Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 39


__ADS_3

'Tunggu, barusan dia bilang 'Juvelian Star Light'?'


'Apa ini memang ingatanku yang hilang? Hanya ada satu cari memastikannya'


"Apa keluargamu sangat menyayangimu?"


"Tentu saja, setiap hari kami makan bersama, mama papa selalu mencium pipiku, sedangkan Kak Allen selalu bermain dan tersenyum denganku".


Membuka matanya lebar lebar karena terkejut, Juvelian menggigit sedikit bibirnya.


'Ternyata ini bukan ingatan ya, karena meskipun mereka semua sangat menyayangiku sekarang tapi di dalam ingat terakhirku tentang mereka adalah mereka yang mengabaikanku' Pikir Juvelian yang hatinya terasa sakit.


'Karena terlalu menginginkan kasih sayang dan perhatian dari mereka semua sampai ada ilusi seperti ini di dalam mimpiku'.


"karena mama papa selalu meluangkan waktu jadi kami selalu bermain bersama dan aku, kak Luxia, kak Alan dan kak Allen kadang tidur siang bersama.


Menundukkan kepalanya, Juvelian menetaskan air matanya "Hentikan" ucapnya dengan tegas.


Juvelian kecil terkejut dan bertanya "Ka, kak malaikat ada apa?".


"Aku bilang hentikan, karena mereka yang aku tahu bukan seseorang yang seperti itu"


Kata Juvelian yang mengangkat kepalanya melihat tajam ke arah Juvelian kecil.


Menundukkan kepalanya Juvelian. "Apa kau pikir bisa menipuku karena wajahmu yang mirip dengan aku?".


"Apa maksudmu Juvelian?" suara seseorang yang familiar bagi Juvelian.


'Ini suara mama?' pikir Juvelian yang sedang menundukkan kepalanya.


Juvelian melihat ke arah suara itu dan terkejut dengan mamanya yang duduk di tempat Juvelian kecil.


Mama Juvelian berjalan ke arah Juvelian yang masih duduk di pagar besi balkon.


Menyentuh pipi Juvelian dengan tangan kanannya. menghapus air mata Juvelian dengan tatapan hangat.


"Mama..."


'Tapi kenapa tangan mama sangat dingin?'.


"Apa maksudmu aku bukan orang yang seperti itu?" kata mama Juvelian dengan nada dingin dan senyum jahat lebar.


Juvelian terkejut dan segera memukul tangan mamanya.


"Kau... Kau bukan mama?" kata Juvelian gementar.


"Apa kau baru saja memukul tanganku...?" tanya mama Juvelian yang matanya berubah merah.


"Dasar anak kurang ajar" teriak mama Juvelian yang ingin menampar Juvelian.


Juvelian dengan cepat memundurkan badannya dengan kedua tangan yang memegang pagar besi balkon.


Juvelian yang kehilangan keseimbangan, terjatuh dari pagar besi balkon.


'Apa pada akhirnya aku akan mati lagi?' pikir Juvelian yang memejamkan mata.


"Kau enggak akan mati kok".


"Siapa?" gumam Juvelian.


"Kalau itu rahasia tapi menakjubkan kau bisa memecahkan ilusi itu dalam waktu singkat"


Juvelian melihat ke sekeliling yang tidak dapat melihat apa pun kecuali tempat gelap tanpa cahaya.


"Sebenarnya aku ingin lebih lama berbicara denganmu tapi sepertinya pengganggu itu datang lebih cepat dari dugaanku".


Cahaya besar berbentuk lingkaran muncul di depan. Rudan yang dalam bentuk anak kecil keluar dari cahaya.


"Eh? Rudan?" tanya Juvelian yang terkejut.


Rudan kecil mengangguk. Juvelian yang senang melihat Rudan kecil, berlari ke arah Rudan kecil dan memeluknya.


"Apa kau tahu, aku sangat senang melihatmu?" .


Juvelian yang sadar dengan apa yang dia lakukan langsung melepaskan pelukannya.


"Ma, maaf" kata Juvelian dengan wajah memerah dan sedikit tertawa.


"Juju... Kau itu benar benar ceria, ya" kata Rudan kecil yang melihat ke Juvelian.


Juvelian berkedip beberapa kali dan tertawa kecil "Aku aneh, ya?".


