
Karena vampir itu berdiri di hadapannya, Juvelian dengan cepat segera membuka pintu di sisi lain
Begitu terbuka, jarak jalan keluar dengan dia sangat dekat. Hap! Juvelian melompat keluar dari sana
Para hantu juga sempat mengejarnya
tapi begitu dia berada diluar Allen dan Luxia yang sudah bersiap segera melakukan bagian mereka
Allen langsung menutup pintu dengan sedikit suara di banting dan menahannya sementara Luxia mengunci pintu itu, kuncinya sudah ada di pintu
Bagi kalian yang penasaran dari mana kertas kuning yang Juvelian gunakan tadi, dia dapatkan saat mencari alat yang terjatuh di bab sebelumnya
Ketika pertama melihatnya, Juvelian merasakan perasaan familiar dan juga berpikir itu akan berguna jadi dia bawa aja
'Mau di dunia mana pun yang pernah aku tinggali, vampir bisa di hentikan dengan kertas kuning yang ada tulisan aneh kalau drakula dia akan jadi abu kalau kena sinar matahari'
Juvelian mengangguk sambil mengingat kembali kenangan indah masa kecilnya saat melihat animasi komedi yang ada hubungannya dengan vampir atau drakula
Mereka dengan santai kembali berjalan hampir menuju ke pintu keluar tapi siapa yang menyangka itu bukanlah akhir
Ketika pintu terbuka mereka malah mendapatkan diri mereka yang terjebak di puluhan kaca yang sangat besar karena cermin- cermin itu ada di setiap tempat ruangan ini terasa luas sekali
Meski Alan naik ke bahu Allen dan mencari jalan keluar dari atas tidak ada gunakan karena cerminnya menyatu dengan atap
Hanya keramik putih di bawah mereka
yang menjadi penuntunnya, karena tidak menemukan ujungnya dan hanya berputar
Mereka memutuskan melihat lebih teliti dari sudut cermin sampai lantainya
Saat Juvelian mengikuti kakak kakaknya dari belakang, dia yang melihat sekilas wajahnya tergores di cermin secara tidak sengaja
Mendekatkan dirinya ke cermin di depannya 'Bukan bekas goresan tapi cerminnya retak'
'Apa pengunjung lain membuatnya retak?' dengan perasaan janggal, dia memperhatikan setiap sudut cermin
Ketika melihat bagian bawah, ada celah yang hanya ada di antara cermin itu dan sampingnya
Dengan lembut, dia mendorong cermin itu dan mendapatkan ruang lain sama dengan tadi
Begitu satu langkah dia menginjak bagian belakang cermin itu, anehnya kaki malah meninjak udara dan karena kagetnya dia berteriak
Mereka segera berbalik melihat ke keramik itu, segera Juvelian yang jatuh terduduk berkata "Aku baik baik saja"
Luxia berjongkok bertanya "Lian bagaimana keadaan di sana?"
"Tunggu sebentar" Dia menyalakan kembali alat itu melihat lihat sekeliling di sana sangat sempit dan anehnya hanya ada gorden hitam
'Jalan keluar di peta itu ada di lantai satu bukan dua, jadi begitu' pikir Luxia sambil tersenyum tipis
Meletakkan telapak tangannya di lantai dengan kuat Luxia tanpa ragu melompat
ke sana
"Hei, kalian lompatlah ini jalan keluarnya"
__ADS_1
Meninggalkan Allen dan Alan di belakang, mereka berjalan lebih dulu keluar dari sana
Begitu mereka membuka pintu suara terompet menyambut mereka
"Selamat untuk anda sekalian"
Setelah mendengar ceritanya sebenarnya mereka adalah orang pertama yang berhasil keluar dari sana bulan ini
Memang pernah ada sekelompok orang yang berhasil sampai ke ruangan cermin tapi mereka tidak bisa menemukan pintu keluarnya dan menyerah
Kemudian, mereka berjalan tanpa arah masih menentukan apa yang akan mereka mainkan selanjutnya
Segera suara seseorang yang
mempromosikan stannya terdengar di
antara orang orang yang juga melakukan
hal yang sama tapi itu yang paling menarik minat Luxia
Luxia memegang pistol dengan satu tangan, mengarahkan nya ke papan
sasaran yang ukurannya sangat kecil
Bidikan pertama mengenai lingkaran di
tengah dengan dengan sedikit senyum puas di bibirnya
Dia terlihat alami saat melakukannya tidak lebih tepatnya saat memegang pistol itu seolah olah dia sudah terbiasa
Tapi ketika dia ingin membidik lagi, seseorang sudah lebih dulu menghancurkan papan sasaran
Menoleh ke samping dia melihat Allen yang tersenyum mengejek "Ada apa nona predator Luxia? kau kehilangan mangsa mu?"
