
Melihat gerakan Alan yang lambat dia berkata dengan suara tinggi "Pukul! Cepat pukul!"
"Ini kan sedang aku pukul" teriak Alan yang merasa kesal dengan Juvelian yang mengganggu konsentrasinya
"Hei, kau melewatkan yang itu!!"
"Argh, Jangan berteriak di telinga ku"
Sambil memukul para tikut, mereka adu mulut, pukulan dengan tenaga yang asal asalan hampir merusak permainan itu
Jika para tikus itu punya perasaan mereka pasti akan menangis dan goresan di kepala mereka mengeluarkan darah
Melihat target permainan seolah rohnya keluar mulut mereka, Juvelian sedikit iba
'Aku lebih kasihan pada mereka dari pada kasihan pada mu-'
Segera suara teriakan senang dan takut yang tercampur beberapa orang dari suatu tempat mencapai telinganya
Suaranya sangat keras mungkin ada di sekitar mereka, melihat ke sekeliling dan berbalik ke belakang, ada wahana besar yang seolah bersinar memanggilnya
'Ah, Itu wahana viking! wahana yang paling Rudan sukai meskipun itu karena katanya-. tunggu, dia bilang apa-?'
'Kok aku nggak bisa mengingatnya? Kayaknya akhir- akhir ini ada yang bermasalah dengan kepalaku'
'Yang pasti para pasangan di sekolah kami bilangnya kapal cinta, tak jarang dari mereka saling berpelukan dengan teriakan histeris'
Melihat Alan sudah bermain dia ingin mengajaknya ke sana tapi Alan menjawab "Satu kali lagi"
'Dia nggak terima ya' sambil berpikir begitu dia tersenyum tanpa tujuan
Dia mengiakannya dengan berpikir itu tidak akan lama, malas berdiri dia duduk di kursi terdekat
Melihat permainan selesai dia bertanya lagi dan jawabannya tepat sama bahkan untuk kesekian kalinya, es krim yang dia beli saja sampai habis
Wajah suram Alan makin parah Juvelian tanpa berpikir panjang langsung menyeret Alan ke wahana lain
Alan juga nampak pasrah meskipun masih bergumam
"Satu kali lagi aku pasti akan menang..."
'Siapapun yang melihatnya akan berpikir dia sedang mabuk'
Begitulah tanpa di sadari mereka sudah duduk di atas wahana, ketika wahana bergerak Alan sedikit kaget seakan dia baru saja tersadar
Sementara Juvelian sangat gembira dengan rambutnya yang beterbangan wajah Alan kelihatan pucat seperti orang yang mabuk udara
Begitu turun dari wahana dia segera mencari toilet terdekat, Juvelian yang menyadari Alan sangat aneh di wahana dan wajahnya lemas begitu turun dari wahana
Membangkitkan sisi nakalnya yang ingin
membalas dendam 'Kakak pernah bilang
__ADS_1
jadi baik memang bagus tapi jangan terlalu baik'
Karena di sekolah Alan selalu mengganggu waktu berduanya dengan Rudan, Juvelian terkadang sangat kesal sampai rasanya ingin menjambak rambutnya tidak dia sebenarnya ingin membotakkan nya tapi dia terus menahan diri
Dengan menetapkan kata ini di kepalanya 'Tidak untuk hari ini tapi suatu hari'
Kayaknya memukul tikus belum meredakan semua rasa kesalnya sekarang sambil menunggu Alan dia sedang tersenyum senyum sendiri dengan banyak ide gila di kepalanya
Meski dia tidak akan melakukannya dengan berlebihan, dengan pikiran yang fokus pada dirinya
Potongan rambut pirang terlihat sekilas di matanya yang mencuri perhatiannya 'Rudan?'
Padahal ada banyak orang di sana tapi hanya warna rambut itu yang menarik perhatiannya
'Kenapa dia bisa ada di sini?'
Kemudian seseorang yang meletakkan kedua tanganya dan kepalanya di atas kepala Juvelian membuat Juvelian kesal
"Apa yang sedang kau lihat?"
