
Di dalam ruang yang penerangannya redup tercium aroma tertentu yang bisa membuat kita merasa nyaman ketika menghirupnya
Meski gelap kita masih bisa melihat apa saja yang ada di dalamnya, semuanya tersusun rapi membuktikan ruangan ini sangat terawat
Di dalam ruangan itu berbaring seorang gadis yang tertidur lelap, rambut biru yang tergerai menutupi sisi wajahnya, yang menakjubkan adalah posisi tidurnya tidak banyak berubah
Suara ketukan pintu dengan irama membuatnya terjaga dengan keadaan menutup matanya dia bertanya "Siapa?"
Tidak ada jawaban, ketukannya terus terdengar semakin keras.
Juvelian yang tidak tahan mendengarnya melompat ke pintu
Baginya hari minggu adalah hari libur melakukan apapun, dia hanya akan berbaring sampai jam 8 pagi (Kalau ikut kata hati mau sampai siang tapi nanti malah dapat karaoke)
Membuka pintu dengan kesal dia mendapati Luxia di depan pintunya dengan pakaian rapi seakan dia akan pergi ke suatu tempat, Juvelian yang menyadari Luxia akan membawanya segera menutup kembali pintu
"Aku nggak mau ikut" Juvelian berjalan kembali ke kasur, memanjatnya kemudian melempar dirinya
"Juvelian..." suara Luxia yang geram terdengar menakutkan
Sambil membuka pintu dengan kasar dia berteriak "Juvel...! Kenapa kau jadi malas sekarang?!"
Luxia terus memarahi Juvelian sambil menyalakan lampu, membuka gorden membiarkan semua cahaya masuk
Juvelian mengabaikan Luxia lalu membungkus dirinya dengan selimut seperti menjadi kepompong, selimut bagaikan cangkang yang melindunginya dari ocehan Luxia
"Dari kapan kamu belajar tidur sampai segini? Jawab kakak!"
Dengan keadaan jiwa yang belum terkumpul semua Juvelian menjawab "Aku cuman kayak gini hari minggu"
Luxia menghampiri dan duduk di sebelahnya mengacak rambut Juvelian, bertanya dengan lembut "Apa sekolah sangat melelahkan?"
"Huh"
'Tangan Kakak sejuk!' dengan pikiran seperti itu, Juvelian mulai tergoda untuk tidur kembali
Luxia yang melihatnya memberi sentilan di dahi "Masih mau tidur?"
Sentilan Luxia rasanya seakan menyentuh tengkoraknya
"Keluar, yuk. Kita jalan jalan"
Sambil menggosok dahinya dia bertanya balik "Jalan jalan? Berdua aja?"
"Iya, kita berdua"
memasang wajah datar Juvelian berniat menolak sambil melempar dirinya lagi dengan menjawab "Aku mau tidur aj-"
__ADS_1
Tapi ketika melihat wajah seram Luxia, dia bangkit lagi lalu melakukan peregangan tangan "Wah, badanku jadi segar setelah bangun"
Juvelian turun dari tempat tidur lalu melarikan diri "Aku mandi dulu"
Mereka melewatkan sarapan dengan mengatakan mereka akan makan di luar tapi di saat terakhir Juvelian mengambil roti tanpa sempat menaruh selai di atasnya
"Setidaknya biarkan aku menaruh telur di atasnya" Juvelian terus menggerutu karena rotinya terasa hambar
Di depan mall, Luxia mengatakan mereka akan menunggu beberapa orang.
Orang pertama yang menghampiri mereka adalah Mina
Kemudian Erin dengan Lilian dan Arin yang bergandengan tangan menyusulnya,
"Luxia? Dan... Oh harusnya aku sudah menduganya"
Keempat anak itu hanya menatap mereka dengan bingung, sepertinya Luxia sudah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pertemuan mereka
Sementara Juvelian menjadi segar lagi begitu bertemu Lilian, Arin dan Mina.
