Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 46


__ADS_3

Melihat ke arah Alan dengan wajah tercengang "Kak Alan, kau ini bicara apa sih?".


'Apa perkataanku terlalu berlebihan?'


Kembali melihat ke arah Lilian dan Arin yang ada di depannya.


"Karena satu jalan, bagaimana kalau kita pulang sama sama?"


"Maaf, sudah merepotkan" kata mereka secara bersamaan.


Begitu berada di lantai satu, pak Tio sudah menunggu mereka di dalam mobil.


Karena Juvelian yang selalu mengeluh bahwa mengantar atau menjemputnya dengan limosin itu berlebihan.


Orang tuanya menyuruh pak Tio menggunakan mobil yang paling tidak mencolok yang ada di dalam garasi tapi, tetap saja bagi Juvelian itu masih berlebihan.


[Di dalam mobil]


Alan duduk di samping kursi pengemudi sedangkan yang lain duduk di kursi belakang.


"Ke apartmen yang terakhir kali kita datang" kata Alan.


Dari dalam tas, terdengar suara pesan yang masuk.


Melihat ke arah layar HP dan membuka kata sandinya.


[Mama: nanti mama papa tidak bisa pulang untuk makan siang]


[Mama: mungkin akan pulang malam, jadi makanlah lebih dulu]


[Mama: ada yang harus mama papa urus di rumah kakak ipar, mungkin akan pulang tengah malam atau besok, jadi jangan menunggu]


'Jika, kakak ipar. Berarti paman Regis'


[Lian: apa terjadi hal buruk di sana?]


[Mama: seseorang anak perempuan mengakui dirinya sebagai anak kakak ipar, karena itu sekarang sedang menunggu hasil tes DNA]


[Mama: Mira sekarang sedang bersama mama, jadi jaga diri kalian baik baik]


[Lian: baiklah, aku mengerti. Mama jangan khawatir]


Lilian yang duduk di tengah, mendekatkan kepalanya melihat ke arah layar HP Juvelian.


"Kau sedang lihat apa?"


Mendengar suara Lilian yang tiba tiba, Juvelian terkejut dan lansung mematikan HP


"Ah, ini pesan dari mamaku"


Setelah mobil berhenti, Arin keluar dari mobil dengan Lilian yang menyusul dari belakang.


"Terima kasih untuk tumpangannya" kata mereka yang segera masuk ke dalam apartmen dengan melambaikan tangan.


Mobil bergerak lagi, menjauh dari apartmen,


Suasana keheningan terasa di dalam mobil.


Alan melihat Juvelian dari pantulan kaca min dan membuka bibirnya.


"pesan dari siapa dan apa isinya"


Juvelian merespons dengan melihat ke kaca mobil.


"Hah?"


Alan mengerutkan keningnya dan bertanya balik "Lian, kau hanya diam menatap layar HP karena pesan dari seseorang kan?"


Juvelian menjawab dengan ragu


"Itu pesan dari mama"


"Pesan dari mama..." gumam Alan.


Alan yang merasa ada hal yang aneh bertanya lagi.

__ADS_1


"Apa yang mama katakan?"


Juvelian membuka mulutnya dan menutupnya lagi.


Juvelian diam beberapa saat untuk berfikir.


'Selain ibu Mira, pak Tio juga orang kepercayaan mama dan papa.


Pasti tidak apa apa jika di katakan?'.


"Itu... Ada anak perempuan yang mengaku sebagai anak perempuan paman Regis yang hilang bertahun tahun yang lalu.


Mama bilang mungkin akan pulang malam jadi jangan menunggu"


Keheningan sesaat terjadi di dalam mobil


"Jadi, bagaimana hasilnya?"


"Masih menunggu hasil tes DNA"


Mengingat adegan saat perkenalan semalam, Mina masih memikirkannya sampai berjalan dengan tatapan kosong.


Karena anak anak yang lain hanya diam, Mina merasa bahwa itu hal yang memalukan.


'Itu hal yang normal terjadi, di lain waktu aku pasti bisa lebih baik dalam tersenyum dan menunjukkan ekspresi' pikir Mina yang berdiri di depan pintu kelas.


