
"Hm, apa yang harus kita lakukan pada Mereka?"
"Ah iya benar juga"
Arin memiringkan kepalanya melihat mereka yang di penuhi bekas pukulan, sekilas di lihat saja itu menyakitkan
"Em, kayaknya kita harus mengobati mereka dulu deh, ada bawa salep?"
Sambil memiringkan pandangannya, Mina merogoh saku celananya, meski masih kesal akan suatu hal yang berhubungan dengan mereka, Mina tetap bersalah karena memukul mereka
"Ta- da!"
"Tunggu, Kau bawa salep ke mana mana?"
"Cuman untuk jaga jaga"
"Dari apa?"
"Jaga jaga kalau ada yang aku pukul tapi nggak sampai mati jadi nggak bisa aku kubur" jawab Mina sambil mengedipkan sebelah mata
"Apa?" raut wajah Arin menunjukkan betapa tercengangnya dengan jawaban itu
"Bercanda~" kata Mina dengan terkekeh, segera melirik para gadis yang tersentak ketika mata mereka bertemu
'Kau mau apa lagi?' isi hati yang terlihat sampai ke luar
"Ngomong ngomong"
"Ya?"
Mina meminta Arin untuk menunggu di depan untuk berjaga jika ada yang lewat selama Mina mengoleskan salep pada mereka
Meski sebenarnya ada yang mau dia bicarakan dengan mereka tapi Mina sepertinya tidak ingin Arin mendengarkan pembicaraan mereka
Bukan berarti dengan dia menyuruh Arin menunggu di depan, Arin tidak akan mendengar pembicaraan mereka, Seolah Mina tidak ingin melibatkannya
Jadi dia meminta tolong pada Arin untuk membelikannya kebab dan untuk sisa uangnya Arin bisa menggunakannya
Mina juga melakukan itu setelah melihat tas Arin terinjak di lantai, dia mengerti kenapa Arin menangis
Dia menurutinya dan berjalan keluar dari
gang selebar dua meter, kembali menelusuri jalan yang dia lewat sebelumnya
'Baiklah karena anak itu sudah pergi sekarang tinggal- '
Mina berbalik melihat mereka dengan ekspresi serius
Sambil melempar salep ke salah satu gadis dia berkata "Ini makan tapi jangan di makan terlalu banyak mungkin ada efek samping"
Ketika melihat ke dalam tangan yang dia tangkap adalah salep untuk memar, tidak mungkin matanya membohongi nya segera melihat Mina dengan tatapan yang bilang 'Apa kau sudah gila?'
Kesal dengan tatapan gadis itu Mina berkata dengan sedikit ancaman "Makan sendiri atau ku suapin?"
__ADS_1
Mina juga heran ketika Luxia memberinya salep itu dia berkata di makan bukannya di oles ke rasa sakit
Dengan gugup gadis itu mencolek dan meletakkannya di ujung bibir kemudian seluruh tubuhnya di selimuti sinar dan semua luka di tubuh seakan meleleh dan hilang di udara
'Tidak peduli berapa kali aku melihatnya ini tetap saja menakjubkan.
'Sihir' begitulah nona Luxia menyebutnya, jika dia memasarkan obat ini pasti akan ada banyak perusahaan yang bangkrut'
Gadis itu segera mengoper pada temannya, satu persatu luka di tubuh mereka menghilang seakan mereka baru saja terlahir kembali
"Kenapa kalian melakukan hal seperti itu?"
tanya Mina yang melipat tangannya mereka dengan mempertimbangkan jawaban mereka
Karena Mina berdiri membelakangi cahaya datang wajahnya di tumpahi cahaya di satu sisi
Sementara sebelah mata abu abunya terlihat bersinar di wajahnya yang di selimuti warna hitam dari bayangan
Sosoknya yang seperti itu benar benar menakutkan seolah menunjukkan sifat aslinya yang di tutupi topeng belum lagi bayangan Mina yang di bawah mereka seolah memakan mereka
Mereka menjadi ciut, tidak berani
menjawab sambil melirik yang lain dengan gelisah
Gadis yang memimpin itu menghela napas pendek dan mewakili semua temannya dengan suara menyedihkan dia bergumam "Anak haram..."
