Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 119


__ADS_3

Kalian masih ingat sama ceritaku. Maksudku tentang cinta pertamaku yang menolak ku di depan umum


"Tapi. sekarang.... sudah jadi masa lalu yang memalukan yang nggak aku ungkit lagi" kataku dengan sinis


Dengan ini kalian sudah bisa mengenaliku kan? Kalau belum, aku lanjut ceritanya


Oh, ya. aku tidak benar- benar ingin menangis, itu karena ada aroma bawang yang masuk ke mataku ketika aku menabrak orang- orang saat pemilihan ketua OSIS


Tidak hanya aroma bawang tapi juga saos yang mengenai mataku, aku tidak sengaja menabrak hamburger seseorang saat berlari tanpa arah, aku mau menghindari tatapan Jake yang hampir melihat ku


Meski Mina berpikir begitu, Jake sebenarnya melihat ke gadis di belakang Mina, Gadis memiliki rambut perak bergelombang dan mata merah, tidak ada ekspresi yang tergambarkan di wajahnya


Sambil menjerit histeris aku pergi mencari tempat cuci tangan terdekat karena tidak bisa melihat dengan jelas aku berlari secara acak


'Awas saja jika kalian berani menyebutku cengeng!'


Setelah mencuci mataku, aku baru teringat aku menepis tangan Juvelian dan berlari begitu saja, aku panik sambil mondar mandir


Karena masih ada suara di lapangan, aku pikir ingin mencarinya tapi tidak mungkin mengingat semua siswa di suruh turun jadi aku naik ke lantai atas


Lalu saat mengamati dari atas, mataku dan Jake tidak sengaja bertemu aku tanpa sadar jongkok kemudian pelan pelan mengapai gagang pintu dan masuk ke ruangan itu


Ketika berjongkok di dalam sana, pikiranku kacau 'Apa dia melihat ku? Mana mungkin kan? Ini tinggi banget'


Tanpa sadar pikiranku menjadi tenang lagi dan teringat kenangan masa laluku, bagaimana pun itu sedikit memalukan menembak seseorang waktu masih kelas 6 tapi malah di tolak dan karena itu aku sampai meneteskan air mata


Mengenyampingkan ada kejadian yang membuat pipi ku memerah, ada banyak sekali kenangan indah ketika aku masih kecil


Keluarga yang kucintai masih utuh, aku tumbuh dengan banyak cintai dari mereka berdua dan masa kecil yang di penuhi dengan tawa bahagia dengan teman- teman yang sudah seperti saudara bagiku


'Aku merindukan masa- masa itu' pikirku sambil menempatkan kepalaku di atas atasku sebagai tumpuan


Aku tersenyum pahit dengan berpikir semua sudah berlalu, tanpa sadar air mata turun ke pipiku dan terus bertambah, aku sedih, rasanya hatiku seperti di tusuk jika mengingat kembali semua kenangan itu


Aku jadi merasa lega setelah menangis, tapi aku ada di mana sekarang (amnesia sesaat).


Setelah berpikir keras, aku baru teringat dengan Juvelian


Dengan segera aku membuka pintu dan langsung melihat orang di balik pintu yang ku dorong, aku sempat kaget karena ku pikir dia adalah hantu

__ADS_1


Tapi setelah ku perhatikan dia terlihat normal, rambut hitamnya mengingatkan ku pada Jake dan Arin meski bedanya rambut Arin lebih gelap


'Tunggu! Jake? Kalau gitu dia adalah-. Nggak mungkin, dia. Joni?'


Dia berbalik kemudian menatapku yang juga menatapnya.


Jika ini adalah pertemuan seperti dalam novel aku mungkin akan berdebar tapi ini malah berdebar berasa jantungan


.....


Sepulang sekolah, aku pulang bareng Juvelian dan kembarannya (aku lupa namanya) dan dua teman Juvelian


Suasananya sangat hening, aku jadi tidak nyaman. Aku beralih melihat novel yang lagi populer sekarang!!.


