
Dari arah depan terdengar suara mobil dan berhenti di depan villa mereka.
Begitu pintu terbuka, keluar seseorang pria dengan mata biru dan rambut perak yang sama dengan papa Juvelian dan Allen.
hawa dingin di sekitarnya, membuat mereka beberapa saat merasa tercekik."Paman" teriak Juvelian dan Alan sambil melambaikan tangan sambil berlari keluar villa.
'Paman?' pikir mereka secara bersamaan.
'Sulit di percaya, padalah Juvel dan Alan mengeluarkan aura ceria, tapi saat melihat paman mereka rasanya seperti di atas tumpukan salju'.
Begitu Juvelian dan Alan berdiri di depan pamannya. Paman mereka tersenyum hangat dan mengelus kepala mereka berdua.
'Meskipun terlihat dingin, tapi jika di depan keponakan nya bisa menjadi orang berbeda'
"Apa kabar kalian?" tanya paman dengan ekspresi hangat.
"Baik, bagaimana dengan paman?" tanya Juvelian dan Alan secara bersama sama.
Menurunkan tangannya, paman mereka
Mengangkat sedikit kedua bahunya.
"Seperti biasa aku berada di tumpukan
Dokumen dan berhasil lari ke sini".
Mendengar hal itu Juvelian dan Alan tertawa kecil. "Ingat, jangan beritahu kakek jika aku ada di sini".
"Jika tidak, kakek pasti akan menyeret ku sambil mengomel sampai ke kantor".
'Aku bahkan bisa membayangkannya sekarang' pikir Alan dan Juvelian yang membayangkan kakek mereka menyeret Regis sambil mengomel.
Paman mereka melihat ke arah pak tio dan anak anak yang lainnya berdiri.
"Selamat pagi, tuan Regis" kata pak tio yang memberi hormat.
Regis hanya mengangguk pelan.
"Siapa mereka?"
"Mereka teman yang aku temui di sekolah, karena sedang libur sekolah jadi kami pergi ke pantai ini".
"Kalian tidak mungkin datang hanya dengan satu mobil kan?" tanya Regis yang menaikkan salah satu alisnya.
"Tidak, kami naik dua mobil kok" jawab Alan.
Juvelian melihat ke arah pamannya, melanjutkan perkataan Alan.
"Pak Tio dan kak Erin yang mengemudikan mobilnya"
Begitu namanya di sebut, Erin mengangkat tangan kanannya.
"Jadi, kau yang namanya Erin?".
Erin mengangguk satu kali.
"Ray, tolong antar mereka pulang"
'Jadi begitulah, kenapa pak Ray mengemudikan mobil ini' pikir Juvelian yang melihat ke luar jendela.
'Paman yang khawatir dengan kami, karena melihat mata kak Erin yang seperti begadang semalam'.
'Akhirnya menyuruh pak Ray untuk mengantar kami sampai ibu kota, meskipun...'
Juvelian membalikkan kepalanya melihat ke arah belakang, tempat di mana Lilian dan Erin duduk.
'Meskipun, kekhawatiran paman menjadi kenyataan. Kak Erin benar benar tertidur nyenyak sekarang'
Melihat Juvelian yang melihat ke arah belakang, Lilian memberikan senyum hangat padanya.
Juvelian juga membalas senyum Lilian.
'Sebenarnya apa yang terjadi sampai sampai kak Erin yang selalu disiplin sampai begadang?'.
Juvelian menundukkan kepala melihat ke arah kantong hoodie yang dia kenakan.
'Dan bukan kak Erin saja yang tertidur, tapi Lux juga'.
'Semalam karena Lux yang tidak bisa tidur karena sudah tidur terlalu sama, terus membangunkan ku untuk bermain bersama dengannya'.
'Lux bahkan sampai menarik rambutku dengan keras, aku benar benar bersyukur karena rambutku tidak mudah rontok'.
Arin yang melihat ke arah Juvelian dan Lilian, bertanya "Bagaimana, kalau kita main kartu?"
"baiklah, kayaknya bakalan seru deh" jawab mereka dengan semangat.
Dengan beberapa kartu di tangannya, Arin melihat ke arah Juvelian dengan tatapan penasaran. "Mami..." kata Arin dengan tersenyum.
Mendengar hal itu Juvelian yang duduk di sampingnya dan pak Ray di depan, merinding seketika.
'Tidak peduli berapa kali mendengarnya, aku benar benar belum terbiasa'.
__ADS_1
Di sisi lain pak Ray menahan tawa, yang membuat Juvelian makin malu.
'Apa perlu mengatakannya di sini'
'Rasanya aku ingin masuk ke dalam lubang tikus' .
