
"Arin... Juvel..." kata Lilian dengan ekspresi serius. Mendengar suara Lilian mereka melihat ke arah Lilian dan terkejut melihat Lilian yang berlari seperti itu, ikut memasang ekspresi serius.
"Apa yang terjadi?" tanya Juvelian dan Arin.
"Jiho... Dia..." kata Lilian yang melirik ke arah Jiho yang ada di tengah kedamaian.
Mereka yang terkejut mendengar nama Jiho dan melirik ke arah Jiho, menjadi mengerti bahwa ekspresi serius Lilian hanya akting.
Mulai kembali memasang ekspresi serius mengikuti alur cerita yang sedang Lilian buat, mereka bertanya secara bersamaan.
"Kenapa dengan Jiho? Apa yang terjadi padanya?".
"Jiho..., tahun ini, dia satu kelas dengan kita" kata Lilian yang mulai berkaca kaca.
Mendengar hal itu mereka terkejut dan mulai meraih tangan yang lain, dan berpegangan tangan membentuk segitiga.
Dengan mata berkaca kaca mereka berlutut dan berkata secara bergantian.
"Neraka lain macam apa ini" kata Juvelian yang di lanjutkan oleh Lilian yang memegang
tangan kanannya.
"Kenapa kami harus menderita selama satu tahu karena harus satu kelas sama anak itu"
Lilian memulai memegang tangan kanan Arin dengan erat meminta memulai dialognya.
"Tahun ini kami benar benar tidak beruntung"
Jiho yang masih di dalam keramaian, melihat semua itu dari awal sampai akhir menjadi kesal.
Berjalan keluar dari keramaian, Jiho mengeluarkan aura menakutkan ke arah mereka. Berhenti di depan mereka dengan melipat tangannya.
"Hei, apa salahku sama kalian sih?" kata Jiho dari belakang mereka dengan suara yang sangat kesal.
Nine dan Ian yang juga keluar dari keramaian dengan bersamaan.
"Ekspresi serius, wajah kalian bahkan seperti artis di sinetron" katanya yang memukul lengan Ian dengan
"Kami juga satu sama kalian loh" kata Nine yang datang bersama Ian di sampingnya.
Mereka menoleh ke arah Nine dan Ian tanpa berpikir dan memasang wajah tercengang.
mereka mulai melepaskan tangan mereka yang berpegangan dengan sangat erat.
'Wow, menajubkan. Kami semua satu kelas nih? Tapi, bagaimana dengan Daniel dan Rudan' pikir Arin.
Ian dan Nine yang sudah berteman sejak kecil, selalu bersama.
Karena Nine yang lebih seperti penjaga dari pada teman, Ian selalu mengikutinya seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
Mereka memberikan tos pada yang lain, dan tertawa keras setelah melihat ke arah satu sama lain.
"Bagaimana? Akting kami bagus kan?" tanya Lilian dengan suara sombong.
Dari belakang mereka Daniel dan Rudan kembali setelah melihat papan pengumuman.
"Lumayan, karena membuat Jiho kesal itu kan sangat sulit" jawab Daniel.
"Membuat Jiho kesal itu memang menyenangkan" kata Arin dan Lilian yang masih tertawa.
"Kau..." begitu Jiho ingin berteriak karena kesal, Lilian menatapnya dengan sinis.
Menggerakkan jarinya, menyuruh Jiho sedikit menundukkan ke arahnya.
"Tuan muda Jiho, jika kau berteriak di depan umum maka, orang orang yang berpikir kau adalah siswa baik dan bijaksana akan hilang loh" bisik Lilian.
Mendengar perkataan Lilian yang seperti bisikan malaikat kematian, melihat ke arah Lilian yang lebih pendek darinya, tersenyum cerah.
__ADS_1
Mereka yang ada di sekitar Jiho dan Lilian tertawa kecil melihat ancaman Lilian.
'Karena Jiho yang selalu mengganggu Arin dan Lilian, mereka jadi membencinya setengah mati' pikir Juvelian.
