
"Ini saya Lia, Nona"
"Ada apa?" tanya Juvelian.
"Tuan, nyonya dan tuan muda Allen sudah pulang. Jadi meminta nona untuk turun ke bawah cepat mungkin".
Lia, pelayan pribadiku selama satu tahun ini.
Kecuali sifatnya sih, aku tidak tahu harus mengatakannya bagaimana tapi tidak peduli apa yang aku lakukan atau yang ku pakai dia selalu memujinya dengan tersenyum bahagia, karena itu aku mencurigainya.
"Nona? Apa kau mendengarku?"
'Aku lagi lagi melamun tanpa ku sadari'
"Tunggu sebentar, aku akan keluar sebentar lagi".
Membuka pintu dengan cepat, begitu sudah keluar pintu Juvelian langsung menutupnya.
"Baiklah, aku sudah siap" kata Juvelian yang memegang tas kertas di tangan kanan.
"Nona, walaupun anda cuman mencuci muka tapi tepat cantik"
"Bahkan wajah anda tidak seperti baru bangun tidur" kata Lia dengan tersenyum.
"Oh, terima kasih untuk pujiannya" kata Juvelian dengan lemas.
'Dia memujiku tapi rasanya kayak lagi mengomel padaku saja'.
'Dan dari kata katanya seperti sedang memataiku saja. ya, meskipun itu karena aku buru buru mencuci mukaku'.
Lia yang tidak sengaja melihat ke arah tangan kanan Juvelian yang memegang tas kertas, tersenyum cerah.
"Nona, apa itu oleh oleh dari pantai?" kata Lia yang menunjukkan ke arah tas kertas.
Juvelian terkejut sebentar. 'Matanya tajam banget'.
"Iya, ini untuk papa, mama, kak Allen dan kak Alan".
Lia, yang awalnya memasang ekspresi datar dalam sekejap berubah menjadi ceria. "Nona ingin memberikan kejutan ya? Nona tenang saja, aku akan merahasiakannya".
Juvelian mengangguk. "Iya, terima kasih".
Juvelian melewati Lia dan berjalan ke arah tangga.
'Bagaimana bisa nonaku semanis ini' kata Lia dalam hatinya yang mengikuti Juvelian dari belakang dengan wajah kagum.
Juvelian berdiri di depan pintu ruang keluarga.
Dari arah belakang, Lia memegang bahu Juvelian. "Nona, semangat".
Setelah mengatakan itu, Lia pergi dengan cepat tanpa mengeluarkan suara langkah kaki. 'Semangat untuk apa?' pikir Juvelian yang masih melihat ke arah Lia yang berlari.
Membuka pintu dan berhenti sebentar.
"Apa Rudan sudah pulang?" tanya Juvelian yang tidak melihat Rudan di dalam ruangan.
'Kenapa harus bertanya tentang anak itu dulu sih' pikir Ain (papa Juvelian), Allen dan Alan dengan wajah kesal.
"Rudan sudah pulang beberapa waktu yang lalu" jawab Feliana (mama Juvelian).
'Padalah aku ingin mengenal Kak Allen pada Rudan'.
Juvelian melangkah dan duduk di sofa paling ujung.
"Aku beli oleh oleh untuk kalian" kata Juvelian yang memegangnya dengan kedua tangan.
"Aku beli gelang untuk mama dan jam tangan untuk papa" kata Juvelian yang mengeluarkannya satu persatu.
"Imutnya, putriku emang pandai memilih" kata Feliana yang memegang gelang dengan mainan berbentuk kerang yang mengelilinginya.
"Bagaimana dengan kami?" tanya Allen dan Alan dengan tatapan sedih.
"Tentu saja, aku juga membelinya".
"Allen, berapa lama kau akan menginap di sana?" Tanya Ain.
"Paling lama seminggu" kata Allen yang melihat ke arah TV.
Juvelian yang tidak mengerti dengan pembicaraan mereka, bertanya pada Allen.
"Emang, kakak akan pergi ke mana?".
"Teman teman di tempat kuliahku yang dulu akan merayakan hari kelulusan kami yang ke tiga belas tahun".
Universitas tempat kak Allen dulu bukannya tempat biasa, karena kau dapat lulus dalam waktu satu tahun. Tapi, kau tidak bisa menggunakan internet yang terhubung dengan dunia luar.
Sesuatu yang terhubung dengan dunia luar dianggap mengganggu pelajaran, apa lain, tingkat kesulitannya yang bisa membuatmu menyerah.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut tapi, karena teman yang lumayan dekat denganku memintaku untuk ikut, jika tidak dia akan menyeret ku ke sana".
