Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
bab 31


__ADS_3

Di dalam salah satu toko souvenir


"wah! Banyak banget barang yang indah dan unik di sini" kata arin dengan wajah kagum dan mata yang bersinar.


"kami akan pergi ke arah sana" kata lilian dan erin.


"baiklah, kami juga akan pergi ke bagian yang satu lagi " Kata yang lainnya.


Erin, lilian, arin dan jiho pergi ke arah kiri sedang kan daniel, nine dan ian duduk di kursi batu yang ada di depan toko souvenir.


Nine duduk di sisi sebelah kiri dengan memakai earphone dan menutupi wajahnya dengan topi.


"kau, tidur lagi?" kata daniel yang melihat ke nine dengan wajah heran.


"biar kan saja dia" kata ian yang melihat ke arah bukan yang dia pegang.


'haah... Lebih baik aku ikut masuk ke dalam'


Kata daniel dalam hatinya yang duduk di antara ian dan nine.


Daniel bangkit dari kursi batu dan berjalan ke arah toko.


"eh?" kata juvelian yang tidak sengaja melihat kalung liontin cincin.


'kenapa cincin yang ada di ketiga kalung ini seperti terhubung satu sama lain' kata juvelian dalam hatinya dengan tatapan penasaran.


Juvelian mencondongkan badannya dan melihat ke arah kalung itu drngan serius.


'ketiga cincin yang seperti terhubung satu sama lain tidak mungkin untuk cinta segitiga kan? Atau mungkin-' belum menyelesaikan kata kata dalam hatinya.


"nona, apa kau menyukai kalung kalung itu?"


Kata seorang dari arah belakang juvelian.


Juvelian membalikkan badannya dan melihat ke orang yang berdiri di belakang.


"nenek, apa kau pemilik dari toko ini?" tanya juvelian.


"iya, tapi apa ada yang ingin kau tanyakan?"


Kata nenek itu yang berjalan ke arah juvelian.


"nenek kenapa kalung ini memiliki pola yang aneh pada cincinnya?" tanya juvelian.


"entahlah, nenek tapi mungkin kalung ini teman dekat atau saudara?" kata nenek itu.


"tapi kenapa di sini ada kalung seperti ini?" tanya juvelian.


"saat masih muda nenek sangat suka berkeliling ke banyak tempat dan membawa barang barang unik sebagai kenangan"


"setelah bertemu dengan suami nenek, awalnya nenek pikir tidak akan bisa lagi berpergian tapi suami nenek selalu mendukung keputusan nenek." kata nenek itu.


"jadi bagaimana dengan suami nenek?" tanya juvelian.


"dia... Sudah tidak ada lagi di dunia ini" kata nenek itu dengan ekspresi sedih.


"ah, maaf sudah bertanya tentang hal itu" kata juvelian dan sedikit membungkuk meminta maaf.


"tidak apa apa, dan juga toko ini berisi kenangan bersamanya" kata nenek itu dan melihat ke arah jendela toko.


"nenek, berapa harga ketiga kalung ini?" tanya juvelian.


"kalung kalung itu bisa kau ambil dengan gratis tapi sebagai gantinya ada dua syarat"


Kata nenek itu.


"syarat? Apa syaratnya?" tanya juvelian.


"pertama, apa nenek boleh tau siapa namamu?" tanya nenek.


"namaku juvelian star light biasa Dipanggil juvel, lian atau juvelian" jawab juvelian dengan tersenyum.


"juvelian..." gumam nenek itu.


"begitu ya... Nama yang indah, pasti orang tua mu memilih namamu dengan sangat berhati hati" kata nenek.


"benarkah?" tanya juvelian dengan wajah terkejut.


"orang tuamu pasti sangat menyayangimu sampai memilih nama yang sangat indah seperti itu" setelah selesai berbicara nenek itu tersenyum hangat.


"tapi, nenek apa syarat ke kedua" tanya juvelian.


"tolong elus kepala nenek" kata nenek itu dengan semangat.

