
"Apa?!" di dalam ruang tertutup seperti mobil suara Lilian menggelegar seperti guntur yang memekakkan telinga mereka
Erin yang biasanya terlihat tenang juga tampak kaget dengan Lilian yang mendadak berteriak
Tangan Erin bahkan sampai menekan klakson mobil dengan kuat yang menambah keributan, di luar terlihat beberapa pengemudi yang marah
Setelah orang orang itu merasa tenang dengan permintaan maaf Erin, dia memperingatkan pada Lilian untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi
"Lilian suaramu!" kata Erin dengan tegas sambil tersenyum tapi Lilian tahu Erin sedang marah sekarang
"Iya maaf, aku nggak sengaja"
"Hem Humm"
Arin sudah menduga reaksi Lilian yang seperti itu tapi tetap saja kaget hampir rohnya keluar
Bahkan yang lebih membuat Arin terkejut adalah bagian di mana Lilian yang akhirnya berhasil membuka makanan ringan yang dari tadi mereka kesulitan untuk membukanya
'Apa itu yang namanya tenaga dalam akan keluar di saat tertentu?' pikir Arin dengan cegukan sekali
Penyesalan di mata Lilian sangat singkat dia kembali melihat Arin menunggu jawaban dari topik pembicaraan mereka tadi
Dengan segera mata hijau Erin melihat kaca yang terpantul mereka berdua dan bertanya dengan suara yang terdengar berhati hati
"Jadi apa tanggapan mu?"
"Iya, Arin. katakan pada ku kau tidak menerimanya" kata Lilian yang suaranya terdengar sedikit merengek dan tatapan memohon
Menghela napas pelan Arin segera menjawab "Aku menolaknya kok"
Saat mendengarnya Lilian merasa lega dan segera memeluk Arin dengan erat menunjukkan betapa dia sangat bahagia seolah olah Arin akan menghilang
Sesaat Arin membayangkan jika dia menjawab mungkin Lilian tidak akan membiarkannya pergi sambil memeluk erat kaki Arin
"Hm, apa dia tidak tau kau orang mudah
gugup?" Lilian melontarkan pertanyaan yang bisa dia pikirkan
Erin mengangguk setuju dengan Lilian dan berkata dengan nada sedikit di tekan "Benar juga itu mungkin saja. bukan hanya itu kau kan sangat pemalu"
'Kalian sedang berpihak padaku kan?' tanya Arin, meski perkataan mereka benar tapi cara mereka berbicara yang terlalu berterus terang seakan mau cari ribut
__ADS_1
Memutar matanya sambil mengingat kembali dia berkata "Dari cara dia yang bertanya padaku kayaknya dia tidak tahu aku orang yang akan gerogi di depan banyak orang"
"Oh ayolah sayang, jangan bicara seperti itu tapi aku sangat senang kau tidak pergi ke sana" kata Lilian yang menghibur
Lilian menyandarkan kepala nya ke Arin sambil menawarkan makanan ringan, Arin dengan senang hati mengunyahnya sampai hancur
Kemudian sedikit tertawa malu jika mengingat dirinya yang dari tadi mau mengambil makanan ringan itu tapi Lilian beberapa kali menariknya kembali
Dia tidak tahu Lilian melakukannya dengan sengaja atau tidak dari sebelum Erin bertanya dengan berhati hati, memeluk dirinya dan Lilian yang bertanya
Dia tenggelam pada pikiran konyolnya sampai suara Erin mencapai telinganya "Arin, jangan pernah lagi merendahkan dirimu sendiri"
"Em" dia hanya menjawab dengan patuh
"Ingatlah apapun yang kau lalukan jika dengan sungguh sungguh dilakukan kau sudah melakukan yang terbaik"
"Jangan peduli apa yang orang lain katakan percayalah pada kata hatimu" kata kata Erin terdengar indah
Meski sedikit rumit di awalnya tapi dia mencerna perkataan itu dengan baik dan mengangguk sambil memakan sesuatu
"Arin jika ada yang mengejek mu atau mengganggu mu di sekolah katakan saja padaku akan aku pukul dia sampai berlutut dan minta maaf"
"Arin percayalah pada ku!"
