
'Kepalaku rasanya sangat berat tapi, aku kan tinggal menyapa ibu dan mengatakan perjalanannya sangat menyenangkan...'
"Arin, kau baik baik saja?" tanya ibu arin yang membuat wajah khawatir.
"Iya ibu, aku baik baik sa..." belum menyelesaikan perkataannya, Arin kehilangan tenaga dan keseimbangannya lalu pingsan di pelukan ibunya.
Ibu Arin yang melihat hal itu terkejut dan berteriak memanggil nama Arin.
[Di depan gerbang rumah Juvelian]
'Kenapa rasanya waktu berjalan lamdi saat seperti ini?' pikir Juvelian yang ke kiri ke kanan.
Rasanya aku ingin sekali berteriak seperti ini
'Padalah kupikir kalian sudah akrab tapi, kenapa kalian hanya melihat ke arah jendela dan membuat keheningan dalam waktu yang lama'
Mobil berhenti tepat beberapa meter dari pintu rumah.
Alan dan Rudan keluar bersamaan dari pintu yang berbeda.
Dengan tangan yang masih memegang pintu, Rudan mengulurkan tangannya ke arah Juvelian yang masih ada di dalam mobil.
"Ayo, Juju".
Juvelian menerima uluran tangan Rudan.
Begitu Juvelian keluar dari mobil.
Para pelayan yang sudah menunggu dari tadi memberi hormat.
"Selamat datang kembali, para tuan muda dan nona".
"Antarkan tamu kita ke kamar tamu" kata Alan.
Juvelian melemparkan dirinya di tempat tidur dengan meletakkan tangannya di atas dahi.
Dalam waktu satu malam, hubungan antara Lilian dan aku berubah. Kami yang awalnya teman masa kecil, sekarang menjadi teman sekolah selama satu tahun terakhir ini.
Juvelian melihat ke arah jam dinding tanpa memikirkan apa pun.
'Padalah aku tertidur cukup lama tadi malam... Tapi rasanya aku sangat mengantuk'.
Juvelian yang kalah dengan rasa ngantuknya tertidur.
Di dalam mimpi kali ini aku melihat buku yang tersusun rapi di rak.
'Sebenarnya tempat apa ini?'
Juvelian berjalan menelusuri rak buku dan melewati rak buku yang tidak biasa.
Menyadari ada yang aneh, Juvelian mundur dan berhenti di depan salah satu rak buku.
Juvelian melihat ke arah buku buku yang tersusun paling atas, yang memiliki buku sampul berwarna emas dengan tatapan kosong.
'Hanya buku buku yang ada di rak ini saja yang berbeda dengan buku yang lain'.
Aku mengangkat tangga yang ada di rak sebelah dan memindahkannya ke arah rak yang kuinginkan.
Juvelian menaiki tangga dengan hati hati dan berusaha mengambil salah satu buku.
Buku dengan sampul emas yang sampai menutup rapat ke semua sudut dan permata berwarna warni di bagian tengah.
Buku yang di pegang dengan kedua tangan, Juvelian membalik balik buku itu dan melihatnya dengan hati hati.
Mengangkat buku ke atas dan tidak menemukan cara untuk membuka buku itu.
Aku membanting buku itu dari tempat aku berdiri dengan keras.
Melihat ke arah buku yang di bawah, Juvelian melihat yang tidak tergores sedikit pun menjadi kesal.
'Aku menyerah... Tidak ada cara untuk membukanya'.
Juvelian yang menyadari tangga yang dia naiki bergoyang, langsung lompat dan tidak sengaja menggores jarinya dengan tepian rak.
Juvelian mendarat dengan baik. Dengan satu dengkul menyentuh lantai dan satu kaki sedikit di tekuk.
Jari tangan Juvelian yang tidak sengaja tergores, menyentuh permata yang ada di tengah sampul buku.
Permata itu mulai bersinar dan menghilangkan dengan menyisakan butiran cahaya kecil yang terbang ke udara.
Melihat tepi buku yang tidak tertutup lagi, Juvelian mengangkat bukunya.