__ADS_1


"hah? Kayaknya ada yang salah deh dengan telingaku" kata juvelian pada dirinya sendiri.


"kau tidak salah dengar kok, tolong elus kan kepala nenek" kata nenek itu dengan tatapan berharap.


Juvelian dengan ragu ragu mengangkat tangannya dan meletakkannya di kepala nenek itu dan mengelusnya pelan pelan.


"seperti ini?" tanya juvelian.


"iya seperti ini" kata nenek itu.


Juvelian menurunkan tangannya dan bertanya pada nenek itu kenapa dia minta di elus kepalanya.


"karena aku merindukan tangan hangat dari mamaku" kata nenek itu dengan senyum sedih.


"mamanya nenek pasti orang yang sangat penyayang" kata juvelian dengan tersenyum.


Daniel yang melihat lihat ke arah barang barang yang ada, tertarik pada sepasang gelang kayu yang memiliki papan kosong pada bagian tengah.


Daniel yang tidak sengaja melihat kertas di dekat sepasang gelang tersebut mengambil dan membaca yang tertulis di atas kertas "gelang yang dapat mengabulkan permohonan jika di minta dengan hati yang tulis" gumam daniel.


'mengabulkan permohonan ? Yang benar saja'


Kata daniel dalam hatinya yang tertawa kecil. dengan senyum nakal daniel bergumam


"hanya anak kecil yang percaya akan hal itu.


Erin yang menyandari lilian dan arin fokus pada souvenir, pergi pelan pelan ke arah meja kasir.


Sesampai nya di meja kasir erin bertanya pada nenek pemilik toko.


"nek, apa di sini ada benda yang dapat mengusir hantu?".


Nenek itu mengambil salah satu benda yang tergantung di dekat meja kasir.


Meletakkan benda itu diatas meja


"ini dia" kata nenek itu.


Tidak percaya dengan benda yang dikeluarkan nenek itu, erin bertanya apa benda ini memang benar benar bisa mengusir hantu.


"jika tidak percaya ya sudah" kata nenek itu dan ingin meletakkan kembali benda itu ke tempat semula.


Dengan cepat erin merubah pikiran nya dan membeli benda itu.


Melihat erin memegang plastik lilian bertanya "apa itu".


34.


Mengalihkan tatapannya ke arah lain, "ada deh" kata erin.


Erin berjalan ke arin yang berdiri di sebelah lilian "apa ada yang ingin kau beli?" tanya erin .


Arin membalikkan badannya dan menunjuk ke arah dua gantungan kunci.


"menurut kak erin lebih bagus yang mana?" tanya arin.


Erin sedikit membungkuk dan melihat ke arah gantungan kunci yang di tunjuk arin.


Erin berpikir keras dan akhirnya memilih yang di sebelah kanan.


Mengangkat gantungan kunci yang ia pilih, erin menunjukkan pilihan nya kepada arin.


"bagaimana dengan yang ini?"


"Karena aku tidak tahu kau ingin memberikan


-nya pada laki laki atau perempuan" kata erin.


melihat ke benda yang di pilih erin, arin tersenyum dan berterima kasih pada erin karena sudah membantunya.


Melihat ekspresi bahagia arin yang melihat ke arah gantungan kunci membuat erin penasaran.


"pada siapa kau akan memberikan gantungan kunci itu?" tanya erin.


"pada adik laki lakiku" jawab arin dengan ceria.


Mendengar jawaban arin wajah berubah menjadi kecewa ' kupikir dia akan memberikannya pada pacarnya' kata erin dalam hatinya.


Suara pintu terbuka.


"hei, mau berapa lama kalian akan memilih" kata ian yang berdiri di depan dengan buku di tangan kirinya.


Di arah perjalanan pulang.

__ADS_1


"daniel, tadi kau beli apa?" tanya arin yang berjalan di sebelah daniel.


"...." daniel berjalan lebih cepat dan berjalan di sebelah jiho yang awalnya di depannya.


"dasar bocah dingin" gumam arin dengan wajah kesal.


Daniel berjalan sambil melihat ke arah depan.