"Iya iya aku percaya kok"
"Serius?"
"Iya, kau kan sahabatku!"
Erin melihat ke depan, meski banyak kendaraan berlalu lalang tapi tidak menutupi cuaca yang terlihat cerah dan langit biru sangat indah
"Hm, karena besok aku libur, bagaimana kalau besok kita pergi jalan jalan bertiga? nanti aku juga akan tanya Juvel"
"Kita juga bakal belanja ke mall dan nonton film terbaru di bioskop nanti aku yang bayar semuanya deh"
"Kak Erin, kamu yang terbaik!" seru mereka dengan senyum gembira
'Aku, Mama, Lili dan Kak Erin, pasti seru aku nggak sabar besok!'
Pada saat yang sama Erin berkata dalam hatinya 'Rasanya akhir akhir ini adikku jadi
__ADS_1
bertambah'
ia mengemudi dengan raut wajah dan suasana hati bahagia kemudian dia berkata lagi 'Biasanya hanya Lili dan Ria saja sekarang jadi tiga'
'Ngomong ngomong Ria dia apa kabarnya ya? karena Lili tidak membahasnya lagi kupikir dia sudah lupa tapi selama satu tahun ini dia sering bergumam saat tidur'
"Jika kami di takdirkan untuk bertemu kami pasti akan bertemu kembali!" hari itu dia hanya mengatakan itu dengan senyum sedih itu adalah kali terakhir dia mengatakan tentang Ria
Melirik Lilian di belakangnya entah karena suasana hatinya, Lilian mengaitkan tangannya ke tangan Arin dengan kepala
sedikit di gosok ke bahu Arin
Pemandangan itu mengingatkan Erin pada saat Riana masih ada di sisi Lilian, mereka berdua selalu bersama sambil berpegangan tangan sampai sulit untuk di pisahkan seolah olah ada lem di tangan mereka
Dan sekarang wajah Lilian tidak memperlihatkan lagi rasa sedih itu membuat Erin tersenyum tanpa sadar, tidak seperti saat Lilian masih kecil dia bisa selalu bersama Lilian
Karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya dia merasa sudah mengabaikannya, ketika melihat Lilian tertawa lepas di depan yang belum lama dia kenal
Saat itu Erin benar benar berterima kasih pada teman teman Lilian yang sudah menggantikannya menjaga senyum bahagia di wajah adik kecilnya
Kemudian dia sekali lagi melirik ke belakang sambil berpikir meskipun Lilian dan Juvelian lebih tinggi beberapa sentimeter dari Arin tapi sebenarnya mereka lebih muda dari Arin
Saat sampai di dalam rumah, Arin meletakkan tasnya di sembarang tempat dan berkata dengan suara ceria "Ibu, putri kesayangan ibu sudah pulang" tidak ada jawaban
Dia berpikir suara terlalu kecil jadi ibunya tidak mendengarnya dan segera pergi ke dapur menemui ibu tanpa berganti baju lebih dulu
'Ibu, masak apa ya hari ini? aku lapar berat hari ini'
Arin dari tadi mengincar makanan ringan untuk menganjal rasa laparnya yang akan mencapai batasnya
Ketika sampai di dapur dia tidak melihat
siapapun dan hanya menemukan selembar
kertas yang di tulis tangan seseorang yang dia kenal
[Ayah sama Ibu akan pulang larut malam juga hari ini, tapi kau jangan masak mie instan awas kalau ibu lihat ada bekas kemasan mie di dapur]
[Atau belilah sesuatu di luar dan ingat perkataan ibu jangan pergi terlalu jauh jika cuman sendirian akan lebih baik kau pesan saja dari HP]
"Ibu Ayah pulang larut malam lagi..." dia bergumam pelan
__ADS_1