang putus asa yang memohon, aku menggigit bibirku
Lalu pesan yang sama terus sama yang membuat ku penasaran seperti apa sih gadis itu sampai menyebabkan ayah heboh begini
Di sela waktuku aku menyelinap masuk ke sekolah adik kecilku
'Mama aku berterima kasih pada mu telah melahirkan saya dengan wajah awet muda'
Umur dua puluhan tapi kayak masih belasan tahun, tapi ini nggak muda banyak yang tersipu ketika melihatku
__ADS_1
'Waktu sekolah aku popular juga sih'
Kemudian aku bertemu dengannya, rambut pirang yang tertiup angin dengan wajah bahagia yang sampai membuat ku terkejut, lalu di sebelahnya ada gadis dengan warna rambut yang terbilang unik
Melihatnya yang bisa tersenyum dan tertawa seperti itu membuatku lega, aku berbalik dan pergi dari sana membatalkan niatku untuk tinggal denganku
Satu tahun berlalu, karena acara reunian aku terpaksa harus ikut untuk menghindari paksaan dari ayah
'Jika harus memilih aku akan memilih kebahagiaannya'
Tentu saja aku tidak boleh sendiri berada di sana Luxia dan Allen juga harus merasakan penderitaan ini, aku terkekeh memikirkan
Dan aku tidak menyangkah karena perbuatan ku Luxia akan membalasnya dengan meninggalkan aku sendiri dan pergi dengan Allen dan kekasihku tercinta.
Aku berhasil bergabung dengan perjuangan
Lalu aku bertemu dengannya lagi, gadis yang bersama adikku hari itu.
Yang mengejutkannya dia adalah adik Luxia dan Allen yang keberadaan sangat rahasia, yang aku tahu dia adalah perempuan, namanya Juvelian
'Ah. Adikku tercinta bagaimana kau bisa menjadikan gadis ini sebagai pacarmu padahal ada dua monster berbahaya yang akan menikam mu'
Beruntungnya Juvelian tidak tahu aku kakak dari pacarnya begitu juga dengan mereka berdua sepertinya tidak tahu adiknya punya pacar
[Cafe Caelum]
Semalam ketika mengunjungi rumah pacarnya karena undangan dari mama Rudan seperti biasanya, beliau mengungkit soal kakak Rudan.
Juvelian terlihat kaget saat mendengarnya karena berpikir Rudan adalah anak tunggal
Juvelian tentu tidak keberatan untuk bertemu dengannya, lagian yang tahu soal pacaran ini cuman orang- orang di sekolah saja dan Rudan juga ikut
Begitu tiba di sana, Juvelian melirik raut wajah Rudan yang terlihat tidak baik
'Saat berbicara dengan tante tentang kakaknya, wajahnya juga tidak suka apa hubungan mereka nggak baik?'
Ketika melihat ke sekeliling mencari kakak Rudan, mata Juvelian bertemu dengan Lucas yang juga ada di sana, auranya masih kuat meski sudah di sembunyikan
"Paman Lucas" katanya sambil melambaikan tangan
Rudan tersentak, segera menoleh melihat Juvelian 'Lian, Kau kenal sama 'manusia satu itu'? Meski aku tahu kau suka drama sih'
__ADS_1
Begitulah kesalahpahaman ini di mulai, Rudan berpikir Juvelian mengenali Lucas dari drama, karena dia sangat popular mungkin ada drama yang Juvelian lihat terdapat Lucas di sana
Tapi dia tidak tahu Juvelian tipe orang yang tidak peduli siapa yang perani tokoh karena lebih fokus pada ceritanya doang bahkan dia tidak tahu nama artis di negaranya sendiri