
Meski banyak pasangan yang terus melintasi jalanan dan hawa orang lain berwarna merah jambu tapi padanya sangat gelap menunjuk perasaan suram di hatinya yang masih kosong
'Inilah kenapa aku benci malam minggu'
Beberapa kali ada yang melirik ke arahnya seperti mengatakan apa yang dia lakukan di sana sendiri?
Merasa terganggu, Arin melihat jam di tangannya dan berpikir 'Bukannya dia bilang sedang di jalan?'
Segera motor dengan ukuran besar berhenti di depannya dengan pengendaranya memakai helm dan jaket hitam, untuk beberapa saat terjadi keheningan
'Kenapa dia hanya diam?' Arin yang mulai curiga mundur perlahan dan berbalik mau lari tapi pergelangan tangannya di raih
"Ah! Lepasin" Arin menjerit
"Bisa diam nggak?"
"Gimana mau tenang kalau kamu megang tanganku?!"
Ketika orang itu mengangkat kacanya Arin baru bisa mengenalinya
"Mina?"
"Udah tenang?"
Arin mengangguk dengan perasaan malu, penampilan Arin hari ini menarik perhatian Mina yang kemudian menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki "Wow, kau sangat cantik hari ini!"
"Jadi biasanya enggak?"
Mina menjawab dengan nakal "Habisnya kalau di sekolah kau itu... Jelek"
"Bercanda?"
"Iya" melirik Arin yang menatapnya dengan serius dia menjawab dengan jujur
"Biasanya kau juga cantik tapi hari ini kau terlihat luar biasa nggak kau menakjubkan" mengangkat satu tangan Arin berkata "Aku lebih suka luar biasa"
"Oke, luar biasa. Kalau gitu ayo naik"
"Tunggu, naik ini? jangan bilang kita akan pergi ke sana dengan ini?"
'Ya iyalah, memangnya tadi aku datang pakai sapu terbang' tanya Mina dalam hati
"kau punya sim?"
"Enggak" jawaban Mina yang santai
Tatapan Arin menjadi khawatir, "Kalau di tilang gimana?"
"Kita kan nggak pakai seragam sekolah siapa yang akan tau"
'Kecuali tuhan' kata Mina dalam hati
Itu terdengar masuk akal bagi Arin, dia menerima helm yang Mina berikan dan berlayar ke jalan, di luar dugaan Mina tidak mengebut di jalanan
Selama dalam perjalanan mereka hanya diam, Mina yang tidak nyaman membuka pembicaraan "Ngomong ngomong Arin, Siapa yang meriahmu?"
"Oh, aku yang melakukannya sendiri"
"Apa? itu mengejutkan. Aku aja malas lihat riasan di meja"
Mendengarnya Arin berkata 'Tapi tetap di pakai juga tuh'
"Aku baru tau kau bisa pakai riasan wajah, ya bukan berarti aku merendahkan mu tapi
__ADS_1
penampilan mu ya gimana ya bilangnya
yang pasti begitulah"
"Bicara yang jelas"
"Hahaha" tertawa canggung
"Aku mempelajarinya dari Lili dan Mama"
Mama yang Arin maksud adalah Juvelian sementara yang Mina pikirkan adalah orang tua Arin
"Benarkah? padahal dia (Lilian) terlihat tidak
memerlukannya, kau tau maksudku? Dia terlahir cantik"
'Kenapa 'dia' kan orangnya ada dua?'
Dua orang yang sedang membicarakan hal yang berbeda tapi tetap nyambung di satu pihak
Dalam perjalanan yang terasa singkat mereka berhenti di depan cafe, saat memarkirkan kendaraannya seseorang keluar dari dalam cafe
"Mina? Itu kamu. Ngapain kamu di sana? ayo ke sini"
"Lagi dayung sampan"
"Kamu bukannya lagi parkir motor?" tanya dengan heran
"Dah tahu malah nanya"
Dia mendatangi mereka dan segera melirik ke Arin yang datang bersama Mina
"Dia orang yang kau bilang?"
"Hai senang bertemu dengan mu"
"Ya, hai nama saya Arin"
"Tidak perlu terlalu kaku, saya makan nasi kok bukan orang"
Mendadak Mina muncul di antara mereka "Jadi mau sampai kita di sini?"
gadis itu sontak kaget "Gila! Kaget aku. Lagian Kan kau yang lama"
"Mina, apa kamu tau ada dua anak laki laki dari Miater?"