Ketika berhasil mendapatkan musim 2nya aku lompat kegirangan


Perjalanan terasa singkat karena membaca novel sampai beberapa halaman, kami sampai ke tempat ibuku bekerja setelah drama singkat aku dan Juvelian masuk ke cafe lalu menaiki tangga


Aku melihat wajah Juvelian yang terlihat lelah, aku pernah dengar dari ibu ada ruangan lain selain tiga lantai ini tapi terdapat sihir yang menyembunyikannya


Aku lalu menyadari nona Juvelian sama seperti nona Luxia, dia memiliki sihir tidak heran nona Luxia menyuruhku menaiki tangga bukannya lift.


Terkadang aku penasaran apa yang ada di dalam ruangan ruangan yang di sembunyikan itu.


'Mungkinkah ruang penyiksaan?'


Aku pernah dengar gosip di antara para karyawan jika Nona Luxia adalah orang yang sangat kejam dari apa yang terlihat


Kami masuk ke ruang kerja ibuku untuk menggunakan teleportasi, Aku tidak sabar.


Itulah yang ku pikirkan sampai terjatuh di ruangan mewah ini


Aku tidak terlalu peduli karena mual, rasanya kayak mau muntah, aku berlari ke kamar mandi yang di katakan Juvelian, aku pikir aku akan muntah tapi itu hanya rasa mual


Lalu begitu keluar aku melihat seseorang dengan aura yang mencekam, aku bisa langsung mengenalinya.


'Kakek itu adalah kepala pelayan di sini'


Tanpa aba- aba Juvelian menarikku keluar dari ruangan itu tapi tidak lupa mengucapkan salam perpisahan pada kepala pelayan

__ADS_1


Kami menaiki tangga lagi untuk sampai di atap dan menunggu nona Luxia.


Dan dari drama singkat di atap, aku mengetahui salah hal, nona Luxia dan Juvelian tidak punya hubungan darah


Petang datang dengan cepat. Nona Luxia mengatakan pada aku dan Juvelian untuk pulang dengan teleportasi, aku benar benar belum siap.


Padahal kami masih berdiri di lingkaran cahaya tapi aku sudah mual lebih dulu


Nona Luxia sempat mengatakan sesuatu pada kami tapi memikirkan perasaan yang kurasakan, aku tidak fokus


'Uueekk' perasaan ingin muntah ini berada di ujung lidahku di tambah kepalaku pusingnya kelewat sakit


Aku meraba gagang pintu ketika sudah sampai di depan rumah, kata sandi yang pertama aku masukkan salah sampai keempat kali baru benar


Jika aku tidak pulang, ibu akan khawatir itu yang akan aku pikirkan dengan gelisah ketika masih kecil, karena bermain di luar sampai sore


Tapi sekarang setiap berdiri di depan pintu rumah yang aku pikirkan 'Apa ibu sudah pulang?'


......


Baru saja sampai di rumah, Nona Luxia tiba- tiba memanggilku dengan batu sihir.


Tanpa sempat mengganti baju, Aku segera berlari ke kamar kemudian menggenggam dengan erat batu sihir berwarna merah yang tadi bersinar dalam bentuk liontin


Cahaya mengelilingi ku dengan perasaan hangat yang menyelimuti ku.


Karena takut melihat perpindahan tempat yang membuat selalu mual, aku memejamkan mata


Saat merasakan cahaya itu mulai memudar aku mengintip dan mendapatkan nona Luxia yang duduk singgasana dengan tangga yang memisahkan kami


Beliau duduk di sana dengan tatapan dingin sambil melihat sesuatu di layar yang melayang. Namun aku tidak tahu itu dari mana, aku tidak menemukan HP atau jam tangan di di sekitar


Karena terlalu jauh aku tidak bisa melihat apa sedang di lihatnya.


Menoleh ke arahku, beliau memperlihatkan ku isi vidio di layar


Di sana Arin berbaring di jalanan dengan keadaan tidak sadar karena tertabrak mobil ketika hendak menyebrang, dia berusaha kabur dari sekelompok orang yang mengejarnya


Aku sangat kaget melihat darah Arin mengotori jalan, seolah dia benar benar sudah tidak bernapas

__ADS_1


'Apa aku di perintahkan untuk menyelamatkannya?' aku menelan ludah dengan gelisah


__ADS_2