'aku membeli gelang ini bukan untuk permohonan tapi karena aku ingin membuktikan bahwa gelang permohonan ini hanyalah mainan' kata daniel dalam hatinya.


"kak erin beli apa?" tanya juvelian yang berjalan di sebelah.


Melihat ke arah juvelian, erin dengan tersenyum hangat menjawab "aku beli...".


Menyadari dirinya tidak memegang apa pun,


Erin berteriak tanpa suara.


"kayaknya barangku ketinggalan deh" kata erin.


Jiho, daniel dan lilian yang berjalan di depan erin, membalikkan badannya dengan ekspresi terkejut


"jadi kita harus balik lagi?" tanya rudan yang berjalan di belakang erin dengan memegang kantong plastik yang berisi souvenir.


"kalian tetap di sini, biar aku saja yang ke sana" kata erin dan berlari cepat.


"bagaimana dengan kalian, apa ada yang ketinggalan?" tanya alan yang berjalan di belakang juvelian.


Erin berhenti di tempat toko souvenir itu berdiri dan hanya melihat dua pohon kelapa yang tumbuh melintang dan kursi batu tempat nine dan ian duduk.


Melihat sekeliling dan mencoba mengingat jalannya.


'jelas jelas ada di sini kok tadi'


'bahkan kursinya masih ada'


'kemana pergi nya? Tenangkan pikirkanmu erin mungkin saja kau salah jalan' pikir erin yang mulai tenang.


Melihat ada dua orang yang lewat di depannya, erin menghentikan mereka dan bertanya pada mereka tentang toko souvenir yang ada di dekat sini.


Kedua orang itu menggelengkan kepala dan berkata sejak mereka pindah ke sini tidak pernah ada toko souvenir di dekat kursi batu itu, kedua orang itu melanjutkan perjalanan mereka.


Erin memeluk dirinya sendiri karena merinding dengan apa yang baru saja terjadi "jangan jangan bukan villa itu yang berhantu tapi pantai ini" gumam erin.


Sekali lagi erin melihat ke arah kursi itu dan melihat plastik yang berisi benda yang tadi ia beli.


Erin memegang plastik itu di tangan kanannya dan berlari sekuat tenaga.


'jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan mengatakan pada diriku jangan pernah datang ke sini' kata erin dalam hatinya yang hampir menangis karena ketakutan.


Setelah sampai di tempat yang lain berada, erin berhenti berlari dan sedikit membungkuk dengan tangan yang menyentuh lutut.


"maaf... Aku lama datang nya..." kata erin dengan suara terengah engah.


"kenapa kakak lama sekali?" tanya lilian dengan wajah yang cemas.


Erin kembali berdiri tegak "tadi aku salah jalan maaf ya" kata erin yang mengaruk kepala bagian belakang nya dengan tangan kiri.


'aku enggak bisa bilang kalau tadi baru saja mengalami hal yang enggak masuk akal'


'bisa bisa ada yang pingsan nanti' kata erin dalam hatinya dengan beberapa keringat di wajah nya.


"jadi nanti malam, kita makan apa?" tanya ian


Jiho memberi kan pendapat nya "bagaimana dengan seafood bakar?".


Menghela nafasnya erin berkata dengan nada lemas "sayang nya enggak ada alat pemanggang".


"harusnya aku bawa alat pemanggang tadi...


Padalah kita akan ke pantai... Biasanya kalau ke pantai pasti akan makan seafood bakar..."


Kenapa aku sangat ceroboh...." gerutu erin pada dirinya sendiri dengan wajah lemas.


Alan dan juvelian serentak melihat ke arah erin dan menjawab bersama " di villa ada alat pemanggang, kalau enggak salah... ada di bawah tempat cuci piring ya...".


Alan dan juvelian saling memandang karena terkejut dengan jawaban mereka yang sama.


Sementara yang lain berpikir mereka memiliki satu pemikiran.


~Bersambung~


terima kasih sudah baca novel ku dan jangan lupa di like ya~

__ADS_1


__ADS_2