Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 112


__ADS_3

Melihat gerakan Alan yang lambat dia berkata dengan suara tinggi "Pukul! Cepat pukul!"


"Ini kan sedang aku pukul" teriak Alan yang merasa kesal dengan Juvelian yang mengganggu konsentrasinya


"Hei, kau melewatkan yang itu!!"


"Argh, Jangan berteriak di telinga ku"


Sambil memukul para tikut, mereka adu mulut, pukulan dengan tenaga yang asal asalan hampir merusak permainan itu


Jika para tikus itu punya perasaan mereka pasti akan menangis dan goresan di kepala mereka mengeluarkan darah


Melihat target permainan seolah rohnya keluar mulut mereka, Juvelian sedikit iba


'Aku lebih kasihan pada mereka dari pada kasihan pada mu-'


Segera suara teriakan senang dan takut yang tercampur beberapa orang dari suatu tempat mencapai telinganya


Suaranya sangat keras mungkin ada di sekitar mereka, melihat ke sekeliling dan berbalik ke belakang, ada wahana besar yang seolah bersinar memanggilnya


'Ah, Itu wahana viking! wahana yang paling Rudan sukai meskipun itu karena katanya-. tunggu, dia bilang apa-?'


'Kok aku nggak bisa mengingatnya? Kayaknya akhir- akhir ini ada yang bermasalah dengan kepalaku'


'Yang pasti para pasangan di sekolah kami bilangnya kapal cinta, tak jarang dari mereka saling berpelukan dengan teriakan histeris'


Melihat Alan sudah bermain dia ingin mengajaknya ke sana tapi Alan menjawab "Satu kali lagi"


'Dia nggak terima ya' sambil berpikir begitu dia tersenyum tanpa tujuan


Dia mengiakannya dengan berpikir itu tidak akan lama, malas berdiri dia duduk di kursi terdekat


Melihat permainan selesai dia bertanya lagi dan jawabannya tepat sama bahkan untuk kesekian kalinya, es krim yang dia beli saja sampai habis


Wajah suram Alan makin parah Juvelian tanpa berpikir panjang langsung menyeret Alan ke wahana lain


Alan juga nampak pasrah meskipun masih bergumam


"Satu kali lagi aku pasti akan menang..."


'Siapapun yang melihatnya akan berpikir dia sedang mabuk'


Begitulah tanpa di sadari mereka sudah duduk di atas wahana, ketika wahana bergerak Alan sedikit kaget seakan dia baru saja tersadar


Sementara Juvelian sangat gembira dengan rambutnya yang beterbangan wajah Alan kelihatan pucat seperti orang yang mabuk udara


Begitu turun dari wahana dia segera mencari toilet terdekat, Juvelian yang menyadari Alan sangat aneh di wahana dan wajahnya lemas begitu turun dari wahana


Membangkitkan sisi nakalnya yang ingin


membalas dendam 'Kakak pernah bilang

__ADS_1


jadi baik memang bagus tapi jangan terlalu baik'


Karena di sekolah Alan selalu mengganggu waktu berduanya dengan Rudan, Juvelian terkadang sangat kesal sampai rasanya ingin menjambak rambutnya tidak dia sebenarnya ingin membotakkan nya tapi dia terus menahan diri


Dengan menetapkan kata ini di kepalanya 'Tidak untuk hari ini tapi suatu hari'


Kayaknya memukul tikus belum meredakan semua rasa kesalnya sekarang sambil menunggu Alan dia sedang tersenyum senyum sendiri dengan banyak ide gila di kepalanya


Meski dia tidak akan melakukannya dengan berlebihan, dengan pikiran yang fokus pada dirinya


Potongan rambut pirang terlihat sekilas di matanya yang mencuri perhatiannya 'Rudan?'


Padahal ada banyak orang di sana tapi hanya warna rambut itu yang menarik perhatiannya


'Kenapa dia bisa ada di sini?'


Kemudian seseorang yang meletakkan kedua tanganya dan kepalanya di atas kepala Juvelian membuat Juvelian kesal


"Apa yang sedang kau lihat?"


