Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 45


__ADS_3

Tapi... yang paling di bencinya adalah jika ada seseorang yang mengganggunya sata sedang berakting.


Kesal mendengar kata kata temannya, Kirara menginjak kaki kanan temannya dengan keras.


"Kau bosan hidup?" katanya yang tersenyum kesal.


Wali guru mereka yang sudah masuk dari tadi, memanggil mereka yang berdiri di depan pintu.


"Ketua kelas sementara dan wakil ketua kelas, cepat datang ke sini"


Mereka yang terkejut langsung menjawab


"Ya, pak. Kami segera ke sana"


"Kak Kirara, kami masuk dulu ya"


"Tentang pengaturan tempat duduk di kelas. apa menurut kalian, lebih baik tempat seperti sekarang atau di atur ulang?"


Juvelian membuka bibirnya dan Berkata


"Apa kami boleh bertanya dulu pada teman teman yang ada di kelas?".


Melihat sekilas ke arah Alan yang hanya diam dan melihat ke arah guru yang ada di depan mereka.


"Bagaimana kalau dari mengundi nama saja?".


"Mengundi nama?" tanya guru wali kelas mereka yang bertanya balik.


"Iya, setelah menulis nama mereka sendiri dan memasukkannya ke dalam kotak"


"Dan mengatur tempat duduk sesuai nama yang keluar, mau enggak mau nama yang keluar harus duduk di tempat yang sudah di tentukan"


Guru wali kelas yang merasa puas dengan jawaban mereka, tersenyum tipis "Lakukanlah keduanya".


"Jika, setengah dari mereka setuju dengan pengaturan ulang tempat duduk dengan mengundi nama mereka. Maka, lakukanlah".


Juvelian hanya terdiam tidak bisa berkata untuk beberapa saat.


'Tidak mungkin, mereka menolak. Karena ini salah satu kesempatan untuk bisa dekat dengan salah satu Lima Sekawan'.


'Atau pun anak laki laki yang ingin berpacaran dengan Lilian atau pun Arin yang sampai saat ini masih jomblo'.


Setelah Juvelian dan Alan meninggalkan kelas mengikuti guru wali kelas mereka, suasana di kelas menjadi sangat ribut.


Karena masih ada saja beberapa orang yang memandang kagum dan berbisik dengan melihat ke arah jendela, tempat di mana lima sekawan, Si kembar, Lilian, Arin dan Mina duduk.


Si kembar hanya berbisik satu sama lain dengan suara yang sangat pelan, sampai tidak ada yang bisa mendengarnya kecuali hanya mereka berdua.


Jiho yang selalu mengeluh tentang hal itu, akan mengomel di dalam kepalanya.


Rudan yang memilih mengabaikan mereka dengan melihat ke arah jendela.


Tapi Daniel yang duduk di sebelahnya sibuk bermain video gama di HPnya setelah guru meninggalkan kelas sedangkan Ian, dia tertidur dengan sangat nyenyak di atas meja yang di alas buku tulis.


Mendengar suara pintu yang terbuka, mata mereka tertuju ke arah sana.


Wajah Rudan menjadi sedikit cerah dengan suara orang baru masuk "Pak guru bilang apa?".


Juvelian melihat ke arah Rudan dan berkata "Pengaturan ulang tempat duduk"


Begitu kata kata itu keluar dari mulut Juvelian suasana di kelas menjadi hening.


Beberapa orang menjadi sangat bersemangat sedangkan yang lain memasang wajah suram, terutama Jiho yang paling terkejut.


"Jika ada yang setuju dengan pengaturan ulang tempat duduk dengan nama yang di undi, angkat tangan kanan kalian"


kata Alan yang berdiri di samping Juvelian dengan beberapa kertas di tangannya.


Melanjutkan perkataannya lagi


"Tapi, jika tidak setuju, angkat tangan kiri kalian".


Sebagian anak yang duduk di barisan satu sampai empat mengangkat tangan kanan kecuali pada barisan ke lima, tidak ada satu pun tangan kanan pun yang terlihat terangkat.


'Aku memang sudah menduganya tapi, aku tidak menyangka mereka benar benar sangat menentangnya...'


Pikir Juvelian yang tidak bisa berkata kata.


Alan menghela napas dan berkata


"Baiklah..."


Terdiam sebentar melihat tangan yang mulai turun dan melanjutkan nya


"karena orang yang setuju lebih banyak, jadi tulis nama kalian di kertas dan masukkan ke dalam kotak yang di pegang Lian".


Satu persatu satu orang maju dan memasukkan kertas yang berisi nama mereka ke dalam kotak.


Juvelian menggoyangkan kotak yang ada di tangannya.


Begitu berhenti menggoyangkan kotak, Juvelian mengangguk dan melihat ke arah mata Alan.


"Mari kita mulai..."

__ADS_1


Terdengar suara beberapa orang yang menelan ludah mereka sendiri.


Memasukkan tangan kanannya ke dalam kotak dengan mengaduk beberapa kertas yang terlipat, dengan perlahan Alan mengeluarkan dua kertas yang berlipat menjadi persegi.


