
Semampainya di depan mobil. Erin mengetuk jendela mobil dua kali sedangkan lilian yang ada di belakangnya sedang mengatur napas dan menenangkan dirinya karena terlalu lelah berlari
Pak tio menyuruh lilian dan erin masuk ke dalam mobil dengan cepat.
Alan dan yang lainnya berlari dengan cepat ke arah mobil dan masuk setelah mengetuk kaca jendela dua kali.
"tapi dimana lian? " tanya alan.
Erin yang awalnya menunduk, melihat ke arah alan dan menjawab pertanyaannya "juvelian... Dia, aku tidak tau dimana dia berada... "
"apa?!" teriak alan yang terkejut dan mengacak acak rambutnya 'bagaimana ini bisa terjadi?' pikir alan.
Keheningan terjadi untuk waktu yang cukup lama sedangkan erin memasang ekspresi menyesal.
Ian melihat ke arah erin "jadi sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana dengan daniel dan arin? " kata ian yang memecahkan keheningan.
Erin mengangkat kepalanya dan melihat ke arah ian "alasan kenapa kita bisa sampai di sini karena daniel dan arin membuat rencana
Untuk menarik perhatian orang orang".
"tapi apa yang harus kita lakukan?" tanya nine. "jika menggunakan mobil ini pasti tidak akan muat tapi jika kita kembali dan menggunakan dua mobil akan memakan waktu yang lama" kata jiho yang memegang dagunya.
"di tambah lagi juvelian tidak bisa di hubungi" kata lilian
"kalau saja kita bisa mengendalikan mobil dan membawanya ke sini seperti mobil mainan pasti akan mudah" gumam seseorang yang kembali membuat keheningan.
Alan mengangkat tangan kanan "aku tahu cara mengendalikan mobil itu seperti mobil remote kontrol".
Kembali lagi ke daniel dan arin.
"ke salah pahaman? Yang benar saja" kata arin yang melihat daniel dengan tatapan mengejek.
'anak ini! Cari masalah ya? Baiklah aku akan meladenimu A.R.I.N' kata daniel dalam hatinya sambil mengempal tinju di tangannya.
Melipat tangannya dengan wajah sombong daniel melihat ke arah arin "jika ada yang salah paham di sini pasti anggur hitam payah yang ada di depan ku itu".
"anggur hitam payah..." kata daniel dengan wajah kesal. " sebenarnya apa masalah mereka dengan anggur?" kata salah orang yang berada di kerumunan sambil yang memakan anggur hitam.
'dasar daniel payah, orang itu kan jadi sedih'
'bagaimana pun kami harus mengulur waktu sampai mereka datang' kata arin dalam hatinya.
"siapa yang kau sebut anggur hitam? Hah? Dasar karamel pahit" kata erin yang sedang menahan amarahnya.
"nona, maaf mencela perkataan kalian tapi..."
"apa yang terjadi sampai kalian seperti ini?"
Tanya wanita itu.
Arin melihat ke arah wanita itu sebentar dan kembali menghadap daniel sambil menunjuk nya dan berkata "tanyakan saja pada karamel itu"
Daniel menghelan napasnya "sebenarnya aku juga tidak tahu karena anggur hitam itu tiba tiba mendatangiku dan marah marah" kata daniel yang melihat ke arah arin.
"apanya yang tidak tau! Kau kan pergi ke restoran dengannya!" teriak arin.
"kau memataiku? Bagaimana bisa kau melakukan itu pada pacarmu?" kata daniel.
Arin meletakkan tangannya di tengah dadanya "aku ini bukan orang yang kurang kerjaan tau".
"jadi bagaimana kau mengetahuinya?" tanya daniel yang mengerutkan kening.
"aku mengetahui dari nomor yang tidak di kenal" kata arin yang melipat tangannnya sambil memalingkan wajahnya.
Daniel terkejut dengan jawaban arian dan menghela napas cukup lama.