"Menyingkirlah"


Namun Alan tidak bergerak Juvelian tersenyum lebar dan menyingkirkan dia dari kepalanya


Jika biasanya dia pasti akan memukul Alan atau menginjak kakinya tapi sekarang dia harus bersabar karena ada hal menyenangkan yang menunggunya


"Kak" Alan kaget ketika kata itu keluar dari mulut Juvelian, karena perbedaan umur yang hanya beberapa menit


Dan Alan selalu bersikap kekanak kanakan Juvelian merasa Alan lebih seperti adiknya daripada seorang kakak, jujur Alan berpikir Juvelian bukan memanggilnya tapi tetap merespons


"Menurut kakak, wahana yang tadi seru gak?"


"Mungkin" mual jika mengingat kejadian tadi


"Ngomong ngomong, tadi kakak keren banget loh. Padahal banyak yang teriak tapi kakak diam aja"


"Benarkah? aku ini memang orang yang berani, keren-" dia mulai menyombongkan dirinya


"Kalau gitu kakak nggak masalah dong kalau kita naik wahana yang lain. kakak kan keren nggak takut ketinggian"


'Kakak kan keren! Kakak kan keren' suara Juvelian berdengung di kepalanya


Bibir Alan bergetar ingin tersenyum tapi di tahan "Tentu saja, kalau gitu kita naik yang mana selanjutnya"


"Yang itu" kata Juvelian dengan wajah polos sambil menunjuk ke depan


Alan segera menoleh dan mendapati wahana roller coaster besar dengan teriakan orang orang yang menaikinya


"Oke" jawabnya dengan pucat


Juvelian mengandeng tangan Alan dengan wajah bahagia dan berkata "Ayo"

__ADS_1


Apa sih yang aku pikirkan itu pasti orang lain tidak mungkin Rudan ada di sini kan bukan satu dua orang yang punya rambut pirang di planet ini, kak Erin juga punya


'Dari pada memikirkan ini bukankah lebih baik aku mempersiapkan diri untuk menahan tawa'


Sekarang Alan seperti orang yang kehabisan darah padahal wahana belum di jalankan tapi dia sudah berkeringat dingin sambil berpikir


'Sekarang belum terlambat kau bilang tidak bisa naik, kau bicara apa sih laki- laki harus memegang ucapannya'


Wahana sudah mau bergerak saat itu dia


terdiam dan menundukkan kepalanya tersenyum pasrah dengan meneteskan air mata


'Mati aku... Mammmaa'


Dia yang berteriak keras paling keras


mengalahkan anak perempuan sambil


memohon untuk wahana segera berhenti


Sementara Juvelian bukannya berteriak dia malah bertawa sampai melupakan rasa takutnya ketika melihat ukuran wahana ini


Pada saat yang sama seseorang yang


berdiri di kegelapan menahan tawa sekuat


mungkin


'Astaga, dia memang tidak bisa di duga, gadis yang tersenyum bahagia sekarang sedang membuat kakaknya menderita dengan cara baru'


'Ini benar benar sebuah hiburan yang menyenangkan'


Suara orang orang yang berkumpul dan


bersorak mendukung seseorang terus


terdengar dari arah lain


Itu pasti suara orang yang mendukung Luxia atau Allen mereka sudah pindah ke permainan yang lain tapi masih saja bertengkar


'Wanita itu... tidak salah lagi orang yang menemui ku hari itu adalah dia, aku memang tahu dia hanya memanfaatkan ku untuk tujuannya'


'Tapi kesepakatan yang kami buat malah keuntungan untuk ku dan hanya ada satu pilihan saat itu'


'Aku terus bertanya tanya kenapa dia membantu ku apa keuntungan yang akan dia dapatkan. Karena dia dan Lian memiliki hubungan'


Pada saat yang sama Arin berdiri di depan


apartemen sambil melihat ke sekeliling


menunggu seseorang

__ADS_1


Jalanan di penuhi pasangan yang lalu berlalu lalang dari tadi sambil berpegangan tangan atau mengaitkan tangan mereka


Padahal tidak sedang mendung tapi udara mulai mendingin seketika angin berembus melewatinya yang membuatnya menggigil 'Apa biasanya memang sedingin ini?'


__ADS_2