Sepertinya pertengkaran mereka tidak akan hanya sampai di situ, mereka berdua terus menghancurkan papan sasaran dengan wajah santai tapi di dalam hati ada aura mengerikan
Sementara Juvelian dan Alan yang
menyadarinya segera mundur perlahan lahan dari sana
"Kami akan mencari permainan yang lain saja"
Bahkan ucapan mereka tidak di dengarkan, Juvelian berjalan sambil melihat ke sana kemari seperti sedang mencari sesuatu
'Biasanya ada di sekitar sini'
Sekarang setiap mereka melangkah mulai ada arcade tapi yang dia cari belum ke temu
Seketika matanya berbinar melihat sesuatu 'Itu dia! Pukul tikus'
Dulu kalau sedang stres atau emosi karena tugas yang banyak di akan meluap
kan amarah nya ke dalam mesin game ini
"Hei, bukannya itu harus pakai koin"
__ADS_1
Segera Juvelian mengeluarkan kantong yang penuh dengan koin sambil tersenyum tipis
"Kak Luxia membelinya sebelum ke rumah
hantu dan dia bilang ini hanya untuk ku"
"Apa apaan? kenapa hanya kau?"
"Pftt aku bercanda. dia bilang kita bisa menghabiskan bersama"
Sebelum memulainya permainan Juvelian pemanasan dulu dan memasukkan satu koin segera tangannya memegang pemukul bersiap memukul
Sejak dulu ada yang bilang menumpuk stres itu enggak sehat karena itu kau harus meluapkannya dengan cara yang benar
Begitu satu tikus keluar di langsung memukulnya sambil berkata dalam hati
'Ini adalah tugas sekolah yang sangat menyebalkan. Aku benar benar menderita karena kalian. Arghhh apa lagi masa ujian itu masanya stress'
Melihat tikus ber warna coklat dia teringat pada Riana 'Kalau ini adalah diriku yang pernah terkena sihir sampai berpikir aku mencintai dia'
'Menyakit hati Rudan yang sangat baik pada mu dan sekarang malah pacaran dengannya. Juvelian kenapa kau jadi sampah masyarakat?!'
'Dan kau yang warna abu abu adalah Jiho yang sangat menyebalkan'
Seketika ejekan Jiho berdengung di telinganya bertubi tubi "Kenapa kau begitu pendek?"
"Pendek pendek pendek dasar pendek" Jiho mengatakan itu dengan bernyanyi
"Apa kau anak SD?"
Tiba tiba pegangannya semakin erat
'Hah? pendek ya?'
Mengangkat tangannya sedikit tinggi di menatap tikus tikus dengan tatapan berapi dan sinis
'Aku termasuk yang paling tinggi di antara anak perempuan tahu!!!'
'Jiho aku membenci mu menghilang lah kau dari dunia'
Dia memukul semuanya dengan cepat dan kuat sampai membuat Alan takut
"Apa kau punya dendam pada mereka?"
[Rekor Baru]
itulah yang tertulis di layar yang membuat nya membuang napas lega "Kau nggak mau coba?" katanya sambil menyerahkan pemukul pada Alan
Alan sedikit ragu tapi dia menerimanya
dan segera mencoba permainan, seperti-
nya ini pertama kalinya baginya
Dia memukul dengan wajah tegang dan bingung melihat tikus yang keluar semakin cepat
__ADS_1