"Yang duduk di meja pertama, barisan pertama adalah Lilian dan Jiho"


Jiho menghela napas panjang dengan bergumam sesuatu sedangkan Lilian hanya menatap tajam ke arah Jiho.


Menyandari tatapan tajam Lilian, Jiho berbalik melihat ke arah Lilian yang berdiri di sampingnya


"Apa? Kau tidak mungkin ingin membunuhku kan?".


Lilian hanya diam dengan mata yang masih menatap tajam ke arah Jiho.


Memalingkan wajahnya, melihat ke arah jendela, Jiho bergumam


"Dia benar benar akan membunuhku dengan tatapannya yang lebih tajam dari pisau ya..."


Dua orang yang mendengar gumaman Jiho, tertawa kecil.


Tentu saja, kedua orang itu tidak lain adalah 'Si kembar mata merah'.


Julukan 'Si kembar mata merah'di berikan pada Alexia dan Alex, yang memiliki mata merah.


'Ku pikir mereka akan menyukainya...


Setelah mengetahui bahwa sebenarnya aku tidak pernah menyukai Jiho, aku mendukung hubungan Lili dan Jiho'


'Karena kalau saja, aku tidak bertunangan dengan Jiho maka, Lili dan Jiho pasti tidak perlu pacaran diam- diam.


Meskipun, kadang aku berfikir mereka pacaran tanpa kamu ketahui'


'Tapi... Kenapa Jiho ingin aku menyukainya?


Padalah dia menyukai Lili atau mungkin dia mengetahui identitas asliku sebagai Juvelian'.


'Meskipun, ayah Jiho adalah pemilik perusahaan besar tapi, jika di bandingkan dengan perusahaan- perusahaan yang di miliki oleh mama papa, perusahaan mereka masih kalah jauh...'


'Dengan kata lain aku yang juga merupakan salah satu alih waris, jika bertunangan dengan Jiho, perusahaan mereka akan berkembang pesat'


'kalau apa yang aku pikirkan ini benar, siapa yang membocorkan semuanya?.


Ibu Mira adalah orang kepercayaan ibu jadi tidak mungkin...'


Berhenti berfikir sebentar dan memiliki satu orang yang dia curigai 'Apa mungkin dia?'


Setelahnya beberapa nama di barisan pertama di sebutkan, selama Juvelian masih sibuk dengan pikirannya.


"Meja ketiga, barisan kedua adalah Juvelian dan Alan" kata Alan yang tersenyum cerah, menarik perhatian beberapa orang.


"Meja keempat, barisan kedua adalah Rudan dan Daniel"


Suara guntur terdengar dengan sangat keras, dengan kilatan petir yang dapat di lihat dari jendela, yang menggambarkan rasa terkejut Alan yang tidak menyangka orang yang ingin dia usir jauh jauh duduk di belakang adiknya.


'Padalah aku harus menggunakan trik untuk bisa duduk dengan Lian tapi, sekarang semuanya akan sia sia'


Karena Juvelian memegang kotak, Alan yang harus menulis nama mereka dan itu menjadi peluang Alan untuk menggunakan trik.


Sebelum memasukkan namanya dan Juvelian ke dalam kotak, Alan melipat ke dua sisi kertas nama mereka menjadi bentuk persegi panjang.


Setelahnya dari ujung persegi panjang di pertemukan dan lipat menjadi persegi, dari sisi yang masih terbuka, kedua kertas di masukkan dan di buat agar terlihat seperti hanya satu.


Jadi, kalau kotak digoyangkan beberapa kali, dua kertas yang berisi nama mereka tidak akan terpisah terlalu jauh hanya sedikit bergeser tapi masih menyatu satu sama lain.


Saat kertas di angkat, pasti ada yang berpikir jika kertas yang menyatu seperti itu karena kotak yang digoyang.


Cara ini hanya memiliki sedikit peluang untuk berhasil dan tidak ketahuan, tergantung orang yang melakukannya


'Karena untuk berjaga jaga, aku terus berlatih di rumah selama beberapa hari tapi, kenapa anak itu bisa duduk di belakang adikku sih'.


Alan yang sangat kesal hanya terdiam tanpa bergerak sedikit pun beberapa saat.


Dengan tangan yang masih memegang kotak, Juvelian menyenggol lengan Alan dengan siku tangannya.


"Kak Alan..." kata Juvelian yang berbisik.


Alan yang kaget, kembali dari pikirannya.


'Karena terkejut dengan hasilnya tanpa sadar aku jadi sibuk dengan pikiranku sendiri'.


Mengambil satu kertas dari dalam kotak dan melanjutkan membaca isi kertas.


Waktu berlalu cepat selama pengaturan ulang tempat duduk.


Sebagai siswa merasa kecewa karena tidak satu pun dari mereka bisa duduk di samping Lima sekawan, Lilian, Alan, Mina, Juvelian, Arin dan Si kembar mata merah.