"Iya, ada apa Arin?".
"Paman yang tadi kita temui itu, berapa umurnya?" tanya Arin dengan penasaran.
"Karena umur papaku empat puluh sembilan tahun ini, mungkin umur paman lima puluh tahun ini".
Tiba tiba keheningan sesaat muncul di sekitar mereka.
'Apa aku salah bicara? Kenapa mereka tiba tiba diam?' pikir Juvelian yang heran dengan reaksi tidak percaya Arin dan Lilian.
Mendengar pak Ray yang tertawa kecil, Juvelian melihat ke depan dengan tatapan
'Lalu, kenapa anda tertawa?'.
Memilih untuk mengabaikan Ray, Juvelian kembali melihat Lilian dan Arin yang masih diam. "Ada apa? Kenapa kalian tiba tiba diam?".
"Serius umur pamanmu segitu?"
"Bukankah itu artinya dia kakak papamu?"
Tanya Lilian dan Arin dengan berganti dan tatapan yang bersemangat.
Juvelian yang merasa terbebani dengan tatapan mereka mundur ke belakang sampai mengenai pintu mobil.
Meletakkan satu kartu dengan tangan gemetar, Juvelian menjawab pertanyaan
"I... Iya, Pamanku itu kakak papaku dan umurnya memang segitu. Emang nya kenapa?".
"Gila, pamanmu itu muda banget" kata Lilian dan Arin yang hampir teriak.
'sekarang aku memikirkannya baik papa atau pun mama, mereka terlihat lebih muda dari pada umurnya... '
"Tapi bukannya yang jadi pemilik perusahaan mu itu papamu, jadi bagaimana dengan pamanmu?" tanya Arin.
"Ini. itu, bukan zaman kerajaan di mana tahta di berikan pada anak pertama".
"Awalnya... Paman Regis yang akan menjadi pemimpin dan pemilik perusahaan".
Juvelian berbicara sambil melihat ke arah kartu dan meletakkannya satu kartu di kursi.
"Sekarang giliranmu, Arin"
Setelah Arin meletakkan satu kartu, Juvelian melanjutkan ceritanya.
"Ternyata ada cerita seperti itu ya..." gumam Lilian. "Paman, sekarang menjadi presdir".
" 'Presdir' itu singkatan dari..."
"Ya, itu singkatan dari presiden direktur" kata Juvelian yang tersenyum tipis.
Sesampainya di depan Apartemen.
"Sampai jumpa lagi, Juvel, Alan dan Rudan" kata Erin, Lilian dan Arin yang ada di depan apartmen dengan melambaikan tangan.
Setelah yang Juvelian, Alan dan Rudan naiki mulai menjauh, mereka berhenti melambaikan tangan.
"Jadi, kalian pulang naik apa?" tanya Erin yang melihat ke arah Daniel, Nine, Ian dan Jiho yang juga ada di depan apartmen.
"Kami naik kereta bawah tanah"
'Kenapa aku jadi duduk di tengah?' teriak Juvelian dalam hatinya yang duduk di antara Alan dan Rudan.
Beberapa yang lalu.
Merasakan mobil yang mereka naiki berhenti, Juvelian melihat ke arah luar jendela 'Apa kita sudah sampai?'.
"Baiklah, nona nona kita sudah sampai" Kata pak Ray yang melihat ke depan.
Arin membuka pintu dan keluar lebih dulu, di susul dengan Juvelian, Lilian dan Erin.
Pak Ray membelokkan mobil dan berjalan kembali ke arah pantai.
Melihat Rudan dan Alan keluar dari mobil yang berhenti.
Wajah Juvelian berubah menjadi ceria dan melambaikan kedua tangannya.
"Rudan. Kak Alan" kata Juvelian dengan wajah ceria dan melambaikan tangannya.
Alan yang mendengar namanya di panggil kedua, menatap Rudan dengan tatapan tajam. 'Beraninya kau, merebut tempat pertama'.
Rudan melihat ke arah Alan dengan senyum miring.
'Ada apa calon kakak ipar? Kau cemburu?' kata Rudan dengan tatapannya.
Alan berhenti dan menatap sinis Rudan dengan wajah yang sangat kesal
__ADS_1
'Siapa yang kau sebut calon kakak ipar, hah?'
'Aku sudah menduga bahwa anak ini, bukanlah anak yang baik sejak pertama kali bertemu. Mengepal tangannya dengan kuat, Alan berjalan lebih ke arah Juvelian.
Melihat hal itu Rudan juga ikut di belakangnya.