Tiba tiba seseorang berjalan dengan cepat tanpa perhitungan, mencoba lewat dari pinggir Mina dengan cepat yang apa akhirnya tidak sengaja menabrak lengan Mina yang ada di depannya.


Seseorang itu hampir saja jatuh. Mina yang tidak menyadari dirinya menghalangi pintu masuk, tetap berdiri diam di tempat tatapan seperti sudah terbiasa dengan kejadian seperti ini.


'Karena aku terlahir dengan kekuatan lebih kuat dari anak perempuan pada umumnya, jadi bukan hal yang aneh jika dia hampir jatuh saat menabrak lenganku'.


Menggosok gosok bahunya yang tadi menabrak lengan Mina dengan menundukkan sedikit kepalanya.


Mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Mina yang lebih tinggi kira kira 4cm darinya.


Iris mata merah pekat tanpa sedikit cahaya yang bersinar di dalamnya.


Tapi saat, Mina melihat matanya lagi, seperti ada warna putih cerah. Rambut yang hanya sepanjang bahu dengan warna putih.


'Kelinci?' pikir Mina yang terkejut dengan penampilan anak itu


Dia memiliki aura yang elegan dan misterius tapi di satu sisi dia terlihat seperti kelinci berbulu putih yang seperti tidak pernah terkena sedikitpun kotoran atau pun noda dunia ini.


Bisa di bilang maksudnya seperti dewi yang jatuh dari surga ke dunia manusia dan tidak terikat dengan kehidupan fana.


Saat dia mengangkat kepala, bulu mata yang berwarna putih panjang dan poni rambut yang menutupi keningnya yang menciptakan bayangan di sekitar alis mata.


Menggerakkan bibirnya yang berwarna merah muda "Ma, maafkan aku" katanya dengan suara yang sangat halus.


"Tidak apa apa".


Dia mengangguk pada jawaban Mina dan melihat ke arah label nama.


"Mina..." gumamnya.


Mendengar namanya, Mina meresponnya dengan tersenyum.


Merasa ada suasana keheningan canggung di antara mereka, Mina bertanya untuk memecahkan keheningan.


"Kau yang nama Alexia kan?"


Dengan perasaan yang malas membuka mulutnya, Alexia hanya mengangguk pelan.


"Terima kasih sudah menolongku semalam. Jika, tidak aku pasti tidak akan berani datang ke sekolah karena terlalu malu" kata Mina yang tersenyum tipis.


Menatap ke arah mata Mina dan mengangguk sekali lagi.


"Semalam cuacanya bagus ya?" tanya Mina yang berkeringat.


"Semalam hujan deras" jawab Alexia dengan sangat singkat.


"Oh iya, semalam hujan deras ya..."


'Kupikir dia akan menjawab 'Padahal semalam cuacanya enggak bagus karena hujan deras' pikir Mina yang rasanya ingin menangis karena suasana tidak nyaman yang dia rasakan.

__ADS_1


Setelahnya keheningan tetap berlanjut yang membuat mereka tidak nyaman.


'Bisa gila aku, kenapa dia hanya diam saja di depanku' teriak Mina di dalam kepala yang membayangkan menjambak rambutnya sendiri.


Dari arah belakangnya, seorang anak anak laki laki berdiri dengan sekitar 14cm lebih tinggi dari Alexia.


"Mau sampai kapan kalian berdiri di depan pintu masuk, dengan suasana canggung di antara kalian?".


Rambut hitam gelap dengan mata merah pekat yang hanya ada sedikit cahaya di matanya yang mirip dengan milik Alexia. Dia nampak seperti versi fotokopi Alexia dengan jenis kelamin yang berbeda.


"Kakak kembarannya..." gumam Mina.


'Ini mengingatkanku pada salah satu alur cerita di novel yang kubaca.


Di mana anak kembar yang sangat mirip namun, memiliki jenis kelamin yang berbeda' kata Mina dalam hatinya yang mulai menghayal.


