Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 44


__ADS_3

Wali kelas mereka menepuk tangan beberapa kali menyuruh mereka tenang.


Tepuk, tepuk, tepuk, suaranya bergema di dalam ruangan yang menarik perhatian mereka.


Dia memiliki rambut beruban dan mata orange yang di depan terdapat kacamata, wajahnya yang berkerut menunjukkan ekspresi marah.


Melihat muridnya sudah kembali tenang, guru wali kelas itu menghentikan tepuk tangannya dan menurunkan tangannya.


"Baiklah, kau boleh duduk sekarang".


Menjatuhkan dirinya ke kursinya dan menatap ke depan dengan tatapan tajam.


'Apa kau pikir karena aku tidak satu sekolah dengan Lian, kau bisa berduaan dengan adikku tercinta? Bangunlah dari mimpimu sebelum jatuh'.


Isi pikiran bahkan bisa di lihat dari tatapan tajam yang dia tunjukkan padaku pikir Rudan yang pura pura tidak melihat apapun dan hanya tersenyum pada Juvelian.


'Cuman perasaanku saja atau bukan, rasanya seperti ada aura membunuh dari belakang punggungku' pikir Arin yang menyentuh kepalanya.


Guru wali kelas melihat ke arah seseorang yang duduk di sebelah Alan, yang selalu memasang ekspresi serius yang akan membuat orang lain merasa takut melihatnya.


"Yang di sebelahnya bisa tolong perkenalan diri". Bangkit dari kursinya dengan terpaksa yang dapat di lihat dari ekspresinya.


"Hai semuanya, namaku Mina. Senang bertemu dengan kalian semua" kata Mina dengan tersenyum yang terpaksa.


Mendengar kata Mina, Juvelian teringat dengan anak perempuan seumuran dengannya saat berada di cafe.


'Tidak mungkin, dia ada di sini. Di dunia ini ada banyak orang yang punya nama Mina'.


Juvelian yang berpikir begitu, mengabaikan suara anak perempuan yang duduk di samping Alan dan hanya tersenyum pada Rudan, yang terus menatapnya dengan tersenyum hangat.


Dengan tangan yang menopang dagu, badan yang duduk miring, memunggungi orang orang di belakangnya.


Rambut pirang terangnya yang terkena cahaya lampu menjadi berkilau dan mata biru langit yang menatap Juvelian.


'Lama lama wajahku bisa bolong, kalau terus di lihat kayak gitu'


Juvelian yang ingin membuat Rudan berhenti menatapnya berpikir dengan keras.


Mengerutkan keningnya dengan berpikir keras yang tidak menemukan satu ide pun.


Melihat Juvelian yang mengerutkan keningnya.


Rudan mengangkat jarinya dan menyentuh kening Juvelian.


"Juju, Apa kau baik baik saja? Kenapa kau mengerutkan keningmu?" tanya Rudan dengan wajah cemberut.


Berhenti mengerutkan keningnya, Juvelian berkata "Aku enggak papa kok".


Mina yang senyum terpaksa, terlihat mengerikan di mata orang lain.


Setelahnya seluruh kelas tetap terpaku pada keheningan yang mengerikan.


'Eh? Kenapa jadi hening'


Menyadari keheningan di sekitarnya, Juvelian berbalik melihat ke belakang dan terkejut dengan dirinya yang tidak sengaja melakukan kontak mata dengan Mina


'Mina... Kenapa dia ada di sini?'


Juvelian yang tidak sengaja melakukan kontak mata dengan Mina, langsung berbalik menghadap depan.


Melupakan dulu bagaimana Mina bisa duduk di sana. Juvelian berpikir dengan keras, untuk mengeluarkan Mina dari keheningan yang membuat sesak di kelas.


Setelahnya keheningan tetap berlanjut, seseorang di belakang Alan, menghela napas, meletakkan tangan kanannya di atas meja yang membuat suara di keheningan.


Yang membuat mata tertuju padanya, berdiri dari kursinya dengan tenang.


melihat ke sekeliling ruangan, Iris mata merah pekat dengan sedikit warna putih yang memberi cahaya pada matanya.