"Menyingkirlah"
Namun Alan tidak bergerak Juvelian tersenyum lebar dan menyingkirkan dia dari kepalanya
Jika biasanya dia pasti akan memukul Alan atau menginjak kakinya tapi sekarang dia harus bersabar karena ada hal menyenangkan yang menunggunya
"Kak" Alan kaget ketika kata itu keluar dari mulut Juvelian, karena perbedaan umur yang hanya beberapa menit
Dan Alan selalu bersikap kekanak kanakan Juvelian merasa Alan lebih seperti adiknya daripada seorang kakak, jujur Alan berpikir Juvelian bukan memanggilnya tapi tetap merespons
"Menurut kakak, wahana yang tadi seru gak?"
"Mungkin" mual jika mengingat kejadian tadi
"Ngomong ngomong, tadi kakak keren banget loh. Padahal banyak yang teriak tapi kakak diam aja"
"Benarkah? aku ini memang orang yang berani, keren-" dia mulai menyombongkan dirinya
"Kalau gitu kakak nggak masalah dong kalau kita naik wahana yang lain. kakak kan keren nggak takut ketinggian"
'Kakak kan keren! Kakak kan keren' suara Juvelian berdengung di kepalanya
Bibir Alan bergetar ingin tersenyum tapi di tahan "Tentu saja, kalau gitu kita naik yang mana selanjutnya"
"Yang itu" kata Juvelian dengan wajah polos sambil menunjuk ke depan
Alan segera menoleh dan mendapati wahana roller coaster besar dengan teriakan orang orang yang menaikinya
"Oke" jawabnya dengan pucat
Juvelian mengandeng tangan Alan dengan wajah bahagia dan berkata "Ayo"
__ADS_1
Apa sih yang aku pikirkan itu pasti orang lain tidak mungkin Rudan ada di sini kan bukan satu dua orang yang punya rambut pirang di planet ini, kak Erin juga punya
'Dari pada memikirkan ini bukankah lebih baik aku mempersiapkan diri untuk menahan tawa'
Sekarang Alan seperti orang yang kehabisan darah padahal wahana belum di jalankan tapi dia sudah berkeringat dingin sambil berpikir
'Sekarang belum terlambat kau bilang tidak bisa naik, kau bicara apa sih laki- laki harus memegang ucapannya'
Wahana sudah mau bergerak saat itu dia
terdiam dan menundukkan kepalanya tersenyum pasrah dengan meneteskan air mata
'Mati aku... Mammmaa'
Dia yang berteriak keras paling keras
mengalahkan anak perempuan sambil
memohon untuk wahana segera berhenti
Sementara Juvelian bukannya berteriak dia malah bertawa sampai melupakan rasa takutnya ketika melihat ukuran wahana ini
Pada saat yang sama seseorang yang
berdiri di kegelapan menahan tawa sekuat
mungkin
'Astaga, dia memang tidak bisa di duga, gadis yang tersenyum bahagia sekarang sedang membuat kakaknya menderita dengan cara baru'
'Ini benar benar sebuah hiburan yang menyenangkan'
Suara orang orang yang berkumpul dan
bersorak mendukung seseorang terus
terdengar dari arah lain
Itu pasti suara orang yang mendukung Luxia atau Allen mereka sudah pindah ke permainan yang lain tapi masih saja bertengkar
'Wanita itu... tidak salah lagi orang yang menemui ku hari itu adalah dia, aku memang tahu dia hanya memanfaatkan ku untuk tujuannya'
'Tapi kesepakatan yang kami buat malah keuntungan untuk ku dan hanya ada satu pilihan saat itu'
'Aku terus bertanya tanya kenapa dia membantu ku apa keuntungan yang akan dia dapatkan. Karena dia dan Lian memiliki hubungan'
Pada saat yang sama Arin berdiri di depan
apartemen sambil melihat ke sekeliling
menunggu seseorang
__ADS_1
Jalanan di penuhi pasangan yang lalu berlalu lalang dari tadi sambil berpegangan tangan atau mengaitkan tangan mereka
Padahal tidak sedang mendung tapi udara mulai mendingin seketika angin berembus melewatinya yang membuatnya menggigil 'Apa biasanya memang sedingin ini?'