"kayaknya aku tau deh itu kerjaan siapa"
"orang yang mengirim foto itu pasti adalah orang yang pernah aku tolak" kata daniel.
"benarkah?" tanya arin dengan wajah bahagia.
__ADS_1
Daniel berjalan ke arah arin dan memegang kedua tangannya "orang yang bersamaku itu adalah adik saudaraku"
Arin terkejut langsung melihat daniel "jadi begitu..., aku minta maaf" kata arin wajah menyesal.
"bagaimana anggur hitam ku ini bisa sangat polos" kata daniel dengan tatapan hangat.
"hei karamel, kau sedang memuji atau mengejek sih?" tanya arin.
"jadi kalian sudah berbaikan?" tanya seseorang.
Daniel dan arin menatap satu sama lain dan menjawab bersamaan "iya!".
Suara tepuk tangan mulai terdengar dari kerumunan.
"apa bukannya mereka terlihat familiar?" kata seseorang yang membuat keheningan.
"benar rasanya sangat familiar"
"kayaknya pernah lihat deh" gumam beberapa orang.
"ah, mereka salah satu dari selebriti yang tadi" kata seseorang yang menunjuk ke arah daniel dan erin.
'mati kita! ' pikir arin dan daniel.
"maaf kami lama" suara pak tio dari kejauhan.
Arin dan daniel berlari sambil berpegangan tangan tanpa mereka sadari.
"kejar mereka!" teriak salah satu orang.
Ian yang duduk paling belakang membuka pintu mobil dan dengan cepat erin dan daniel nasuk ke dalam.
Pak tio langsung menjalankan mobil yang membuat orang orang itu ketinggalan.
"kenapa hanya kalian? Dimana yang lain?" tanya arin yang terkejut hanya melihat pak tio, nine ,lilian dan ian.
"tidak mungkin ketinggalan kan..." kata daniel yang mulai memikirkan skenario.
"bagaimana bisa mengatakan hal seperti itu dengan santai?" kata daniel yang seperti mengejek nine.
"jadi, bagaimana sekarang?" tanya arin yang khawatir.
"kita akan kembali ke villa karena mungkin saja dia ada di sana dan yang lainnya akan berusaha mencari juvelian" kata ian.
Ian melihat kearah tangan daniel dan arin yang berpegangan tangan "tapi... " belum menyelesaikan kalimatnya nine menyambung "kenapa kalian berpegangan tangan?".
Daniel dan arin terkejut melihat diri mereka yang masih berpegangan tangan tanpa mereka sadari dan menariknya.
Arin melihat ke arah jendela dengan Wajah merah 'kenapa aku berdebar? Apa mungkin...
Aku kenapa serangan jantung?' pikir arin.
"alan, apa kau sudah bisa melacak keberadaannya juvelian?" tanya erin yang sedang mengemudikan mobil.
"aneh..." ucap rudan.
Erin sedikit terkejut dan kembali melihat ke arah depan "emangnya apa yang aneh" tanya erin. "koordinat HP juvelian tidak bisa di lacak keberadaannya" kata alan yang melihat ke arah erin.
Jiho berpikir dengan keras tapi pada akhirnya menyerah untuk berpikir "tapi... apa itu mungkin?" tanya jiho.
"itu memang mustahil tapi kecuali..." kata alan.
"dia (juvelian) mungkin menghilang atau menghancurkan pelacak itu dan membuat pelindung baru agar keberadaannya tidak di ketahui" kata rudan dan erin secara bersamaan.
'sebenarnya dimana dia belajar tentang hal ini' pikir mereka berempat yang membuat keheningan.
Di sisi lain juvelian bersembunyi menggunakan sihir pelindung.
Juvelian duduk meringkuk "bagaimana ini... " Hujan juvelian yang menundukkan kepala.
'pada yang lain baik baik saja? Aku takut...'
__ADS_1
Pikir juvelian yang mulai ketakutan.