'Teman yang lumayan dekat? Emang hal yang wajar jika seseorang punya teman. Tapi, rasanya aneh karena kakak yang selalu memasang dinding di sekitar orang lain, bisa punya teman.
"Teman kakak orang seperti apa?".
Keheningan sesaat di antara mereka
'Apa aku salah bicara?'
Menghela napas, Allen melihat ke arah Juvelian, "Mereka menyebalkan".
"Menyebalkan...?" gumam Juvelian.
Melipat kedua tangannya, Allen menyambung kembali perkataannya "Yang satu menyebalkan karena terlalu banyak bicara sedangkan yang dua lagi terlalu diam"
'Jadi, gimana caranya mereka bisa berteman'
Pikir Juvelian yang sedikit tercengang.
'Benar juga sih, kami berteman saja karena seiring berjalannya waktu, kami jadi dekat' kata Juvelian dalam hatinya yang mengangguk kepala.
[Keesokan harinya]
Juvelian dan yang lainnya berjanji akan berangkat lebih awal sehingga masih ada waktu setengah jam sebelum upacara pembukaan di mulai.
Kabut pagi yang masih menyelimuti jalan dan beberapa tempat di area lingkungan sekolah dengan langit gelap.
Hanya ada Juvelian dan Rudan yang berjalan bersama di area lapangan sekolah yang sepi dan sunyi.
'Apa kami datang kecepatan?' pikir Juvelian yang melihat ke sekeliling.
"Kayaknya anak anak yang lain sudah di aula deh" kata Rudan.
Juvelian yang melihat Lilian dan Arin berdiri menunggu yang lain di depan salah satu kelas, bertukar salam dengan senyum cerah.
"Tapi, kenapa kalian datang sangat lama?" tanya Lilian dengan melipat kedua tangannya.
"Maaf"
"Di mana yang lain?" tanya Rudan.
Mendengar hal itu Lilian menghela napas.
"Kami sudah dari tadi di sini, tapi tidak melihat Jiho, Ian, Daniel atau pun Nine.
"Mami..." kata Arin yang dengan ceria.
Rudan mendengar itu merinding dengan ekspresi jijik.
'Apa yang salah dengan kepala anak ini'.
Arin perlahan melepaskan pelukannya.
Rudan tersenyum dan langsung melingkarkan tangannya di leher Juvelian.
Rudan menunjukkan seringai dan kepala yang di letakkan di atas bahu Juvelian.
"Hei, menjauh lah dari pacarku"
"Harusnya aku yang bilang begitu tahu"
"Menjauhlah dari mamiku".
Sementara mereka bertengkar, Lilian yang masih berdiri di depan kelas terkikik.
Melihat beberapa orang berjalan ke mereka Lilian terdiam sebentar.
"Akhirnya tiba juga" gumam Lilian.
Mendengar gumamman Lilian, mereka melihat ke belakang.
"Kalian berhentilah bertengkar" kata Nine yang tersenyum.
Setelahnya mereka langsung ke aula dengan santai.
Begitu pintu aula terbuka, udara di dalam aula sangat dingin di tambah dengan cuaca mendung di luar seperti akan memasuki rumah hantu.
Tidak sampai satu menit mereka duduk di tempat anak kelas 2 berada.
Karena belum banyak orang yang datang, mereka bisa duduk bersampingan dalam satu barisan panjang ke samping.
Jiho duduk dengan menyilangkan kakinya sedangkan Daniel yang duduk di sampingnya, benar benar asyik dengan permainan yang dia mainkan.
Nine yang duduk di paling pinggir sambil membalik halaman buku yang ada tangannya dengan ekspresi serius seakan akan ada ujian sebentar lagi.
"Ini baru masuk sekolah dan kau sudah sangat serius. Bersantai lah sedikit"
__ADS_1
Kata Jiho yang duduk berbeda beberapa kursi dari Nine.
Nine melihat ke arah Jiho dengan tatapan menakutkan dan menghela napas.
"Dengan sifat seperti ini, tidak heran kau tidak mendapatkan peringkat pertama" kata Nine dengan tersenyum.
Terlepas dari kepribadian yang tenang seperti air laut yang sangat dalam, Nine yang merupakan siswa teladan di sekolah, tidak mungkin mendengar nasihat dari orang seperti Jiho.
Jiho yang tertampar oleh kenyataan hanya bisa terdiam.