__ADS_1
'Bagaimana buku ini bisa terbuka? Jika hanya dengan menyentuh permata tersebut, pasti sudah terbuka dari tadi'.
Aku yang tidak sengaja melihat ke jariku yang terluka, menyadari satu hal. Bahwa buku ini terbuka karena terkena darah yang di letakkan di atas permata.
Juvelian membuka buku itu dan membaca isinya yang membuatnya terkejut. "Riana, Lilian, Rudan dan Jiho..." gumam Juvelian.
'Kebetulan mungkin saja bisa terjadi tapi, semua isi buku ini adalah kejadian sebelum aku kembali ke masa lalu'.
Aku yang tidak percaya dengan semua ini, membalik halaman buku ke yang paling akhir
[Riana yang meminum teh yang sudah di racuni, meninggal dengan keadaan tragis
TAMAT ]
Juvelian yang kaget dengan akhir cerita, tidak sengaja menjatuhkan buku dan membuat suara bergema.
Dari arah samping Juvelian, seseorang memegang tepi rak buku dengan aura menakutkan di sekitarnya.
"Lian, kenapa kau ada di sini?" tanya Luxia yang keluar dari arah tepi rak di samping Juvelian.
Juvelian yang kaget, berteriak tanpa suara.
Membalikkan badannya ke belakang, Aku merasa lega dengan kak Luxia yang ada di belakangku.
"Kak Luxia, kenapa kau ada di sini" tanya Juvelian.
"Itulah yang seharusnya aku tanyakan, kenapa kau bisa ada di sini?".
"Sebenarnya aku juga enggak tahu".
Luxia yang mendengar itu, menarik tangan Juvelian menuju pintu keluar dan mendorongnya keluar.
Begitu Luxia menutup pintu dengan keras, Juvelian terjatuh ke lantai.
"Barusan, kakak mendorongku...?"
"mendorongku..." gumam Juvelian ekspresi yang tidak percaya.
Di sisi lain, Lux yang melihat Juvelian mengumamkan sesuatu dengan keringat dingin di sekitar wajahnya dan mata yang tertutup dengan erat.
Lux yang merasa khawatir, langsung menggoyang goyang kan tubuh Juvelian sambil berteriak memanggil nama Juvelian.
'Apa yang Juvel lihat di dalam mimpinya sampai dia menjadi seperti ini'.
Juvelian duduk dengan tangan kanan yang menutupi wajah.
'Mimpi macam apa itu?'.
'Kalau di pikir pikir, kayaknya aku pernah melihat pintu itu deh...'
"Di mana ya..." gumam Juvelian.
'Tunggu, taman yang ada di depan pintu itu kan ada di rumah kak Luxia. Apa aku ke sana saja ya...'
Tidak sampai satu menit, aku berpikir begitu.
Suara pesan masuk di HPku terdengar dari meja di sebelah tempat tidurku.
[Lian sayang, selama beberapa hari ini, kau tidak bisa datang ke sini karena aku akan ikut acara].
Melihat isi pesan yang di kirimkan oleh Luxia, Juvelian terdiam untuk beberapa saat.
'Kakak, kau sengaja ya?'.
Lux yang pusing sebentar, bangkit dari lantai dan terbang ke atas tempat tidur Juvelian.
"Kenapa kau tiba tiba memukulku? Padalah aku sudah membantumu untuk bangun dari mimpi buruk" teriak Lux yang membuat telinga Juvelian sakit.
"Ma, maaf, Lux"
Lux melihat Juvelian sebentar dan mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan tangan yang di lipat.
"Kau marah ya, Lux" kata Juvelian yang masih melihat Lux marah.
"Bagaimana kalau aku kasih coklat. Tapi, jangan marah lagi ya?"
Lux melirik ke arah Juvelian yang tertarik dengan coklat yang di katakan Juvelian.
"Baik, berikan aku coklat. kau harus janji" Kata Lux yang memberikan jari kelingking.
Juvelian tersenyum sambil menyentuh jari kelingking Lux dengan jari kelingking miliknya. "Iya, aku janji".