"Tapi, kalian ada di kelas mana?" tanya Nine yang melihat ke arah Rudan dan Daniel.
"Kami ada di kelas 2-2" jawab mereka.
Setelahnya keheningan muncul di antara.
Arin dan Juvelian Yang tidak mengerti apa yang terjadi memasang ekspresi bertanya.
Perlahan- lahan Juvelian melirik ke arah mereka semua yang melihat absen pembagian kelas dan tersadar akan sesuatu.
"Jangan bilang, kita semua..."
Lilian membuka bibirnya dengan ragu- ragu dan menutupnya lagi.
Setelah suara bel berdering.
Rudan tersenyum ketika mata mereka tidak sengaja bertemu.
"Ya, itu terjadi" katanya yang sambil menghela nafas.
Juvelian berdiam untuk beberapa saat karena kehilangan kata kata.
Arin di sisi lain masih bertanya tanya pada dirinya sendiri.
'Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mereka hanya diam saja?' pikir Arin yang tidak bisa mengerti apa yang terjadi.
Jiho melihat ke arah Arin sebentar, kemudian memutar matanya dengan menghela napas.
"Kita juga harus masuk kelas" katanya sambil melipat tangan.
Tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk menemukan kelasnya.
Karena Daniel dan Rudan sudah mencari kelasnya setelah melihat papan pengumuman.
Guru wali kelas baru mereka dengan ramah menyuruh mereka masuk dan mencari tempat duduk mereka.
Mereka mulai berjalan memasuki kelas dan mulai duduk di kursi dekat jendela.
Suara guru wali kelas yang berusia awalan 40an itu kembali bergema di sekitar ruang kelas.
Ian dan Nine berada di meja pertama dengan Daniel dan Jiho yang berada di belakangnya.
Rudan dan Juvelian yang duduk bersama, berpegangan tangan di atas meja dan mendengarkan guru dengan penuh perhatian seperti biasa.
Aku kemudian tidak sengaja melakukan kontak mata dengan Rudan yang duduk di sampingku, yang kemudian tersenyum padaku.
Aku membalasnya dengan tersenyum cerah, sehingga aku dengan cepat memalingkan kepalaku darinya saat aku menyadari debaran jantungku yang kencang.
Lalu aku mendengar tawa kecil dari belakang yang ternyata adalah Lilian dan Arin.
Mendengar tawa mereka, Aku menjadi malu dan melihat ke arah jendela di sampingku.
Jendela di ruang kelas yang sangat besar, yang dapat membuat orang menikmati keindahan halaman sekolah dari atas serta langit biru yang indah.
'Tidak heran jika, Daniel terus melihat ke luar. Namun sayangnya, sekarang sedangkan mendung, bukannya terlihat indah tapi malah menjadi horor'.
Juvelian melihat ke belakang kelas,
Loker yang ada di belakang kelas serta perlengkapan kebersihan di sudut yang terlihat baru.
'Karena dulu terlalu sibuk menghindari Lilian dan anak yang lainnya, aku jadi tidak menyadarinya. Namun, aku menyadari satu hal, bahwa tidak ada yang terjadi selama satu tahun berteman bersama mereka'.
'Apa, karena takdir yang sudah berubah? Jika iya, aku harap takdir ini berjalan ke arah yang baik' kata Juvelian dalam hatinya.
__ADS_1
Daniel menatap kosong ke halaman sekolah dari jendela di sampingnya dengan ekspresi yang sangat tenang dan senyum tipis di bibirnya, Juvelian yang melihatnya merasa bahwa itu adalah hal yang menakjubkan.
Jiho duduk dengan benar yang juga mendengarkan guru dengan penuh perhatian, terganggu mendengar suara berisik di belakangnya.
Mengerutkan alis abu abunya dan berkata pada dirinya sendiri dengan nada yang kesal.
'Bagaimana bisa mereka tertawa, pacaran atau pun masuk ke dunianya sendiri ketika guru sedang berbicara di depan.
