Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 36


__ADS_3

Ayah Rudan yang sedang mengerjakan dokumen.


"Tuan, Ini Balasan Dari Tuan Muda Sudah Tiba". Ayah Rudan meletakkan pulpen di atas meja Dan melihat ke arah orang memakai jas hitam dengan tatapan Dingin.


"Tumben Sekali Dia Membalasnya Dengan Cepat, Dasar Bocah Nakal" gumam ayah Rudan.


"Bagaimana Dengan Isinya?"


'Apa Yang Harus Aku Katakan... Jika Salah Bicara Aku Akan Lenyap' kata orang dalam hatinya berjas hitam itu dengan tangan gemetar yang memegang sepucuk surat.


"Isinya Sangat Mirip Dengan sifat Tuan" kata orang itu yang Sedikit Menunduk.


Setelah kata itu ucapan keheningan terjadi


'Apa Aku Salah Bicara? Tunggu, Bagaimana Bisa Aku Lupa Bahwa Tuan Memiliki Hubungan Yang Buruk Dengan Tuan Muda Lucas'.


Ayah Rudan tersenyum tipis "Berikan Pada Ku". Orang berjas hitam itu berjalan ke arah meja yang bertumpuk kan dengan dokumen.


"Karena Mirip Dengan Ku Pasti Isinya Tidak Terlalu Buruk".


Orang berjas hitam itu mundur sejauh dua meter dengan ekspresi ketakutan.


'Karena Pesan Yang Selalu Aku Kirim Tidak Pernah Di Jawab' kata ayah Rudan dalam hatinya yang melihat ke arah surat yang dia pegang.


'Jadi Ini Adalah Satu Satunya Cara Ber Komunikasi Dengan Bocah Nakal Itu' kata ayah Rudan yang membuka surat.


Ayah Ingin Aku Mengunakan Waktuku Yang Sibuk Hanya Untuk Bertemu Calon Adik Iparku.


Dasar Ayah Kejam.


Kirim Kan Lagi Suratnya Jika Ayah Sudah Belajar cara Meminta Tolong Dengan benar Dan Kirimkan lah Surat Balasannya Dengan Benar


Dari Anak Ayah yang


Tercinta, Lucas.


Ayah Rudan yang geram, meruk surat tersebut dengan tangan kanannya.


"Anak Ini Sebenarnya Mirip Siapa..."


'Anda Benar Benar serius Bertanya Tuan Muda Lucas Mirip Siapa?' pikir orang berjas hitam itu yang ingin menangis.


'jika bukan karena aku kalah suit dari yang lain, aku tidak mungkin dalam keadaan seperti ini'.


"Aku Tidak Akan Lagi Makan Ikan Bakar Saat Kita Pantai deh" kata Ian yang memegang piring dengan ikan bakar di atasnya.


"Siapa Yang Menyangka Membuat Bumbunya Akan Sangat Sulit..." ucap Rudan


"Aku Benar Benar Bersyukur Karena Di Zaman Ini Ada Blender" kata Nine yang duduk di sebelah Rudan .


Lilian melihat orang orang yang duduk di kursi meja lipat sebelahnya.


"Iya, Kita Benar Benar Harus Bersyukur Karena Di Zaman Ini Ada Blender, Jika Tidak Aku Tidak Tau Apa yang Akan Terjadi Dengan Bumbu Ini" kata Lilian yang Tersenyum nakal.


Di sisi lain Pak Tio yang Sedang Memanggang Ikan dan Arin Menahan Tawa.


"Kau Pasti Tidak Tahu Betapa Sulitnya Membuat Bumbu Ikan Bakar walau melihatnya di internet" Ucap Jiho .


"Iya, Aku Memang Tidak Tahu Karena Sibuk Membersihkan Cuminya Dengan Tangan Ku Sendiri" jawab Lilian dengan nada sombong.


Jiho hanya diam dan meletakkan piringnya di atas meja.


'Waah keren, cuman beberapa yang bisa membuat orang menyebalkan kayak Jiho terdiam' pikir Arin yang kagum.


'Seharusnya kami sudah pulang sekarang tapi karena kami semua makan karena terlambat bangun mau tidak mau harus nginap dan untung orang tua kami mengizinkan'


Juvelian yang duduk di ujung kursi terkejut dengan sisi baru Lilian yang tidak pernah dia lihat. 'Aku, Lilian, Kak Erin, dan Arin duduk di meja yang sama sedangkan anak laki laki di meja yang lain'.