Dengan tenang melihat ke arah guru, perlahan membuka bibirnya yang memiliki warna merah muda yang lembut.


"Halo semuanya, namaku Alexia"

__ADS_1


Melihat ke arah orang yang ada di sebelah dengan ekspresi tidak peduli.


"Manusia di sebelahku ini adalah saudara kembarku yang lahir beberapa menit lebih dulu dariku".


Melihat kelakuan saudari kembarnya, dia menghela napas. Seseorang dengan rambut hitam gelap yang berkilau terkena cahaya lampu, berdiri dengan sangat lambat.


Sama seperti kembaran nya, dia memiliki ekspresi tenang yang dapat di lihat dari wajah yang terlihat dengan sangat jelas, saat melihat ke arah kami.


Kecuali warna rambutnya dan dia yang lebih tinggi dari kembaran perempuannya, mereka terlihat sangat mirip.


Berdiri dengan sangat santai, dia berkata


"seperti yang sudah di katakan oleh adik perempuanku yang imut ini, manusia ini..."


Alexia yang mendengar kata 'adik perempuanku yang imut ini' memasang ekspresi jijik.


Dan kemudian menunjukkan senyum tipis pada bibirnya pada kata 'manusia ini'.


Menyadari ada yang salah dengan kata katanya, anak laki laki itu hampir kaget.


"Tunggu, apa?" kata yang hampir teriak karena kaget.


Dia yang terdasar dengan apa yang barusan dia katakan, langsung melihat ke arah kembarannya yang berdiri dengan melipat tangan dan sedikit tertawa.


"Kau, baru sadar? Dasar lambat" kata Alexia yang tersenyum tipis dengan menghela napas.


Anak perempuan itu duduk dengan menundukkan mata merahnya dan seringai tipis pada orang yang melihatnya.


Setelahnya tawa anak anak mulai pecah di dalam kelas, bahkan guru wali kelas sampai menahan tawa. Keheningan yang tadi menyelimuti ruangan berubah menjadi suara tawa.


Saat perkenalan selesai, guru wali kelas mereka menyuruh mereka berbagi percakapan dengan bebas tapi jangan sampai membuat keributan atau pun kekacauan.


Guru wali kelas mereka, kemudian memberikan isyarat dengan matanya yang menatap ke arah pintu kelas kepada Juvelian dan Alan.


Juvelian dan Alan yang mengerti maksud guru mereka, merespon dengan mengangguk.


Alan berjalan ke arah meja Juvelian dan Rudan, berdiri di depan meja mereka dengan tersenyum.


Setelah Juvelian keluar, Alan berkata dengan senyum lebar


"Pak guru meminta kita untuk mengikutinya"


Juvelian mengangguk dan berkata bahwa dia juga tahu.


Rudan menepuk bahu Juvelian beberapa kali. Kenapa? Tanya Juvelian dengan tatapan yang bingung.


Alan yang melihatnya, menjadi kesal dan memukul tangan Rudan.


Dengan cepat menarik tangan Juvelian tanpa ragu karena sebuah kebiasaan dari kecil.


Alan yang seperti itu mengingatkan Rudan yang selalu menarik tangan tanpa ragu dengan senyum yang selalu terlihat cerah.


"Ayo, ayo kita pergi sebelum ketinggalan, Lian".


Berlari ke arah pintu kelas dengan tangan yang masih memegang tangan Juvelian,


Alan menggeser pintu kelas untuk membukanya dan menarik tangan Juvelian ke luar kelas dengan percaya diri.


Dengan hati hati menggeser pintunya lagi, di saat saat terakhir, Juvelian melihat Rudan memberikan semangat dengan tangan yang di kepal.


Melihat Rudan yang memberikan semangat, Juvelian menjadi mengerti kenapa Rudan menepuk bahunya. menarik tangan Juvelian dan berjalan dengan cepat di lorong.


'Padalah sebelum kembali ke masa lalu, yang jadi ketua kelas dan wakil ketua kelas kan Nine dan Lilian atau Jiho dan Daniel.


