Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 50


__ADS_3

Hai! semuanya


Kalian kangen sama saya enggak? pasti kangen kan? cuman bercanda kok


Karena usah lama enggak update, hari ini saya


akan update tiga bab


Terima kasih sudah tunggu sampai tanggal


19 januari 2022


Selamat membaca semuanya!


Tadi pagi saat di meja makan, wajah mama dan papa benar benar terlihat lesu seperti tidak tidur selama berhari hari.


Saat aku bertanya pada mama yang terjadi,


papa dan mama mengangkat tangan kanan mereka untuk menyuruh pelayan yang ada di ruang makan keluar dan menutup pintunya.


Melihat tidak ada lagi orang asing di dalam ruangan kecuali mereka berempat.


Mereka menurunkan tangan dan memasang wajah serius.


Keheningan mencekam mulai terasa di antara mereka, Ain (Papa Juvelian) membuka bibirnya memecahkan keheningan


"Hasil tes DNA-nya sudcah keluar dan hasilnya adalah anak itu memang anak kandung kakak"


Mata Juvelian dan Alan terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


'Sejak awal semuanya berjalan sangat berbeda dengan masa lalu yang ku tahu'.


Meskipun aku di masa lalu, aku tinggal dengan ibu Mira tapi aku tetap bisa mengetahui apa yang terjadi dengan keluargaku karena ibu Mira adalah tangan kanan mama


Bibi Julia yang merupakan istri paman Regis,


Adalah seorang selebriti yang menjadi terkenal dalam waktu singkat.


Karena rambut hitam berkilau yang segelap langit malam menjadikannya mudah di ingat.


Kisah cinta mereka layaknya dongeng putri salju, di mana sang pemeran utama wanita memiliki rambut hitam yang tertidur karena di racuni dengan menggunakan apel dan pangeran yang membangunkannya dengan ciuman cinta sejati.


Paman Regis menyelamatkan bibi Julia yang hampir menjumpai malaikat kematian, meskipun aku tidak tahu bagaimana paman Regis dan bibi Julia saling jatuh cinta.


Tapi jika membahas tentang dongeng putri salju aku lebih suka cerita dongeng putri salju yang lain, di mana sang putri tersedak apel dan terbangun setelah apel yang nyangkut keluar dari tenggorokan


Karena salah satu prajurit kehilangan keseimbangan dan peti matinya jatuh.


Emangnya masuk akal jika ciuman cinta sejati bisa menjadi penawar racun


Jika dengan ciuman cinta sejati bisa jadi penawar racun maka di dunia ini orang tidak perlu membuat penawar racun atau mati karena itu bisa ular atau tumbuhan beracun.


Juvelian terdiam sebentar memikirkan kembali alur cerita dari dongeng putri salju.


'Atau mungkin bukan racun tapi kutukan? Dan putri yang tersedak apel itu, apa cerita putri salju? '


Juvelian menyentuh dahinya dengan jari telunjuk sambil memejamkan mata dan memikirkan baik baik dongeng putri salju.


Mendengar suara mama menghela napas panjang, Juvelian membuka matanya dan melihat mamanya yang seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu ragu untuk mengatakannya.


"Pasti lebih baik jika kakak ipar masih ada di dunia ini"


'Bibi Julia yang menghilang lebih dari satu dekade dalam keadaan masih mengandung, meninggalkan tanda tanya bagi orang orang'


Karena tidak ada yang tau seperti apa wujud anak bibi Julia dan paman Regis.


Banyak orang yang mengaku dan mengatakan mereka merawat anak bibi Julia yang tidak di ketahui dunia.


Anak yang di bawa biasa punya rambut berwarna hitam atau perak dan mata perak seperti ada kristal di dalamnya.


Dari yang aku dengar dari mama, warna mata bibi Julia pernah menjadi trend karena sangat unik dan bisa di bilang satu satunya di dunia ini.

__ADS_1


Tapi hasil tes DNA yang keluar berbeda dengan apa yang mereka katakan.


Setelah beberapa tahun tidak ada lagi anak yang mengaku sebagai anak bibi dan paman


Saat mendengar ada lagi yang mengaku sebagai anak paman Regis, aku lumayan terkejut.


Tapi siapa yang menyangka kalau hasil DNA yang keluar berbeda dari yang lain.


"Kakak ipar ingin kalian mengunjungi rumahnya dan bertemu dengan 'Regina'"


"Regina? Apa itu namanya?"


Mama hanya mengangguk dengan ekspresi yang khawatir dengan sesuatu.


Alan yang sudah bersama dengan keluarganya sejak lahir, bisa mengerti jika terjadi sesuatu hanya dengan melihat ekspresi mamanya walau hanya memperlihatkan sedikit ekspresi saja.


"Mama, apa terjadi sesuatu?" tanya Alan.


Mama mereka hanya diam menutup mulut rapat rapat.


Meletakkan tangannya di atas tangan istrinya yang ada di atas meja.


Ain(papa Juvelian) sedikit mengangguk, melihat suaminya yang berpikir lebih baik memberi tahu anak anak mereka dia menghela napas dan membuka bibirnya yang di tutup rapat rapat.


Meskipun masih berat untuk mengatakannya dia akhirnya mengatakannya setelah berpikir panjang.


"Regina... anak itu lebih baik kalian menjauh darinya"


kata Feliana (Mama Juvelian) sambil memasang ekspresi sangat serius dengan yang berkeringat.


