Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 105


__ADS_3

"Hm, apa yang harus kita lakukan pada Mereka?"


"Ah iya benar juga"


Arin memiringkan kepalanya melihat mereka yang di penuhi bekas pukulan, sekilas di lihat saja itu menyakitkan


"Em, kayaknya kita harus mengobati mereka dulu deh, ada bawa salep?"


Sambil memiringkan pandangannya, Mina merogoh saku celananya, meski masih kesal akan suatu hal yang berhubungan dengan mereka, Mina tetap bersalah karena memukul mereka


"Ta- da!"


"Tunggu, Kau bawa salep ke mana mana?"


"Cuman untuk jaga jaga"


"Dari apa?"


"Jaga jaga kalau ada yang aku pukul tapi nggak sampai mati jadi nggak bisa aku kubur" jawab Mina sambil mengedipkan sebelah mata


"Apa?" raut wajah Arin menunjukkan betapa tercengangnya dengan jawaban itu


"Bercanda~" kata Mina dengan terkekeh, segera melirik para gadis yang tersentak ketika mata mereka bertemu


'Kau mau apa lagi?' isi hati yang terlihat sampai ke luar


"Ngomong ngomong"


"Ya?"


Mina meminta Arin untuk menunggu di depan untuk berjaga jika ada yang lewat selama Mina mengoleskan salep pada mereka


Meski sebenarnya ada yang mau dia bicarakan dengan mereka tapi Mina sepertinya tidak ingin Arin mendengarkan pembicaraan mereka


Bukan berarti dengan dia menyuruh Arin menunggu di depan, Arin tidak akan mendengar pembicaraan mereka, Seolah Mina tidak ingin melibatkannya


Jadi dia meminta tolong pada Arin untuk membelikannya kebab dan untuk sisa uangnya Arin bisa menggunakannya


Mina juga melakukan itu setelah melihat tas Arin terinjak di lantai, dia mengerti kenapa Arin menangis


Dia menurutinya dan berjalan keluar dari


gang selebar dua meter, kembali menelusuri jalan yang dia lewat sebelumnya


'Baiklah karena anak itu sudah pergi sekarang tinggal- '


Mina berbalik melihat mereka dengan ekspresi serius


Sambil melempar salep ke salah satu gadis dia berkata "Ini makan tapi jangan di makan terlalu banyak mungkin ada efek samping"


Ketika melihat ke dalam tangan yang dia tangkap adalah salep untuk memar, tidak mungkin matanya membohongi nya segera melihat Mina dengan tatapan yang bilang 'Apa kau sudah gila?'


Kesal dengan tatapan gadis itu Mina berkata dengan sedikit ancaman "Makan sendiri atau ku suapin?"

__ADS_1


Mina juga heran ketika Luxia memberinya salep itu dia berkata di makan bukannya di oles ke rasa sakit


Dengan gugup gadis itu mencolek dan meletakkannya di ujung bibir kemudian seluruh tubuhnya di selimuti sinar dan semua luka di tubuh seakan meleleh dan hilang di udara


'Tidak peduli berapa kali aku melihatnya ini tetap saja menakjubkan.


'Sihir' begitulah nona Luxia menyebutnya, jika dia memasarkan obat ini pasti akan ada banyak perusahaan yang bangkrut'


Gadis itu segera mengoper pada temannya, satu persatu luka di tubuh mereka menghilang seakan mereka baru saja terlahir kembali


"Kenapa kalian melakukan hal seperti itu?"


tanya Mina yang melipat tangannya mereka dengan mempertimbangkan jawaban mereka


Karena Mina berdiri membelakangi cahaya datang wajahnya di tumpahi cahaya di satu sisi


Sementara sebelah mata abu abunya terlihat bersinar di wajahnya yang di selimuti warna hitam dari bayangan


Sosoknya yang seperti itu benar benar menakutkan seolah menunjukkan sifat aslinya yang di tutupi topeng belum lagi bayangan Mina yang di bawah mereka seolah memakan mereka


Mereka menjadi ciut, tidak berani


menjawab sambil melirik yang lain dengan gelisah


Gadis yang memimpin itu menghela napas pendek dan mewakili semua temannya dengan suara menyedihkan dia bergumam "Anak haram..."