"Tidak, kau benar benar manis bahkan melebihi gula"

__ADS_1


Juvelian berjalan ke arah Rudan kecil dan mencubit kedua pipinya dengan pelan.


"Anak kecil satu ini... Jangan menggoda orang dulu. Masih kecil" sedangkan Rudan kecil yang berusaha melepaskan cubitan Juvelian.


Juvelian tersadar dan melepaskan cubitannya.


'Tunggu, tadi anak ini memanggilku dengan ' 'Juju' kan?'


"Atau sosokmu saja yang kecil tapi sebenarnya kau adalah Rudan yang kukenal?" tanya Juvelian yang melihat ke arah Rudan kecil yang sedang menyentuh kedua pipinya.


"Tapi kenapa kau bisa seperti itu?"


Rudan kecil menggigit bibirnya dan bergumam "Karena sekarang aku belum cukup kuat..."


Juvelian duduk dengan melihat ke arah Rudan kecil yang menggigit bibirnya.


"Jangan gigit bibirmu, nanti bisa berdarah"


"Kemarilah" kata Juvelian yang mengerakkan tangannya memanggil Rudan kecil.


Rudan kecil berjalan dengan langkah kecil ke Juvelian dan membaringkan dirinya di pangkuan Juvelian.


Juvelian mengelus kepala Rudan kecil yang memejamkan mata.


"Nyaman kan? saat kecil ibu mira sering melakukan ini, dan aku akan tertidur".


"Kalau Rudan pernah?"


Menggelengkan kepalanya Rudan kecil membuka mulutnya


"Tidak, tidak pernah. Karena, aku tidak pernah tidur di pangkuan ibu, hanya Juju yang melakukannya"


'Walau sebenarnya, aku yang tidak ingin sih'.


"Maaf, aku seharusnya tidak bertanya..." kata Juvelian yang berhenti mengelus kepala Rudan kecil.


membuka matanya, Rudan melihat ke arah Juvelian dengan tatapan sedih.


"Sebenarnya aku tidak suka, kau yang selalu minta maaf dan memedulikan orang lain"


Rudan kecil memegang tangan Juvelian yang lebih besar darinya dan melanjutkan perkataannya.


"karena kau lagi lagi akan terluka karena mereka, aku benar benar tidak suka".


Rudan melepaskan pegangannya dan berusaha menyentuh pipi Juvelian.


"Karena tujuanmu terhambat gara gara aku,


Padalah masalahnya akan selesai kalau aku tinggal menerimanya". Rudan kecil bangkit dan menyentuh ke dua pipi Juvelian.


Kedua tangan Rudan kecil mulai gemetaran. menundukan sedikit kepalanya


"Tapi aku tidak suka kau yang selalu mengorbankan kebahagiaan dan nyawamu hanya untuk kebahagiaan banyak orang"


"Jika ada di dunia nyata, aku pasti tidak akan berani untuk mengatakannya... karena hal yang paling aku takutkan adalah kau yang membenciku"


Juvelian yang memasang wajah bingung, bertanya "Apa maksudmu Rudan? aku tidak mengerti".


"Karena itu, begitu bangun lupakan lah semuanya yang aku katakan".


"Ini... Semua hanyalah mimpi" kata Rudan kecil yang mencium pipi Juvelian.


"Aku mencintaimu, Juju..." sambil meneteskan air mata dengan senyum sedih.


Rudan kecil berjalan mundur dengan melambaikan tangan "Kita akan bertemu lagi di dunia nyata".


'Kenapa... Kenapa kau kelihatan sangat sedih?"


Juvelian membuka matanya. Melihat ke arah sebelah, Juvelian berteriak tanpa suara karena terkejut melihat Arin yang tidur di sebelahnya.


'Benar, sekarang kami sedang menginap di villa'. Juvelian duduk di tempat tidur dengan kepala mengangguk. 'Karena selama ini, aku selalu tidur sendiri jadi ada saatnya aku masih kaget melihat Lux di sampingku'.


'Apa aku jalan jalan sebentar, ya?'.


Juvelian berjalan menuruni tangan dengan pelan pelan.


'Sebenarnya tadi aku mimpi apa sih? Sampai harus terbangun di jam segini'.


"Juju?" kata Rudan yang duduk di sofa ruang tamu. Juvelian berhenti di tangga.


"Rudan, kenapa kau bisa ada di ruang tamu jam segini?".


"Apa kau juga tidak bisa tidur lagi?".