Juvelian dan Alan menelan ludah mereka sendiri karena mengerti dengan apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh mama mereka.


Mama mereka yang selalu tersenyum hangat pada siapa saja dan selalu bersikap elegan dan tenang, tidak menilai orang lain dalam waktu singkat sampai memikirkan apakah orang itu baik atau tidak.


Sampai kebingungan dan ragu ragu dalam mengatakan sesuatu tidak seperti biasanya.


Dan tidak pernah mengambil keputusan dengan terburu buru dan selalu berpikir baik baik dulu baik itu dalam bertindak atau pun berbicara.


'[walau wajahnya terlihat polos dan ceria, jangan percaya dengan semua itu] itu yang sebenarnya ingin mama katakan'


Kata Juvelian dan Alan dalam hatinya.


Juvelian menatap mata Alan dengan ekspresi datar begitu juga dengan Alan.


Melihat kedua orang tua mereka yang ada di mereka dan mengangguk tanda mereka mengerti.


'Melihat mama yang tidak mengatakannya secara langsung, pasti masih ada orang lain di dalam ruangan ini atau...'


Juvelian yang mengangkat sendok, tidak sengaja melihat seseorang mengintip dari pintu dengan menggunakan pantulan.


Karena terlalu kaget Juvelian terdiam dengan ekspresi datar, Alan yang menyadari ada yang aneh dengan Juvelian.


Ik2\ut melihat ke arah sendok yang pegang Juvelian.


Mata Alan mulai membesar dan berusaha memberi tau kedua orang tua mereka tapi mereka hanya mengabaikannya dan fokus dengan makanan yang ada di atas piring mereka.


Juvelian menginjak kaki kanan Alan dengan kaki kirinya sambil tersenyum dan memasukkan kentang goreng ke mulut Alan.


Alan hanya bisa menahan rasa sakit yang merambat ke seluruh tubuh.


"Enak..." kata Alan yang menangis dalam khayalannya.


"Oh, kakak mau lagi?" tanya Juvelian yang sedikit memiringkan kepala.


Alan mengangguk, Juvelian menatap mata Alan yang mengatakan [Bersikaplah seakan kakak tidak melihatnya].


[Aku ini tidak bodoh tau] balas Alan.


*****


Sudah lama aku tidak ke rumah paman, tapi yang membuatku penasaran adalah bagaimana wajah anak itu.

__ADS_1


Mama bilang dia satu tahun lebih tua dari kami.


Karena umurnya sesuai dengan saat bibi Julia menghilang, keraguan padanya sedikit berkurang.


Meskipun yang paling mengejutkan adalah kami satu sekolah.


Begitu limosin berhenti dan pintu terbuka, Juvelian menginjakkan kakinya di atas batu putih yang tersusun rapi menuju pintu rumah.


Mengangkat kepalanya melihat ke depan, seseorang gadis dengan rambut hitam gelap yang tergerai sampai pinggang dengan baju terusan berwarna putih polos sampai di bawah lutut.


sambil memegang payung dan berdiri melihat ke arah matahari.


Juvelian yang berada jauh di belakangnya hanya bisa melihat punggungnya tidak bisa melihat wajah orang itu.


Keluar dari limosin dengan Alan yang menyusul dari belakang.


Juvelian melihat ke sekeliling dan merasa kagum dengan bunga yang ada di sepanjang pinggir jalan batu putih yang tersusun rapi.


'Tidak peduli berapa kali aku melewati jalan ini tetap saja masih merasa kagum'


Jalan menuju pintu memiliki jarak kira kira 12 meter.


Dengan bunga yang berganti jenis setiap satu meter dan bunga matahari yang ada di belakang dua jenis bunga, yang berjarak dua meter dari bunga matahari yang lain.


"Mawar merah, bunga matahari dan dandelion..." gumam Juvelian yang berhenti berjalan.


'Bunga mawar merah di artikan sebagai cinta sejati, sedangkan dandelion janji kesetiaan tiada akhir'


'Aku tidak tau dengan bunga matahari tapi karena selalu menghadap ke arah matahari mungkin juga di artikan sebagai kesetiaan.


Paman Regis kan selalu setia mencintai bibi Julia'


'Meskipun sudah satu dekade lebih tapi paman masih sendiri karena paman percaya kalau bibi Julia masih hidup dan akan kembali'


Karena terpesona dengan bunga bunga di sampingnya, Juvelian hanya diam dengan ekspresi kagum.


Sampai suara seseorang yang asing tapi


juga terasa familiar mengagetkannya.


"Ya ampun, Juvelian. sudah lama kita tidak bertemu, ya?"


Pupil matanya membesar, Juvelian langsung melihat ke arah suara itu.


Seseorang dengan rambut hitam gelap dan mata berwarna perak sambil memegang payung dengan kedua tangannya yang di


taruh di bahunya.


Dia tertawa kecil dengan ekspresi sombong.


Juvelian yang terkejut bergumam dengan ekspresi tidak percaya dengan apa yang dia lihat "Rambut dan matamu..."


Mendengar gumamman Juvelian dan


melihat ekspresi terkejut Juvelian, dia


terlihat bahagia dan menunjuk seringai


Juvelian terkejut karena ini pertama kalinya


dia melihat mata berwarna perak sedangkan


Gadis berambut hitam itu berpikir Juvelian


Masih mengingatnya


Dengan polos Juvelian bertanya dengan sedikit memiringkan kepalanya


"Tapi, kamu siapa ya...? Apa kita pernah


bertemu sebelumnya?"

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2