Tapi kenapa harus kami'.


'Pasti sekarang kak Alan sedang kesulitan'


Juvelian yang ingin memastikan kembali perkataannya, melihat Alan yang tersenyum cerah menyinari langit yang sedang mendung.


Melihat senyum cerah Alan di wajahnya, Juvelian berubah pikiran 'Tidak, kayaknya dia senang banget'.

__ADS_1


Mengikuti guru mereka yang memindahkan langkahnya menuju ke arah tangga.


Saat berpegangan tangan dengan Alan melewati kelas kelas yang lain.


Menyadari bahwa banyak mata yang tertuju pada mereka dari belakang, Juvelian melihat ke belakang.


Bukan hanya mereka yang berjalan di lorong, namiun, juga ada beberapa siswa dan guru yang berjalan juga menuju tangga.


'Kayaknya mereka juga Ketua kelas dan wakil ketua kelas sementara atau mungkin memang dari kelas sebelumnya, deh'.


Mereka menuruni tangga menuju ke lantai tiga bersama dengan siswa dan guru wali kelas yang lain.


Kantor guru yang ada di lantai tiga, lebih tepatnya diantara kelas 1-5 dan 1-6.


Di antara orang orang yang keluar dari kantor guru, Juvelian melihat seseorang yang familiar.


Dua orang yang baru saja keluar dari kantor guru.


Rambut panjang bergelombang sampai pinggang dengan warna merah muda yang unik.


Rambut yang selalu di kuncir dua setengah yang bersinar terkena cahaya lampu.


Orang itu tidak lain adalah kirara, sepupu yang lebih tua dari Juvelian.


Dengan anak laki laki yang selalu berbicara tanpa henti, yang membuat kirara merasa kesal.


'Tahun ini pun kak Kirara jadi wakil ketua kelas'. Menyadari ada seseorang berjalan di samping Kirara.


'Tapi, siapa seseorang yang ada di sampingnya...' pikir Juvelian.


Kirara yang melihat Juvelian dan Alan yang berjalan ke arah kantor guru, berjalan dengan cepat ke arah mereka.


Seolah olah tangan Juvelian dan Alan adalah mainannya, dia memegang erat- erat tangan Juvelian dan Alan dengan mengayunkannya ke atas ke bawah.


"Kalian juga terpilih sebagai Ketua kelas dan wakil ketua kelas" kata dengan senyum cerah.


"Iya" jawab mereka.


Kirara tersenyum, mengangkat tangan dan mengelus kepala mereka.


"Adik- adikku yang ku rawat seperti anakku sendiri sekarang sudah sekolah" kata Kirara dengan senyum sedih.


'Apa mungkin kak Kirara sedang berakting?' pikir yang terdapat dengan apa yang baru saja di katakan oleh Kirara.


Kirara yang merupakan putri satu satunya dari selebriti ternama di negara ini, mewarisi kemampuan ibunya dalam berakting atau pun bernyanyi.


Salah satu kebiasaannya yang terbilang unik adalah berakting dengan tiba tiba, kalau melihat situasi yang hampir sama seperti imajinasinya.


Dari belakangnya seseorang berdiri dan memotong suasana di antara mereka.


"Hei, bukannya ingin mengganggu suasana kalian, hanya saja mereka sudah sekolah dari satu dekade lebih".


Tapi... yang paling di bencinya adalah jika ada seseorang yang mengganggunya saat sedang berakting.


Kesal mendengar kata kata temannya, Kirara Mengepal tangannya karena dan memalingkan wajahnya menatap orang di sampingnya. menginjak kaki kanan temannya dengan keras.


sambil berkata "Kau bosan hidup?" katanya yang tersenyum kesal.


Temannya hanya diam, menahan rasa sakit.


Wali guru mereka yang sudah masuk dari tadi, memanggil mereka yang berdiri di depan pintu.


"Ketua kelas sementara dan wakil ketua kelas, cepat datang ke sini"


Mereka yang terkejut langsung menjawab


"Ya, pak. Kami segera ke sana"


"Kak Kirara, kami masuk dulu ya"


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2