Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 117


__ADS_3

Sesuai kata Kirara, dia sudah menunggu Juvelian di depan ruangan mading, Juvelian binggung kenapa Kirara bukan menunggu di dalam tapi malah di luar


Begitu mereka mendorong pintu kaca, anggota klub yang sedang bersantai langsung kaget dan menjadi tegang ketika melihat wajah Kirara


Kirara tetap mempertahankan senyum di bibirnya


Siswi yang juga ikut bersantai segera berdiri menyambut Kirara "Mantan ketua!"


Dia berlari memeluk Kirara


Kemudian satu persatu dari mereka menyapa Kirara "Senior, apa kabar?"


"Baik"


"Mantan ketua. lama tidak bertemu"


Kirara menatapnya sebentar mengingat siapa dia


"Iya, terakhir kali ketemu waktu kau belum lama bergabung"


"Mantan ketua bukannya kau terlalu kejam? Aku harus latihan untuk praktek bernyanyi"


Temannya memukul punggungnya dengan candaan "Makanya jangan sering bolos. Ketua kita jadi marah nih"


Membuang napas. Kirara berkata padanya dengan sinis "Kalau gitu setelah ini kau harus bekerja keras demi klub ini, mengerti?"


"Saya akan berusaha, bu"


Juvelian yang menyaksikan semua berkata dalam hatinya 'Wah, di manapun Kak Kirara berada dia tetap populer'


"Kak Rara aku merindukankan mu"


Dengan seringai Kirara bertanya "Sejak kapan aku jadi kakak mu?"


"Wkwkwk" beberapa temannya tertawa


Dengan lesu dia berkata "Jahat banget..."


Kemudian seseorang diantara mereka bertanya dengan ragu "Ngomong ngomong, apa yang anda lakukan di sini?"


"Kenapa? Apa setelah menjadi mantan ketua, aku tidak boleh ke sini melihat para juniorku? Aku teringat kenangan masa lalu ketika melewati ruangan ini jadi aku-.


Padahal aku sangat merindukan Kalian tapi sekarang aku bukan siapa siapa lagi di sini"


Kirara mulai memainkan drama


Dia menyeka sesuatu di pinggiran matanya seolah ada air mata tapi jari kelingking berdiri tegak seolah memberi isyarat pada orang yang mengerti dari gerakan itu


Mereka segera menjadi panik

__ADS_1


"Mana mungkin! Senior itu bagaikan matahari di tempat ini"


"Kami hanya khawatir karena tiba tiba mantan ketua datang, mantan ketua kan pasti sibuk"


Gadis yang memeluk Kirara dengan dua orang lainnya membawa Kirara ke ruangan lain dengan alasan mereka akan menenangkan Kirara dengan Juvelian mengikuti mereka


Pintu di tutup rapat dengan begitu tidak akan ada yang bisa mendengar pembicaraan yang akan mereka lakukan


Lelaki yang menutup pintu lalu berbalik dan bertanya "Ketua apa ada yang bisa kami bantu?"


Kirara tersenyum tipis dan berkata sambil bertepuk tangan "Menakjubkan. Kalian masih ingat dengan isyarat itu"


"Tentu saja! Dari pertama kali jadi ketua, Kirara menyuruh kami untuk mengingat beberapa isyarat. Jari kelingking yang berdiri tegak di saat jari lain menunduk artinya bawa aku ke tempat lain"


Setelah senyum pudar dia menjadi serius "Ada informasi yang aku perlukan"


Mereka tersentak enggan mengikuti perkataan Kirara tapi juga tidak mau menerimanya


"Ada apa dengan raut wajah kalian?"


"Itu jadi-. Setelah Kakak berhenti jadi ketua, ada peraturan jika mau mendapatkan informasi perlu persetujuan dari ketua yang sekarang"


"Jadi maksudnya kami hanya perlu dapat izin kan?" tanya Juvelian


Mereka mengangguk, Kirara bertanya lagi "Melihat dari cara bicara kalian sepertinya bukan salah satu dari kalian yang menjadi ketuanya. Jadi siapa dia?"


