
'Tenangnya...' pikir Juvelian
Di sekolah tidak ada masalah Regina juga tidak menampakkan dirinya untuk mencari masalah jika bertemu hanya menyapa dengan anggukan
'Dan tidak ada yang lebih menenangkan dari ini'
Dia duduk melipat kakinya di atas tempat tidur di ruangan dengan penerangan redup, di sana sangat sunyi pikirannya tenang hanya fokus pada pernapasannya, Lux juga bergabung dengannya
Untuk berjaga- jaga jika ada yang masuk dia mengunci pintu kamar lalu memasang sihir kedap suara terutama Alan yang paling dia waspadai
Aku bisa merasakan angin halus menyentuh wajahku dan energi yang perlahan masuk ke tubuhku, sedikit lagi aku melewati kadar inti sihir, hanya perlu sedikit lagi untuk meningkatkan sihirku, sedikit lagi...
Ddrrrtttt, Juvelian mengerutkan dahi pada suara yang mengusik ketenangannya
'Fokus, fokus Juvelian! Sedikit...'
Ddrrrrttt drrrrtttt ddrrrttt suara yang di pindahkan ke mode getar semakin keras, tidak tahan lagi konsentrasinya kacau lalu langsung menyambar HPnya dengan perasaan kesal
Dengan isi pikiran 'Orang menyebalkan mana
yang menelepon ku di jam segini?!'
'Nomor tidak di kenal?'
Dia ragu sesaat lalu berniat mengangkat panggilan karena nomor itu sudah meneleponnya tiga kali
Tapi sebelum jarinya menyentuh layar, panggilannya mati Juvelian membiarkannya beberapa saat mungkin dia akan menelepon lagi tapi tidak ada panggilan masuk seolah si penelepon sudah menyerah
Perasaan tidak enak mendorong Juvelian menelepon balik nomor itu
Dengan ragu Juvelian berkata [Ha-]
Tapi suara dari si pemilik nomor memotong sapaan Juvelian [Halo!? Halo?!] dia berteriak dengan suara panik
'Joni? Kok d- Ah! kami pernah bertukar nomor tapi aku nggak sempat menambahkan nomornya'
[Apa Mina ada bersama denganmu?] suara Joni terdengar penuh harapan dengan gelisah 'Kau bercanda, ya?' sesaat Juvelian berpikir begitu tapi Joni tidak sedang bercanda
[Kenapa kau bertanya Mina padaku? Tentu saja dia ada di rumahnya kan?]
Di balik layar terdengar gumaman Joni yang putus asa seolah sedang melantur [Bagaimana ini... Sepertinya Mina menghilang]
[Setelah bel pulang, aku mengajak Mina pulang bersama tapi dia menolak aku bertanya kenapa tapi Kirara malah menyeretku ke ruang OSIS. Mina mengirim pesan jika dia akan bertemu dengan anggota klubnya]
Juvelian tersentak dan membantah
[Tunggu!, Apa maksudmu Mina ikut klub? Bukankah kalian pulang bersama? Dan waktu aku di gedung ekskul, satu anggota yang ikut klub yang sama dengan Mina, bertanya kenapa Mina nggak ikut]
[Kau yakin Mina tidak ada di dalam rumahnya?] tanya Juvelian yang ikut panik
Joni dengan suara gemetar menjawab [Tadi begitu sampai rumah, suara Mina tidak terdengar padahal biasanya dia datang mampir sebentar]
[Jadi, ku pikir dia langsung pulang karena lelah, tapi karena cemas aku mengirim pesan apa dia sudah sampai rumah dan pesanku satu pun nggak dibalas sampai sore. Aku takut terjadi sesuatu padanya] tambahnya
[Jadi tadi sebelum jam 7 aku ke rumah Mina memastikan apa dia uda pulang tapi nggak ada respon meski ku bunyikan bel berulang kali. Lalu aku masuk ke dalam dan... Tidak menemukan siapa- siapa di sana] Joni tidak berbicara sesaat
[Halo? Kau masih di sana kan?]
[Ku pikir dia ada di rumahmu sekarang...]
Juvelian tersentak
[Harusnya aku dengar kata- kata tante yang bersikeras langsung bawa Mina pulang apa pun yang terjadi. Kupikir karena dia uda besar pasti bisa jaga diri makanya aku nggak bawa dia pulang, tapi kalau saja aku lakuin pasti nggak bakal begini]
__ADS_1
'Bersikeras?'
'Tadi pagi Mina juga menjadi murung dan terus diam tanpa sebab, dia sudah begitu saat sampai di kelas'
Juvelian yang merasa aneh langsung bertanya [Joni. bagi Mina ini hari apa? Maksudku apa ini hari yang memberinya kesan yang sangat dalam baik sedih atau bahagia tapi berubah menjadi perasaan sakit di hatinya]
Diam sesaat [Seingatku sih nggak ada]
[Kau yakin?]
[Mungkin?] dia juga tidak yakin
[Kok jadi nanya sih?!]
'Sebenarnya ada yang ganjal di hatiku, seingatku Mina pernah melingkari tanggal hari ini seolah menunggunya. tapi... ekspresinya berbeda biasanya dia akan berada di rumah menunggu seseorang, seingatku dia sangat gembira jadi pasti bukan'
[Apa ini hari dia putus sama pacarnya? Atau ada anggota keluarganya yang pergi (meninggal)?]
