
""maaf, juju kau pasti terkejut" kata rudan.
"darimana kau tau kalau aku ada disini?"
Tanya juvelian yang melihat mata rudan.
Rudan melihat ke arah bahu juvelian tempat dimana lux kembali duduk dibahu juvelian.
'ada apa dengan manusia ini? Dia tidak mungkin melihatku kan?' menggeleng gelengkan kepalanya lux berpikir 'itu tidak mungkin! Karena hanya juvelian yang bisa melihatku'.
"jadi sebenarnya... Aku..." kata rudan yang tidak berani melihat ke arah mata juvelian.
Melihat rudan yang seperti itu, juvelian menghelaan napas dan berkata "kau enggak perlu mengatakannya jika tidak ingin".
Mendengar hal itu rudan langsung melihat ke arah mata juvelian "bukan begitu, tapi..." kata rudan dengan ragu ragu.
"katakan lah jika kau sudah siap mengatakannya" setelah mengatakan itu juvelian membalikkan badannya dan berjalan
Melewati rudan.
Kembali ke waktu sekarang.
"karena masih ada waktu sebelum bel berbunyi"
"aku harap kau mau berbicara denganku di tempat yang lebih sepi" kata juvelian dengan suara yang amat sangat pelan.
[lux, kau pergi lah bermain di luar] kata juvelian dengan telepati.
[kenapa?] tanya lux. [ada yang harus aku bicara dengan rudan] kata juvelian.
[baiklah...] setelah mengatakan itu lux terbang dan keluar dari jendela yang ada di koridor.
Di tangga menuju ke lantai lima.
Juvelian yang tangan kiri memegang lengan kanannya dan melihat ke arah mata rudan yang berdiri di depannya.
"rudan, apa perjanjian hari itu masih berlaku?" tanya juvelian.
memiringkan sedikit kepalanya, rudan tersenyum tipis "tentu saja masih, aku kan sudah bilang akan menunggu jawabanmu" kata rudan.
"baiklah... jadi" kata juvelian dengan ragu ragu. "aku akan ikut dalam perjanjian hari itu"
"mari kita pura pura pacaran"
Kata juvelian yang mengepalkan tangan sebelah kanan, yang dipegang oleh tangan kirinya.
Mendengar hal itu rudan langsung memasang wajah cerah "baiklah, mari kita pacaran" kata rudan yang menutup kedua matanya dan tersenyum cerah.
Setelahnya rudan dan juvelian masuk ke kelas bersama sama dengan suasana aneh di antara mereka.
Berbeda dengan bayangan juvelian yang mengira akan menjadi lebih dekat dengan
Rudan.
tapi rudan yang melihat ke arah jendela dengan wajah tersipu membuat suasana diantara mereka menjadi canggung.
'kenapa dia tidak mengatakan apa pun? '
__ADS_1
Kata juvelian dalam hatinya yang melihat ke
Arah papan tulis, menunggu guru datang.
Sampai istirahat makan pun rudan tidak mengatakan apa pun pada juvelian.
Di koridor depan kelas.
"juvelian, kau habis menolak pernyataan cinta dari rudan" kata salah satu teman sekelas juvelian.
Juvelian yang kaget hampir berteriak "apaa?!?!".
'kenapa gosipnya jadi kayak gitu... Gosip benar benar menakutkan' kata dalam hatinya.
Tubuh juvelian merinding seketika seakan ada hantu di sekitarnya.
Teman sekelas juvelian yang kaget melihat reaksi juvelian, berkata "enggak ya...? Gosipnya sih kayak gitu".
"ngomong ngomong... katanya kau berteman akrab dengan rudan, apa itu benar?" setelah mendengar itu wajah juvelian berubah serius
"emangnya kenapa?" tanya juvelian dengan wajah seram.
"kalau aku berteman akrab dengan rudan, kau ingin pacaran dengannya karena kau merasa tidak enak jika aku dan rudan pacaran?" kata juvelian yang tersenyum dengan aura menakutkan.
"ju, juvelian... ada apa dengan wajahmu?" tanya yeri yang ketakutan.
'rasanya aku ingin banget bilang begitu' kata juvelian dalam hatinya dengan mengepal tinju pada tangannya.