Kata kata Nine yang tepat sasaran, membuat yang lain bertepuk tangan kecuali Daniel yang sedang bermain game di HPnya, Rudan melihat ke arah game yang daniel mainkan dan Ian yang tertidur nyenyak.
Ian yang tertidur dengan melipat tangan dan bersandar di kursi di depan, terbangun dari tidur nyenyaknya, dengan mata tertutup berkata "Berisik..."
Mereka yang mendengar hal itu terdiam.
Membuka matanya, Ian melihat tajam ke arah Nine dan Jiho. "Biarkan aku tidur..." kata Ian dengan nada mengancam.
Setelah mengatakan itu, Ian sekali lagi kembali tertidur dan menyelami alam mimpinya.
Melihat hal itu, mereka menahan tawa.
Sebagai putra kedua pemilik perusahaan besar, Ian tidak tertarik dengan perusahaan milik ayahnya dan menyerahkan semuanya pada kakak laki lakinya yang dengan ada di luar negeri untuk urusan bisnis.
Tapi Ian tertarik dengan dunia perfilmman. Tapi, karena jadwal syutingnya yang selalu banyak, Ian menjalani hidupnya dengan selalu tidur.
Jika di dongeng ada putri tidur, maka di dunia nyata ada 'pangeran tidur'.
Ian mendapatkan julukan itu karena dia yang selalu tertidur di sekolah.
'Meskipun hal yang bagus, karena dia tidak pernah tertidur saat waktu belajar sih'.
Pikir Juvelian yang lengannya di pegang Arin, yang duduk di sampingnya.
Arin, Lilian dan Juvelian melihat ke pintu, di mana anak anak yang lain mulai masuk ke dalam aula.
Setelah beberapa saat kepala sekolah masuk dan berpidato untuk waktu yang lumayan lama.
'Kapan ini akan berakhir?' pikir Arin yang mulai merasa bosan.
'Apa aku juga ikutan tidur kayak anak itu' kata Juvelian dalam hatinya yang melihat ke arah Ian yang tertidur dengan nyenyak.
"Sekali lagi, bapak ingin bilang selamat tahun ajaran baru".
'Akhirnya...' teriak mereka semua di dalam hatinya.
Setelah orang orang mulai menuju ke arah pintu dan keluar dari aula.
Lima sekawan dan anak perempuan yang lain juga ikut menuju ke arah pintu keluar aula.
Lilian dan Jiho yang menuju ke papan pengumuman sekolah dengan melewati keramaian dengan sangat mudah.
Begitu Lilian dan Jiho berdiri di depan keramaian
Orang orang mulai bergeser memberikan jalan pada mereka.
Sedangkan Juvelian dan Arin yang sedang menunggu pemberitahuan dari yang lain.
Arin mulai berbicara bagaimana dia berdoa selama sebulan agar mereka semua dapat menjadi teman sekelas kecuali Jiho.
'Kayaknya, dia masih membenci Jiho ya' pikir Juvelian yang menghela napas.
Lilian yang terkejut melihat isi absen pembagian kelas langsung berjalan menyusul Jiho yang berjalan lebih dulu.
Jiho yang berjalan melewati keramaian, melihat rambut Arin dan Juvelian dari kejauhan. ingin memanggil Arin dan Juvelian yang ada di ujung keramaian.
Dari arah belakang Jiho, Lilian mendorong Jiho menjauh, untuk menghentikan dia yang mencoba memanggil Arin dan Juvelian.
"Pergi kau sana, manusia paling menyebalkan di dunia ini" kata Lilian dengan tersenyum cerah.
"Apa yang salah denganmu? Hah?" tanya Jiho dengan ekspresi kesal.
Mengabaikan apa yang Jiho katakan,
Lilian berlari ke Arin dan Juvelian dengan memasang ekspresi serius.
"Arin... Juvel..." kata Lilian dengan ekspresi serius. Mendengar suara Lilian mereka melihat ke arah Lilian dan terkejut melihat Lilian yang berlari seperti itu, ikut memasang ekspresi serius.
"Apa yang terjadi?" tanya Juvelian dan Arin.
"Jiho... Dia..." kata Lilian yang melirik ke arah Jiho yang ada di tengah kedamaian.
Mereka yang terkejut mendengar nama Jiho dan melirik ke arah Jiho, menjadi mengerti bahwa ekspresi serius Lilian hanya akting.
Mulai kembali memasang ekspresi serius mengikuti alur cerita yang sedang Lilian buat, mereka bertanya secara bersamaan.
"Kenapa dengan Jiho? Apa yang terjadi padanya?".
__ADS_1
~Bersambung~