
Kalian masih ingat sama ceritaku. Maksudku tentang cinta pertamaku yang menolak ku di depan umum
"Tapi. sekarang.... sudah jadi masa lalu yang memalukan yang nggak aku ungkit lagi" kataku dengan sinis
Dengan ini kalian sudah bisa mengenaliku kan? Kalau belum, aku lanjut ceritanya
Oh, ya. aku tidak benar- benar ingin menangis, itu karena ada aroma bawang yang masuk ke mataku ketika aku menabrak orang- orang saat pemilihan ketua OSIS
Tidak hanya aroma bawang tapi juga saos yang mengenai mataku, aku tidak sengaja menabrak hamburger seseorang saat berlari tanpa arah, aku mau menghindari tatapan Jake yang hampir melihat ku
Meski Mina berpikir begitu, Jake sebenarnya melihat ke gadis di belakang Mina, Gadis memiliki rambut perak bergelombang dan mata merah, tidak ada ekspresi yang tergambarkan di wajahnya
Sambil menjerit histeris aku pergi mencari tempat cuci tangan terdekat karena tidak bisa melihat dengan jelas aku berlari secara acak
'Awas saja jika kalian berani menyebutku cengeng!'
Setelah mencuci mataku, aku baru teringat aku menepis tangan Juvelian dan berlari begitu saja, aku panik sambil mondar mandir
Karena masih ada suara di lapangan, aku pikir ingin mencarinya tapi tidak mungkin mengingat semua siswa di suruh turun jadi aku naik ke lantai atas
Lalu saat mengamati dari atas, mataku dan Jake tidak sengaja bertemu aku tanpa sadar jongkok kemudian pelan pelan mengapai gagang pintu dan masuk ke ruangan itu
Ketika berjongkok di dalam sana, pikiranku kacau 'Apa dia melihat ku? Mana mungkin kan? Ini tinggi banget'
Tanpa sadar pikiranku menjadi tenang lagi dan teringat kenangan masa laluku, bagaimana pun itu sedikit memalukan menembak seseorang waktu masih kelas 6 tapi malah di tolak dan karena itu aku sampai meneteskan air mata
Mengenyampingkan ada kejadian yang membuat pipi ku memerah, ada banyak sekali kenangan indah ketika aku masih kecil
Keluarga yang kucintai masih utuh, aku tumbuh dengan banyak cintai dari mereka berdua dan masa kecil yang di penuhi dengan tawa bahagia dengan teman- teman yang sudah seperti saudara bagiku
'Aku merindukan masa- masa itu' pikirku sambil menempatkan kepalaku di atas atasku sebagai tumpuan
Aku tersenyum pahit dengan berpikir semua sudah berlalu, tanpa sadar air mata turun ke pipiku dan terus bertambah, aku sedih, rasanya hatiku seperti di tusuk jika mengingat kembali semua kenangan itu
Aku jadi merasa lega setelah menangis, tapi aku ada di mana sekarang (amnesia sesaat).
Setelah berpikir keras, aku baru teringat dengan Juvelian
Dengan segera aku membuka pintu dan langsung melihat orang di balik pintu yang ku dorong, aku sempat kaget karena ku pikir dia adalah hantu
__ADS_1
Tapi setelah ku perhatikan dia terlihat normal, rambut hitamnya mengingatkan ku pada Jake dan Arin meski bedanya rambut Arin lebih gelap
'Tunggu! Jake? Kalau gitu dia adalah-. Nggak mungkin, dia. Joni?'
Dia berbalik kemudian menatapku yang juga menatapnya.
Jika ini adalah pertemuan seperti dalam novel aku mungkin akan berdebar tapi ini malah berdebar berasa jantungan
.....
Sepulang sekolah, aku pulang bareng Juvelian dan kembarannya (aku lupa namanya) dan dua teman Juvelian
Suasananya sangat hening, aku jadi tidak nyaman. Aku beralih melihat novel yang lagi populer sekarang!!.
