
Mereka kemudian bertepuk tangan dan
ada beberapa dari mereka yang mengangkat papan yang berisi angka seratus dengan wajah kagum
Dan dari mana semua papan yang berisi angka seratus itu datang?
Itu pasti menjadi pertanyaan beberapa orang. tentu saja, karena itu tidak nyata melainkan hanyalah khayalan seseorang yang tidak bisa berkata kata
Terutama guru olahraga yang bertepuk tangan dengan kuat dan bersemangat di tambah tatapan bangga
Dia juga nampak terharu, tatapannya seolah olah mengatakan "Semua kerja keras ku tidak sia sia"
Benar, meskipun sebagian guru merasa kesal dan selalu marah pada Mina tapi tidak dengan guru olahraga yang sudah menganggap Mina seperti anaknya
Di antara siswa yang lain, Mina terlihat paling bersemangat saat beraktivis di luar ruangan apa lagi tidak ada yang bisa mengalahkan nya
Bahkan dia bisa membuat anak laki laki tunduk di hadapan nya
Setelah kejadian itu, permainan berakhir dengan lebih tenang dari dugaan
namun, karena dari tadi tidak ada satu pun yang kalah di antara kedua tim, mereka di nyatakan seri
Sekarang gantian Mina, Arin dan beberapa anak perempuan di kelas mereka dengan anak perempuan lain dari kelas yang sama dengan Yeri
Mengenai siswi yang tadi terjatuh ke lantai, dia di topang Yeri dan satu teman sekelas nya menuju ke ruang UKS untuk beristirahat
Sedangkan Juvelian menuju ke gedung olahraga tapi sebelum itu dia memberikan tos pada Arin dan Mina saat dalam perjalanannya
Sementara Lilian berdiri di tangga dan memberi Arin semangat
Sebagian besar siswi yang tadi bermain bola tangkap mengganti pakaian mereka dengan terburu buru karena keringat dan bersiap untuk pergi suatu tempat
Saat dalam perjalanan menuju ke gedung olahraga, dia melihat beberapa anak perempuan yang menuju ke tempat yang sama dengannya
Saat pertama kali dia masuk ke dalam sebagai Juvelian, dia merasa sangat gugup karena selama ini Lilian selalu ada bersama nya
Dan lagi Lilian melarang nya pergi ke sana tanpa dirinya atau sendirian karena suatu alasan yang tidak pernah dia katakan kecuali jika itu adalah perintah guru
Tapi sekarang dia sudah terbiasa pergi ke sana sendirian, dia agak canggung karena sepertinya hanya dia yang datang tanpa teman atau seseorang yang dia kenal di antara segerombolan anak perempuan itu
Sebagian dari mereka datang berpasangan sambil bergandengan tangan, meskipun aku mengatakan berpasangan tapi sebenarnya mereka semua adalah anak perempuan
Dan beruntungnya pintu masuk gedung
olahraga cukup lebar yang tidak akan
menyebabkan kerumunan yang saling
berdesakan dan menabrak orang lain
__ADS_1
Baru juga menginjakan kakinya di depan pintu tapi suara ribut bergema memenuhi
ruangan
Dia segera berjalan naik ke lantai dua karena beberapa orang mendorong nya dari belakang
Di sana masih banyak kursi yang kosong, bahkan jika seluruh siswa siswi SMA sekolah ini datang untuk menonton juga pasti akan muat meskipun akan penuh sesak
Seseorang di lapangan basket baru saja akan memasukkan bola ke ring tapi di rebut seseorang yang entah datang dari mana, kemudian terdengar beberapa orang yang merasa kecewa
Tapi tiba tiba gadis yang berdiri di sampingnya menarik napas dalam dalam sambil satu tangannya memegang pagar di depannya dengan erat
Dan segera berteriak dengan cukup keberanian sambil melambaikan tangannya ke udara
"Sayang, kau sudah melakukan yang terbaik, kau yang terbaik di hatiku selamanya"
Suaranya terdengar sangat kuat, banyak yang melihat ke arahnya tak terkecuali dengan Juvelian tapi gadis itu tidak peduli