__ADS_1
'Aku harus menghentikan kebiasaanku yang memukul Lux karena mimpi buruk. Jika tidak, jatahku untuk memakan coklat dalam waktu satu bulan akan habis sebelum waktunya'
[Di dalam kamar Arin]
Arin yang mulai menggerakkan tangan dan mengedipkan matanya.
Mengangkat tangan, mengarahkannya ke arah ibunya
"Ibu..."
"kau sudah sadar,Arin?"
Arin melihat ke sekeliling ruangan.
"Ibu, sebenarnya apa yang terjadi?".
Ibu Arin berjalan ke arah Arin yang masih berbaring di atas tempat tidur.
"Arin, apa kau lupa memakan obat lagi?" tanya ibu Arin yang menyentuh dahi Arin.
"Karena aku pikir enggak akan menginap, jadi aku enggak bawa bawa obatnya..."
Ibu Arin menghela nafas dan menurunkan tangannya yang menyentuh dahi Arin.
"Lain kali, kau tidak boleh lupa membawanya bersamamu"
Arin bangkit dan duduk di tempat tidur dengan kepala menunduk.
"Ibu, berapa lama lagi aku harus memakan obat itu?".
"Suatu hari nanti, kau pasti akan berhenti meminum obat itu".
"Iya, suatu hari nanti aku pasti akan berhenti memakannya" kata Arin dengan suara sedih.
Ibu Arin yang mendengar suara Arin, berjalan ke arah Arin dan memeluknya.
"Bertahan lah beberapa saat lagi" gumam ibu Arin.
Ibu Arin melepaskan pelukannya.
"Ibu, ada urusan di luar jadi istirahat dulu".
"Baik".
Setelah melihat ibunya ke luar dari kamar, Arin melihat ke arah jendela yang ada di dekatnya.
"Sebenarnya penyakit apa yang kumiliki..." gumam Arin.
Berhenti melihat ke arah jendela, Arin memegang selimutnya ke erat.
'Waktu pertama kali masuk sekolah dasar, aku punya satu teman yang dekat denganku'
'Tapi karena dia melihat aku yang mengkonsumsi obat yang tidak jelas, temanku di sekolahku yang dulu meninggalkan ku'.
'Setelahnya ada rumor kalau aku ini punya penyakit yang menular, yang pada akhirnya membuat orang orang menjauhiku. aku yang sudah tidak tahan lagi memilih untuk pindah sekolah'
Arin melihat ke arah botol obat yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya.
'Sama seperti anak yang lain, kadang ada saatnya aku curiga dengan obat itu'
'karena itu aku pernah beberapa kali berhenti mengkonsumsi nya, tapi sebagai gantinya aku akan pingsan atau rasanya seperti jantungku di tusuk tusuk'.
'Tapi Juvelian berbeda. dia, seperti orang akan selalu bersinar dalam keadaan apa pun. Karena itu, aku kadang iri dengannya yang tidak peduli apa yang orang lain katakan baik itu benci atau pun rasa tidak suka'.
'Sebenarnya aku sih tidak peduli dengan yang lain tapi, bagaimana jika Juvelian juga sama seperti yang lain karena melihatku mengkonsumsi obat yang tidak jelas'.
"Selama ini aku bisa menyembunyikan tentang aku yang mengkonsumsi obat itu, tapi di dunia ini kan tidak ada yang nama abadi..." gumam Arin.
Menghela napas dan melanjutkan gumaman nya "cepat atau lambat pasti akan ketahuan.
Dari arah pintu kamar Juvelian, seseorang mengetuk pintu beberapa kali.
"Siapa?" tanya Juvelian yang melihat ke arah pintu.
"Ini saya Lia, Nona"
"Ada apa?" tanya Juvelian.
"Tuan, nyonya dan tuan muda Allen sudah pulang. Jadi meminta nona untuk turun ke bawah cepat mungkin".
Lia, pelayan pribadiku selama satu tahun ini.
__ADS_1
Kecuali sifatnya sih, aku tidak tahu harus mengatakannya bagaimana tapi tidak peduli apa yang aku lakukan atau yang ku pakai dia selalu memujinya dengan tersenyum bahagia, karena itu aku mencurigainya.
~Bersambung~