
Menghela napas Daniel mengangguk "Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi"
"Aku kembali lebih dulu ya..."
Arin berjalan kembali ke halaman villa dengan kaki lemas.
'Aku memang berpikir dia tidak akan dengan mudah mengatakannya tapi kau mau pun Juvel, kalian berdua penuh dengan teka teki'
Daniel menendang air pantai dengan kaki kiri nya dan melihat ke arah salah satu bintang.
'sejak awal kami semua berteman karena seiring berjalannya waktu kami menjadi dekat'.
'tapi kami semua selalu menyimpan rahasia, dengan keadaan seperti ini aku tidak berapa lama hubungan ini akan bertahan'
Setelah berpikir begitu, Daniel menghela napas panjang.
'Pertama, Aku harus merubah ekspresi wajahku dulu'.
Arin menarik napas dan menghembuskan nya.
'tenangkan dirimu Arin, kau harus kuat apapun yang terjadi'.
Juvelian bangkit dari kursi dan pergi ke arah pintu villa.
"Juju, kau mau ke mana?" tanya rudan.
"Aku akan masuk ke dalam sebentar"
"Baiklah, cepatlah kembali" kata Alan dan Rudan.
'Sebenarnya aku lupa membangunkan Lux.
Jika dia tahu ini, Dia pasti akan marah.
Aku harus cepat membangunkannya'.
Juvelian menggerakkan kaki kanannya seperti membentuk lingkaran dan pola lingkaran mengeluarkan cahaya biru.
"Bawa aku ke tempat Lux berada sekarang"
"Ternyata dia masih tidur ya..." gumam Juvelian.
'Tunggu, kenapa tadi saat tersesat aku tidak menggunakan teleportasi saja untuk kembali' Juvelian menghela napas panjang.
'Karena bertahun tahun hidup sebagai Riana dan berpura pura bodoh, aku malah jadi bodoh beneran... atau mungkin karena aku panik ya'
'Dan juga jika aku menggunakan teleportasi dan muncul begitu saja di depan banyak orang, mereka pasti akan pingsan sedangkan ketiga kakakku pasti akan menginterogasiku sambil tersenyum'.
Juvelian berjalan ke arah Lux dan menggoyangkan tubuh Lux dengan jarinya secara pelan.
"Lux, ayo bangun..."
"Sudah waktunya makan".
Lux bangun dengan kepala tertunduk dan menguap sambil mengucek matanya.
"Sekarang sudah jam berapa? Kenapa sangat gelap?" tanya Lux yang masih setengah sadar.
"Sebenarnya ini sudah malam" kata Juvelian yang tertawa kecil sambil mengaruk pipinya dengan jari telunjuk.
"oh... Sudah malam..."gumam Lux.
"Apa?" Lux terkejut dan langsung melihat ke arah Juvelian dengan wajah terkejut.
"Kenapa kau baru membangunkan aku sekarang?" tanya Lux.
"Sebenarnya rencananya kita akan menginap karena bangun terlambat".
"ternyata begitu" kata Lux yang duduk dengan kedua tangan yang di letakkan di atas selimut.
"baiklah, ayo cepat mandi dan turun kebawa"
"Juvel, lebih baik pakai yang warna biru atau hijau" tanya Lux yang memegang gaun yang di buat oleh Juvelian.
"Pakailah yang mana mana menurut lebih nyaman".
"Baiklah, aku pakai yang hijau saja" kata Lux.
mengangkat tangannya ke arah lux.
__ADS_1
Gumpalan air terbang ke arah lux dan menyelimutinya, gaun Lux yang tadi ada di tangan Lux sekarang dia pakai.
"Lux, kadang ada saatnya aku iri padamu kau hanya perlu mandi dengan sihir"
"Tapi, kenapa kau tidak menggunakan cara yang sama?"
"Sebenarnya akuingin melakukannya tapi Kak Luxia melarangnya, dia bilang itu hal yang berbahaya" jawab Juvelian yang kesal.
"Begitu ya..." ucap Lux yang melihat ke arah jendela.
