
Meski tatapan mereka bertemu tapi gadis itu masih sedikit linglung seolah pikirannya kacau dengan cahaya yang mendadak, Arin menduga pandangan gadis itu masih buram
Jika begitu dia mungkin belum mampu melihat keseluruhan tindakan Arin walau tangannya meraih leher gadis itu
Tatapan Arin hanya tertuju pada gadis yang dia incar tanpa memperhatikan sekeliling gadis itu
Dia tahu tindakannya sangat berbahaya jika
dia lengah dan gadis itu menyerangnya lebih dulu dia akan tamat
Ketika Arin berhasil membelokkan badannya dan hampir menahan gadis itu dari belakang
mendadak beberapa tangan meraih dirinya
Karena tindakan Arin, bukan hanya gadis itu yang kaget tapi gadis yang lain juga terkejut, mereka bertindak dengan cepat, satu orang di sebelah Arin menarik rambut Arin ke arahnya
Dan dua orang di samping gadis yang menarik rambut Arin masing masing memegang tangan dengan menahannya seolah mengunci pergerakan
Menatap raut wajah Arin, gadis itu bergidik dan tertawa terbahak bahak kemudian bertepuk tangan sambil berkata "Ide yang keluar dari kepalamu itu benar benar luar biasa"
"Bisa bisanya kau membuat kami lengah dan ingin kabur meski rencanamu gagal ada aja hal lain yang muncul"
Dengan memamerkan seringai dia bertanya untuk menggoda "Kenapa kamu tidak ikut
bergabung saja"
"Uwaah, itu memang tawaran yang bagus tapi sepertinya tidak cocok dengan sifatnya yang baik, lebih baik kalian menyerah saja. sebagai gantinya kenapa kalian tidak bermain dengan ku saja?"
Seseorang berkata begitu dengan nada yang berubah secara berurutan
Mereka yang tersentak segera berbalik dengan sedikit takut seolah mereka mengenal suara itu atau takut orang lain melihat tindakan mereka
Saat berbalik hal pertama yang mereka lihat di cahaya menyilaukan adalah Mina yang
menyilangkan tangannya, dia seakan baru keluar dari cahaya karena mereka tidak mendengar suara langkah kaki
"Ngomong ngomong aku tidak menyangka di zaman seperti ini masih ada preman" nada suara itu terdengar merendahkan mereka dengan sengaja
Ekspresi tidak suka terpancar dari mereka sementara Arin yang melihat orang di kenal datang, merasa lega tapi sekarang bukan saatnya untuk lega atau terharu karena dia masih menjadi sandera
"Hah? kau ingin bergabung?"
Mina tersenyum sambil menaikkan kedua tangannya dan meletakkannya di atas kepala, satu matanya mengintip menatap Arin seolah memberi isyarat
__ADS_1
"Hmm aku pikirkan dulu ya... aku nggak mau deh. tapi kalau kalian berlutut sambil memohon sih akan ku pikirkan ulang"
"Apa apaan?"
Arin mengerti, selama Mina mengalihkan perhatian mereka dengan mengobrol, Arin sebisa mungkin lepas dari cengkeraman mereka
Melihat mereka lengah dan gadis yang menjambak rambutnya sudah melepaskan rambutnya, dia menggigit tangan gadis di sebelah kiri yang memegang tangannya
Gadis itu berteriak kesakitan dan segera melepasnya pegangannya untuk memastikan apa akan meninggalkan bekas gigitan
Sementara Arin berusaha melepaskan tangannya yang lain dan berlari ke arah Mina, tas yang dia ikat di pinggang menjadi longgar dan terjatuh
'Acckk, burger ku...!' tas itu jatuh di depan kaki gadis yang dia gigit
Melihat bekas gigitan di tangannya dia menjadi geram Kemudian berniat memukul Arin untuk melampiaskan kekesalannya, satu langkah kakinya menginjak sesuatu
Bruk! suara seseorang yang terjatuh terdengar sangat keras, sepertinya sebelum terpeleset gadis itu tidak bisa meraih sesuatu untuk menahannya
Keheningan mengambang di udara sampai gadis itu tidak mau bangkit sakin malunya dan memilih untuk pura pura pingsan
"Ba... las kan den.. dam.. ku..." itu pesan terakhirnya sebelum pingsan
"H, Hei... kau jangan mati dulu!!"