"Daniel, dia dari kelas 11-2"


Belum lama mereka berada di sana, suara ribut dari ruangan pertama mereka datangi sampai sampai ke ruangan itu


Mereka keluar untuk mengecek dan menemukan Daniel yang terlihat kesal, sementara yang lain panik dengan ketua dan mantan ketua mereka yang saling berhadapan


"Kau yang namanya Daniel. Senang bertemu dengan mu, selamat ya uda jadi ketua"


Tidak tahu apa pembicaraan yang mereka bicara tapi mereka menjadi gelisah dan Kirara memanggil Juvelian ikut bergabung dalam perbincangan


Ruangan yang mereka masuki sekarang sangat berantakan, banyak tanda di mana mana seolah sedang menyelidiki sesuatu dan banyak layar dengan satu bangku yang tersedia


'Tempat ini lebih mirip markas mata mata dari pada ruang mading'


Sambil mengetik Daniel mengulang kembali perkataan Kirara "Orang yang memiliki pengaruh paling besar dalam rumor di sekolah"


"Ada Lidia dari kelas 9-5 pengaruhnya tidak terlalu besar, selanjutnya Gilbert dari kelas 10-3 dia mungkin tidak akan terlalu membantu karena rumor yang dia sebarkan tentang kebencian pada musuhnya belum lagi dia sangat mengesalkan"


Daniel menyebutkan beberapa nama


"Di susul Regina meski baru di mulai tapi mudah mempengaruhi tapi rumor yang di sebarkan masih jadi misteri aku tidak merekomendasikan dia, terlalu resiko"


Kirara dan Juvelian saling menatap dengan pikiran yang sama 'Mana mungkin kami meminta bantuan pada dia'

__ADS_1


"Yeri, kelas 11-5. Kami memberinya Julukan ratu rumor, kalian tahu apa yang membuatnya di beri julukan seperti itu?"


"Karena rumor yang dia sebarkan tidak menentu dan semuanya nyata entah itu memang kenyataan atau dia menjadikannya kenyatan jadi tidak banyak yang sadar siapa yang menyebarkannya"


"Itu menarik bukan?"


"Meski kalian meminta bantuannya untuk menyebarkan rumor, baik dia atau kalian akan aman. Tapi sayangnya selain jam pelajaran, dia tidak pernah kelihatan dan mengenai hal yang bisa kalian tawarkan untuknya, aku tidak bisa membantu"


Daniel berbalik melanjutkan perkataannya "Kami tidak pernah memperhatikannya. Tapi... Jika kalian menginginkannya, aku bisa meminta salah satu anggota untuk mencari tahu"


"Ini saja sudah cukup" ucap Juvelian


'Lian?'


Mereka keluar lalu begitu Kirara selesai penutup pintu, Kirara bertanya


"Lian apa kau pikir sampai menolak tawarannya? Tunggu, kau tahu dia berada di mana?"


Juvelian tersenyum dan berkata


"Lebih baik kita makan dulu"


Mata Kirara berkedut ketika mendengarnya dia tidak mengerti jalan pikiran Juvelian


Sambil berjalan selangkah dia menjawab dari pertanyaan raut wajah Kirara "Jam segini mungkin dia belum datang jadi sebaiknya kita menemuinya saat jam istirahat dan mungkin tidak mudah untuk membujuknya kan?"


Menoleh, "Aku balik dulu. Aku uda di tunggu pacarku"


Kata yang ingin di sampaikan "Kakak nggak ada yang tunggu kan makanya jangan jomblo kelamaan. Nanti antriannya makin panjang"


Kirara meledak berkata dengan sinis pada Juvelian sambil mengepal tinju "Dasar adik durhaka"


Kirara harus menjaga reputasinya belum lagi sebagai kakak kelas dia harus menjadi contoh yang baik


Juvelian terkekeh sambil berlari "Jangan marah marah nanti cepat tua loh"


Begitu jam istirahat, biasanya para siswa akan keluar bersama sesuai kelas mereka bergantian sesuai jadwal yang sudah di tentukan


Jadi Juvelian menggunakan tempat yang ramai untuk menyelinap keluar bertemu Kirara, Dia sudah meminta Alan, Rudan, Arin dan Lilian untuk tidak menunggunya


Jam keluar kelas Juvelian dan Kirara sama hari ini jadi lebih mudah untuk bertemu, Juvelian membawa Kirara ke lantai paling atas dengan lift karena takut ketahuan guru lain yang sedang mengajari kalau pakai tangga


Mereka menaiki tangga menuju atap sekolah, Kirara meraih Juvelian sambil mengerutkan kening "Apa kau tahu sandinya? kau tahukan sekali salah alarm akan berbunyi dan kita akan tertangkap. siswa di larang ke atap, kau tahu kan?"


Juvelian dengan pelan melepaskan genggam tangan Kirara dan meraih kenop pintu kemudian menariknya


"Lihat? ini tidak terkunci" kata Juvelian dengan ceria


"Kau tahu dari mana?" wajah Kirara pucat saat menatap senyum Juvelian yang sedikit aneh

__ADS_1


'Bagaimana jika aku bilang aku pernah ke sini?' tanya balik Juvelian dalam hatinya pada pertanyaan Kirara


__ADS_2