
Selanjutnya sesuatu yang lebih mengejutkan ku terjadi, Jiho tiba- tiba melirik ke arah sini dan segera melihat ke arah lain
Kemudian dia berdiri dan berjalan ke depan dengan aura yang membuat kami takjub, setelah berhenti melangkah dia diam di tempat
Gadis- gadis yang duduk di depan ku, menatapnya dengan wajah tersipu
Ngomong ngomong dia berdiri dengan percaya diri di depan seperti biasanya, ketika mereka menatapnya dengan tersipu dia terlihat tidak tertarik
"Lilian?"
masa seperti mereka aku juga ikut bingung,
'Apa yang dia lakukan, apa mungkin...'
aku mengerti sekarang, di awal masuk sekolah dia mencari Lilian dengan alasan yang unik
Dia kemudian melihat sekeliling kelas dengan mata coklat gelap yang dingin "Apa tidak ada yang namanya Lilian di ruangan ini?"
Mereka menoleh ke sana sini mencari yang namanya Lilian, aku juga melihat ke sana sini sama seperti mereka
Tapi apa akan ketemu kalau di antara kami tidak akan bilang begini
'Ada di sini! dia duduk di sebelah ku' sayangnya aku tidak mungkin bilang begitu
Aku jadi terdengar lebih jahat ketika aku memikirkan itu, Lilian yang duduk disamping kursiku mengangkat tangannya
"Itu aku" kata Lilian
Jiho yang semula berdiri di depan melangkah ke arah Lilian dan bertanya
"Apakah kau yang mendapatkan nilai tertinggi saat masuk sekolah?"
Sayangnya Jiho tidak tau Lilian juga selalu mendapat peringat pertama saat SD dan SMP
__ADS_1
“Ya, jadi apa?” Dia bertanya dengan melihat ke depannya dengan sikap sedingin es
Aku bisa merasa perang dingin di sebelah, sedikit menakutkan
Saat aku melihat sekeliling, ada gadis-gadis yang menggigit kuku mereka sambil menatap benci pada Lilian
'Haah, Pada akhirnya semua sama seperti dulu'
"Dasar perempuan yang sombong mentang mentang kau pintar kau bisa berbicara seperti itu kepada Jiho kami dari Empat sekawan…!" gumam beberapa gadis
Tapi sisi lain beberapa anak laki laki merasa kagum dengan keberanian Lilian dan berkata "bagimana dia bisa memiliki keberanian sebanyak itu"
Akan lebih baik untuk tidak mendengarkan, saat aku menoleh ke samping , Lilian dan Jiho, masih saling menatap, tidak menyerah satu sama lain
Mereka saling menatap dengan sangat tajam, tatapan mereka begitu serius sehingga penonton bisa mengira mereka sedang 'bermain tatap mata' satu sama lain
Keduanya cukup keras kepala hingga tutup mulut untuk sementara waktu, yang pertama memecah keheningan adalah Jiho
Dia berkata, "aku tertarik padamu. Tapi aku tidak akan memberi peringakat pertama kepada kau untuk selanjutnya, nona"
"Aku rasa tidak. Apakah kau benar-benar berpikir bisa mengalahkanku?" tanya Lilian dengan tatapan yang tidak menyerah
"Kita lihat saja nanti" Jiho menjawab dengan sombong lalu berbalik dan melambaikan tangannya dia memamerkan seringai tipis di akhir
Itu membuatku berpikir 'apa dari sini mereka saling suka dan jatuh cinta? Jika iya mereka lebih hebat berakting dari pemain film papan atas'
Riana yang melamun dan berpikir serius tidak sadar sudah jam pulang "karena memikirkan banyak rencana aku tidak sadar sudah jam pulang" gumam ria.
Di samping Riana, Lilian yang menunggu Riana yang sedang merapikan barang barangnya, berkata dengan senyum cerah di bibirnya "Ayo kita pulang bersama"
Hal itu membuat Riana terpikir sebuah rencara yang akan membuat Lilian tau bagaimana rasanya dikhianati
Sama seperti kau yang mengkhianati ku aku akan membuatmu merasakan di tinggalkan oleh sahabatmu sejak kecil
__ADS_1
Lima hari sudah berlalu sejak hari itu dan ini hari sabtu yang sudah aku tunggu selama ini
'Aku lagi lagi pulang bersamanya...'
Sebelum pergi ada yang ingin aku tanyakan padamu
Dengan ragu aku membuka bibirku dan berkata "Lili, apa kau percaya pada reinkarnasi?"
"Reinkarnasi? Entahlah, tapi jika bisa berteman denganmu lagi di kehidupan selanjutnya aku percaya" jawab Lilian dengan senyum hangat
"Iya, mari kita berteman lagi" jawab Riana dengan ceria
'Tapi bohong!' ucap ria dalam hatinya sambil mengepal tinju di tangannya
Setelahnya Riana mendengar gumam Lilian " dan jika salah satu dari kita terlahir sebagai laki laki, kuharap kita bisa menikah"
Begitu mendengar itu Riana merinding dan berpikir ada yang salah dengan telinganya
Riana memilih untuk diam, tanpa sadar aku dan Lilian sudah berdiri di apartermen dan tidak berada lama Lilian mengantar ku sampai di depan pintu
Riana melambaikan tangannya dan berkata dengan ceria "selamat tinggal"
Lilian pun juga melambaikan tangannya dengan senyum sedih seakan akan dia enggan untuk berpisah
Begitu di rumah, ibunya sudah menunggu kepulangan Riana dan berkata "Nona, ini surat dari keluarga anda"
'Akhirnya surat ini datang juga...' Riana yang berpikir begitu sambil tersenyum tipis
~Bersambung~
__ADS_1