Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
bab 9


__ADS_3

Juvelian yang melihat keluar jendela sadar bahwa mereka tidak menuju rumah, dia tanpa ragu bertanya "kak, kita akan pergi ke mana?"


Allen menjawab "ada lah"


'Aku pasti akan membuat Lian terkejut saat sampai di sana, Lian pasti akan memujiku karena berhasil mendirikan perusahaan di usia muda' kata Allen dalam hatinya dengan senyuman tak jelas


Aku menggangguk dengan patuh sambil berpikir mungkin saja ada hal yang ingin kakak urus saat melihat hologram


Dan berkata dalam hatiku 'meski masih muda kak Allen termasuk salah satu miliader termuda di dunia, kakakku memang membanggakan'


Tapi sayangnya Juvelian sudah mengetahui tentang perusahaan tersebut dari media sosial yang dia lihat di masa lalu


Begitu sampai di gedung yang sangat tinggi, Allen meminta Juvelian ikut bersamanya, ketika berada di dalam dia bisa melihat banyak orang yang sangat sibuk


Allen mengajaknya berkeliling tapi sepertinya Juvelian terlihat tidak tertarik atau malah sangat bosan


Selama Allen berbicara dengan seseorang yang baru pertama kali Juvelian lihat wajahnya, dia melihat sekeliling dan menyadari satu hal orang orang yang bekerja di sini terlihat takut pada kakaknya


Melihat reaksi Juvelian yang biasa saja membuat allen bergumam "Apa mungkin Lian tidak terkesan dengan semua ini, dan menganggap inj biasa aja?"


"Anda mengatakan sesuatu tuan?" tanya seseorang yang tadi berbicara dengannya


Ketika sampai di rumah Juvelian terlihat sangat lelah dengan sinar matahari yang sangat terik hari ini


Saat melirik ke arah lain dia melihat bangunan yang cukup besar


'Aku memang sekilas melihatnya saat pergi sekolah tapi apa itu rumah kaca?'


"Kakak Allen kita pergi ke sana yuk?"


Melirik ke arah yang Juvelian tunjuk dia tersenyum tipis tanpa sebab


Allen bertanya pada lian " Lian, apa kau ingat rumah kaca ini?"

__ADS_1


Lian mengelengkan kepalanya dan berkata "tidak"


'Dia tidak ingat ya' Allen merasa sayang karena di tempat itu banyak kenangan indah


Allen tidak mungkin bisa melupakan wajah bahagia Juvelian dengan senyum cerah pada waktu itu


Hari itu saat mendapat rumah kaca sebagai hadiah yang ke empat Juvelian sangat bahagia dan saat dia, Alan, Juvelian dan seseorang mulai merawat tempat itu bersama


Allen hanya menghela napas dengan tangannya di atas kepala Juvelian sambil berkata " ya, mungkin kau lupa saat itu kau masih sangat kecil"


Sebelum membawa Juvelian ke sana dia membawanya ke tempat lain dulu, itu adalah tempat di mana mereka menyimpan perlengkapan berkebun


Allen memegang salah satu gagang pintu dan segera layar dengan huruf alfabet muncul di atasnya


Tempat ini menggunakan sistem kata sandi bukannya dengan kunci, dia menekan beberapa huruf


Ketika layar itu menghilang terdengar suara teriakan memanggil dari kejauhan "Kak Allen, Lian".


Begitu mendengar suara itu ekspresi wajah Allen yang awalnya datar berubah menjadi menakutan


Allen menyuruh kedua adiknya memilih bibit tanaman yang akan mereka gunakan, di depan layar mereka berdua sedikit bingung untuk memilih


"Lian, kau sudah menentukan nya?"


"Hm"


Sementara Allen membawa beberapa perlengkapan, Juvelian membawa bungkusan di tangannya tanpa menyadari Alan hampir mati karena membawa satu goni pupuk tanaman


"Hei, kalian tunggu aku..." merasa terlupakan


Begitu pintu terbuka terlihat kupu kupu


berterbangan, burung burung kecil berkicau dan satu pohon yang sangat besar berada di tengah tengah rumah kaca, tempat ini seperti surga kecil

__ADS_1


Allen, Alan dan Juvelian mendapat tempat dan tugas yang berbeda, selagi tangan mereka berkerja, Allen menceritakan tentang bagaimana rumah kaca ini menjadi milikku dan siapa yang merawatnya


"Papa sama mama menghadiahkan rumah kaca ini pada Juvelian dan mobil pribadi pada Alan di ulang tahun kalian yang ke empat"


"Karena sibuk dengan urusan bisnis papa mama tidak bisa pulang tepat waktu untuk merayakan ulang tahun kalian dan memberi hadiah tersebut sebagai gantinya" Kata allen


Saat Allen ingin melanjutkan cerita, Alan memotong sebentar dan bertanya dengan senyum nakal "Oh iya, saat itu Lian marah sama papa mama dan mengurung diri di kamar, apa kalian masih ingat?".


"Ya, setelah hari itu Lian tidak mau berbicara dengan papa mama bahkan berkata akan berhenti pergi ke sekolah" kata Allen


"Tunggu! apa itu pernah terjadi?" tanya Juvelian dengan ekspresi tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar


Alan tersenyum nakal sambil mencubit pipi Juvelian dan bertanya "lian pura pura lupa atau malu?"


Dalam keadaan pipi di cubit Alan, dia berkata "atu emang tak inat (aku memang tidak ingat)" suara lian sulit di mengerti karena pipi yang di cubit alan


"An singilkan tananmu mu yang olok itu"


Allen menghelas napas dengan Alan yang tidak seperti biasanya ini dan berkata "Alan berhentilah menganggu Lian"


'Tapi kak Allen aku memang tidak bisa mengingatnya...' rasanya aku ingin berkata begitu tapi bagaimana jika itu malah menyakiti hati mereka


"Jadi siapa yang menanam bunga bunga disini?"


"Setelah kau pergi rumah kaca ini kehilangan pemiliknya jadi jika ada waktu luang papa mama aku dan Alan bergantian merawatnya" jawab Allen


Memutar matanya Alan berkata dengan senyum cerah "Tapi sekarang pemilik rumah kaca ini sudah kembali".


Keesokan harinya Juvelian ke sekolah di antar Allen tapi sebelum mereka datang suasana sudah ribut


Sama seperti hari pertama masuk sekolah mereka masih saja menjadi perhatian teman sekelas tidak bahkan sekarang hampir satu sekolah


'Mengerikan...' pikirku yang merinding

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2