"Itu bukan hal yang aneh kan? Sebentar, bukannya justru aneh hanya dua orang"
"Maksudku bukan begitu tapi mereka tidak ada di daftar tapi mereka cukup tampan loh" katanya dengan tatapan berbinar
"Kamu ingin menggodanya?"
Gadis itu menjawab dengan suara lemas "Sayang banget dia gunung es"
"Kalau yang satu lagi?" tanya Arin
"Oh, meskipun sikapnya tidak sesuai dengan tipe idealku tapi wajahnya tipe idealku banget!"
"Emangnya ada apa dengan sikapnya?"
"Kayaknya dia populer deh di sekolahnya, bukan dua tiga gadis yang mengajak bicara makanya kalau aku pacaran sama dia bisa bisa aku mati karena cemburu"
"Meski ada juga beberapa anak cowok yang memanggilnya kalau aku nggak salah namanya Nini Nini? kamu kenal?"
__ADS_1
"Aku memang kenal dengan yang namanya Nini tapi kayaknya bukan dia deh"
"Kenapa?"
"Dia sudah pacar apa lagi pacarnya galak banget jadi ya kamu tau seterusnya
"Ohhh, Takut sama ayang ya"
Melihat Arin yang menatap aneh dengan percakapan mereka Mina mendekatkan kepalanya ke Arin dan berbisik
"Biasa pecinta cowok tampan"
Gadis itu mengaitkan tangannya ke tangan Arin dan Mina sekarang grup nongkrong ada di depan mata mereka hanya perlu beberapa langkah lagi
Jantung Arin sedikit berdebar dan perasaan takut yang menghantuinya banyak pikiran buruk yang muncul
Dia perlahan melirik wajah Mina, dia terlihat tenang tidak terlihat perasaan gugup di matanyal
Sekarang mereka sudah berdiri di depan pintu Arin segera mengambil napas dalam dalam berusaha menenangkan diri
Sudah banyak yang datang lebih awal dan mencari tempat duduk mereka
Mereka berbalik dan mata orang orang tertuju pada mereka, Arin sedikit tegang dan tangannya gemetaran
'Kenapa orangnya banyak kali?'
"Teman temanku tercinta coba lihat siapa yang ku bawa"
Mereka melambaikan tangan pada mereka dengan senyum ramah meskipun ada yang
merasa canggung
Ada wajah wajah yang dia kenal tapi juga ada yang terlihat asing gadis gadis dari kelas lain terlihat bersinar seolah olah mereka adalah orang yang berbeda
"Wah, Mina aku pikir kamu tidak akan datang tapi syukurlah, awalnya aku ingin menyeret mu ke sini jika kamu tidak datang"
"Aku akan mematahkan tanganmu sebelum kau berhasil menyeret ku keluar pintu"
"Kejamnya... Hatiku sakit" katanya dengan suara sedih sambil menyentuh dadanya
"Ngomong ngomong siapa gadis di samping mu?"
Dengan kepalanya dan matanya Mina memberi isyarat menyuruhnya untuk memperkenalkan dirinya
"Ha, halo semuanya nama saya Arin senang bertemu dengan kalian semua"
"Halo Arin"
Mereka lebih ramah dari dugaan Arin melihat ke sekeliling dan menemukan hal yang menarik di matanya
Di antara warna rambut yang mencolok dia melihat warna coklat muda yang terlihat berkilau yang tak lain adalah Daniel
Pada saat yang sama Mina mencari pria yang tadi temannya katakan
Dia langsung bisa menemukannya karena dia terlihat mencolok aura anak itu memenuhi ruangan ini dengan cahayanya
Banyak anak perempuan yang mengerumuninya sambil mengobrol dia
terlihat menjawab pertanyaan mereka
satu persatu
Dari jauh Mina hanya bisa melihat rambut hitamnya ketika salah satu gadis bergeser wajah misteriusnya terlihat dia adalah Joni
__ADS_1
Melihat wajah yang mereka kenal baik mata Mina atau Arin melebar 'Gi, gila!! kenapa anak itu ada disini?'