'Ingin menyusulku? Mimpi saja kau sana'.
'Aku tidak akan membiarkan adik perempuan yang sangat ku sayangi sampai menikah dengan orang ini' kata Alan dalam hatinya.
'Adikku yang manis, kakakmu ini akan melindungimu. Kau tenang saja'.
Begitu Alan dan Rudan berdiri di depannya, Juvelian melihat mereka dengan tersenyum.
'Syukurlah Kak Alan dan Rudan sudah mulai akrab. Karena dulu kakAlan benar benar membenci Rudan'.
"Wah, kami jadi tidak terlihat ya di mata kalian?" kata Nine dari belakang Alan dan Rudan.
"Eh, kapan kalian ada di sana?" kata Juvelian yang ingin mengerjai.
Alan yang menyadari itu, melihat ke arah belakang "Benar, kapan kalian ada di sana?".
"Kalian ini benar benar anak kembar yang menyebalkan ya..." kata Jiho yang kesal.
Berhasil membuat Jiho. Alan dan juvelian melakukan tos sedangkan yang lain tertawa.
"Nona Juvelian, tuan muda Alan dan tuan muda Rudan. Cepatlah masuk ke mobil"
Alan dan Rudan menarik tangan Juvelian, dan berlari ke arah mobil.
"Selamat tinggal, semuanya" kata mereka bersama sebelum ke dalam mobil.
'Begitulah, bagaimana aku bisa duduk di tengah. Tapi, kenapa suasana dingin banget'
Pikir Juvelian yang ingin menangis.
[Di dalam apartemen]
'Ibu, pasti tidak akan marah jika aku pulang dengan membawa ikan bakar dan oleh oleh'.
Kata Arin dalam hatinya yang sedang menunggu lift dengan bahu yang memakai tas.
Melihat pintu lift yang terbuka, dengan cepat Arin masuk ke dalam dan menekan tombol ke atas.
Pintu lift terbuka, Arin keluar dengan santai dan berjalan ke arah rumahnya.
Melihat ibunya yang berdiri di depan pintu, wajah Arin menjadi ceria.
Begitu Arin ingin memanggil ibunya, Arin terkejut dengan orang asing yang juga berdiri di depan pintu.
'Siapa mereka?'.
"Pergilah, kalian dari sini" teriak ibu Arin dengan wajah penuh marah dan tatapan benci.
Arin yang terkejut dengan cepat berlari ke tempat sepi.
Arin berjongkok dengan kedua tangan yang menutup mulutnya dengan kaki yang gementar.
"Kami tidak akan pergi sebelum anda menyerah anak perempuan yang anda temukan lebih dari enam belas tahun lalu" teriak orang yang ada di depan ibu arin.
'Anak perempuan? Sudah lebih dari enam belas yang lalu?. Sekarang usiaku enam belas tahun, bukannya itu saat aku baru lahir?' Kata Arin dalam hatinya.
"Aku sudah bilang berapa kali, kalau anak itu tidak ada bersamaku" kata ibu Arin yang hampir berteriak dan menutup pintu.
Mendengar ibunya menutup pintu,
Arin bangkit dan berlari ke arah lift dengan cepat 'Bisa gawat kalau aku ketahuan menguping pembicaraan mereka dengan ibu'
Arin memutuskan ke lantai atas tempat Lilian tinggal dan menggunakan liftnya beberapa saat lagi.
"Sebenarnya apa yang mereka bicara sampai, ibu semarah itu" gumam Arin.
'Kalau di pikir pikir lagi aku bahkan tidak pernah melihat ibu marah seperti itu'.
Arin yang kaget, terus berpikir keras dan dengan kepala yang pusing naik lift lagi untuk ke lantai bawah.
[Di depan pintu rumah Arin]
Arin menekan bel dan memanggil ibunya, terus menerus.
'Kenapa kepalaku sangat pusing...'
Begitu pintu terbuka ibu Arin berdiri dengan tersenyum hangat pada Arin, seakan akan tidak terjadi apa apa.
"Arin, sudah pulang ya... Apa perjalanan menyenangkan?'.
Kepalaku rasanya sangat berat tapi, aku kan tinggal menyapa ibu dan mengatakan perjalanannya sangat menyenangkan...'
"Arin, kau baik baik saja?" tanya ibu arin yang membuat wajah khawatir.
"Iya ibu, aku baik baik sa..." belum menyelesaikan perkataannya, Arin kehilangan tenaga dan keseimbangannya lalu pingsan di pelukan ibunya.
__ADS_1
Ibu Arin yang melihat hal itu terkejut dan berteriak memanggil nama Arin.
~Bersambung~