"eh, bukannya itu Arin dan Daniel... Kenapa mereka ada di sana?"
"Entahlah, tadi Arin bilang ingin menenangkan diri tapi kalau Daniel mungkin dia menghampiri Arin" jawab Juvelian.
'Tapi... Kenapa suasana di antara mereka sangat aneh, tadi mereka tertawa sekarang suram'.
"Lux, mari kita turun yang lain pasti yang lain sedang menunggu".
[Juvel, bagaimana aku bisa memakannya?] tanya Lux yang duduk di atas meja.
[Jika Lux menyentuh makanannya makanan akan tidak terlihat jadi kau bisa memakannya].
Disisi lain Arin berjalan dengan percaya diri ke arah Juvelian dan memanggilnya dengan sebutan Mami dengan ekspresi ceria menggandeng
tangan kanan Juvelian.
"Ma,Mami?" tanya Juvelian yang tidak percaya dengan apa yang dia dengar, Rudan dan Alan yang duduk di meja sebelah hampir tersedak sedangkan Lux menjatuhkan makanannya.
"Iya, apa tidak boleh?" tanya Arin dengan tatapan berharap.
"Terserah deh" jawab Juvelian dengan ketus.
"Itu artinya boleh kan" kata Arin yang tersenyum cerah.
Arin duduk sambil menggandeng tangan Juvelian dengan kepala yang nyender di bahu yang ekspresi merasa tenang.
'Saat bersama Juvel, aku merasa kan ketenangan yang bahkan ini tidak pernah aku rasa dari keluargaku'.
'anak ini, kenapa nempel sama adikku yang manis?'
'bisa bisanya, dia nempel sama pacarku' pikir Alan dan Rudan secara bersamaan.
"Hei, kau lepaskan Juvel" Teriak Lux yang tidak bisa di dengar oleh orang lain.
Juvelian menahan tawa melihat kelakuan Lux. 'Lux meskipun kau berteriak atau memukulnya tidak ada gunanya'.
Arin yang tidak sengaja melihat ekspresi kesal Rudan memberi tersenyum miring.
Rudan mengepal tinju di tangannya dan menatap Arin dengan tatapan tajam.
'Hah? kau benar benar mencari masalah, ya Arin' kata Rudan dalam hatinya dengan ekspresi kesal sedangkan yang lainnya memasang wajah kagum.
"Jiho, kau jadi makan satu baksom ikan bakar pedasnya?" tanya Daniel dengan nada mengejek.
"Aku pasti sudah kehilangan akal jika benar benar melakukannya".
Lilian yang kesal hanya menatap tajam ke arah Jiho.
Tangan kanan Arin mengambil salah satu makanan di piring dan menyuapi Juvelian.
"Arin, aku juga" kata Lilian menunjuk ke arah dirinya.
"nih" kata Arin yang tersenyum cerah yang memberi cumi bakar dengan sumpit.
[Lux tenanglah, Arin tidak akan bisa merasakan apapun].
'Ria, yang kau katakan itu benar, suatu hari nanti aku pasti akan berteman dengan banyak orang tapi kau tetap lah satu satunya sahabatku'
'Tidak peduli kau ada di mana sekarang, kau pasti akan kembali lagi dengan senyum. entah kenapa tapi aku percaya hal itu kau pasti akan kembali' kata Lilian yang melihat ke arah langit.
'Ria, aku tidak tahu ini hanyalah sebuah kebetulan atau takdir tapi aku bertemu dengan anak yang mirip denganmu.
Nama Arin dan Juvelian setiap kali melihat mereka rasanya aku seperti melihat dirimu'
Lilian melihat ke arah Arin dan Juvelian yang sedang berbicara tapi meskipun hanya sebentar Lilian melihat ekspresi rasa bersalah dari Juvelian.
'Apa baru saja Lilian mengatakan tentang Ria. Pada akhirnya aku banar benar membuat kesalahan yang besar'
'kalau saja, aku sejak awal bertemu Lili dengan dengan diriku yang sebenarnya pasti tidak akan jadi begitu' menundukkan kepalanya juvelian melanjutkan kata katanya.