__ADS_1


"Iya..." jawab Rudan yang melihat ke arah tangga.


Juvelian berjalan menuruni tangga dan menuju ke arah Rudan.


"Kau lagi lihat apa?" tanya Juvelian yang duduk di samping Rudan.


"Berita"


"Rudan, bagaimana jika kau tidak bisa mengingat mimpimu tapi menurutmu itu hal yang berharga?"


Di sisi lain, Erin yang sedang minum di dapur terkejut dengan suara TV dan memilih untuk bersembunyi di dapur.


'Sebenarnya apa salahku? Kenapa hantu di villa ini selalu menggangguku" teriak Erin dalam hatinya.


"Aku sih, tidak tahu karena selama ini aku tidak peduli dengan mimpi yang aku lihat".


Jawab Rudan yang terdiam sebentar.


Membuka mulutnya dan melanjutkan perkataannya


"Tapi, mungkin saja itu bukan hal yang berharga bagimu karena itu kau tidak bisa mengingatnya".


"Begitu ya..." gumam Juvelian.


Juvelian menyandarkan kepalanya di bahu Rudan. 'Padalah tadi aku tidak mengantuk tapi rasanya sekarang aku ingin tidur".


Melihat ke arah Juvelian, Rudan tersenyum hangat. 'Dia tertidur?'


Rudan menggendong Juvelian dengan posisi ala putri kerajaan dan menaiki tangga dengan santai.


Erin yang tidak mendengar suara lagi, berjalan dengan pelan ke arah datang tapi mengurungkan niatnya karena mendengar suara orang menaiki tangga.


"Hantu, jika aku ada salah di kehidupan sebelumnya tolong di maafkan karena aku ingin kembali tidur".


Mendengar tidak ada suara lagi, Erin berlari dengan cepat menaiki tangga dan masuk ke dalam selimut.


'Tuhan tolong hambamu ini' pikir Erin yang masih gemetar dengan memegang sesuatu di kedua tangan.


'Padahal katakan ini bisa mengusir hantu, tapi kenapa hilang berhasil'


Beberapa jam kemudian.


'sudah pagi, ya?' pikir Juvelian.


'Tapi bukan ini ada di kamar...' pikir Juvelian yang melihat ke sekeliling.


'Jangan jangan tadi malam Rudan menggendong sampai ke kamar?'


Memegang kedua pipinya, Juvelian berteriak dalam hatinya 'kyakk, aku malu banget'.


Merasakan ada yang bergerak gerak di ujung tempat tidur, Juvelian melihat ke samping.


"Pagi... Juvelian" kata Erin dengan wajah seperti tidak tidur dan mata bengkak.


"Kak Erin, matamu itu... Kenapa?"


"Semalam karena terlalu lama melihat film sedih jadi aku menangis dan begadang" jawab Erin yang menguap.


'Aku tidak mungkin bilang karena semalam di ganggu hantu, aku jadi begadang dan menangis karena terlalu takut'


"Begitu ya..."


"Lebih kau pergi mandi lebih dulu, yang masih tidur" kata Erin yang menganggukkan kepala karena mengantuk.


"Tidak ada barang yang ketinggalan kan?" kata Erin yang menutup bagasi mobil.


"Tidak ada, kok" jawab Lilian.


"Kau yakin?" tanya Erin yang tidak percaya.


"Kak Erin, aku ini bukan anak kecil lagi" teriak Lilian yang kesal.


Di sisi lain Jiho dan Arin menahan tawa di dekat pintu villa.


"Kau kan memang masih kecil sampai harus di awasi seperti ini" kata Jiho yang mengangkat kedua bahunya dengan nada mengejek.


Membalikkan badannya, Lilian menatap tajam ke arah Jiho. "Diam, kau Jiho" kata Lilian yang tersenyum menakutkan.


Dari arah depan terdengar suara mobil dan berhenti di depan villa mereka.


Begitu pintu terbuka, keluar seseorang pria dengan mata biru dan rambut perak yang sama dengan papa Juvelian dan Allen.


hawa dingin di sekitarnya, membuat beberapa merasa tercekik.

__ADS_1


"Paman" teriak Juvelian dan Alan sambil melambaikan tangan sambil berlari keluar villa. 'Paman?' pikir mereka secara bersamaan dengan ekspresi terkejut.


~Bersambung~


__ADS_2