'...?!' Mina nampak kaget ketika mendengar gumammannya
"Di zaman sekarang pun keberadaan anak haram masih saja terlihat seperti serangga dimata orang"
"Hei kau jangan mengasihani ku karena aku juga tahu betapa menyedihkan takdir yang mengikuti kami"
Gadis menggertakan giginya sambil mengepal tangannya "Baik itu di rumah atau sekolah tidak ada tempat yang bisa kita sebut tempat berlindung"
"Di sekolah kami pasti akan di buli sambil di tunjuk tunjuk sedangkan di rumah hanya ada luka yang di dapat"
'Dia tidak berbohong, meski sekilas aku melihat memar dan bekas sayatan benda tajam'
"Ke mana pun kami melangkah pasti yang ada penghinaan hanya karna kata anak haram hidup kami-" dia menutup mulut dengan erat
"Tapi kami tidak lemah, kami tidak sendiri semakin banyak luka yang kami dapat akan menjadi kekuatan untuk mengubah takdir yang mengikat kami"
Pembicaraan mereka masih berlanjut sampai Arin kembali karena tidak melihat Mina, dia berpikir Mina belum selesai jadi hanya menunggu
Aku tidak tau apa yang mereka bicara di belakang tapi ini mulai membosankan pikir Arin yang sudah menghabiskan kentang gorengnya dalam sepuluh menit
Kembali lagi ke Mina, dia yang mengerti perasaan para gadis itu menyerahkan kartu pada mereka
Kartu itu di bacanya dengan hati hati, wajah terlihat terharu begitu dia ingin
mengucapkan terima kasih Mina sudah
berada di luar mengajak Arin pergi dari
__ADS_1
sana
Gadis itu melihat punggung Mina yang
menghilang di kejauhan sambil berkata dalam hati 'Terima kasih'
Dan begitulah akhirnya Mina memutuskan mengantar Arin sampai rumahnya
"Ngomong ngomong, kenapa kau bisa berada di sekitar sini?"
Meskipun itu adalah pertanyaan yang sepele tapi Arin tetap bertanya karena penasaran
"Kau ingat pembicaraan kita tadi pagi?"
"Grup nongkrong?"
"Hm, teman teman yang ingin ikut grup nongkrong masih menyuruh ku mencari satu orang lagi"
"Apa orangnya harus pas? kenapa kalian tidak pergi saja dengan jumlah yang sekarang?"
"Entahlah aku juga tidak tau" dia menjawab dengan acuh tak acuh tapi dari suaranya dia memang tidak berbohong
Tanpa di sadari, mereka sudah berdiri di depan apartemen, ketika Mina berbalik setelah mengucapkan selamat tinggal, suara Arin mengapai telinganya
"Mina"
"Hm?"
"Itu, apa bisa kalau aku saja yang ikut?"
"Loh? bukannya kau bilang kau tidak ingin
ikut?"
Yang dikatakan Mina memang benar tapi saat itu yang Arin pikirkan hanyalah ingin membalas kembali bantu Mina
Apa lagi orang tuanya baru pulang larut malam atau mungkin saja besok jika dia meminta izin tentu saja tidak akan di izinkan jadi dia akan pergi diam diam
Kemudian kembali dengan cepat tanpa meninggalkan keanehan
Lagi pula itu bukanlah kencan buta atau
sejenisnya melainkan grup nongkrong yang biasa di datangi siswa sepertinya untuk menghilangkan stres
"Aku akan ikut, apa boleh?"
Arin bertanya dengan penuh semangat dan keyakinan, jika itu adalah orang lain Mina pasti sudah menolaknya karena seseorang yang bisa membalik perkataannya dengan mudah sulit untuk
di percaya karena mungkin saja dia akan
membaliknya lagi dengan alasan tapi
tatapannya tidak berbohong
__ADS_1
"Aku akan menjemput mu nanti sekitar jam setengah delapan mungkin akan lebih cepat atau lama, mereka belum mengatakan jam pastinya tapi yang pasti aku akan menghubungi mu sebelum datang"