Mereka yang pergi begitu pagi memutuskan makan bersama karena mereka semua melewatkan sarapan
Berbelanja, menonton film horor sampai romantis lalu jalan jalan sampai ke taman, meski berbelanja tidak terlalu menyenangkan bagi sebagian dari mereka tapi menjadi hal yang menyenangkan bagi yang lain
Semua yang terjadi pagi ini terasa menyenangkan bagi Juvelian walau kadang terasa di rencanakan tapi ini membuatnya bahagia
Ketika berada di koridor yang sepi dalam belokan selanjutnya Juvelian mendengar suara dua gadis yang berbicara, itu suara Regina tapi tidak bisa mengenal suara yang
satu lagi
Suaranya terdengar asing, sepertinya mereka belum pernah bertemu
'Mungkin itu suara temannya' pikir Juvelian
Juvelian hanya berpikir untuk berjalan lurus dan mengabaikannya, dengan berpikir Regina mungkin juga akan melakukan hal yang sama
Akan memalukan jika Juvelian terlihat sok dengannya padahal Regina hanya menatap tak peduli
'Dari pertemuan pertama saja hubungan kami nggak baik. Tentu berpapasan di sekolah jadi harus di hindari'
Suaranya semakin mendekat setiap detiknya dan ketika hampir berpapasan, Regina memanggil namanya dengan ramah itu membuat Juvelian bergidik
Juvelian segera tersenyum ramah menutupi dirinya yang masih merinding
"Oh, hai Regina. Selamat pagi"
"Pagi!" Regina membalas kembali sapaannya
__ADS_1
Sebelum mereka benar benar melewati dia, Regina berbisik tepat di telinga
"Kemampuan beradaptasi mu cepat juga ya"
Teman Regina yang merasa aneh dengan Regina yang menyapa lebih dulu meski Juvelian lebih muda, bertanya dengan ragu
"Re"
"Ya?"
"Kau sama Juvelian benaran sepupu?"
"Iya, aku kan uda pernah cerita waktu baru masuk sekolah. Masa nggak percaya sih?"
"Bukan begitu, aku percaya kok. Maksudku dia terlalu dingin pada mu, ya?"
"Masa sih, dia pasti masih canggung karena punya sepupu baru"
"Kau terlalu baik, Regina"
Dia sedikit mengerutkan kening pada Regina yang membela dia padahal saat bertemu di
rumah paman Regina berkata akan menghancurkannya
Dia tau Regina hanya berpura pura membelanya tapi masih ada yang janggal di hatinya, rasanya seperti habis minum susu dua gelas
Tidak peduli berapa kali dia memikirkannya, hatinya masih nggak nyaman 'Apa tujuannya membelaku? Jika itu hanya untuk membuatku menjadi orang jahat kenapa dia juga menarget Kirara'
'Bukankah lebih baik menyingkirkan kami satu persatu jika dia menggunakan rumor untuk membuat kami tersudut terlalu beresiko, paman juga akan curiga padanya'
'Tunggu!! rumor?!'
'Hal tadi tidak seperti membela ku dengan baik tapi menjadikan ku di cap sombong, jika dia terus membuat rumor dengan halus nggak akan ada yang curiga karena dia hanya menuang minyak sedangkan orang seperti temannya tadi yang membuat apinya kemudian api akan menyebar sendiri'
'Jika apinya sudah berkobar besar, apapun yang kami lakukan juga terus di perhatikan tapi kalau sudah saatnya orang tuaku akan terlibat'
'Aku mungkin akan meledak, mengamuk di sekolah mencari pelaku yang menyebarkan rumor seperti temannya bukan Regina karena dia tidak terlibat dan pemanggilan wali siswa terjadi lalu di keluarkan dari sekolah demi nama baik, semuanya bisa di tutupi dengan uang'
'Untuk sesaat mungkin ada banyak gosip tentang mama papa yang terlalu memanjakan ku sampai jadi kayak gitu tapi aku akan di sekolahkan ke luar negeri dan dia bisa bertindak dengan leluasa'
Juvelian segera berbelok arah menuju tangga dengan menduga
Regina berjalan kembali ke kelasnya dengan lift karena ini masih sangat pagi jadi orang yang berada di sekolah masih sedikit tapi orang yang ingin dia temui pasti sudah ada di sekolah ini
Terlalu berisiko jika menggunakan teleportasi, kalau salah teleportasi dan bertemu orang dia malas mengganti ingatannya, sebisa mungkin Juvelian berjalan tanpa suara
Melihat orang yang dia cari tidak ada di kelasnya Juvelian mendecak, dan kebetulan dia berada dilantai yang sama dengan kelas Regina, dia juga harus memastikannya
__ADS_1