Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
bab 6


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam kamar yang dia pikirkan hanya setelah cuci muka dia akan tidur ketika melewati lemari yang di kedua pintu tertempel kaca, dia berhenti


"Rambut coklat dan mata coklat" gumam Riana yang sedang melihat dirinya di depan kaca


Meletakkan tangannya di kaca sambil bergumam "Ini akan jadi hari terakhir mu di dunia ini Riana selanjutnya gadis bernama Juvelian yang akan menggantikan posisimu, selamat tinggal" dia tersenyum tipis


Aku perlahan membuka rambut palsu ku dan menyisirnya dengan hati hati, meski warna mataku ini bukan yang asli tapi bukan berarti aku menggunakan lensa kontak


Ini hanyalah ilusi, sejak kecil kakak perempuan ku memberi ku cairan yang sedikit unik jika di minum akan menjadi ilusi


Ini akan membuat iris mataku akan terlihat berwarna coklat di mata orang lain tapi tidak dengan di depan kaca makanya aku harus berhati hati dengan pantulan


Setelah aku mengucapkan selamat malam pada ibu Mira dan pergi tidur


Keesokan harinya Riana yang berdiri di depan apartemen untuk menunggu jemputan nya, bertanya pada ibu Mira yang ikut berdiri bersamanya


"Apa ibu benar benar tidak akan ikut?" ini sudah ke lima kalinya aku bertanya, ibu meraih tanganku dan menepuknya dengan pelan


"Ria, bukannya ibu sudah bilang masih banyak hal yang harus ibu urus, tapi ibu pasti akan merindukanmu karena itu kamu bisa datang kapan saja"


Riana menganggukan kepala dengan patuh, dan tidak menyadari ada sebuah limosin hitam bediri di depan mereka


Kaca jendelanya perlahan menurun dan sang supir barkata "selamat siang, nona Juvelian. Nama saya Tio"


Pintu limosin terbuka dan Riana masuk ke dalamnya setelah berpelukan dengan ibu Mira, dia tau ini bukan terakhir kalinya mereka bertemu tapi hatinya terasa sakit


Di dalam perjalanan Riana ingin bertanya tapi sedikit ragu 'Tadi dia bilang namanya Tio kan?'


Dari kaca spion, pak Tio yang memperhatikan ekspresi wajah Riana bertanya "Nona, apa ada yang ingin anda tanyakan?"


Riana tersentak, dia memang ingin bertanya tapi takut pertanyaannya mengganggu


"Pak Tio, mama papa sama yang lain ada di mana?"


"Nyonya dan Tuan sedang sibuk sementara para tuan muda ada di rumah menunggu kedatangan anda" kata pak Tio

__ADS_1


Begitu limosin berhenti pintu terbuka dan Riana segera membatu melihat di depannya ada 12 pelayan berbari vertikal


Ketika turun dan berjalan, mereka memberi hormat dan berkata "selamat datang kembali, nona Juvelian" secara bersamaan


Aku kaget karena sudah sangat lama sejak aku mendapatkan perlakuan seperti ini tapi


rasanya keberadaan ku yang di terima membuatku bahagia


'Mulai sekarang aku akan bersinar sebagai Juvelian bukan lagi riana' kata Riana dalam hatinya


(Mulai sekarang Riana di ganti jadi Juvelian)


"Terima kasih sudah menyambutku" kata Juvelian dengan sopan


Juvelian berjalan di tengah para pelayan yang masih dalam posisi mereka, ini membuat sedikit gugup


'Juvelian tenangkan dirirmu, pikir aja kalau lagi jalan sendiri di tempat ini tidak ada orang lain'


Mengangkat kepalanya melihat ke depan, di depan pintu rumah ada dua kakak Juvelian yang sudah menunggunya dengan mengulurkan tangan


"Lian... selamat kembali" kata mereka secara bersamaan


Kejadian itu sangat mengharukan sampai membuat para pelayan di sana ikut terharu, Allen yang menyadarinya segera mengambil tindakan


"Siapkan minuman dan cemilan di ruang keluarga sekarang juga"


suara Allen membuat mereka sedikit takut, salah satu pelayan di barisan dengan menjawab dengan tenang "baik, tuan muda"


[ Di ruang keluarga ]


"Jadi siapa yang manis di dunia ini tentu saja Lian, adikku yang manis dan imut. Lian... Lian... Lian... Yang manis" kata Alan yang seperti orang mabuk sambil memeluk Juvelian


"kakak Allen... Tolong aku..." kata Juvelian yang di peluk dengan erat, dia hampir mati karena lagu menjijikkan Alan


Allen mengangkat cangkir teh dan berkata "Alan..." Allen yang berkata begitu membuat mata Juvelian berbinar yang berharap di tolong

__ADS_1


"Ya... Kak?" Alan berubah menjadi kucing yang waspada


"Jangan terus memeluk Lian karena aku juga ingin memeluknya" bagi Juvelian perkataan allen bagai petir disiang bolong


Selama ini Allen yang dikenal lian adalah orang yang dingin, bahkan dengan melihat wajahnya aja akan menangis


"Tapi aku ini kan kembarannya" balas Alan


Mereka berduapun adu mulut sampai


tiba tiba suara pintu terbanting, orang tua mereka yang melihat Juvelian langsung memeluknya sambil memanggilnya Lian


Juvelian yang dipeluk orang tuanya membuat meneteskan air mata, sudah sangat lama sejak dia di peluk seperti ini bahkan tidak ada di dalam ingatannya


Ini menggerakkan hatinya dan melupakan masa lalu yang menyakitkan baginya seolah olah yang terjadi di masa lalu hanyalah mimpi buruk


"Lian kenapa menangis? apa kami memelukmu terlalu erat?" tanya papa dan mama yang cemas


'Aku tidak tau boleh mengatakan ini atau enggak tapi rasanya ingin mengatakannya'


"Se, selama ini aku pikir kalian membenciku ..." gumam Juvelian


Gumaman Juvelian membuat mereka kaget seakan mulut mereka bertiga terkunci tidak bisa mengatakan apa pun hanya Alan yang merasa aneh


"Apa maksudmu lian? kami menyayangimu dan akan selalu begitu"


"Wah, rasanya jadi anak yang terabaikan" kata Alan


Jika aku adalah Riana mungkin aku masih membenci mereka tapi Juvelian pasti akan mengatakan ini dari hatinya yang terdalam


"Aku juga menyayangi kalian semua... Papa mama kakak Allen kakak Alan, aku sayang kalian" kata Juvelian sambil tersenyum cerah


Mama dan papa mengulurkan tangan mereka meminta Allen dan Alan untuk ikut bergabung


'Tidak terasa sudah waktu makan malam setelah aku menangis cukup lama kami bicara di ruang keluarga dan waktu berlalu begitu saja' Kata Juvelian dalam hatinya

__ADS_1


~ Bersambung ~


__ADS_2