Karena orang tua mereka yang selalu sibuk bekerja, Si kembar selalu bersama dan anak perempuan itu menganggap kembaran nya sebagai dirinya sendiri.


Namun, suatu hari kembaran laki lakinya meninggal dengan sangat misterius.


Ibu mereka yang mengetahui kematian salah satu anak, jatuh sakit.


Anak perempuan itu yang melihat ibunya sakit dan tidak terima dengan kematian saudaranya, menyamar sebagai kembaran nya dengan bantuan ayahnya yang kasihan melihat istrinya berbaring sakit di atas tempat tidur dalam waktu yang lama.


Melihat ibunya yang sembuh lagi, membuat anak perempuan itu menggunakan identitas yang berbeda di saat bersamaan dan untuk mengungkapkan kebenarannya.


Tapi, karena wajah mereka yang sangat mirip jadi, tidak akan ada yang menyadarinya sampai dia bertemu dengan pemeran utama lelaki.


Pemeran utama lelaki yang merupakan sahabat kembaran nya, membuat anak perempuan itu curiga dan selalu mengincarnya.


Anak perempuan itu yang tidak lain adalah pemeran utama wanitanya, selalu memperhatikan pemeran utama lelaki dan menyadari dirinya yang mulai memiliki perasaan pada pemeran utama lelaki.


Melupakan rencananya yang ingin menemukan kebenaran tentang kematian saudara kembarnya.


Pemeran utama wanita yang kembali menjadi dirinya sendiri membuat ibunya yang sudah sehat, kembali jatuh sakit.


Namun, setelah perempuan utama wanita mengetahui bahwa orang yang menyebabkan kematian saudara kembarnya adalah pemeran utama lelaki, pemeran utama wanita meninggalkan pemeran utama lelaki dan tamat.


'Saat mengetahui akhir ceritanya seperti itu, aku sangat kesal sampai sampai memaki pemeran utama lelaki itu dengan kakiku yang menginjak injak buku itu dengan sangat keras' kata Mina dalam hatinya yang mengepal tinju di tangannya.


Mina yang kembali dari hayalan nya, mulai menyadari dirinya yang menghalangi pintu masuk kelas.


Mina segera menyingkir dari pintu masuk dan berdiri dengan wajah yang memerah karena merasa malu.


"Maaf, aku menghalangi jalan" kata Mina yang mengaruk pipinya.


Melihat Mina yang mengaruk pipinya, Mereka hanya mengangguk dengan ekspresi datar.


"Eh, kau kan yang semalam membuat kelas kelas jadi hening. Kau keren banget"


Alexia yang terkejut dengan apa yang Alex katakan, langsung menginjak kakinya.


Alex menahan rasa sakit yang merambat ke seluruh tubuhnya seperti terkena sentrum listrik.


"Iya, namaku Mina. Salam kenal".


Mengangkat tangannya sampai telinga dan membuka bibirnya


"Alex, itu namaku"


"Kami masuk dulu" kata Alexia dengan tatapan tidak peduli.


Alexia dengan cepat berjalan melewati Mina dengan kembaran nya di belakang mengikuti jejaknya.


Mina yang teringat dengan tujuannya datang ke sekolah yang dengan Juvelian, langsung melangkahkan kakinya dan berjalan dengan cepat melewati lorong di depan kelasnya karena tidak di izinkan berlari di lorong sekolah.


Berjalan dengan cepat sambil melihat ke arah jendela jendela besar yang ada di sampingnya.


Taman sekolah yang dapat di lihat dari jendela jendela lorong, menjadi salah satu cara tercepat untuk menemukan Juvelian.


Karena taman sekolah menjadi salah satu tempat yang sering di datangi oleh Juvelian di dalam daftar tempat yang di kirimkan oleh Luxia pada Mina untuk berjaga jaga jika, Juvelian lepas dari pengawasannya.


'Karena semalam aku sangat malu sampai sampai tidak berani melihat ke arah nona Juvelian'


'Tapi, aku harus menjalankan tugasku dengan baik apa pun yang terjadi'

__ADS_1


~bersambung~


Selamat tahun baru


__ADS_2