[Tidak. Dia belum pernah pacaran lalu anggota keluarganya masih utuh kecuali kakek nenek]
'Itu dia!'
[Joni, Kau masih di rumah Mina sekarang kan?]
[Iya]
[Nah, Kau tetap di sana aja kalau- kalau Mina pulang biar aku cari ke luar]
Tidak ingin melibatkan orang lain lagi Juvelian meminta bantuan hewan dari rumah kaca mencari ke seluruh kota terutama tempat karaoke atau pusat perbelanjaan
Karena tidak ada kuburan atau yang sejenisnya di dunia Juvelian tinggal, dia mencari ke tempat yang bisa meluapkan emosi
Berkat informasi yang di dapatkan makhluk bersayap rumah kaca dari burung- burung dan hewan kecilnya di kota, Juvelian menemukannya dengan mudah tanpa bantuan Luxia yang mungkin tahu keberadaan Mina
Menggunakan teleportasi untuk cepat sampai, Juvelian tidak langsung ke ruangan Mina tapi berdiri di depan pintu dan dugaannya benar Mina sedang bernyanyi dan menangis
"Bersama sampai akhir~"
"Tidak akan terpisah sampai angin merebutmu~" Mina sedang nyanyi
Juvelian minum seteguk lalu meniru Mina dan bernyanyi beberapa lalu bersama,
suasana hati Mina juga sedikit membaik capek bernyanyi mereka berbaring di sofa
"Serius... Rasanya isi perutku air semua..."
"Ha ha ha, siapa suruh kau minum banyak" ledek Mina
"Nggak sedih lagi kan? Oh iya, Lain kali kalau kau butuh teman untuk karaoke ajak aku aja" kata Juvelian sambil tersenyum
Mina memandang heran pada Juvelian yang tidak bertanya kenapa dia jadi begitu
"Hari ini ayahku berulang tahun"
"Benarkah? Lalu apa yang berikan hadiah atau ucapan selamat?" tanya Juvelian dengan bersemangat
'Apa hubungannya dengan ayahnya nggak baik?'
Menimpa wajahnya dengan tangan Mina berkata suara bimbang "Aku masih bingung harus mengucapkan selamat atau tidak"
Dengan bujukan Juvelian, Mina memegang HPnya ingin mengucapkan selamat tapi jarinya hanya diam
"Tunggu apa lagi? Kalau nggak, aku yang gantikan kau ucapkan loh"
__ADS_1
[Ayah]
[Selamat ulang tahun]
[Semoga ayah panjang umur dan sehat selalu]
"Uda kan?"
Juvelian tersenyum puas
Tak lama pesan itu terkirim, panggilan masuk ke HP Mina, yang adalah ayah Mina. Mereka sontak kaget
"Gimana nih ayah malah nelpon?!" tanya Mina dengan panik
'Sebenarnya hubungan macam apa yang di miliki ayah dan anak ini...' pikir Juvelian sambil menghela napas lalu ikut panik
"Angkat! Coba angkat"
"Angkat?" Mina bimbang sesaat
Dengan cepat Juvelian mengangkat panggilan karena ke buru mati sebelum sempat di angkat Mina jika ekspresinya seperti itu
"Halo? Mina" suara ayah Mina di balik layar HP sangat lembut dan bahagia
"Iya!!"
'Kenapa lu jadi ngegas?' Juvelian melotot kaget pada Mina
Dengan suara terharu ayah Mina berkata "Terima kasih"
Meski hanya kata 'Terima kasih' yang umum untuk di ucapkan pada ekspresi Mina tidak bisa di jelas hatinya tergoyahkan dan dia seakan akan mau menangis
"Meski kamu mengatakannya lewat pesan tapi rasanya ayah bisa mendengar suaramu yang sedang mengatakannya.
Terima kasih, sayang. Kamu masih ingat hari ulang tahun ayah, ayah sangat bahagia"
Mina hanya menekan bibirnya, dia tidak mengatakan sepata katapun dan membiarkan perkataan berlanjut.
Seakan dia takut jika dia membuka mulut, suara seraknya akan ketahuan dan air mata akan menetes
Juvelian menyodorkan segelas air memintanya menenangkan diri, seakan air itu berisi sihir hatinya terasa tenang seperti air
"Putri peri kecil ayah, sehat- sehat selalu kan?"
'Putri peri kecil?' Juvelian menahan tawa tapi Mina masih bisa mendengar lalu wajahnya memerah
"Putri apanya?! Candaan Ayah buat aku malu aja" Mina mengelak
"Mina, Kamu sudah lupa? Saat kecil kamu suka pakai gaun dengan sayap dan memegang tongkah sambil berputar"
"Kamu juga pernah meminta ayah menggendongmu dan menerbangkan mu. saat itu kamu seperti sedang berenang di udara"
Ayah Mina meyakinkan jika itu pernah terjadi yang membangkitkan ingatan Mina yang membuat tambah malu
"Mana ada" Mina terus membantah dan menghindar
"Ha ha ha. Kalau putri ayah bilang nggak ada berarti nggak ada, ayah pasti salah ingat"
"Kalau ayah bercanda lagi aku matiin nih"
"Apa Ayah terlalu banyak bicara, ya?"
"Tidak, kok" sedikit menyesal karena berteriak pada ayahnya
__ADS_1
"Benarkah? Syukurlah. Ayah tutup, ya? Mau lanjut kerja"
"Iya" Mina tersenyum bahagia dalam diam