__ADS_1
'Tidak, kalau saja kami tidak bertemu pasti tidak ada satupun dari kami yang akan merasa sedih' kata Juvelian dalam hatinya yang merasa bersalah dengan kepala pusing.
[Juvel, kau kenapa? Wajahmu kelihatan sangat pucat] tanya Lux yang terbang tepat di depan wajah Juvelian.
[Eh, wajahku kelihatan pucat? ].
[iya, sangat pucat apa kau sakit?] Tanya Lux.
[enggak apa apa kok, cuman sedikit kedinginan mungkin karena anginnya sangat dingin].
Dari arah belakang seseorang meletakkan jaket di bahu Juvelian.
"Sudah enggak dingin kan..." bisik Rudan pada telinga Juvelian.
Arin yang masih menggandeng tangan Juvelian, kaget dan teriak pada Rudan
"Aku kaget tahu".
"Kenapa? kau cemburu karena aku lebih dekat dengan Juju?" tanya Rudan yang tersenyum miring.
Arin bangkit dari kursi dan menatap tajam ke arah Rudan "Apa maksudmu?".
Dari meja sebelah Alan tersenyum dan berjalan ke arah Juvelian.
"Tidak ada gunanya bertengkar karena Lian paling menyayangiku loh" kata Alan sambil memeluk Juvelian dari belakang dengan tersenyum.
"Kalian berhentilah bertengkar, sekarang sudah hampir tengah malam" kata Erin yang tersenyum menakutkan.
"Lilian, Arin dan Juvelian bawa piring ke dapur dan di cuci sedangkan Rudan, Alan dan Jiho bereskan meja"
"Nine dan Ian bantu pak Tio bereskan sisanya"
"Baik" jawab mereka sama sama.
Beberapa saat kemudian.
"kau tidak masuk, Juju?" tanya Rudan yang melihat Juvelian.
"Iya, nanti aku akan masuk kau duluan saja"
Jawab Juvelian yang melihat ke arah langit.
'Tidak tahu sejak kapan, tapi kadang ada saatnya aku tidak bisa tidur jika tidak melihat ke arah langit malam yang penuhi oleh bintang'
"Langitnya indah ya"
Juvelian melihat ke belakang dan menjawab pertanyaan dengan tersenyum "Iya, langitnya indah"
"Juju, aku minta maaf" kata rudan yang menundukkan kepala.
"Untuk apa?" tanya Juvelian yang melihat ke arah Rudan.
"Tidak ada, aku hanya ingin minta maaf saja"
"Oh" Juvelian menunjuk ke arah salah satu bintang "Rudan, lihat bintang kuning itu sangat mirip denganmu. Cahayanya sangat terang dan bersinar seperti dirimu".
"Dan bintang di sebelah bintang kuning itu mirip dengan Juju, bintang itu sangat dekat" kata Rudan.
Juvelian menjawab perkataan Rudan dengan tersenyum "Iya, mereka sangat dekat seperti pasangan".
"pasangan yang serasi" Keheningan menyelimuti mereka
Juvelian terkejut dengan perkataannya dan melihat ke arah Rudan yang juga melihat ke arahnya.
Segera setelah mereka melakukan kontak mata. wajah Rudan memerah setelah Juvelian dan karena keheningan diantara mereka, suara jantung Rudan yang berdebar terdengar sangat keras.
Di satu sisi dengan jari yang masih menunjuk ke arah langit, Juvelian membayangkan menjambak rambutnya dengan berteriak "Kenapa kau harus mengatakan itu Juvelian".
"Sebaiknya, kita masuk jika tidak Kak Erin akan memarahi kita" kata Rudan.
'Di masa lalu aku datang terlambat dan tidak bisa menyelamatkanmu.
'Tapi kali ini aku sudah berjanji pada diriku akan selalu melindungimu dan menjaga senyumanmu'
'Meskipun pada akhirnya kau memilih orang lain'
Rudan menggigit bibirnya dan melihat ke arah Juvelian yang berjalan di depannya
'tapi... Apa aku bisa melihat semua itu...'
__ADS_1
~Bersambung~