Arin menatap ke sekeliling ruangan dengan tatapan kosong dan menyadari sesuatu.
Saat itu juga aku menyadari bahwa sekolah ini di sponsori oleh yayasan yang sangat kaya.
Meja- meja bersinar dan semua dinding kelas sangat bersih seolah olah semua fasilitasnya baru saja di renovasi.
Jendela jendela yang cukup besar untuk membiarkan cahaya matahari masuk memenuhi ruangan kelas dengan sinarnya pikir Arin yang merasa takjub.
Setelahnya satu persatu siswa baru mulai memperkenalkan dirinya.
Seseorang yang duduk di belakang Arin tiba tiba berdiri dengan rambut hitam kebiruan berkilau .
Melihat ke sekeliling dengan senyum cerah di wajahnya, kemudian dia berbicara dengan berseri seri
"Hai, nama saya Alan star light, dan mari kita semua berteman dengan baik. Senang bertemu dengan kalian semua".
Beberapa anak bersorak mengatakan sesuatu seperti 'tampan' atau 'keren' padanya.
Suara dengan penuh semangatnya begitu keras sehingga bergema di seluruh kelas untuk beberapa waktu.
Mendengar suara kakaknya, Juvelian terkejut dan berbalik melihat ke arah Alan yang bediri dengan sangat percaya diri.
Juvelian menatap Alan dengan ekspresi terkejut. Alan yang menyadarinya tersenyum cerah dan menatap Juvelian, menggerakkan bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu tanpa mengeluarkan suara.
[Mulai hari ini, aku akan sekolah di sini]
Juvelian terdiam tidak bisa berkata kata.
'Sejak kapan kak Alan ada di sini?' teriak Juvelian di dalam hatinya.
Saat itu juga Juvelian, dengan perkataan Allen semalam "Lian, mulai besok Alan akan menjagamu selama aku pergi dan seterusnya".
'Jadi, ini maksudnya...' teriak Juvelian di kepalanya.
Guru wali kelas kemudian segera berbicara dengan senyum murah hati
"Aku suka semangatmu, kamu adalah wakil ketua kelas sekarang"
'Kenapa tiba tiba? Tadi tiba tiba membuatku menjadi ketua kelas sementara, sekarang kak Alan jadi wakil ketua kelas. Kenapa hari ini aku benar benar tidak beruntung' teriak Juvelian di kepalanya.
"Karena belum pernah menjadi wakil ketua kelas, jadi mohon bantuannya Lian" katanya yang tersenyum ceria dan menyadari dirinya yang menyebut nama Juvelian dengan 'Lian'
Dengan cepat membuka bibirnya lagi "Eh, tidak. Maksudnya mohon bantuannya ketua kelas".
Guru wali kelas menatap ke arah wajah Juvelian dan Alan dengan teliti secara bergantian.
Kembali membuka mulutnya dan berkata
"Apa kau dan Juvelian star light adalah saudara?" tanya guru wali kelas mereka yang penasaran.
"Iya tapi, aku dan Juvelian adalah saudara kembar yang lahir beda beberapa menit".
Setelah anak anak mulai ribut tentang dua pasang anak kembar yang ada di kelas mereka.
Yang satu adalah Juvelian dan Alan sedangkan yang satunya duduk di belakang meja Alan dengan memancarkan aura yang elegan dan misterius di saat bersamaan.
Saat mereka masuk ke dalam sekelas setelah Lima sekawan dan anak perempuan yang lain, sebagian besar teman sekelas mereka juga mengarahkan pandangan mereka ke si kembar.
'Karena jenis kelamin mereka berbeda, apakah mereka kembar fraternal (tidak identik)? Tetapi keduanya jika di bandingkan dengan aku dan kak Allan mereka terlalu mirip' pikir Juvelian yang merasa penasaran.
__ADS_1
Melihat tatapan penasaran mereka, si kembar hanya berjalan dengan tenang dan duduk di belakang Alan dengan acuh tak acuh.
~Bersambung~