Ketika berhasil mendapatkan musim 2nya aku lompat kegirangan
Perjalanan terasa singkat karena membaca novel sampai beberapa halaman, kami sampai ke tempat ibuku bekerja setelah drama singkat aku dan Juvelian masuk ke cafe lalu menaiki tangga
Aku melihat wajah Juvelian yang terlihat lelah, aku pernah dengar dari ibu ada ruangan lain selain tiga lantai ini tapi terdapat sihir yang menyembunyikannya
Aku lalu menyadari nona Juvelian sama seperti nona Luxia, dia memiliki sihir tidak heran nona Luxia menyuruhku menaiki tangga bukannya lift.
Terkadang aku penasaran apa yang ada di dalam ruangan ruangan yang di sembunyikan itu.
'Mungkinkah ruang penyiksaan?'
Aku pernah dengar gosip di antara para karyawan jika Nona Luxia adalah orang yang sangat kejam dari apa yang terlihat
Kami masuk ke ruang kerja ibuku untuk menggunakan teleportasi, Aku tidak sabar.
Itulah yang ku pikirkan sampai terjatuh di ruangan mewah ini
Aku tidak terlalu peduli karena mual, rasanya kayak mau muntah, aku berlari ke kamar mandi yang di katakan Juvelian, aku pikir aku akan muntah tapi itu hanya rasa mual
Lalu begitu keluar aku melihat seseorang dengan aura yang mencekam, aku bisa langsung mengenalinya.
'Kakek itu adalah kepala pelayan di sini'
Tanpa aba- aba Juvelian menarikku keluar dari ruangan itu tapi tidak lupa mengucapkan salam perpisahan pada kepala pelayan
__ADS_1
Kami menaiki tangga lagi untuk sampai di atap dan menunggu nona Luxia.
Dan dari drama singkat di atap, aku mengetahui salah hal, nona Luxia dan Juvelian tidak punya hubungan darah
Petang datang dengan cepat. Nona Luxia mengatakan pada aku dan Juvelian untuk pulang dengan teleportasi, aku benar benar belum siap.
Padahal kami masih berdiri di lingkaran cahaya tapi aku sudah mual lebih dulu
Nona Luxia sempat mengatakan sesuatu pada kami tapi memikirkan perasaan yang kurasakan, aku tidak fokus
'Uueekk' perasaan ingin muntah ini berada di ujung lidahku di tambah kepalaku pusingnya kelewat sakit
Aku meraba gagang pintu ketika sudah sampai di depan rumah, kata sandi yang pertama aku masukkan salah sampai keempat kali baru benar
Jika aku tidak pulang, ibu akan khawatir itu yang akan aku pikirkan dengan gelisah ketika masih kecil, karena bermain di luar sampai sore
Tapi sekarang setiap berdiri di depan pintu rumah yang aku pikirkan 'Apa ibu sudah pulang?'
......
Baru saja sampai di rumah, Nona Luxia tiba- tiba memanggilku dengan batu sihir.
Tanpa sempat mengganti baju, Aku segera berlari ke kamar kemudian menggenggam dengan erat batu sihir berwarna merah yang tadi bersinar dalam bentuk liontin
Cahaya mengelilingi ku dengan perasaan hangat yang menyelimuti ku.
Karena takut melihat perpindahan tempat yang membuat selalu mual, aku memejamkan mata
Saat merasakan cahaya itu mulai memudar aku mengintip dan mendapatkan nona Luxia yang duduk singgasana dengan tangga yang memisahkan kami
Beliau duduk di sana dengan tatapan dingin sambil melihat sesuatu di layar yang melayang. Namun aku tidak tahu itu dari mana, aku tidak menemukan HP atau jam tangan di di sekitar
Karena terlalu jauh aku tidak bisa melihat apa sedang di lihatnya.
Menoleh ke arahku, beliau memperlihatkan ku isi vidio di layar
Di sana Arin berbaring di jalanan dengan keadaan tidak sadar karena tertabrak mobil ketika hendak menyebrang, dia berusaha kabur dari sekelompok orang yang mengejarnya
Aku sangat kaget melihat darah Arin mengotori jalan, seolah dia benar benar sudah tidak bernapas
__ADS_1
'Apa aku di perintahkan untuk menyelamatkannya?' aku menelan ludah dengan gelisah