'kadang saat sendirian begini, rasanya seperti aku belum kembali ke masa lalu'
'bagaimana jika aku memang belum kembali? Jika ini semua hanyalah mimpi aku berharap tidak pernah bangun untuk selamanya' pikir juvelian yang hampir menangis.
'kapan mereka akan menemukan ku? Aku rindu kak alan dan rudan...'
Di sisi lain alan yang merasa seperti seseorang sedang memanggilnya melihat juvelian yang muncul dalam pikirannya.
"aku seperti tahu di mana lian berada" kata alan dan rudan secara bersamaan cuman rudan yang menyebut juvelian dengan 'juju'.
"apa kalian berdua yakin?" tanya erin yang terkejut dengan perkataan alan dan rudan.
Rudan dan alan mengangguk, dan menunjukkan jalan dimana juvelian berada yang membuat jiho dan erin terkejut dengan jawaban mereka yang sama.
'sebenarnya bagaimana mereka bisa seyakin ini? Sudahlah, yang penting juvelian harus segera di temukan' kata erin dalam hatinya.
Juvelian yang mendengar suara mobil mengangkat kepalanya dan segera banding dan menghilang kan pelindung begitu melihat mobil keluarganya.
Alan turun dari mobil dengan cepat dan berlari ke arah juvelian.
"lian, kau baik baik saja kan?" tanya alan yang khawatir.
"iya kak, aku baik baik saja kok" jawab juvelian dengan senyum gembira.
Juvelian melihat ke dalam mobil yang tidak melihat rudan dan bertanya pada alan di mana rudan dan apa dia baik baik saja.
Alan menggigit sedikit karena kesal 'adikku yang malang... Padahal kau sedang seperti ini bisa bisanya kau khawatir pada anak itu' pikir alan yang membayangkan wajah jahat rudan yang sedang menipu juvelian.
"anak itu baik baik saja kok" kata alan dengan ekspresi hangat.
Juvelian masuk ke dalam mobil dan terkejut melihat rudan yang duduk di kursi paling belakang.
"rudan, kau baik baik saja?" tanya juvelian dengan khawatir.
"aku...baik baik saja jadi, jangan terlalu khawatir" kata rudan sambil menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
'pencuri ini... Berani beraninya kau menipu adik kesayanganku!' kata Alan dalam hatinya yang kesal dan menutup pintu mobil dengan sedikit keras.
"jadi, bagaimana dengan yang lain?" tanya juvelian. Alan menceritakan tentang apa yang terjadi dan bagaimana khawatir dia karena tidak bisa melihat alan.
Sesampainya di villa, lilian dan arin berlari ke keluar villa dan memeluk juvelian.
"kau pergi ke mana saja, aku sangat khawatir tahu!" kata lilian yang hampir berteriak dan menangis karena khawatir.
"maaf..." kata juvelian dengan pelan.
Lilian melepaskan pelukkannya dan memegang kedua bahu juvelian
"kenapa kau minta maaf? Padalah kau kan tidak salah apa apa" kata lilian.
"yang lili katakan memang benar, kau tidak salah apa apa juvel karena jangan merasa bersalah" kata arin dengan senyum tipis.
"iya, dan terima kasih sudah mengawatirkanku semuanya" kata juvelian yang tersenyum bahagia.
'bukan begitu lilian, aku minta maaf karena sudah mencurigaimu dan menipu selama ini dengan hidup sebagai riana (ria)'
Kata juvelian dalam hatinya.
Juvelian melihat ke alan dan lainnya "baiklah, mari kita masuk semuanya!".
Juvelian, lilian dan arin masuk ke dalam villa dengan berpegangan tangan.
"baiklah, mari kita cuci ikannya!" kata arin.
Di sisi lain lilian yang memegang tangan kiri juvelian terlihat pucat karena suatu alasan.
"membersihkan ikan ya..." gumam lilian yang lemas seketika. Mendengar gumaman juvelian berpikir 'apa lili takut ikan? Aku baru tahu'.
~Bersambung~
__ADS_1
Terima kasih sudah baca novelku dan jangan lupa di like ya...