"Karena kami duduk bersebelahan" kata juvelian dengan tenang.
"kalau begitu, kau pasti tahu nomornya"
"kalian kan duduk bersebelahan"
'nama anak ini yeri salah satu dari beberapa orang yang selalu bertanya tentang lima sekawan'
'jika sebelum kembali ke masa lalu dia bertanya saat kami kelas 2SMA'
Kata juvelian di dalam hatinya dengan ekspresi serius.
Dari arah belakang yeri terdengar suara arin
"hei kalian menghalangi jalan".
"dari pada kalian berdiri di sini dan membuang buang waktu, lebih baik kalian kembali ke kelas kalian" kata arin dengan tatapan tajam ke arah yeri.
Setelahnya yeri menggertak giginya dan pergi ke arah yang berlawanan dengan kelas.
"yang benar saja dia tidak mungkin jadi pikun karena tidak mendapatkan nomor telepon orang yang bernama rudan itu kan?" gumam arin yang tercengang.
"kau mendengar pembicaraan kami?" tanya juvelian dengan tatapan curiga.
"jadi... itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian jadi... " kata arin dengan wajah panik.
juvelian menghela napas sebentar "jadi kau mendengarnya ya" kata juvelian.
"maaf... " kata arin yang sedikit menunduk dengan tatapan menyesal.
__ADS_1
"tidak apa apa kok" jawab juvelian.
"kalau gitu aku kembali ke kelas ya!" kata arin.
Arin berada di kelas 1-7 yang berada di sebelah kelas juvelian.
setelah Arin berjalan melewati juvelian dan juvelian mengikutinya dari belakang dan berhasil menyusul arin.
"terima kasih" kata juvelian sambil tersenyum. "untuk apa?" tanya arin dengan ekspresi bingung.
[apa dia tidak tahu, bahwa baru saja membantumu?] kata lux yang kembali masuk dari jendela di koridor.
[kayaknya iya deh] jawab juvelian yang sedikit terkejut.
"lupakan yang aku katakan. Tapi kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya juvelian.
mengulurkan tangan tangannya, arin tersenyum dan berkata
"namaku arin dari kelas 1-7, dan kau? "
Juvelian menjabat tangan arin dan berkata
"namaku juvelian dari kelas 1-6. Senang bertemu denganmu".
suara Bel berbunyi. Juvelian melepaskan tangannya dan berkata "ah, bel sudah berbunyi mari kita bicara nanti'. Juvelian berlari ke arah kelasnya sambil melambaikan tangannya.
Arin dari kejauhan membalas lambaian tangan juvelian.
Di kelas 1-6.
lux kembali duduk di bahu juvelian dengan mata yang tertuju pada buku tulis juvelian.
[lux, kenapa kau kembali lagi? ] tanya juvelian sambil menulis dan mendengarkan pelajaran yang di berikan guru.
[jadi sebenarnya...] kata lux yang sedikit ragu ragu.
Beberapa waktu yang lalu...
Lux yang kelelahan bermain, akhirnya tertidur di atas bunga bunga yang bertumpuk -an dan seekor anak kucing berlari ke lux.
Menyadari ada hal berbahaya lux terbang menjauh. tapi sisa sisa air hujan yang ada di daun mengenai sayap lux dan membuatnya terjatuh.
Anak Kucing yang mengejar lux, berlari lebih cepat ke arahnya. Melihat hal itu lux bangkit dan berlari dengan cepat sambil berteriak "mama...! Tolong aku! "
.
Kembali ke waktu sekarang.
[benar benar menakutkan...]
Juvelian yang mendengar hal itu menahan tawa sekuat tenaga.
[jadi bagaimana kau bisa lepas dari anak kucing itu?] tanya juvelian dengan telepati.
Mengangkat kedua bahunya lux menjawab [sejak awal anak kucing itu tidak bisa melihatku dan hanya dapat merasa keberadaanku.] kata lux sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Setelah berhenti menggeleng gelengkan kepalanya, lux menyambungkan perkataannya [aku memanjat pohon dan menunggu sayapku kering sampai aku melihatmu dari jendela dan terbang ke arahmu]
__ADS_1