'Aku dan Lilian duduk di kursi yang sama sedangkan Arin dengan Kak Erin'.


Jiho bangkit dari kursi dan berjalan ke arah meja anak perempuan.


"Bagaimana bumbunya enak kan?"


"Khusus untuk kalian, aku berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya" kata Jiho yang bersikap ramah.


Lilian yang duduk di samping Juvelian melihat ke Jiho dengan ekspresi jijik.


"Siapa kau?" tanya Lilian.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Lilian? Tentu saja aku Jiho".


"Jiho, apa kau sakit atau salah makan?"


"Biasanya nada bicaramu sombong kenapa sekarang jadi mengelikan?" tanya Lilian yang rasanya ingin muntah.


Jiho mengambil cumi yang sudah di potong dengan sumpit dan memasukkan nya ke dalam mulut Lilian.


"Apa? kau bilang mau lagi?".


Dengan mulut yang masih penuh dengan cumi bakar, Lilian memijak kaki Jiho dengan keras.


"Apa yang kau lalukan?" tanya Jiho dengan suara pelan dan tersenyum kesal.


Juvelian memasukkan cumi bakar dan beberapa sendok cabai yang sudah di blender ke dalam selada yang sudah di bakar sebentar.


Memegang bahu Lilian yang membuat Lilian berbalik.


"Lilian nih" kata Juvelian yang memberikan nya pada Lilian.


Melihat apa yang ada di tangan Juvelian, Lilian terkejut dan mengangguk kepala dengan pelan.


Lilian mengambilnya dan mengarahkan tangannya ke arah Jiho dengan tatapan berharap.


"Kau pikir aku ini Bodoh apa?"


"Aku pasti sudah gila jika mau memakan itu"


Kata Jiho yang masih tersenyum.


Pak Tio yang melihat hal itu tersenyum "ya ampun, kalian saling menyuapi cumi bakar ya? Imutnya~".


Mendengar hal itu Jiho mau tidak mau harus memakannya.


Jiho batuk batuk untuk beberapa saat di sisi lain Lilian memberikan tos untuk Juvelian dan Arin yang di duduk seberang Juvelian menahan tawa.


Dari meja sebelah, Ian terkejut dengan sikap Jiho yang tiba tiba berubah.


"ada apa dengan anak itu kenapa tiba tiba jadi menurut banget?" tanya Ian pada Nine yang duduk di sebelahnya.


"apa kau serius berpikir begitu, Ian?" tanya nine. Arin yang tidak bisa lagi menahan tawa akhirnya tertawa keras "kalian itu ngapain sih? Gila ini lucu banget Lucu banget".


"Lucu ya, Arin?" tanya Lilian dengan wajah ceria.


"kalau bisa membuat mu tertawa, maka aku bisa kok menyuapi satu baskom cumi bakar atau ikan bakar yang pedas pada Jiho" kata Lilian yang bahagia melihat Arin tertawa.


Mendengar hal itu Jiho berbalik dan ingin kabur tapi tanpa berbalik tangan Lilian memegang kerah baju Jiho.


"lepaskan, kau itu seperti ingin menyuapiku satu baksom apalah itu" teriak Jiho yang berusaha melepas tangan Lilian.


"tentu saja, kau pikir aku sedang bercanda? Berkorban lah demi tawa Arin" balas Lilian dengan suara keras.


Arin memukul meja beberapa kali "tunggu, aku mau menenang diri dulu".


"Iya, tenangkan lah dirimu" kata Juvelian yang memegang bahu Arin.


Arin bangkit dari kursi dan berjalan ke arah pantai.


Menarik napas dengan kedua tangan ke atas dan menghembuskan napas dengan tangan di turunkan.


"Mereka ada ada saja deh"


Kadang di saat seperti aku berpikir


'Apa aku pantas menjadi teman mereka?'.


"Sudah hampir satu tahun, ya" kata daniel yang berjalan dari belakang.


Arin kaget dan melihat ke arah belakang


"Daniel..." gumam Arin.


"Maksudnya pertemanan kita" kata Daniel yang melihat ke arah langit malam.