'Teman teman... aku tidur dulu sebentar'
Temannya yang lain tidak tinggal diam dengan mulai mengincar Arin yang berada di tengah mereka, sekarang Arin berada di tengah binatang buas
Mina yang melihat tidak tinggal diam, dia dengan cepat meraih tangan Arin menariknya ke dalam pelukannya dan menukarnya ke tempat aman sambil tersenyum tanpa arah
Dengan mudah Mina membuat mereka tumbang satu persatu padahal mereka menyerah dia bersamaan, Mina membuat mereka lumpuh sambil bergerak dengan indah seolah sedang menari
Dia terlihat bahagia sampai bisa berkata seperti ini "Ah, sudah lamaaku tidak menghajar orang menyebalkan seperti kalian loh. jadi kupikir aku sudah kaku"
"Ngomong- ngomong, ini sebuah kehormatan bagi kalian tidak ku kirim ke dunia lain" kata Mina yang matanya seperti berkilau
Anehnya dia berbicara dengan seringai seakan kalimat tadi bukan di tujukan pada para gadis itu, berputar ke arah satu gadis dan menarik satu helai rambut
Rambut itu punya warna yang berbeda dari rambut yang lain, di dalam genggaman Mina itu berubah menjadi gumpalan hitam
'Gumpalan ini- !' mata Mina terbuka lebar seakan baru saja melihat hal luar biasa
Sebelum gumpalan hitam itu semakin pudar dan menyatu dengan udara, Mina menyerap mereka dengan sarung tangan yang dia gunakan
__ADS_1
Melihat semuanya terkapar, Mina menepuk tangannya sambil berjalan ke Arin yang berada di sudut dengan linglung seolah sedang mencerna situasi
"Arin kau sudah mengulur waktu dengan baik, maaf ya aku lama"
Rambut yang berantakan berhamburan terkena angin dengan wajah yang tersenyum cerah membuat sinar tersendiri yang membuat Arin terpesona sesaat
Tapi tidak menghilangkan perasan sedih setelah kehilangan burgernya, gadis yang tadi terjatuh karena sesuatu sebenarnya terpeleset tas Arin yang berisi buffer tetap di depan matanya
Arin tidak mau terlihat konyol hanya karena burger dia menangis jadi dia merubah perasaan sedihnya dengan mengingat kembali kejadian tadi
Rasa takut yang tertahan kan, hancur
seketika bersamaan dengan mata merah
segera air mata mengalir di wajahnya
'Setelah di pikirkan lagi rasanya sedih banget Huaaa burger ku hancur...! aku tidak tau kapan lagi ibu dan ayah pulang lama, padahal kesempatan untuk membeli burger sangat jarang'
"Hei, kenapa kau menangis? apa mereka
berbuat sesuatu pada mu. tidak, haruskah aku memukul mereka lagi?"
'Apa salah kami?' pikir mereka yang merasa tidak melakukan sesuatu yang melewati batas
Mina menjadi panik karena dia tau caranya menenangkan orang lain yang sedang menangis bahkan dia tidak ingat kapan terakhir kali mendiamkan orang yang menangis
Segera berbalik dengan tinju di tangannya seolah perkataannya yang tadi bukan main main
Melihat mereka sudah terkapar sampai seperti itu Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika dia memukul mereka lagi
Arin menarik sedikit ujung bajunya dengan suara pelan dia berkata "Terima kasih, terima kasih sudah datang"
Itu membuat Mina malu, dia mengacak
rambutnya sambil tertawa tanpa nada
"Aku tidak sengaja lewat dan mendengar keributan jadi melihatnya"
Dia kemudian menyentuh leher sambil
melirik para gadis yang masih terkapar, dia
agak merasa bersalah
__ADS_1
'Kayaknya Aku terlalu berlebihan deh'