Dia hanya melihat ke lantai bawah, tempat pacarnya berada dengan tatapan bersinar, tatapan pacarnya keliatan bahagia
Teman dari pacar gadis itu mendadak memukul punggung pacarnya dan berkata
"Hei, ayangmu sayang banget sama kamu"
beberapa orang bersiul, mereka menjadi malu, lalu teman pacarnya itu berkata "Nasib banget aku masih jomblo"
Mereka tertawa, "Ha ha ha... Kami juga masih jomblo kok, iya kita senasib"
pikiran itu berputar di kepalanya seperti gasing
Segera suara suara teriakan yang bertubi tubi menghantam kepalanya dengan keras "Daniel! Aku cinta kamu"
"Raja iblisku yang berwajah malaikat, kamu keren banget"
Alisnya bertemu di tengah dengan heran
Juvelian segera mengangguk alias mengerti siapa yang di maksud anak perempuan
itu
'Benar, di 'Sepuluh Laki Laki Paling Tampan Miater' mereka punya julukan masing masing dan di antaranya adalah Daniel'
Wajahnya yang imut dan senyuman bersinar saat pertama kali masuk sekolah masih di ingat dan kagumi banyak gadis
Meskipun dia tidak langsung menunjukkan sifat aslinya tapi mulai sedikit demi sedikit, tetap saja masih ada yang ingat
yang kemudian membuat julukan baru untuknya yang awalnya 'Manusia Malaikat' menjadi yang di sebut gadis tadi
Segera beberapa nama yang familiar terus bergema yang membuatnya merinding
__ADS_1
'Gila! sudah lama aku enggak mendengar
nya' dia merinding sekujur tubuh
'Lama lama sekolah ini berubah jadi fansclub'
sampai seseorang berteriak mengalihkan perhatian karena menyebut nama pacarnya "Anda sudah merebut hati saya, Rudan!"
Suara itu berbeda dengan gadis seumur nya yang terdengar ringan melainkan berat
Dia segera melihat sekeliling mencari asal suara yang membuatnya penasaran, di sana hanya ada sekelompok anak laki- laki
seseorang yang berteriak tadi adalah siswa dengan tinggi di atas pria rata rata berdiri dengan wajah memerah yang sedang kagum
Rasanya rahangnya seperti terjatuh, Juvelian memang mengakui ketampanan Rudan yang bisa membuat orang lain jatuh hati
Tapi dia tidak pernah menyangka akan mendengar perasaan kagum dari seorang pria untuk pacarnya
Bahkan jika perkataan itu hanyalah main main atau perasaan mengagumi kemampuan Rudan dalam bermain basket tapi entah kenapa seperti sedang tersaingi
Dia dengan tergesa gesa mencari Rudan di antara anak laki laki yang sangat banyak di lantai satu
'Juvel, rambut pacar itu berwarna pirang dan sangat jarang ada jadi mudah untuk menemukannya'
Pada saat itu dia melihat Rudan melompat tinggi dan melempar bola ke dalam ring, bola itu sedikit berputar yang membuat mereka menelan ludah
Meskipun tingginya sekitar 180an tapi melihat ring yang di pasang sangat tinggi karena tinggi anak anak di sekolah ini tidak normal
Sudah pasti lompatan yang dia buat adalah hal yang sulit bagi beberapa orang tapi tidak
baginya, dia seperti baru saja terbang di udara
Keheningan tercipta seketika, suara ring basket yang sangat tinggi itu bergetar hebat seperti akan copot Kemudian, sorakan kemenangan memenuhi ruangan dengan nyaring
Tidak sedikit dari mereka yang merangkul teman di sebelahnya sambil berkata seperti dengan nada sedang bernyanyi yang mengatakan "Kelas 2-2 maju terus, kalah kan mereka"
Tanpa sadar Juvelian berkata dengan suara takjub "Kau keren! Rudan"
tapi sepertinya dia tidak bisa mendengar nya di antara banyak suara
Teman teman sekelasnya berlari ke arah dengan mengulurkan tangan untuk menepuk bahu dan punggung Rudan
"Dia monster atau apa?"
~Bersambung~
tunggu bab selanjutnya, tiga hari lagi~
Terima kasih sudah membaca novel ini
__ADS_1
Dan terima kasih sudah memberi semangat dengan like, vote dan komentar