"Iya, sudah hampir satu tahun" jawab Arin dengan tersenyum.


'Kenapa aku tidak menyadari bahwa dia mengikutiku?'


"Apa kau tahu? Kesan orang bisa di lihat sejak pertemuan pertama?"

__ADS_1


"Hah? Benarkah? Aku tidak tahu" jawab Arin dengan ekspresi bingung.


"saat pertama kali bertemu Nine dan Rudan, mereka berdua seperti tidak suka orang lain ikut campur dalam urusannya dan terbiasa mengerjakan semuanya sendiri".


Daniel diam sesaat dan menyambung perkataannya lagi.


"kalau Ian dan Jiho seperti mengontrol diri agar tidak terlibat lebih Dalam" diam sebentar Daniel menyambung perkataannya.


"sedangkan Lilian, meskipun selalu waspada dengan orang lain tapi sangat suka berada di sekitar orang orang".


"begitu ya..."


'aku bahkan baru mengetahuinya saat kami semua dekat satu sama lain tapi manusia di sebelahku mengetahui sejak pertemuan pertama'.


Arin yang penasaran mencoba bertanya bagaimana kesan pertamanya.


"kalau begitu kesan pertama aku dan Mami (Juvelian) bagaimana?"


"Mami?" tanya balik Daniel.


"Maksudnya Juvelian, setelah sekian lama akhirnya aku memutuskan nama panggilan sayang untuknya" kata Arin yang tersenyum.


"kali ini aku akan mengalah Rudan yang menyebalkan itu" kata Arin yang penuh semangat.


Mendengar hal itu Daniel tertawa kecil.


"Kau dan Juvel itu mirip"


Terkejut mendengar perkataan Daniel, Arin melihat ke arah mata Daniel dengan tatapan bingung.


"Gimana ya di jelaskan..., bisa di bilang kalian


Itu seperti dari dunia lain yang sangat jauh"


Arin terkejut dan membuat ekspresi sedikit terluka seakan rahasianya terbongkar.


"Dan seperti akan kehilangan hal yang berharga bagi kalian jika kembali ke dunia asal kalian dan memilih untuk tetap bertahan demi orang orang yang berharga bagi kalian".


"kadang wajah kalian terlihat seperti itu".


Arin menggigit sedikit bibirnya dan mengepal tangannya.


"pasti sangat menarik jika kalian dari dunia lain" kata daniel yang melihat ke arah Arin.


Keheningan sesaat terjadi di sekitar mereka


Tersenyum tipis dengan tercampur ekspresi sedih Daniel memberanikan diri untuk bertanya "tapi... Apa aku boleh bertanya sesuatu?".


"sebenarnya kenapa... Kadang kau ekspresi seperti itu?" tanya Daniel yang sedikit mendekat ke arah wajah Arin.


"kenapa kau selalu memasang ekspresi takut kami akan membalikkan badan darimu dan pergi selamanya".


"Daniel, ada suatu asalan kenapa aku selalu memasang ekspresi wajah seperti ini tapi aku harap kau tidak bertanya lebih jauh"


Menundukkan kepala dengan ekspresi bersalah " Aku minta maaf..."


'Aku melakukan ini bukan karena aku benci kalian tapi selain Mami tidak ada orang yang membuatku mengatakan isi hatiku'


'Aku takut jika suatu hari nanti kalian akan pergi dan aku akan terluka lagi'.


Menghela napas Daniel mengangguk "Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi"


"Aku kembali lebih dulu ya..."


Arin berjalan kembali ke halaman villa dengan kaki lemas.


'Aku memang berpikir dia tidak akan dengan mudah mengatakannya tapi kau mau pun Juvel, kalian berdua penuh dengan teka teki'


Daniel menendang air pantai dengan kaki kiri nya dan melihat ke arah salah satu bintang.


'sejak awal kami semua berteman karena seiring berjalannya waktu kami menjadi dekat'.


'tapi kami semua selalu menyimpan rahasia, dengan keadaan seperti ini aku tidak berapa lama hubungan ini akan bertahan'


Setelah berpikir begitu Daniel menghela napas panjang.


'Pertama, Aku harus merubah ekspresi wajahku dulu' Arin menarik napas dan menghembuskan nya.


'tenangkan dirimu Arin, kau harus kuat apapun yang terjadi'.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2