'...?!' Mina nampak kaget ketika mendengar gumammannya


"Di zaman sekarang pun keberadaan anak haram masih saja terlihat seperti serangga dimata orang"


"Hei kau jangan mengasihani ku karena aku juga tahu betapa menyedihkan takdir yang mengikuti kami"


Gadis menggertakan giginya sambil mengepal tangannya "Baik itu di rumah atau sekolah tidak ada tempat yang bisa kita sebut tempat berlindung"


"Di sekolah kami pasti akan di buli sambil di tunjuk tunjuk sedangkan di rumah hanya ada luka yang di dapat"


'Dia tidak berbohong, meski sekilas aku melihat memar dan bekas sayatan benda tajam'


"Ke mana pun kami melangkah pasti yang ada penghinaan hanya karna kata anak haram hidup kami-" dia menutup mulut dengan erat


"Tapi kami tidak lemah, kami tidak sendiri semakin banyak luka yang kami dapat akan menjadi kekuatan untuk mengubah takdir yang mengikat kami"


Pembicaraan mereka masih berlanjut sampai Arin kembali karena tidak melihat Mina, dia berpikir Mina belum selesai jadi hanya menunggu


Aku tidak tau apa yang mereka bicara di belakang tapi ini mulai membosankan pikir Arin yang sudah menghabiskan kentang gorengnya dalam sepuluh menit


Kembali lagi ke Mina, dia yang mengerti perasaan para gadis itu menyerahkan kartu pada mereka


Kartu itu di bacanya dengan hati hati, wajah terlihat terharu begitu dia ingin


mengucapkan terima kasih Mina sudah


berada di luar mengajak Arin pergi dari

__ADS_1


sana


Gadis itu melihat punggung Mina yang


menghilang di kejauhan sambil berkata dalam hati 'Terima kasih'


Dan begitulah akhirnya Mina memutuskan mengantar Arin sampai rumahnya


"Ngomong ngomong, kenapa kau bisa berada di sekitar sini?"


Meskipun itu adalah pertanyaan yang sepele tapi Arin tetap bertanya karena penasaran


"Kau ingat pembicaraan kita tadi pagi?"


"Grup nongkrong?"


"Hm, teman teman yang ingin ikut grup nongkrong masih menyuruh ku mencari satu orang lagi"


"Apa orangnya harus pas? kenapa kalian tidak pergi saja dengan jumlah yang sekarang?"


"Entahlah aku juga tidak tau" dia menjawab dengan acuh tak acuh tapi dari suaranya dia memang tidak berbohong


Tanpa di sadari, mereka sudah berdiri di depan apartemen, ketika Mina berbalik setelah mengucapkan selamat tinggal, suara Arin mengapai telinganya


"Mina"


"Hm?"


"Itu, apa bisa kalau aku saja yang ikut?"


"Loh? bukannya kau bilang kau tidak ingin


ikut?"


Yang dikatakan Mina memang benar tapi saat itu yang Arin pikirkan hanyalah ingin membalas kembali bantu Mina


Apa lagi orang tuanya baru pulang larut malam atau mungkin saja besok jika dia meminta izin tentu saja tidak akan di izinkan jadi dia akan pergi diam diam


Kemudian kembali dengan cepat tanpa meninggalkan keanehan


Lagi pula itu bukanlah kencan buta atau


sejenisnya melainkan grup nongkrong yang biasa di datangi siswa sepertinya untuk menghilangkan stres


"Aku akan ikut, apa boleh?"


Arin bertanya dengan penuh semangat dan keyakinan, jika itu adalah orang lain Mina pasti sudah menolaknya karena seseorang yang bisa membalik perkataannya dengan mudah sulit untuk


di percaya karena mungkin saja dia akan


membaliknya lagi dengan alasan tapi


tatapannya tidak berbohong

__ADS_1


"Aku akan menjemput mu nanti sekitar jam setengah delapan mungkin akan lebih cepat atau lama, mereka belum mengatakan jam pastinya tapi yang pasti aku akan menghubungi mu sebelum datang"


__ADS_2