Tidak tahu ini sebuah kebetulan atau sudah di rencanakan, tapi mereka merasa lega bisa duduk dengan orang yang dekat dengan mereka.


"Meja ke enam, barisan kedua adalah Ian dan Nine"


"Meja ke dua, barisan ketiga adalah Arin dan Mina "


"Meja ke empat, barisan ke empat adalah Alexia dan Alex"

__ADS_1


Mungkin yang paling senang setelah pengaturan ulang tempat duduk ini adalah Ian, yang bisa tertidur dengan nyenyak karena cahaya matahari yang masuk tidak mengenainya.


Dan AC yang ada di belakangnya. Tapi, jika membahas tentang siapa yang paling benci hal itu adalah Nine yang harus duduk paling belakang.


Dia beberapa kali meminta namanya di undi lagi, tapi hanya dengan satu kalimat dari Alan, dia langsung diam tidak bisa berkata kata.


"Kau itu salah satu orang yang tinggi di kelas ini jadi meskipun duduk di belakang tetap akan kelihatan dan setiap hari posisi tempat duduk akan berpindah pindah kecuali orang yang duduk di sampingnya"


Setelah bel berbunyi, sebagian besar siswa memilih menunggu di kelas untuk di jemput atau pulang jalan kaki dengan memegang payung di tangan atau jas hujan mereka karena hujan yang sangat deras.


Berdiri di depan pintu kelas dengan memegang tas.


"Kami pulang dulu ya" kata Juvelian yang melambaikan tangan dengan alan yang berdiri di sebelahnya.


Saat baru keluar dari kelas dan berjalan di lorong, Juvelian melihat dua warna rambut yang familiar baginya.


"Lilian, Arin" kata Juvelian yang berjalan dengan cepat.


Mendengar suara Juvelian dari belakang, mereka melihat ke belakang.


"Kak Erin, sudah datang?"


"Enggak, kak Erin harus pergi ke suatu tempat selama beberapa hari" jawab Lilian.


Arin dan Lilian tinggal di apartmen yang sama.


Kadang Erin yang datang menjemput Lilian, juga sekalian mengantar Arin pulang.


"Kalian ada bawa payung atau jas hujan?" tanya Juvelian dengan nada khawatir.


"Enggak, kami lupa karena terburu buru" jawab Arin yang mengaruk pipinya dengan tertawa kecil.


Lilian membuka bibirnya dan berkata


"Di lihat dari hujannya, kayak hujan enggak akan reda dalam waktu dekat dan rumah kami juga tidak jauh dari sini"


"Tidak boleh, kalian nanti sakit. Kalau kalian nanti Lianku menangis" kata Alan.


Arin dan Lilian yang awalnya merasa terharu menjadi memasang ekspresi datar.


Melihat ke arah Alan dengan wajah tercengang "Kak Alan, kau ini bicara apa sih?".


'Apa perkataanku terlalu berlebihan?'


Kembali melihat ke arah Lilian dan Arin yang ada di depannya.


"Karena satu jalan, bagaimana kalau kita pulang sama sama?"


"Maaf, sudah merepotkan" kata mereka secara bersamaan.


Begitu berada di lantai satu, pak Tio sudah menunggu mereka di dalam mobil.


Karena Juvelian yang selalu mengeluh bahwa mengantar atau menjemputnya dengan limosin itu berlebihan.


Orang tuanya menyuruh pak Tio menggunakan mobil yang paling tidak mencolok yang ada di dalam garasi tapi, tetap saja bagi Juvelian itu masih berlebihan.


[Di dalam mobil]


Alan duduk di samping kursi pengemudi sedangkan yang lain duduk di kursi belakang.


"Ke apartmen yang terakhir kali kita datang" kata Alan.


Dari dalam tas, terdengar suara pesan yang masuk.


Melihat ke arah layar HP dan membuka kata sandinya.


[Mama: nanti mama papa tidak bisa pulang untuk makan siang]


[Mama: mungkin akan pulang malam, jadi makanlah lebih dulu]


[Mama: ada yang harus mama papa urus di rumah kakak ipar, mungkin akan pulang tengah malam atau besok, jadi jangan menunggu]


'Jika, kakak ipar. Berarti paman Regis'


[Lian: apa terjadi hal buruk di sana?]


[Mama: seseorang anak perempuan mengakui dirinya sebagai anak kakak ipar, karena itu sekarang sedang menunggu hasil tes DNA]


[Mama: Mira sekarang sedang bersama mama, jadi jaga diri kalian baik baik]


[Lian: baiklah, aku mengerti. Mama jangan khawatir]


Lilian yang duduk di tengah, mendekatkan kepalanya melihat ke arah layar HP Juvelian.


"Kau sedang lihat apa?"


Mendengar suara Lilian yang tiba tiba, Juvelian terkejut dan lansung mematikan HP.


~Bersambung~


Hanya update hari Rabu, Sabtu dan Minggu


Terima kasih sudah baca karyaku

__ADS_1


__ADS_2